Adaptasi Cerita ke Berbagai Media, Apa Pandangan Para Penulis?

Akhir pekan kemarin, saya ikut menyimak diskusi menarik mengenai adaptasi novel dalam gelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) di Teater Wahyu Sihombing, kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini. Sesi yang dipandu oleh Adit MKM sebagai moderator ini menghadirkan tiga penulis dengan karya-karya populer yang sudah sampai menyeberang ke berbagai media berbeda yaitu Adhitya Mulya (Jomblo, Sabtu Bersama Bapak, Si Paling Aktor), Almira Bastari (Home Sweet Loan, Ganjil Genap, Agensi Rumah Tangga), serta Donny Dhirgantoro (5 cm dan sekuelnya).

Novel-novel mereka menemani fase hidup saya yang berbeda. Jomblo terbit dan saya baca zaman kuliah. Karena memang di kampus dulu ceweknya minoritas, jadi ada rasa terhubungnya. Apalagi dulu saya punya geng sama teman-teman sekelas (yang cowok semua itu), berlima, dengan mereka berempat punya karakter uniknya masing-masing meski nggak seekstrem Agus, Bimo, Olip, dan Doni. Nonton filmnya dulu sendiri, karena kami sudah lulus dan sudah mulai magang di tempat yang berbeda-beda.

Diskusi Novel ke FIlm, Panggung dan Media Lain di JILF 2026

Diskusi Novel ke FIlm, Panggung dan Media Lain di JILF 2026

Serial Jomblo di TV keluar pas baru banget nikah dan LDR sama suami yang penempatan di kota berbeda. Sayang di daerah penempatan waktu itu, Babel, belum masuk siaran saluran TV yang menayangkan. Kalau lagi pulang ke Jakarta, saya suka nonton serialnya bareng suami karena ceritanya yang menurut kami seru. Dan karena nggak bisa tiap pekan pulang, jadi saya suka minta update cerita waktu teleponan dengan suami. Begitu mulai punya anak bertepatan dengan kepindahan kami ke kantor baru di Jakarta, ternyata Kang Adhit lagi sering berbagi soal parenting dan kami pun suka ikut sesi-sesinya.

Novel 5 cm keluar menjelang kelulusan kuliah dan direkomendasikan oleh salah satu anggota geng pertemanan yang saya sebutkan sebelumnya. Alhamdulillah waktu filmnya tayang, saya sudah pindah lagi ke kota yang ada bioskopnya. Nontonnya sama teman-teman kantor sesama ibu muda anak satu yang dulu juga sama-sama baca novelnya, jadi senang bisa sekali-kali me time bareng.

Adapun Home Sweet Loan saya baca novelnya waktu anak-anak sudah cukup besar. Ternyata anak yang beranjak praremaja juga suka dengan buku ini. Tapi belum berani ajak ke bioskop karena mau cek dulu filmnya apakah aman, dan akhirnya kami nonton bareng ketika sudah ada di Netflix, sekalian sekeluarga pada waktu mudik. Pekan lalu saya juga nonton musikalnya sama anak, dan kami menikmati banget.

Sebagai penikmat buku sekaligus film, menyimak obrolan para penulis di TIM pagi itu memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Ada idealisme yang berbenturan dengan realitas, ada yang sudah visioner memikirkan adaptasinya nanti dan ada juga yang tidak terpikir ke sana. Bagaimana sebenarnya dinamika di balik layar ketika sebuah tulisan menjelma menjadi visual bergerak atau pertunjukan panggung? Oya, yang menarik juga adalah diskusi ini menyediakan juru bahasa isyarat (JBI) yang bergantian sepanjang sesi.

Berawal dari Observasi dan Kegelisahan Diri

Sesi awal diisi dengan pertanyaan tentang awal mula penulisan beberapa buku yang nantinya mendapat kesempatan untuk diadaptasi ke layar lebar. Ternyata, inspirasi bisa datang dari mana saja. Kang Adhit menceritakan bahwa salah satu ide tulisannya muncul dari pengamatan terhadap dedikasi para figuran di lokasi syuting saat ia terlibat dalam pembuatan film Sabtu Bersama Bapak.

“Gua lihat ada para figuran yang standby dari pagi sampai malam, bajunya itu-itu aja. Mereka tuh sabar banget. Terus gua mikir kayak, ‘Wah, seorang figuran dedikasinya kayak gitu, ya.’ Terus lama-lama mikir, ‘Ini kayaknya suatu hari gua akan menulis sesuatulah tentang mereka,'” kata Kang Adhit.

