Tentang Ego dan Hak Milik Anak

Salah satu hal yang masih menjadi PR di keluarga kami adalah soal rebutan, biasanya sih rebutan bacaan atau mainan. Apalagi sesama anak perempuan, kemungkinan baper lebih besar. Tidak mungkin juga kan selalu membelikan dua barang sekaligus hanya agar tidak rebutan? Namun ternyata mempertahankan hak milik, yang kadang menjadi awal mula rebutan, ada manfaatnya, lho. Misalnya, anak jadi belajar batas-batas. Ini punyaku, ini punya dia. Ada hak milik orang lain juga yang harus dihargai, sebagaimana ia boleh mempertahankan miliknya. Tentu ada batasannya, ya. Berikut saya kutipkan penjelasan dari Ustadz Harry Santosa (Fitrah Based Education):

Usia di bawah 7 tahun adalah masa penguatan konsepsi semua aspek fitrah yang Allah karuniakan. Pada fase ini anak-anak sedang puncaknya imajinasi dan abstraksi sementara fitrah mereka sedang tumbuh merekah indah, sehingga perlu full cinta dan full imajinasi, di samping kehati-hatian jangan sampai fitrah ini cidera.

Pada usia ini ego sentris anak juga sedang puncaknya, sehingga akan nampak seolah tidak berakhlak, misalnya tidak mau berbagi, susah mengalah, dstnya. Ego sentris ini hal yang wajar dan harus terpuaskan, jika tidak akan menyebabkan luka ego, kelak di atas 7 tahun jadi anak yang kurang pede, susah mengambil keputusan, gampang di-bully dll atau malah egonya liar menjadi sangat kasar dan suka mem-bully dll.

Intinya, tidak memaksa “on the spot” jika sedang tidak mau berbagi. Dipaksa juga percuma, walaupun akhirnya mau berbagi karena dia malah kemungkinan besar kelak membenci berbagi.

Bukan berarti tidak mengajarkan berbagi, namun tidak memaksa jika sedang tidak mau.
Nanti ketika ego sentrisnya mereda, bacakan kisah indahnya berbagi, atau ajak anak ke pasar membeli hadiah dan makanan lalu pergi ke rumah anak anak yatim untuk berbagi dan makan bersama. Nah, ini jauh lebih berkesan mendalam di jiwa anak daripada memaksanya berbagi. Jangan shortcut atau tergesa ingin anak segera sholeh tanpa memahami tahapan perkembangan fitrahnya karena malah akan melukai fitrahnya.

Sumber: https://ghinaummulathifah.wordpress.com/2017/10/18/tanya-jawab-kulwap-ustadz-harry-santosa/

Penjelasan serupa pernah saya dengar langsung sebagaimana saya tulis di sini: Belajar Fitrah Based Education dari Ustadz Harry Santosa.

Ada pula penjabaran lebih lanjut dari Ustadz Adriano Rusfi, Psi. yang juga beberapa kali mengisi kajian FBE:

MAJELIS LUKMANUL HAKIM JINGGA III
Materi Ustadz Adriano Rusfi, Psi

27 – 08 – 2016
Ayah punya banyak peran dalam keluarga. Ustadz Adriano menjelaskan tentang peran penting Ayah untuk membangun ego anak. Salah satu hal yang penting untuk mendidik anak adalah membangun ego. Dan itu jadi salah satu alasan penting kenapa ayah harus hadir dalam pendidikan anak.

TENTANG EGO
Masyarakat Indonesia selama ini mendengar kata Ego sudah jengah. Dipersepsikan negatif, jelek, dan tidak baik. Ego diidentikkan dengan egoisme. Padahal sangat berbeda. Membangun ego jauh berbeda dengan membangun egoisme. Lalu apa yang dimaksud dengan ego?

Ego berasal dari bahasa Yunani, bahasa Jermannya “Ich”, bahasa Inggrisnya “I”, bahasa arabnya “Ana”, bahasa Indonesianya “Aku”. Suka atau tidak suka, aku (gue – ich – ana – i) itu pada dasarnya memang ada. Karena setiap manusia itu adalah sosok pribadi, sosok individu. Anak kembar pun namanya berbeda, kepribadiannya juga berbeda. Hanya manusia makhluk yang tiap-tiap orang namanya berbeda. Binatang tidak memiliki nama. Malaikat, munkar atau nakir itu ada banyak, malik atau ridwan itu ada banyak. Tapi yang memiliki nama per individu hanya manusia. Fitrah manusia itu memang punya individualitas. Dalam bahasa sehari-hari pun dibedakan; aku, kamu, kita, kami.

Jika bicara tentang ego, yang dimaksud ego adalah kepribadian. Berasal dari kata pribadi. Disebut kepribadian karena sifatnya pribadi, orang per orang. Karena itu disebut kepribadian. Maka kepribadian si A beda dengan si B. Jangan alergi dengan kata ego, sebagaimana dengan kata kepribadian.

