Mendadak Nonton Drama Musikal Home Sweet Loan

Sabtu siang lalu, 17 Oktober 2026, saya mengambil keputusan mendadak yang tidak saya sesali.  Sejak pagi, saya dan Fahira sudah ada di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari Festival (Perpustakaan, Kearsipan, dan Sastra) (Pusta Karsa) yang juga mencakup Festival Literasi Jakarta dan bazar buku Out of The Boox, sampai pameran seni Jakarta Biennale. Sambil sarapan di gerai roti kaya yang baru dibuka, saya mengecek kembali Instagram @homesweetloanthemusical.
Pertunjukan Home Sweet Loan The Musical di Graha Bhakti Budaya

Pertunjukan Home Sweet Loan The Musical di Graha Bhakti Budaya

Sejak kunjungan kami ke Teater Besar TIM awal bulan ini untuk acara puncak Karya Raya, poster-poster besar drama musikal Home Sweet Loan yang terpampang di bagian luar gedung seberang memang begitu menggoda. Bahkan sebetulnya saya sudah tertarik menonton sejak melihat informasi pementasan pertunjukan Aku Kaluna tahun lalu. Hanya saja, situasinya saat itu belum memungkinkan.
Home Sweet Loan sendiri awalnya adalah sebuah novel yang ditulis oleh Almira Bastari dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2022. Dengan jalan cerita yang dekat dengan kondisi masyarakat sekarang dan disajikan dengan apik pula, novel ini menarik perhatian banyak orang. Fahira termasuk yang menyukai buku ini dan menantikan versi filmnya, yang dirilis pada 2024 dan kami tonton bersama-sama.
Awal tahun 2025, pementasan monolog Home Sweet Loan digelar di Galeri Indonesia Kaya dengan tajuk Akukaluna. Pemerannya tetap Yunita Siregar, dengan dua hari pertunjukan. Terbaru, HSL ditampilkan dalam format teater musikal di Graha Bhakti Budaya TIM pada tanggal 30 September sampai dengan 18 Oktober 2026. 

Akhirnya Nonton Juga

Pagi itu, salah satu unggahan terbaru di Instagram HSL menarik perhatian saya. Katanya, ada diskon khusus untuk pementasan hari Sabtu (dan kemudian, hari Minggu juga). Ini memang hari-hari terakhir pementasan HSL The Musical di TIM. Potongan harganya lumayan, untuk kelas Bronze dari Rp270.000 menjadi Rp190.000. Sayang rasanya kalau dilewatkan. Saat pembayaran, ternyata harga tersebut memang masih ditambah lagi dengan biaya lainnya hingga hitungan akhirnya menjadi Rp230.000 per tiket. Ya, saya tetap memilih kelas termurah ini karena satu dan lain hal. Yang penting bisa nonton dulu, meski memang posisi di balkon agak menyulitkan untuk menyimak secara optimal.
Posisi tempat duduk pertunjukan Home Sweet Loan The Musical

Posisi tempat duduk pertunjukan Home Sweet Loan The Musical

 

Apalagi, karena kami membeli tiket di hari-H, tak banyak pilihan kursi bersebelahan yang tersedia. Akhirnya saya mengambil dua kursi di deretan  yang benar-benar paling belakang, yang juga sekaligus paling atas tentunya. Usai menyimak gelar wicara di Festival Literasi Jakarta, sebelum menuju gedung pertunjukan, kami makan siang dulu di food court selasar Gedung Ali Sadikin lalu shalat Dzuhur di Masjid Amir Hamzah.

Penonton dengan tiket Silver dan Bronze rupanya harus menaiki tangga yang terletak di bagian luar gedung untuk menuju ke lantai dua, karena meja registrasinya berada di sana. Berbeda dengan kelas Gold dan VIP yang dilayani di dekat pintu masuk utama Gedung GBB. Lumayan tinggi, tapi anak tangganya sangat rendah-rendah dan lebar, jadi tidak terlalu terasa lelah.
Anak tangga menuju lantai 2 Graha Bhakti Budaya TIM

Anak tangga menuju lantai 2 Graha Bhakti Budaya TIM

Begitu sudah melakukan registrasi dan mendapatkan gelang, kita bisa membeli makanan, minuman, dan pernak-pernik lainnya di lantai yang sama maupun turun ke lantai bawah dengan eskalator untuk mendapatkan pilihan yang lebih banyak. Selain booth makanan, di bawah juga ada photo booth yang disponsori oleh BSI, booth karangan bunga, serta beberapa booth lainnya yang menawarkan rumah dan program pembiayaannya.
Gelang tiket Home Sweet Loan The Musical

