Ibu Profesional, Menjadi Kebanggaan Keluarga Lewat Proses Belajar Tanpa Henti

Bagaimana caranya bergabung dengan IIP? Pertanyaan tersebut sering saya dapatkan, lebih-lebih ketika menjadi narahubung untuk acara Gathering Milad Keenam Ibu Profesional yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional Jakarta awal tahun ini.

Biasanya saya akan memberikan jawaban yang dimulai dengan pengenalan sekilas apa itu Ibu Profesional dan kegiatannya. Penjelasan ini saya pandang perlu, sebab keanggotaan Ibu Profesional tidak bisa otomatis diperoleh dengan mendaftarkan diri ataupun membayar iuran keanggotaan seperti sistem yang diterapkan oleh sejumlah komunitas atau organisasi lain.

Saya kutipkan definisi yang dimuat di situs http://www.ibuprofesional.com, yaitu bahwa yang disebut dengan ibu profesional adalah seorang perempuan yang bangga akan perannya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, dan senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu agar bisa bersungguh-sungguh dalam mengelola keluarga dan mendidik anaknya.

Adapun komunitas Ibu Profesional merupakan sekelompok perempuan yang senantiasa memantaskan dirinya baik sebagai ibu maupun calon ibu, dengan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membangun peradaban mulai dari dalam keluarga. Sejak tahun lalu, memang diterapkan pembagian istilah Ibu Profesional sebagai komunitas dengan Institut Ibu Profesional (IIP) sebagai forum belajar bagi ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas dirinya dalam menjalankan perannya sebagai perempuan, ibu dan istri.

Forum belajar inilah yang memiliki jenjang yang harus dilalui oleh para ibu profesional. Diawali dengan Kelas Matrikulasi yang jika lulus maka berhak memperoleh predikat anggota Ibu Profesional secara resmi. Kini, dibuka pula Kelas Foundation yang mewadahi calon peserta Kelas Matrikulasi agar lebih siap menerima materi dan sebagai sarana perkenalan terlebih dahulu.

Setelah resmi lulus dari Kelas Matrikulasi, anggota akan melanjutkan belajar di kelas Bunda Sayang, kemudian kelas Bunda Cekatan, kelas Bunda Produktif, dan kelas Bunda Saleha. Perkuliahannya sendiri berjalan secara online maupun offline, dan pesertanya tersebar di seluruh penjuru nusantara bahkan dunia, dikelompokkan berdasarkan wilayah. Jika angkatan saya kelasnya masih didominasi kelas online sedangkan kelas offline biasanya hanya insidental dengan ide dari anggota, sekarang ada juga kelas yang memang lebih fokus ke tatap muka offline, dan ini bisa dipilih sejak awal.

Jadi, bagaimana cara mendaftar ke IIP? Pendaftaran kelas matrikulasi –yang sekarang sedang berjalan adalah Matrikulasi Batch 5– biasanya dibuka secara berkala pada bulan Juni dan Desember. Informasi terkait bisa diperoleh dari media sosial Ibu Profesional. Atau jika tidak ingin ketinggalan berita, mengingat selama ini pendaftarannya cenderung cepat ditutup (khususnya untuk kota-kota tertentu) karena peminat yang banyak, bisa sign up dulu di website (https://www.ibuprofesional.com/forum-ibu-profesional atau lewat slide di bagian atas beranda). Nantinya informasi terbaru akan selalu dikirimkan melalui e-mail, atau pendaftar akan dimasukkan dahulu ke Kelas Foundation (tergantung sistem yang sedang berjalan karena sempat ada beberapa perubahan).

Ibu Profesional sendiri didirikan oleh pasangan suami-istri bapak Dodik Mariyanto dan ibu Septi Peni Wulandani yang kini ketiga putra-putrinya sudah beranjak remaja. Jadi apa yang disampaikan juga banyak berasal dari pengalaman beliau berdua yang sudah terasah oleh waktu dan beragam tantangan.