Saat ini berkembang pendidikan karakter, padahal sesungguhnya itu adalah pendidikan kepribadian. Karakter itu khas, unik, beda satu dengan yang lain. Dalam bahasa arab karakter adalah Qosois. Karakteristik dakwah = Qosoisud Dakwah. Qos, khas, berbeda dengan yang lain. Itulah karakter. Tidak bisa disamakan pendidikan karakter di tiap daerah, di tiap sekolah, atau di tiap kampus.

Kepribadian. Orang yang tidak punya ego berarti tidak punya kepribadian. Sama seperti orang lain. Maka jangan pernah alergi dengan kata ego. Karena ego bicara tentang Aku. Anak yang punya ego adalah anak yang punya kepribadian. Kalau tidak mendidik dan melatih ego anak, berarti anak itu tidak memiliki kepribadian. Tidak menjadi pribadi. Maka dia menjadi “we”, menjadi “kita”.

Jangan sampai anak kehilangan jati diri, tidak lagi berani tampil sebagai “aku”. Anak harus berani “tandang ke gelanggang walau seorang”, tidak takut walau tampil sendiri dan itu butuh ego. Berani tampil sendirian walau semua orang penegak kebatilan, jika punya ego anak akan berani “tandang ke gelanggang walau seorang” sebagai penegak al-haq.

Ego adalah identitas diri. Anak yang tidak punya ego tidak bisa membedakan dirinya dengan orang lain. Orang Indonesia sangat hobi dengan keseragaman. Ego harus muncul agar anak bisa membedakan diri. Agar anak tidak larut dan terbawa. Ketika temannya pakai baju biru, sementara anak ingin baju merah, karena tidak punya ego, anak merasa tidak enak, takut dibilang tidak kompak, sehingga ia ikut pakai baju biru. Padahal biru bukan dia banget. Lalu merembet ke hal lain. Temannya merokok, karena tidak punya ego, takut dimusuhi dll serba taku akhirnya ikut larut. Hampir 100% pengguna narkoba awalnya merokok. Rokok pintu menuju narkoba. Walau tidak selalu perokok adalah pengguna narkoba. Tapi setiap pengguna narkoba selalu diawali dengan merokok. Ikut-ikutan karena khawatir dimusuhi, khawatir dijauhi. Jika ego kuat, maka anak akan mengatakan, ”Saya sih nggak ingin cari musuh, tapi kalo gara-gara begini dimusuhi sih ga masalah.”

Ego masyarakat Indonesia lemah, menyebabkan perubahan2 sulit terjadi. Karena saat ada hadangan, tantangan sedikit saja membuat kita mundur. Kita atau anak-anak kita mau beda sedikit saja kemudian ada yang menghadang langsung mundur. Ego orang Indonesia mudah larut, mudah terpengaruh. Sehingga hypnotherapy laku keras. Karena orang Indonesia mudah dihipnotis. Terapi ini efektif tapi sekaligus merusak orang Indonesia. Berbagai hypno (parenting, marketing,dll.) sangat laku. Ustadz Adriano Rusfi sangat menguasai teori-teori tentang psikoanalisis sehingga sadar akan efektivitas hipno2.

The most sugestable people in the world adalah orang Indonesia. Sehingga siapa pun bisa mempengaruhi orang Indonesia. Jika ada orang duduk di depan saat di bis, kemudian dia iseng saja berdiri dan melihat ke kiri, maka yakinlah bahwa orang-orang yang duduk di belakangnya semua ikut berdiri dan melihat ke kiri.

Lionel Messi saat bermain bola di umur 5 tahun, bolanya asyik digocek saja sendiri. Pelatihnya berteriak menyuruhnya berbagi bola kepada temannya. Tapi Messi tidak mau. Itu sesuai fitrahnya. Tapi saat usianya melewati 7 tahun, Messi rajin berbagi bola kepada temannya. Maka wajar Messi sangat jago menggocek bola, tapi ia juga sosok yang rajin berbagi bola dengan rekan setimnya saat ini. Banyak gol yang diciptakan Suarez adalah umpan dari Messi. Tapi saat Messi mengeluarkan kemampuan individunya, ia sulit dihentikan.

Kemampuan berbagi penting, kemampuan individual itu juga penting. Pada saat anak tidak ingin berbagi, maka biarkan saja. Sesuatu yang pada umurnya. Jangan dari kecil anak dipaksa untuk berbagi. Biarkan dia mempertahankan hak milik. “Ini milikku, kamu tidak boleh walaupun kamu adik kandungku.” Itu bagus. Belajar untuk berjuang mempertahankan hak milik sejak kecil agar saat besar dalam mempertahankan prinsip ia bisa memegangnya dengan kuat.

Tapi jika dari kecil sudah dididik dan dipaksa untuk berbagi, sehingga ia tidak memiliki hak atas propertinya, hak untuk mempertahankan hak miliknya, sehingga ia gampang melepaskan haknya, properti pribadinya, itu sangat berbahaya, anak yang mudah melepaskan hak.

