Judul: Basa-Basi yang Tak Basi: Seni Basa-basi yang Nggak Bikin Sakit Hati
Penulis: Nopitasari
Penerbit: C-Klik Media
Tahun terbit: 2021
Jumlah halaman: 145 + vii

Buku Basa-basi yang Tak Basi (Nopitasari)
Ketika menemukan buku ini tahun lalu secara tak sengaja, saya merasa antara senang dan sedih. Sedih karena sebetulnya saya sejak lama punya ide bikin buku yang isinya mirip, sebelum mengetahui adanya buku ini. Ternyata keduluan.
Yah, senang juga sih karena jadi bertambah referensi mengenai adab dalam berbasa-basi. Siapa tahu setelah baca nantinya jadi dapat ide untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dengan penulis, dan tetap bisa jadi buku, hehehe. Konon katanya, memang there’s nothing new under the sun, kan? Tinggal bagaimana kita mengolah dari sisi lain dan mengemasnya secara menarik.
Terkadang, orang yang bertanya bukan benar-benar orang yang peduli. la hanya meneruskan hal yang pernah dirasakan dan diterimanya. (hlm. 98)
Sebagaimana judulnya, buku ini memberikan panduan seputar berbasa-basi. Basa-basi ini rasanya memang menjadi bagian dari budaya sebuah masyarakat, yang bisa jadi berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya, apalagi antara satu negara dan negara lainnya. Basa-basi seringkali dianggap perlu sebagai bagian dari keramahan dan keakraban, meskipun kalau pemilihan katanya tidak pas jadinya bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak yang diajak bicara. Sebut saja topik mengenai perubahan penampilan, belum adanya pekerjaan tetap, dan kapan punya anak. Bahkan niat baik pun bisa melukai perasaan kalau disampaikan secara tidak bijak.
Buku ini bahkan secara khusus mengangkat topik-topik sensitif tersebut dalam bab-bab tersendiri. Ada bab soal gendutan, jerawatan, kapan lulus, kapan kerja, kapan nikah, sampai kapan punya anak. Setiap bab dilengkapi dengan bahasan psikologis singkat mengapa hal-hal ini berpotensi menyinggung atau menyakiti hati orang lain, perjuangan apa yang mungkin tidak kita lihat sehingga kita jangan mudah menghakimi, serta apa yang bisa kita bantu ketimbang mengomentari dengan nada negatif.

Buku Basa-basi yang Tak Basi: merespons basa-basi soal jerawat
Harapannya, kita bisa lebih bijak memilih kata-kata saat mengobrol, dan juga di sisi lain lebih bisa menguatkan diri atau menanggapi secara cerdas jika menjadi pihak yang sebetulnya terganggu dengan basa-basi. Bahkan, disebutkan bahwa siapa tahu langkah kita dalam memperbaiki diri terkait penerapan basa-basi ini bisa turut berkontribusi mengubah budaya yang sudah mengakar, minimal ke orang-orang di sekitar kita. Di sini penulis menyertakan contoh-contoh kalimat untuk menghidupkan obrolan atau bahkan tindakan nyata yang bisa ditiru sebagai alternatif ketimbang basa-basi yang berpotensi bikin sakit hati, misalnya
- melengkapi informasi dari sudut pandang kita atau melempar pertanyaan terbuka
- merespons dengan cerita agar semua pihak menikmati obrolan
- memanfaatkan kesukaan orang berbicara tentang dirinya sendiri
- melibatkan emosi dan opini dalam mengobrol, jadi jangan hanya mengungkapkan data dan fakta
- menutup obrolan dengan perkataan dan alasan yang baik jika memang perlu menyudahi.

Buku basa-Basi yang Tak Basi
Dari sisi yang terkena ucapan basa-basi, penulis menyarankan beberapa hal untuk menyikapinya seperti
- dengar lalu lupakan
- tarik napas dan lakukan hal menyenangkan
- kalau memang orangnya sering bikin tidak nyaman, ada baiknya hindari dulu untuk bertemu.
Di samping deretan risikonya, dipaparkan pula bahwa basa-basi sesungguhnya punya beberapa manfaat juga, walaupun pemilihan waktu dan kata-kata yang kurang pas bisa membuatnya jadi basi betulan.
Banyak sekali masalah yang sedari pagi sudah menumpuk dan membuat kepala kita berat. Lalu, bagaimana jika di tengah-tengah peliknya pikiran, kita harus berpikir mengenai basa-basi yang tidak menyenangkan? Tentu, hal ini akan membuat mood kita semakin rusak dan tidak baik. Namun, terkadang ada pentingnya juga, lho, kita perlu berbasa-basi. Selain untuk memperbaiki mood agar kita bisa mengobrol dengan orang lain, basa-basi juga bisa menjadi media untuk membuat tubuh, pikiran, dan hati rileks. (hlm. 9)

Buku basa-Basi yang Tak Basi
Beberapa halaman disajikan dengan visual seperti buku catatan, dengan kalimat pemantik pada bagian atas. Lembar ini bisa kita pakai untuk berlatih mengungkapkan kata-kata yang lebih ramah dan bermanfaat tanpa menggores luka di hati lawan bicara.
Secara keseluruhan buku ini disajikan dengan bahasa yang mengalir sehingga enak dibaca. Penulis menggunakan sapaan “kamu” untuk pembaca, jadi terasa lebih akrab seperti ngobrol dengan teman. Masih ada beberapa kesalahan ejaan, tapi tidak banyak.
