Rasanya sudah setahun belakangan ini saya mulai kesulitan membaca tulisan kecil di depan mata. Contohnya, keterangan di kemasan suplemen vitamin atau obat. Saya perlu menjauhkannya dulu dari mata saya yang padahal minus ini, barulah tulisan itu terbaca. Beberapa bulan terakhir, saya malah merasa lebih nyaman melepas kacamata saat harus mengetik di laptop. Namun, untuk bisa membaca tulisan yang jaraknya agak jauh, saya tetap memerlukan kacamata minus yang biasa saya pakai itu.
“Jalan ninjaku, tulisannya difoto dulu pakai hp, baru di-zoom biar kebaca,” celetuk salah satu teman di grup angkatan kuliah. Ya, masalah kami mirip-mirip ternyata. Tak bisa dimungkiri, ada faktor U di situ. Usia kami yang sudah melewati angka 40 tahun ternyata berpengaruh ke kemampuan melihat.
Tahun lalu saya sudah mencoba memeriksakan diri ke optik langganan. Setelah rangkaian pengecekan, petugasnya bilang plus mata saya baru 0,5 sehingga belum terlalu disarankan memakai kacamata plus. Saya sendiri sempat berpikir, bukankah minus ditambah plus artinya minus mata saya berkurang, ya? Tapi tentu saja cara kerjanya tidak seperti itu. Minus mata saya (alhamdulillah?) cukup stabil, dengan angka silinder yang sedikit bertambah. Apa sebaiknya beli kacamata plus terpisah saja, ya?

Fahira cek mata
Memutuskan Pesan Kacamata Progresif
Beberapa bulan yang lalu, sekalian mengecek minus mata anak-anak secara rutin, saya pun ikut periksa. Kali ini plus mata saya sudah bertambah meski tidak banyak. Saya pun mulai berdiskusi dengan petugas optiknya mengenai opsi kacamata progresif. Kalau nanti memutuskan untuk jadi membeli dan memakainya, kata petugasnya, biasanya akan perlu waktu untuk beradaptasi. Pada hari-hari awal, mungkin akan terasa “melayang” terutama saat berjalan, katanya. Karena kami ada rencana ke luar kota dalam waktu dekat, saya pun menunda pemesanan kacamata progresif ini dan berfokus pada penggantian kacamata Fahira yang naik minusnya.

Pilihan kacamata di optik langganan
Sambil menimbang-nimbang, saya pun mencari bacaan terkait untuk menambah wawasan. Kalau menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), kondisi yang saya alami ini termasuk wajar dan dikenal sebagai presbiopi (mata tua). Seiring dengan bertambahnya usia, lensa alami mata kita memang mulai kehilangan fleksibilitasnya. Lensa progresif hadir sebagai solusi alat bantu penglihatan tanpa garis pembatas (seperti kacamata bifokal model lama), jadi tampilannya tetap estetis dan praktis buat berbagai jarak pandang.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang pemakaian kacamata dengan lensa progresif ini, di antaranya
1. Ada tiga zona penglihatan dalam satu lensa
Lensa progresif membagi area fokus secara bertahap tanpa garis penyekat, yaitu
-
Zona atas: untuk melihat objek jarak jauh (misalnya saat menyetir atau melihat ke depan).
-
Zona tengah: untuk jarak menengah (seperti menatap layar komputer/laptop).
-
Zona bawah: untuk jarak dekat (membaca buku atau layar ponsel).
Ada juga area bagian tepi (perifer) lensa yang biasanya sedikit lebih buram. Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), efek distorsi di pinggir ini normal dan menjadi salah satu alasan kenapa mata kita butuh waktu buat penyesuaian.
2. Masa adaptasi
Jangan panik kalau di beberapa hari pertama pemakaian rasanya agak aneh. Panduan dari Mayo Clinic menjelaskan bahwa otak dan mata kita memang perlu belajar mengenali titik fokus yang baru. Proses adaptasi dapat berlangsung dari beberapa hari hingga sebulan. Dalam masa itu, timbulnya sensasi sedikit pusing atau efek “berayun” di awal itu wajar. Justru jangan hentikan pemakaian, teruskan saja untuk digunakan secara konsisten setiap hari supaya proses penyesuaiannya makin cepat.
3. Gerakkan wajah, bukan cuma bola mata
Karena zona fokusnya tersusun secara vertikal, kita perlu membiasakan diri untuk mengarahkan hidung atau wajah langsung ke objek yang ingin dilihat, bukan cuma melirik dengan bola mata. Saat akan menuruni tangga misalnya, kita perlu menundukkan kepala sedikit agar pandangan tidak keliru melewati zona baca di bagian bawah.
4. Pilih bingkai (frame) yang tepat
Bukan soal modelnya cakep atau tidak ya, walaupun mungkin soal bentuk wajah dan warna favorit juga menjadi pertimbangan bagi sebagian orang. Saya sendiri sempat galau karena ketika mau membeli kacamata baru itu, kebetulan sedang banyak frame dengan warna ungu (warna favorit saya) yang tersedia di optik langganan. Namun, saya memutuskan untuk tetap membeli yang warnanya netral saja. Yang lebih utama adalah mencari bingkai dengan tinggi lensa minimal 28–30 mm, karena perlu mengakomodasi kebutuhan yang cukup banhyak juga, kan. Bingkai yang terlalu sempit berisiko memotong area baca bagian bawah, sehingga kurang nyaman saat dipakai membaca.

