Judul: Mata Keramat
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Mulia Fitri Anggriani
Penerbit: Syab Publishing
Cetakan Pertama, 2025
Tebal: viii + 272 halaman
ISBN: 9786231091413

Novel Mata Keramat – Sinta Yudisia
Saya cukup sering membaca buku-buku yang ditulis oleh Mbak Sinta Yudisia. Dari kisah sejarah ala film kolosal sampai esai-esai kritis soal perempuan, keterampilan Mbak Sinta yang punya latar belakang akuntansi sekaligus psikologi dalam mengolah kata selalu memukau saya. Nah, ketika tahun lalu ada buku Mbak Sinta yang terbit, untuk pertama kalinya saya ragu membeli. Bukan apa-apa, temanya terlihat seram. Sampulnya saja sudah menakutkan.
Namun, tahun ini akhirnya saya membeli buku ini karena penasaran seperti apa Mbak Sinta menyajikan cerita horor. Tantangannya jelas: cerita horor seringkali berpotensi beririsan dengan ranah tauhid. Dengan posisi Mbak Sinta sebagai penulis karya-karya islami, akankah ceritanya berhasil membuat pembaca gemetar sekaligus tetap meyakini bahwa segala sesuatu tunduk kepada Allah SWT?
Bagian pembuka Dari Penulis langsung menyentak dengan menggambarkan malam-malam Mbak Sinta sebagai penulis, ketika nampaknya ada suara-suara misterius yang menemani. Katanya, beberapa kejadian di buku ini terinspirasi oleh peristiwa nyata.
“Semoga kisah ini tidak membuatmu tercebur dalam ketakutan, tapi justru menemukan akar masalah, lalu muncullah keberanian.” (hlm. V)
Pada permulaan cerita, pembaca diajak mengikuti tokoh anak SMA bernama Mutiara. Latar tulisan di Surabaya membawa serta kekhasan kota tersebut seperti lyn, bemo khas sana yang dinaiki Mutiara. Membaca buku ini dalam keadaan demam membuat saya seperti ikut merasakan ketidaknyamanan Mutiara di tengah kemacetan, yang lalu salah satunya ia tindaklanjuti dengan mengukur suhu memakai termometer. Kalau suhu tubuhnya makin naik, menurut Mutiara, maka makhluk mengerikan yang mengikutinya bisa menyerang.
“Mutiara membuka mata, melihat makhluk di depannya mendekat. Matanya putih. Seringainya menonjol, wajahnya tak berdaging.” (hlm. 13)
Di bab berikutnya kita diperkenalkan dengan Putri, sahabat Mutiara di sekolah yang serbatahu. Obrolan ringan ala remaja antara Putri dah Mutiara meredakan ketegangan yang sempat dibangun sebelumnya. Namun, suasana horor kembali dibangun lewat rencana study tour yang berpotensi mempertemukan mereka dengan makhluk gaib jika menginap di hotel tua.
Di rumah, tantangan Mutiara beda lagi. Ia hidup dengan ibunya yang mengalami suatu kondisi sehingga tidak dapat beraktivitas seperti ibu pada umumnya.
“Benci melihat ibu yang seharian tidur, tidak mengerjakan apa-apa. Benci melihat ibu yang tidak mencoba mencari nafkah sementara tetangga kanan dan kiri mereka berjuang menjadi buruh cuci atau tukang ojek sekolah demi agar memiliki penghasilan untuk menghidupi anak-anaknya. Benci melihat ibu yang dulu, dulu sekali, sering memukulinya.” (hlm. 26-27)
Kelelahan membagi waktu antara sekolah, mencari nafkah, dan mengurus ibunya tadinya dianggap Mutiara sebagai penyebab dirinya kerap bermimpi buruk. Saat menginap di Jogja, Mutiara kembali mengalami awal mimpi yang seram. Namun, setelah itu yang terjadi justru “serangan” terhadap teman lain, Queena sang cewek populer.
Mutiara berusaha menolong Queena yang seperti kesurupan dalam diam. Setelah itu, kabar bahwa Mutiara punya kemampuan unik lantas beredar di sekolah. Setelah beberapa waktu seperti bermusuhan, akhirnya Mutiara dan Queena bisa mendiskusikan kejadian malam itu dan Queena mengaku juga punya indra keenam. Mereka rupanya sering mengalami mimpi yang mirip, dan bertekad meminta tolong pada pakarnya
Salah satunya adalah Pak Rizki, satpam yang juga punya kepekaan. Penelusuran membawa Mutiara menemukan “surat kutukan” untuk seseorang yang sakit hati akan perbuatan ibunya. Pak Rizki membesarkan hati Mutiara dan mendorongnya untuk melawan.
“Ibumu menggadaikan harinya pada setan ketika menggoda suami orang. Hatinya lemah pada harta pula. Dan kali ini, kamu akan melawan itu semua. Kamu tunjukkan hati yang kuat, hati yang tidak cenderung pada harta. Hati yang rela melepas harta yang paling kamu sayangi.” (hlm. 208)
Maka, Mutiara belajar kembali soal harta. Ia belajar mengikhlaskan di tengah keterbatasan, bahkan mulai berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan. Ia juga menjalani terapi dengan Bu Lintang. Dari teman barunya di sana ia menemukan bahwa kemampuannya ini juga bisa digunakan untuk kebaikan seperti Bu Lintang yang membantu orang lain dengan kasus serupa.
Kehidupan Mutiara mulai lebih tertata, termasuk upayanya dalam bekerja. Ada kesempatan-kesempatan baru yang terbuka dan memudahkan jalan hidupnya. Namun, ia masih harus menghadapi ujian terakhir. Berhasilkah?
Novel ini lumayan bikin bulu kuduk berdiri. Namun, masih cukup bisa dinikmati tanpa merasa terganggu karena adegan-adegan sadis misalnya. Pembaca bisa ikut mengetahui ciri-ciri kemampuan khusus seperti yang dimiliki Mutiara, yang memang bisa terjadi di dunia nyata dengan berbagai variasinya. Oya, bonusnya tak kalah unik, lilin dengan kemasan desain sampul bukunya.