Gelang tiket Home Sweet Loan The Musical

Ada juga dinding berisi poster para pemain yang juga dapat dipakai untuk berfoto, mirip dengan yang disediakan saat kami menonton Musikal Keluarga Cemara di Ciputra Artpreneur. Kebetulan, penyelenggaranya juga sama yaitu Visinema Studio. Kali ini selain bekerja sama dengan Indonesia Kaya juga dengan Jakarta Art House.
Poster para pemeran Home Sweet Loan The Musical

Poster para pemeran Home Sweet Loan The Musical

Untuk persiapan shalat Ashar, saya sempat menanyakan kepada petugas apakah ada mushalla di Graha Bhakti Budaya, tapi katanya tidak ada, pengunjung dipersilakan ke Masjid Amir Hamzah. Saya pikir, mungkin bisa juga ke mushalla lantai 2 Gedung Teater Besar, yang saat itu sedang dibuka untuk acara Malam Anugerah Piala HB Jassin. Kami pernah shalat di situ ketika mengikuti acara Karya Raya, dan jaraknya agak lebih dekat daripada ke masjid meskipun tetap harus berpindah gedung.
Balkonnya sendiri ada di lantai 3, jadi dari lantai 2 kami naik eskalator sekali lagi untuk bisa ke sana. Oya, sebetulnya ada lift juga, sih. Di lantai ini tidak ada booth, tetapi ada beberapa tempelan poster aktivitas seru-seruan di pilar seperti menemukan kata-kata yang ada hubungannya dengan jalan cerita dan mengisi lirik lagu yang dikosongkan. Toilet yang tersedia sepertinya cukup banyak juga, karena selain di sisi tempat kami masuk juga ada panah menuju toilet di sisi satunya.
Tempelan di pilar lantai 3

Tempelan di pilar lantai 3

Toilet ini penting tentunya, karena durasi pertunjukannya cukup panjang. Tepatnya, kalau untuk sesi siang, dari pukul 14.00 sampai 16.30, dengan jeda 15 menit pada pertengahan cerita yang dapat digunakan untuk keluar ke toilet atau makan dan minum. Penonton tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman ke dalam ruangan pertunjukan, jadi kami menitipkan tas bekal di meja yang kemudian ditempeli stiker bertuliskan nomor tempat duduk oleh petugas.

Familiar, tapi Baru

Meski berjarak lumayan jauh dari panggung, tetapi kami ternyata tetap bisa menikmati pertunjukan dengan baik. Beberapa aspeknya juga familiar karena sama dengan pertunjukan Keluarga Cemara maupun tentunya versi buku dan filmnya.
Panggung Graha Bhakti Budaya, dilihat dari bangku paling atas balkon.

Panggung Graha Bhakti Budaya, dilihat dari bangku paling atas balkon.

Sentuhan Ivan Tangkulung sebagai pengarah musik dan penulis lagu kembali berhasil membalut adegan demi adegan dengan harmonisasi yang menawan. Naskahnya yang juga memuat kritik sosial dan dekat dengan realitas generasi masa kini digarap oleh Widya Arifianti, yang juga merupakan penulis skenario versi filmnya. Deretan ansambel pun memperkuat dinamika panggung, dan salut banget mereka berganti-ganti memerankan tokoh yang berbeda dari orang-orang di kereta/stasiun, para pegawai kantor, orang-orang properti, hewan-hewan di Sea World, sampai barisan yang memperkuat emosi cerita. Di bawah arahan sutradara Dinda Lisa Reideka, seluruh elemen tata panggung, gerak tari, hingga tata cahaya mengalir dengan cantik.

Kaluna dan Danan di Sea World

Kaluna dan Danan di Sea World

Seru Sekaligus Haru

Idgitaf juga dilibatkan sebagai komposer. Tak tanggung-tanggung, ada lima lagu orisinal baru yang diciptakan khusus oleh Idgitaf untuk memperkuat lakon di panggung yaitu “Beli Sekarang”, “Jakarta Riuh”, “Satu Napas Lagi”, “Amarah Seperti Apa”, dan “Zona Aman”.
Lagu-lagu ini berhasil menggambarkan sesaknya aktivitas di ibukota dan riuhnya kepala Kaluna sebagai anggota sandwich generation yang memperjuangkan ruang bagi dirinya sendiri. Buat saya, lagu “Amarah Seperti Apa” serasa terngiang terus karena kata-kata dalam liriknya yang tajam. Apakah kita harus selalu menahan marah? Apalagi amarah kepada keluarga yang sudah menyakiti hati, apakah kita masih tetap berdosa jika merasa marah? Di beberapa sesi pementasan pekan sebelumnya, Idgitaf sendiri dan juga Sal Priadi sempat tampil membawakan langsung lagu-lagu mereka.
Perpisahan dengan Chintana Jo yang juga dihadiri Kalya Islamadina