Ide pembentukan Institut Ibu Profesional dulu justru berawal dari pak Dodik, ketika melihat ibu Septi yang biasa aktif saat kuliah mengalami masa surut selaku istri dan ibu rumah tangga. Dasar pemikirannya adalah, apa pun perannya, seorang ibu maupun calon ibu haruslah profesional. Namun, sesuai tugas sebagai pendidik utama, pijakan utama memang tetap ranah domestik. Sehingga fokusnya memang dari dalam dulu, sebagaimana tahapan kelas Ibu Profesional di atas. Seperti kata pak Dodik,

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik.”

Setiap kali mengulang penjelasan mengenai IIP di atas, saya jadi seperti mengenang kembali perjalanan mengikuti kelas IIP sejauh ini. Kini saya berada di penghujung kelas Bunda Sayang batch pertama setelah melalui 12 tantangan, sedangkan kelas matrikulasi yang saya ikuti mulai dibentuk pada akhir tahun 2016. Artinya sudah hampir dua tahun tahun saya belajar bersama Ibu Profesional. Bukan hanya saya sebenarnya, melainkan juga seluruh anggota keluarga turut merasakan dampaknya. Dampak yang positif, tentunya, dengan izin Allah swt.

Di IIP, kami belajar banyak hal. Mayoritas materi diberikan secara online melalui grup WhatsApp (ada juga kelas yang mengambil opsi tatap muka, tapi saya tidak ikut, kecuali sebagai pengayaan saja dari kelas whatsapp) pada waktu yang telah disepakati bersama. Kemudian peserta didorong untuk aktif berpartisipasi dalam bentuk pertanyaan, tanggapan, maupun berbagi pengalaman. Tugas berupa nice home work (NHW, untuk kelas matrikulasi) maupun tantangan (untuk kelas Bunda Sayang) dibuat di media seperti Google docs atau blog peserta, kemudian disetorkan melalui grup facebook dan/atau Google form.

Materi yang diberikan oleh fasilitator seolah membangkitkan kembali fitrah belajar dalam diri. Mungkin kita sudah pernah membaca tulisan serupa, tetapi karena didiskusikan bersama dan ada tugas yang perlu dibuat, jadinya lebih mengena. Tantangannya beragam sekaligus menarik, mulai dari membuat surat cinta untuk suami, menyusun jadwal dan target pribadi secara periodik, melatih kemandirian anak, memperbaiki komunikasi di keluarga, membangkitkan minat baca anak, mengasah kecerdasan finansial, dan menelaah fitrah seksualitas, dan lain-lain. Bahkan untuk salah satu materi menjelang akhir kelas Bunda Sayang, peserta secara berkelompok diminta bergantian menyajikan materi untuk tema yang sama.

Konsistensi dalam mengerjakan tantangan dan keaktifan dalam kelas menjadi penentu kelulusan dari kelas. Jika memang belum memenuhi syarat, ada pilihan untuk mengulang dengan syarat. Tersedia juga fasilitas cuti jika memang dengan berbagai pertimbangan belum bisa melanjutkan kuliah. Namun, keberhasilan dari pengerjaan tugas tentunya tidak hanya diukur dari situ.

Saya sendiri merasakan manfaat dari pengerjaan tugas sejauh ini. Misalnya, adanya panduan dari tugas membuat kegiatan saya dengan keluarga menjadi lebih terarah. Keharusan menyetor tugas juga membuat aktivitas dan proyek keluarga terdokumentasi dengan baik, sekaligus bisa menjadi bahan portofolio anak-anak. Dari segi pengaturan waktu, saya jadi semakin menjauhi kebiasaan menunda pekerjaan, karena agar semua tugas baik di rumah, kantor, maupun IIP bisa terselesaikan dengan baik pastilah tidak boleh ada waktu terbuang sia-sia.

Yang membuat hati saya menghangat adalah adanya kesempatan bertemu dengan teman-teman baru dari banyak tempat yang berbeda. Bukan sekadar bertemu, bahkan mungkin belum semuanya berkesempatan bertemu muka secara langsung, tetapi bertemu dalam majelis ilmu yang bermanfaat.