Kacamata baru saya
5. Pentingnya pengukuran yang presisi
Lensa progresif butuh akurasi tinggi. Pergeseran beberapa milimeter saja bisa bikin pandangan buram atau memicu pusing. Pastikan pihak optik mengukur pupillary distance (PD/jarak antar pupil) dan fitting height secara cermat dan profesional. Saya pun mengalami bahwa setelah pengukuran pakai alat yang biasanya, saya juga diminta melihat ke arah tertentu yang berbeda beberapa kali dan petugas seperti melakukan pengukuran tambahan.
6. Persiapan anggaran
Karena teknologi pembuatannya yang lebih kompleks, harga lensa progresif memang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan lensa biasa. Apalagi kalau mau lensa yang lebih tipis. Namun, kenyamanan tidak perlu berganti-ganti kacamata untuk berbagai aktivitas (karena memakai kacamata minus dan plus secara terpisah) tentu menjadi investasi yang sepadan.
Menyadari perubahan fungsi mata di usia 41 memang butuh rasa legawa juga, dan memutuskan untuk memakai lensa progresif menurut saya adalah langkah yang cukup besar demi kenyamanan aktivitas sehari-hari.

Celetukan memotret tulisan lalu di-zoom itu bikin senyum, Mbak, cara praktis banget buat membaca huruf kecil. Ternyata memilih kacamata progresif banyak pertimbangannya ya, sampai tinggi bingkai dan pengukurannya juga perlu diperhatikan. Semoga makin nyaman pakainya dan adaptasinya lancar, terutama buat baca dan kerja di laptop.
Wah sama persis apa yang saya alami saat ini di usia 45, sudah kesulitan untuk membaca tulisan berukuran kecil. Ditambah kalo membaca mesti ada cahaya yang lebih terang. Kalo cahaya gelap sedikit, tulisannya gak kebaca. Jadi kepengen juga bikin kacamata progresif kayak gini dehh. Untung aja bisa mampir ke blog keren ini dan membaca tulisan yang bermanfaat ini
Saya sebelumnya gak pernah berkacamata. Sekalinya mulai pakai kacamata langsung progresif. YA memang butuh adaptasi waktu pertama kali pakai kacamatanya.
Jadi ingat Mbakku yang agak ngeluh soal mata. Ya emang usia udah makin matang, mata juga kan fungsinya gak kaya pas muda. Akhirnya emang pakai kacamata sih. Pilih mana yang memang nyaman dan jangan lupa anggarannya