Sementara itu, Mas Donny mengenang awal mula lahirnya novel 5 cm. Cerita itu berawal dari pengalaman nyatanya bersama para sahabat masa SMA. Ada kegelisahan pribadi saat mengikuti upacara bendera 17 Agustus di puncak gunung kala itu, yang belum banyak diketahui orang, berbeda dengan di masa sekarang.

“Pertama kali saya ikut upacara di atas gunung itu ada sekitar seribu pendaki. Masih pure, bukan buat buat di-upload ke media dan lain-lain, tapi cuma mau upacara bendera aja. Menurut saya, seluruh Indonesia harus tahu. Jadi ya akhirnya saya tulis novel 5 cm dengan adegan klimaks ending-nya upacara bendera di Mahameru,” terang Mas Donny. Keinginan berbagi semangat itulah yang memotivasinya untuk terus berkarya. Baginya, menulis adalah bentuk kontribusi yang melampaui usia manusia itu sendiri.

“Menulis itu kan buat peradaban. Kitanya sudah nggak ada, nanti bukunya masih ada,” sebutnya.

Ketika Cerita Harus Menyesuaikan Media Baru

Alih wahana dari novel ke media visual seperti film layar lebar, serial atau musikal tentu menuntut penyesuaian. Adakalanya beberapa bagian harus dipangkas, diubah, atau bahkan disederhanakan karena perbedaan karakteristik media. Kang Adhit menceritakan adanya penyederhanaan adegan penculikan demi alasan teknis produksi. Di novel menggunakan pesawat Cessna, tetapi di film disesuaikan menjadi mobil van. Namun, hal tersebut bukan masalah selama pesan utamanya tetap tersampaikan.

“Gua termasuk penulis yang nggak apa-apa “downgrade” skalanya. Yang penting jalan, gitu. Selama tidak memengaruhi alur cerita dan esensi dari cerita itu. Jadi what story we want to deliver itu tidak berubah. Selama story itu tidak berubah, I’m fine dengan perubahan-perubahan itu.”

Sikap kompromistis yang sehat ini lahir karena pemahaman bahwa medium film memiliki hukum teknisnya sendiri. Hal senada diungkapkan oleh Mbak Almira saat mengamati perjalanan novelnya, Home Sweet Loan, yang diangkat ke layar lebar oleh Visinema, lalu berlanjut diadaptasi menjadi pertunjukan musikal oleh Visinema juga bersama Jakarta Art House dan Indonesia Kaya.

Melihat emosi para pemain dan pekerja panggung lainnya yang berlatih keras dengan dilengkapi oleh lagu-lagu baru seperti Amarah karya Idgitaf, Mbak Almira justru merasa karyanya mengalami proses pengayaan. Baginya, adaptasi media menjadi sarana berharga untuk menjangkau penikmat-penikmat baru.

“Harapannya bisa menemukan penonton baru, penikmat baru yang mungkin nggak suka baca buku tapi suka nonton filmnya. Saya pengin cerita itu sebisa seluas-luasnya dinikmati orang supaya pesan dari ceritanya sampai.”

Transaksi Karya dan Seni Mengikhlaskan

Proses adaptasi juga bukan sekadar menyerahkan naskah ke rumah produksi (production house/PH), melainkan ada strategi pencocokan (matching process) antara nilai bisnis dan keteguhan prinsip dari penulisnya.

Mbak Almira membagikan perspektifnya dari sudut pandang analis keuangan. Baginya, menjual hak adaptasi karya adalah bentuk transaksi yang perlu diperhitungkan dengan cermat, termasuk dalam memilih PH yang tepat sesuai dengan ‘DNA’ novelnya.

“Saya berusaha mencocokkan identitas PH-nya ke identitas novelnya. Jadi misalnya kalau jual Home Sweet Loan tuh kan film keluarga, menurut saya paling pas itu di Visinema yang saya lihat berhasil dengan Keluarga Cemara sampai dibuatkan teater musikalnya. Terus  Agensi Rumah Tangga, kan novelnya itu lebih ke komedi. Saya merasa pada saat itu paling pas di Starvision, di Fajar Bustomi. Jadi memang pencocokan identitas novel ke PH-nya itu agak gampang-gampang susah.”

