Hobi Baru: Jadi Stamp Hunter Alias Pengumpul Cap

Belakangan ini, saya lagi keranjingan hobi baru yang seru banget yaitu mengumpulkan stempel alias stamp hunting. Momen perkenalan saya dengan dunia berburu cap ini berawal sekitar bulan Juni lalu. Waktu itu, saya melihat book stamp (Museum Passport) yang diterbitkan oleh Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya (MCB atau Indonesian Heritage Agency/IHA). Kebetulan kami memang suka berkunjung ke berbagai museum. Seru, kan, kalau bisa sambil berburu cap khas masing-masing museum yang dituju?
Sebelumnya, kami memang sudah pernah mengikuti beberapa kegiatan yang melibatkan pengumpulan stempel, tetapi biasanya hanya di lembaran khusus yang itu pun seringnya akan diserahkan kembali untuk ditukar dengan hadiah. Koleksi stempel sebagai sebuah kegiatan yang relatif berdiri sendiri paling-paling hanya saya simak lewat postingan di media sosial, khususnya yang mengangkat stempel-stempel unik dan cantik di negara lain seperti Jepang. Oh ya, tahun ini saya juga membeli buku paspor dari Makarya Buku, tetapi sifat pengumpulan poinnya lebih ke loyalty points ya.

Saya mendapatkan buku Museum Passport pertama untuk kami di Museum Kebangkitan Nasional. Namun, saking buru-buru mau pulang, saya malah lupa untuk minta stempel di situ setelah membayar. Mengingat lokasinya sebetulnya termasuk cukup dekat dari kantor, kapan-kapan rasanya bisalah ke sana lagi. Cuma, yaa, tahu-tahu sudah tiga bulan berlalu dan belum jadi-jadi juga ke sana. Mungkin nanti sekalian kalau ada event di sana, ya.

Mulai Berburu Stempel

Stempel pertama untuk buku paspor museum jadinya malah kami dapatkan di Museum Pos Indonesia. Bulan Juli itu, mumpung anak-anak sedang libur semesteran, kami jalan-jalan akhir pekan ke Bandung. Total “cuma” dapat dari dua museum, yang satu lagi adalah Museum Geologi. Namun, itu juga sudah lumayan banget, sih. Tadinya mau mengejar ke Museum Gedung Sate, tetapi penutupan jalan agak bikin bingung hingga akhirnya kami tidak jadi ke sana.
Semoga kali lain bisa menjelajah museum-museum lainnya di Bandung dan mendapatkan stempel yang lebih banyak. Infonya, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dikelola Kementerian Luar Negeri bahkan punya buku paspornya sendiri dengan tantangan pertanyaan sebelum bisa mendapatkan berbagai stempel menarik. Lalu ada juga Museum 198X atau Toys Museum. Saya pun sedang berusaha mendukung agar museum yang berada di bawah pengelolaan instansi saya, Museum Perbendaharaan, segera punya stempel museum.
Saat beristirahat sejenak sepulang dari Museum Geologi, saya melihat-lihat unggahan di akun IHA untuk mendapatkan tambahan informasi soal Paspor Museum dan seluk-beluknya. Di kolom komentar, saya malah menemukan tambahan info menarik yaitu bahwa ada loh komunitas berburu stempel ini. Tanpa menunda, saya segera mengirimkan DM ke akun yang berkomentar tersebut. Saya pun diberi akses untuk bergabung ke grup WhatsApp Stamp Hunter Indonesia (SHI).

Saling Tukar Info

Ternyata grup komunitasnya sendiri masih terbilang baru. Namun, antusiasme para anggotanya sungguh luar biasa. Beberapa hari setelah saya bergabung, grup utama mulai diperluas dengan penambahan sub-sub grup. Tujuannya supaya bisa lebih fokus berbagi info dan bertukar tips untuk minat khusus masing-masing. Ada grup transportasi, Lego, resto/kafe, perpustakaan & toko buku, event stamp rally, dan tentunya museum.
Melihat fenomena stamp hunting atau stamp rally yang makin marak ini, ternyata ada sejarah menarik di baliknya yang baru-baru ini diulas oleh media Tempo. Saya kutip dari laporan Tempo, tradisi mengumpulkan stempel ini sebenarnya bukan hal baru di dunia, melainkan sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Menurut National Geographic yang dikutip Tempo, asal-usul tradisi ini dapat ditelusuri hingga 800 tahun silam di Jepang. Kala itu, para peziarah Buddha mengumpulkan cap yang disebut nōkyōin sebagai bukti atas salinan sutra yang mereka persembahkan di kuil-kuil yang dikunjungi.
Tradisi stempel kuil tersebut berkembang dari masa ke masa. Hingga pada tahun 1931, stempel stasiun atau eki stamp pertama kali hadir di Stasiun Fukui, Jepang. Ide ini muncul dari perbincangan santai antara kepala stasiun dengan stafnya untuk membuat kenang-kenangan visual berupa gambar kuil di dekat stasiun.
Aktivitas stamp rally di stasiun-stasiun makin populer dan menjadi fenomena masif di Jepang setelah dipicu oleh gelaran Osaka Expo pada tahun 1970. Kini, eki stamp tercatat tersedia di sekitar 9.000 stasiun di seluruh Jepang.

Kenang-kenangan Menarik

Beberapa waktu yang lalu PT KAI pun meluncurkan buku stempel Stamp Railly. Namanya unik karena menggabungkan kata rally dan rail yang khas kereta api. Untuk yang ini, saya baru dapat dua cap yaitu di Gambir dan Senen, dari total sepuluh yang tersedia di Daops I. Saya sempat menanyakan ke Stasiun Solobalapan ketika mudik, tetapi katanya belum ada (meski ternyata sebelumnya ada teman hunter yang berhasil mendapatkan cap stok lama dari event Jumbo di situ).
Tren yang kini merambah ke Indonesia, baik melalui Museum Passport maupun inisiatif tempat lainnya, dapat menjadi cara unik bagi kita untuk menyimpan kenangan perjalanan di tengah era yang serbadigital. Setiap stempel yang dibubuhkan seolah menjadi penanda jejak langkah dan momen manis dari tempat-tempat yang pernah kita singgahi.
Ada yang juga sudah mulai ikut berburu stempel? Stempel mana yang jadi favorit sejauh ini?

Leave a comment