Terdapat pula sejumlah Rumah Belajar yang mewadahi anggota dengan minat yang sama dalam satu wilayah, misalnya menulis, berkebun, sew & craft, serta boga, yang semakin mengeratkan kebersamaan anggota dan menjadi sarana saling menyemangati sekaligus menempa keterampilan. Banyak peserta maupun fasilitator yang merupakan ibu-ibu hebat di mata saya. Mereka sukses di bidang masing-masing, bahkan banyak yang sudah berkiprah mendidik atau memberdayakan masyarakat. Tak heran tahun ini Ibu Profesional mencanangkan program Changemaker Family.

“Prosesnya bukanlah mengubah, melainkan mulai dari berubah untuk diri sendiri dan keluarga dulu. Dengan berubah ini, frekuensi bisa bergeser  dan ketemu dengan orang-orang maupun keluarga yang satu frekuensi.”

Kata-kata di atas disampaikan oleh ibu Septi bulan Januari lalu dalam acara Gathering Milad Ibu Profesional di Jakarta. Tepat seperti itulah yang saya rasakan, walaupun kadang masih ada rasa minder berkumpul dengan ibu-ibu yang keren atau berprestasi di rumah maupun ranah publik.

Dengan serangkaian aktivitas yang saya kerjakan sekarang, kadang-kadang saya membayangkan betapa sibuknya para fasilitator. Sibuk yang berpahala in sya Allah, tetapi tetap harus diiringi dengan komitmen tinggi. Fasilitator bertugas sebagai pendamping belajar di kelas selama periode tertentu.

Saya sempat menanyakan kesan-kesan sebagai fasilitator kepada teh Anna yang menemani kami di Kelas Bunda Sayang IIP Batch 1 Jakarta 02 saat ini. Menurutnya, tantangan terbesar adalah bagaimana agar tetap konsisten. Dengan kondisinya sekarang yang sedang mendampingi suami kuliah di Yokohama National University, Jepang, saya sungguh ingin tahu bagaimana teh Anna mengatur waktu.

“Karena sudah komitmen, mau tak mau harus hadir walau waktu sudah malam. Rata-rata diskusi pukul 8 malam di Indonesia, yang berarti pukul 10 malam di sini. Saya atur pagi hari semua pekerjaan selesai. Jadi mulai malam saya free. Hanya kebetulan suami selalu pulang dari kampus malam, (jadi saya) izin disambil. Tapi positifnya, jadi lebih baik dalam mengatur waktu,” jelas teh Anna. Ma sya Allah, semoga saya juga bisa seandal teh Anna dalam manajemen diri untuk kebaikan keluarga.

Pembelajaran tidak berhenti di situ. Masih ada tahapan-tahapan berikutnya yang harus dijalani, baik di dalam maupun di luar kelas IIP. Sebagaimana disebutkan dalam materi keempat kelas Bunda Sayang:

“Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri. Apabila Bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati perkembangan mereka, maka kita pun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya mengajar kita, dan gaya bekerja kita. Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.”

Untuk bisa menjadi kebanggaan keluarga sebagaimana tagline IIP, tentu kita harus berbekal ilmu yang diperoleh lewat belajar, kan?

Semoga kami semua dapat berada di tingkatan ketiga pembelajar sebagaimana diungkapkan dalam materi kelas Matrikulasi sesi ke-5:

“Selalu merasa diri haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimiliki telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu‘, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.”

 

Referensi:

Materi Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #5 – Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Materi Level 4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Memahami Gaya Belajar Anak

Buku Saku How to Be a Professional Mother (diperoleh dari kuliah umum IIP tahun 2015)

Sesi berbagi dengan ibu Septi Peni Wulandani dalam Gathering Milad Keenam Ibu Profesional yang diadakan oleh Ibu Profesional Jakarta, Januari 2018

Wawancara dengan teh Anna Andriani, fasilitator kelas Bunda Sayang batch 2, Februari 2018

https://www.ibuprofesional.com/blog/mengenal-ibu-profesional, diakses 28 Februari 2018

One thought on “Ibu Profesional, Menjadi Kebanggaan Keluarga Lewat Proses Belajar Tanpa Henti

  1. Pingback: Segera: Ramadhan Seru bersama Hamzah dan Syifa! | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s