Ketika hak adaptasi sudah dilepas dan proses produksi berjalan, Mbak Almira menyikapinya dengan kelapangan dada jika ada bagian cerita yang perlu dipangkas demi kepentingan visual dan struktur film.

“Kalau ngomong sebagai penulis novel, susah pasti ikhlasnya. Tapi karena mengambil perspektif dari sisi keuangan, sebagai investor, mereka juga pasti nggak mau uangnya ‘ke laut’ gitu, kan. Jadi saya berusaha percaya aja, karena saya punya kepercayaan kalau selama prosesnya lebih banyak orang yang happy dibandingkan dengan yang nggak happy, filmnya lebih bisa laku.”

Di sisi lain, Mas Donny membagikan cerita tentang keteguhan prinsipnya saat novel 5 cm hendak difilmkan. Meski ada tawaran nilai transaksi yang besar dari beberapa PH, ia tidak ragu menolak jika syarat utamanya tidak dipenuhi yaitu lokasi syuting harus dilakukan langsung di puncak Mahameru.

“Setahun, dua tahun ke sana ke sini tuh nggak ada yang mau. Pertama karena belum ada film Indonesia yang syuting di puncak Mahameru. Nah, yang kedua sayanya juga nggak mau kalau nggak di Mahameru. Ada yang sudah mau ambil, tapi saya nggak mau kalau nggak Mahameru. Terus, ya udah, berhenti dulu lah, istirahat dulu, break. Akhirnya dari Soraya Films telepon, ‘Kita mau 5 cm dan kita mau di Mahameru.'”

Mas Donny juga turut membagikan pengalamannya saat terlibat menulis naskah skenario untuk adaptasi Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka, sekaligus menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara integritas karya dan tuntutan industri.

“Mencari irisan antara idealisme dan industri. Ya, kalau mau idealis silakan baca sendiri, nonton filmnya sendiri. Mau terlalu industri juga mana idealisnya, mana ketulusannya dari cerita, mana kejujurannya, kan. Nah, cari irisan antara keduanya itu.”

Kang Adhit turut menekankan pentingnya memberikan kebebasan bagi sutradara maupun tim produksi untuk merasa memiliki cerita tersebut (sense of ownership). Jika penulis novel terlalu mendominasi dan mengekang, tim adaptasi justru tidak akan bisa menuangkan jiwa terbaik mereka ke dalam karya visualnya.

“Kita sebagai pemilik cerita harus mengizinkan orang lain untuk memiliki ceritanya juga agar mereka punya sense of belonging, sense of ownership yang tinggi ketika bikin filmnya. Ketika semua orang ngerasa ‘Ini cerita gua’, percayalah itu cara yang terbaik yang gua pernah jalani dan itu selalu works.”

Mas Donny juga menambahkan sudut pandang bagi para pembaca yang sering memperdebatkan perbedaan versi novel dan film.
“We can have the best of both worlds. Kenapa ini filmnya lebih bagus? Ya it’s OK. Novelnya lebih bagus? It’s OK. Kita punya dua dunia yang ngapain kita pilih salah satu? Kita bisa dua-duanya. Berhenti berdebat soal itu, deh.”

Pesan berharga yang disepakati oleh ketiga penulis ini bagi para pemula adalah, saat mulai menulis novel, tulislah dengan jujur tanpa perlu membatasi diri dengan bayangan apakah karya tersebut nantinya akan difilmkan atau tidak. Menulis novel dengan terus memikirkan versi filmnya justru sering kali mengekang kebebasan imajinasi.

Sebagaimana diungkapkan Kang Adhit, “Ketika kita menulis untuk kepentingan film tuh jadinya sangat membatasi imajinasi. Jadi gua mencoba untuk tidak berpikir ke situ dulu ketika nulis novel. Makanya hasilnya lebih liar dan sering sekali justru kelakaran-kelakaran itulah yang menjadi daya pikat dan pada akhirnya dibeli sama produser.”

Proses dari sebuah ide mentah menjadi buku hingga akhirnya dilirik oleh rumah produksi dan diadaptasi ke media lain memang memakan waktu yang tidak sebentar, bahkan bisa mencapai 6 hingga 8 tahun perjalanan. Namun, alih wahana ini menjadi jembatan yang indah, yang mempertemukan sebuah karya dengan penikmat-penikmat barunya.

Baca juga: pendapat alm. Prof Sapardi Djoko Damono tentang alih wahana: https://ceritaleila.com/2020/07/19/selamat-jalan-prof-sapardi/

 

Leave a Reply