[Resensi Buku] Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Kumpulan Artikel dan Esai

Judul Buku: Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Kumpulan Artikel dan Esai
Penulis: Holy Adib
Penerbit: DIVA Press
Jumlah Halaman: 210
Cetakan pertama, Oktober 2023
ISBN: 978-623-189-278-2

Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Kumpulan Artikel dan Esai

Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Kumpulan Artikel dan Esai

Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat 25 tulisan berjenis artikel dan esai tentang bahasa Indonesia (sebelumnya pernah dimuat di media), dengan diawali tulisan mengenai asal-usul penamaan “bahasa Indonesia”. Ya, rupanya untuk bisa menyematkan nama ini, alih-alih memakai penamaan “bahasa Melayu” yang sudah lebih dulu dikenal, itu pun memerlukan proses panjang dan diskusi alot. Ternyata nama “bahasa Indonesia” pertama kali disebutkan oleh Mohamad Tabrani, tepatnya dalam tulisannya yang berjudul “Kasihan” di koran Hindia Baroe pada 10 Januari 1926.

“Dalam esai itu Tabrani mengakui bahwa bahasa Belanda membantu kaum terpelajar untuk meluaskan pengetahuan dan pandangan. Namun, ia mengingatkan kaum terpelajar untuk berusaha dan berikhtiar menerbitkan satu bahasa yang lambat laun akan diberi nama “bahasa Indonesia”. (hlm. 19)

Menurut Tabrani, merujuk pada naskah Sumpah Pemuda, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsanya juga bernama Indonesia, maka seharusnya bahasa persatuannya juga disebut sebagai “bahasa Indonesia”, bukan “bahasa Melayu”, walaupun unsur bahasa Melayu memang mendasari bahasa Indonesia. Pendapat ini sempat ditentang oleh Muhammad Yamin yang bahkan sampai mengatainya “tukang ngelamun”. Gara-garanya, Tabrani toh menyetujui naskah pidato Yamin yang di dalamnya menyebutkan “bahasa Melayu” sebagai bahasa persatuan. Kalau memang Tabrani konsisten mau memperjuangkan penyebutan “bahasa Indonesia”, menurut Yamin, mestinya naskah pidato tadi juga ditolak atau diminta disesuaikan. Namun, akhirnya dicapai kesepakatan. Untuk melengkapi bahasan tersebut, di bagian awal buku ini juga disertakan cerita singkat mengenai perjalanan hidup Tabrani.

Tulisan-tulisan selanjutnya lebih banyak mengupas serba-serbi penggunaan bahasa Indonesia pada era modern, terutama kesalahan yang ditemukan oleh penulis di sana-sini. Terdapat tulisan yang mengenang kembali polemik terkait penggunaan bahasa yang tidak pas oleh para pejabat, juga tulisan yang menggali kesan budaya dari sebuah kata. Aspek yang ini rasanya masih relevan hingga sekarang, dengan dinamika berbahasa kekinian yang jujur memang kadang bikin kening berkerut.

“Jadi, jika kata-kata yang dianggap memiliki arti buruk atau berkonotasi negatif tidak boleh masuk kamus, saya khawatir kamus menjadi semacam kitab suci. Padahal, kamus merupakan pasar kosakata, yang memuat kosakata dan makna yang digunakan masyarakat tanpa memandang kata itu bermakna dan berkonotasi bagus atau buruk. Semua kata yang dipakai masyarakat seharusnya ada dalam kamus karena kamus diperbarui secara berkala. Kosakata baru yang sudah dipakai masyarakat, tetapi belum dicatat kamus, dimasukkan ke dalam kamus ketika kamus dimutakhirkan — sebagai informasi, KBBI Daring diperbarui sekali enam bulan.” (hlm. 69)

Ada pula tulisan yang membahas keunikan-keunikan seperti riwayat penggunaan huruf “v” dan “x” dalam bahasa Indonesia yang cukup rumit karena perlu pertimbangan dari segi pelafalan dan konsistensi. Penulis juga menyertakan pandangannya mengenai fenomena gaya penyajian berita di media daring yang berbeda dengan pakem jurnalistik terdahulu, seperti paragraf yang hanya terdiri atas sedikit sekali kalimat.

Banyak hal-hal menarik tentang kebahasaan yang baru saya ketahui dari buku ini. Kata pengantar dari Prof. Dr. Uli Kozok, pengajar di University of Hawai’i at Mānoa yang juga memberikan koreksi untuk tulisan-tulisan yang dibukukan ini, turut memperkaya pandangan kita. Seperti kata beliau, buku ini mengingatkan kita bahwa berbahasa bukan sekadar “yang penting orang paham”, melainkan juga cerminan pikiran kita. Yang penting juga untuk disimak adalah prakata dari penulis yang menyebutkan kegiatan membaca dan menulis yang ia sukai.

“Membaca untuk meriset membuat kita tidak mengambang dalam membaca, tetapi justru memiliki tujuan yang jelas. Dengan membaca untuk meriset, kita memahami sebuah persoalan. Itulah yang membuat saya senang menulis: menambah pengetahuan saya akan dunia yang saya senangi, yaitu dunia bahasa.” (hlm. 12-13)

Jadi, bukan cuma mendapatkan pengetahuan baru tentang bahasa Indonesia, menurut saya pembaca juga dapat terinspirasi oleh semangat baca penulis yang giat belajar hal-hal baru agar dapat menghasilkan tulisan yang baik.