Perpisahan dengan Chintana Jo yang juga dihadiri Kalya Islamadina

Tokoh Kaluna di pementasan ini dibawakan secara bergantian oleh Kalya Islamadina dan Chintana Jo. Pertunjukan Sabtu siang yang kami tonton ini ternyata merupakan sesi terakhir di mana karakter Kaluna dimainkan oleh Chintana Jo. Jadi pada akhir pertunjukan ada semacam tambahan acara perpisahan untuknya dengan menyanyi bersama, dan Kalya ikut bergabung juga. Chintana berhasil membawakan karakter Kaluna dengan sangat pas, rapuh dalam kesendiriannya sekaligus menyimpan ketangguhan yang luar biasa saat berhadapan dengan tantangan. Vokal dan artikulasinya saat membawakan lagu-lagu berpadu manis dengan ekspresi yang kuat.
Adegan di kantor Kaluna

Adegan di kantor Kaluna

Banyak hal kekinian juga turut diselipkan, utamanya lewat tokoh Bu Sonia yang merupakan bos di kantor Kaluna dan Sayuti, OB-nya. Dari comeback-nya Syahrini sampai isu sosial tak luput dari bahasan mereka. Celetukan mereka berdua membuat kami tertawa, bertepuk tangan, atau mengangguk-angguk setuju. Kedua tokoh ini merupakan tokoh baru yang sangat menghidupkan suasana.
Elemen dari filmnya yang dipertahankan adalah adegan di Sea World yang dipentaskan dengan sangat meriah. Adegan Kaluna dkk ditawari rumah oleh agen-agen properti berbeda dengan keunikannya masing-masing menjadi salah satu favorit saya, karena berhasil menampilkan interpretasi yang segar. Secara visual, salah satu yang tak terduga adalah adegan rumah impian Kaluna “melayang”. Nggak kepikiran aja, karena yang sudah tertanam di pikiran ya properti ini berat karena sempat dipakai duduk betulan juga. Sungguh simbolisasi yang ciamik untuk terbangnya harapan yang sudah lama dinantikan dan nyaris digapai.
Adegan Kaluna menelepon Bapak dan merelakan impiannya.

Adegan Kaluna menelepon Bapak dan merelakan impiannya.

Di sisi lain, Hansa yang merupakan pacar toxic Kaluna tidak dimunculkan sama sekali. Mungkin agar jalan cerita bisa difokuskan pada hal-hal lainnya, ya. Sedangkan romansa Kaluna dan Danan tetap ditunjukkan tipis-tipis. Saya sebetulnya berharap adegan Danan kagum pada pencatatan keuangan Kaluna ditampilkan juga di panggung, tapi mungkin terlalu teknis nanti jadinya, ya. Oya, karena pertunjukan ini didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan BSI, jadi ada selipan informasi yang mempromosikan program Fasilitas Pembiayaan Perolehan Rumah (FPPR) maupun KPR BSI dalam salah satu dialog. Namun, tidak terasa mengganggu, kok. Lagipula masih nyambung juga dengan jalan ceritanya.
Menonton Home Sweet Loan The Musical bersama Fahira kemarin berhasil menjadi momen quality time kami berdua yang penuh kesan. Cerita tentang perjuangan mencari “rumah” yang bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana kita benar-benar diterima dan merasa aman ini, terasa menyentuh bagi kami berdua. Keputusan impulsif membeli tiket di hari-hari terakhir pementasan ini terbayar tuntas.

One thought on “Mendadak Nonton Drama Musikal Home Sweet Loan”

  1. Waaa aku nonton ini juga di hari Minggu. Tadinya bilang ama temen, “kalau ini drama bikin gue ngantuk, abis babak 1 gue pulang aja ya,” Ternyata sebagus itu aksi panggung dan tata panggungnya juga, sampe ga sadar kalau udah mau selesai.

Leave a Reply