Sedekah Senyum Yang Bikin Tersenyum

Tulis, kirim, lupakan, Demikian saran dari beberapa penulis senior saat ditanya mengenai tips menulis. Maksudnya jelas, agar lebih produktif menulis dan tidak terlalu terpaku pada penantian kapan naskah terbit atau dimuat (walaupun ada juga teman yang mengingatkan perlunya pengarsipan yang baik).

Dulu, saat masih rajin-rajinnya kirim tulisan untuk lomba ini-itu, anjuran tersebut sedikit saya abaikan. Karena ya namanya lomba, biasanya ada tenggat yang jelas berikut tanggal kapan naskah yang lolos diumumkan. Mantengin laman atau akun facebook penyelenggara pada hari yang sudah ditentukan untuk pengumuman rasanya seru sekali.

Nah, kalau tulisan yang bukan untuk lomba dan bukan permintaan khusus juga, memang boro-boro mau dipantau. Biasanya sih media atau penerbit memberi kabar jika memang layak terbit, bahkan ada yang berbaik hati (sakit sih, tapi kan jadi¬† jelas nasibnya :D) mengirimkan pemberitahuan ketika naskah tersebut dianggap belum layak. Kalau sudah begini, saran ‘lupakan’¬† jadi sangat cocok. Daripada kelamaan harap-harap cemas, kan lebih baik waktunya dipakai untuk membuat tulisan lain.

Awal pekan ini, saya sedang hendak mengambil surat ke ruangan sebelah ketika mata saya tertumbuk pada sebuah buku di meja teman. Judulnya Sedekah Senyum, dan wajah yang terpampang di sampul depan sangat familiar. Wah, buku baru Mbak Asma Nadia, ya?

Saya ambil buku tersebut, balik ke sampul belakang, cermati nama-namanya… dan wah, kok ada nama Leila? Tertulis paling belakang dan hanya nama depan saja, jadi tidak yakin juga apa benar itu nama saya. Begitu saya buka-buka halaman bagian dalam, alhamdulillah, ternyata memang sayalah yang dimaksud.

Tidak tanggung-tanggung, ada lima tulisan saya di situ. Ada pula satu cerita yang bertuliskan nama saya, tetapi isinya sepertinya ditulis oleh mbak Asma sendiri. Mungkin penyuntingnya salah memasangkan nama. Yang juga menyenangkan adalah membaca deretan nama-nama penulis lain. Wow, saya sebuku dengan mbak Rini Nurul Badariah, mbak Yudith Fabiola, mbak Dian Ibung, mbak Beby Haryanti Dewi, mbak Dewi Cendika, mas Ali Muakhir, mbak Indah IP, dan tentunya mbak Asma sendiri!

Tengok tanggal dan tahun terbitnya, ternyata Maret lalu. Aduh, saya kok bisa ketinggalan berita selama itu, ya. Menilik tanggal di arsip surel, saya mengirim tulisan ini memang sudah lama sekali, tahun 2008. Saya ingat betul, saat itu bela-belain ke warnet ketika sedang liburan di Solo, malam-malam diantar adik.

Saya pun mencoba melacak perjalanan buku ini di arsip milis Pembaca Asma Nadia. Ternyata sebetulnya di bulan Februari sudah ada semacam pengumuman bahwa buku tersebut akan diterbitkan. Di facebook pun beberapa kali buku ini pernah dipromosikan, termasuk oleh sejumlah kontributor, tetapi rupanya saya melewatkannya (saking fokusnya sibuk di bidang lain). Bahkan di Islamic Book Fair kemarin ada bedah bukunya, lho, tapi beda hari dengan jadwal kami ke sana waktu itu.

Membaca lagi cerita-cerita di buku terbitan Buku Republika ini memang bikin senyum-senyum sendiri. Seperti sudah saya ungkapkan di atas, tulisan-tulisan dalam buku itu saya ketik tahun 2008. Masih berstatus pengantin baru. Baru dua tahun, maksudnya. Lagi lucu-lucunya, kan? Masih perlu banyak adaptasi, banyak ngambek-ngambeknya (bukan berarti sekarang jadi jarang :D), dan sedang semangat-semangatnya ngeblog di Multiply. Makanya jadi banyak stok cerita untuk dikirimkan ke moderator milis Pembaca Asma Nadia yang waktu itu bikin pemberitahuan butuh naskah lucu yang banyak.

Alhamdulillah, berarti tahun ini ada tulisan saya yang terbit, kendati ditulisnya sudah bertahun-tahun yang lalu. Sampai-sampai sudah lupa beneran. Oya, proses buku ini menjadi lama kemungkinan karena arsip yang terselip, seperti diakui moderator grup, karena waktu itu ada urusan keluarga yang penting. Saya pun tidak mendapatkan informasi sama sekali selain karena sudah jarang sekali menengok milis, juga barangkali karena ini proyek amal. Jadi 100% royalti disumbangkan. Kalau royalti diberikan untuk penulis, kan biasanya akan ada permintaan nomor rekening untuk mentransfernya.

Nah, tertarik untuk ikutan senyum-senyum sambil beramal? Bisa beli di toko buku online terdekat, ya….

Update:

Lewat buku ini juga, untuk pertama kalinya saya merasakan dapat “surat penggemar”. Pakai facebook, sih, bukan surat beneran. Itu pun salah sasaran, sebenarnya, karena ternyata kemudian adik lucu yang meng-inbox saya ini menyebut-nyebut nama Caca sebagai tokoh yang bikin ia gemas saat membaca buku Sedekah Senyum. Caca adalah nama panggilan putri sulung Mbak Asma Nadia, yang memang salah satu ceritanya entah bagaimana dimuat dengan nama saya dalam buku itu.