#ResensiAgustus2026 #ParadeBukuAgustus #SegalaHaltentangIndonesia

18 thoughts on “[Resensi Buku] Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Kumpulan Artikel dan Esai”

  1. Iyaaa yaa jadi penasaran bagaimana kah bahasa melayu ini bisa bertransformasi menjadi bahasa indonesia…apakah bahasa kita pada jaman dahulu sudah seperti ini ataukah lebih seperti bahasa malaysia yang memang disebut bahasa melayu…

    Dan penggunaan bahasa sekarang memang cenderung lebih santai tidak sepakem bahasa dulu terutama dalam sisi penulisan. Banyak bahasa2 baku yang kini sudah mulai jarang digunakan, generasi muda sekarang lebih senang menggunakan bahasa tidak baku yang kadang menimbulkan misspersepsi

  2. Suka dengan analogi kalau kamus itu adalah ‘pasar kosakata’, bukan kitab suci. Ini tamparan halus buat kita yang sering kaku atau langsung menghakimi bahasa kekinian

  3. Fakta sejarah tentang peran M. Tabrani yang memperjuangkan nama ‘bahasa Indonesia’, bahkan sampai diskusi alot dengan M. Yamin,sering kali luput dari pembahasan umum. Menarik sekali melihat bagaimana pemilihan sebuah nama punya bobot historis dan politis yang begitu besar bagi persatuan bangsa.

  4. Ternyata bahasa yang sekarang menyatukan kita juga punya perjalanan panjang yang menarik untuk dipelajari ya. Pas banget dibaca di bulan kemerdekaan nih, jadi sekalian mengenal Indonesia dari sisi yang mungkin selama ini jarang dipikirin.

  5. wah nggak kebayang deh kalau misal dulu itu bahasa kita itu bahasa Melayu samaan dong sama malaysia jadinya. Terkait bahasa Indonesia sendiri pastinya hingga sekarang banyak sekali terjadi perubahan ya entah itu dari segi penulisan hingga serapan kata-kata baru dari bahasa luar makanya memang seharusnya sebagai warga negara kita juga familiar dengan kamus bahasa Indonesia

  6. belajar bsebagai bahasa itu sangat menyenangkan. Apalagi kita tau asal muasal bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Dilihat dari bahasa nenek moyang kita dulu gak sesantai seperti bahasa yang kita pergunakan saat ini. Jaman dulu orang berbahasa secara formal bahkan ada kata-kata yang sudah jarang kita dengar saat ini.

  7. Ulasan yang renyah dan informatif, Mbak Leila! Poin-poin penting dari bukunya tersampaikan dengan jernih, terutama soal sejarah penamaan bahasa kita oleh Tabrani.

  8. Dari review yang disampaikan buku ini tampak menarik, jadi rekomendasi utk masyarakat khususnya para pendidik sebab dalam pembahasannya dengan penyampaian yg ringan mengingatkan berbahasa bukan sekadar yang penting orang paham, melainkan juga cerminan pikiran

  9. Takjub dan dibuat penasaran dengan buku berjudul Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Kumpulan Artikel dan Esai. Semangat dari para penulis nya menembus layar gawai.

    Sebagai yang suka menulis dan membaca. Seringkali saya merasa harus memperbaiki yang masih salah satu keliru dalam kepenulisan. Semoga nanti bisa beli bukunya nih.

  10. Haa, akutu dari dulu suka penasaran ini prosesnya gimana kita punya Bahasa Indonesia, seru banget baca pergeseran Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia yang akhirnya jadi punya kita dan jadi tau siapa tokoh di belakangnya.

  11. Selama ini kita menggunakan bahasa Indonesia eh berbahasa Indonesia sehari-hari ya natural saja. Tapi lupa terpikir ah iya yaa, asalnya dari mana, kenapa dinamakan bahasa Indonesia. Jadi penasaran sih baca buku ini

  12. Setuju bahwa kamus bukan kitab suci yang membatasi kata-kata yang dijabarkan di dalamnya. Kamus adalah “pasar kosakata”, yang dapat memuat kosakata dan makna yang digunakan masyarakat tanpa pengecualian apakah itu bermakna atau berkonotasi bagus atau buruk. 

  13. Bahasa memang menjadi pondasi dasar untuk berkomunikasi dengan orang lain yaa.. termasuk dalam bentuk literasi yang memungkinkan semakin banyak orang ter-influence dengan isi pikiran kita dan semoga dengan menyebarkan kebaikan, semakin banyak pula kebaikan tersebar.

    Untuk sejarahnya yang disinggung dalam buku ini, pastinya jadi memahami bahwa bahasa pun mengalami perkembangan pada masa-nya masing-masing.

  14. Wah, ini menarik banget karena pembahasan tentang Bahasa Indonesia ternyata bisa membawa kita menyusuri sejarah yang panjang. Selama ini kita menggunakan Bahasa Indonesia setiap hari tanpa banyak berpikir tentang bagaimana perjalanan dan proses terbentuknya. Resensi seperti ini bikin aku jadi penasaran ingin membaca bukunya langsung.

  15. Wah, ini buku yg membahas seluk beluk bahasa Indonesia. Penasaran deh. Namun, baca resensinya saja sudah memberi sedikit informasi dan tambahan ilmu.

    Pingin deh punya buku ini juga.

  16. Wah, ternyata perjalanan lahirnya nama Bahasa Indonesia punya cerita yang panjang dan nggak sesederhana yang kita kira. Resensinya bikin penasaran, apalagi buat yang sehari-hari suka baca dan nulis.

Leave a comment