Dalam kitab hak asasi dalam Islam karya DR. Abdul Karim Zaidah, dikatakan bahwa Islam lebih mengutamakan hak daripada kewajiban. Kenapa? Karena yang pertama Haq itu adalah nama Allah. Yang kedua, haq itu artinya kebenaran. Yang ketiga, hak itu artinya esensi, hakikat. Dan yang keempat, hak itu artinya kewajiban. Maka haqqul muslim alul muslim artinya kewajiban muslim atas muslim lainnya. Ada hak fakir miskin pada hartamu, ada hak orang lain pada hartamu, maksudnya kamu punya kewajiban lho pada fakir miskin, pada orang lain. Kenapa Allah lebih suka membaca bahasa hak? Karena manusia lebih suka bicara hak daripada kewajiban. Egoisme manusia membuat manusia lebih asyik jika diajak bicara hak.

Biarkan anak untuk belajar mempertahankan haknya. Jika anak, ”ini mainanku, aku nggak mau berbagi sama kamu.” itu benar jika terjadi di usia sebelum 7 tahun. Jika ia sudah berusia di atas 7 tahun, maka itu salah. Karena di atas umur 7 tahun sudah bicara tentang kewajiban, kebersamaan, sosiabilitas, berbagi. Sebelum ia berumur 7 tahun biarkan ia bicara tentang hak-haknya. Belajar mempertahankan haknya, tidak mudah menyerah, tidak mudah melepaskan properti pribadinya. Agar ia kelak tidak mudah saja properti pribadinya, melepaskan keperawanan, kegadisan, dll. Didik anak dari awal untuk punya ego. Sehingga saat dicolek sedikit, ia bisa melawan, ”Enak aja lo colek-colek, tabokin juga nih.”

Salah satu cara mendidik ego anak adalah jangan terbiasa mengintervensi anak pada saat anak sedang mempertahankan haknya, propertinya. Biarkan ia berjuang sejak kecil untuk itu. Hal-hal semacam ini terlihat sepele, tapi sangat berpengaruh.

Tambahan dari mba Umama:

URGENSI SOSIALISASI PRIMER

Apakah kita ingin ananda:
√ pandai bergaul?
√ santun bertutur?
√ gemar berbagi, mampu meminjam dan meminjamkan dengan baik?
√ tidak menjadi pelaku bullying (memaki, memukul, menampar dan berbagai sikap kekerasan lainnya baik verbal maupun fisik)?

Saya yakin orang tua mana pun pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki KARAKTER TERBAIK.

Lalu apa UPAYA TERBAIK kita untuk mencapai hal tersebut?

Yakinkah bahwa satu-satunya solusi adalah dengan memasukkan anak-anak ke sekolah sedini mungkin agar bisa belajar bergaul dan bersosialisi?

Yuk telisik dan pahami dulu makna di balik kata SOSIALISASI ini.

Di antara para pakar, ada yang membagi SOSIALISASI menjadi 2 tingkatan:
1. SOSIALISASI PRIMER
2. SOSIALISASI SEKUNDER.

Menurut Peter L. Berger & Luckkman, sosialisasi primer merupakan proses belajar berinteraksi dalam keluarga, dalam rangka pembelajaran anak untuk mengenali diri, mengenali anggota keluarganya. Di tahap ini terjadi penyerapan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan keluarga. Tahap ini menjadi KRUSIAL dalam pembentukan kemampuan dasar seseorang untuk bersosialisasi.

Dalam masa ini, seseorang akan menyerap semua tindakan dan lisan dari anggota keluarga lainnya. Karenanya, ia butuh bimbingan dan butuh diperlakukan dengan layak dan penuh kasih sayang.

Kapankah itu? 1-5 tahun atau sebelum usia SD (7 tahun). Kalau menurut praktisi pendidikan rumah berbasis fitrah dan potensi bpk Harry Santosa, masa ini malah tetap dibutuhkan anak sampai menjelang usia akil baligh-nya.

Sedangkan sosialisasi sekunder adalah kelanjutan dari sosialisasi primer, yakni saat anak mulai belajar mengenali dan berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Anak-anak usia dini sedang berada dalam masa-masa egosentris, di mana ia merasa “AKU”, yang di antaranya mewujud dalam tindakan-tindakan:

√ “ini mainanku, tidak boleh dipinjam teman”
√ “aku masih ingin memainkan ini, tidak boleh dipinjam”
√ “aku mau sekarang juga”
√ “aku tidak suka itu, aku suka ini”
√ dsb.

Maka, bila kita ingin anak-anak memiliki keterampilan bersosialisasi yang baik, jangan jatuhkan beban pengajaran dan pembelajaran pada teman-teman sebayanya yang juga belum lulus sosialisasi primernya, juga tidak pada guru semata, melainkan pada keluarga intinya.

Karena,
√ anak-anak sulit berlatih mengantre giliran mainan di sekolah, bila di rumah ia selalu mendapatkan gilirannya kapan pun ia mau.
√ anak-anak sulit berlatih berbicara dengan santun di sekolah, bila di rumah ia leluasa meneriaki siapa saja yang sedang membuatnya kesal.
√ anak-anak sulit mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih pada teman-teman di luar rumah, bila di dalam rumah ia tidak pernah mendengar keluarganya mengucapkan itu padanya, juga tidak pernah diminta untuk mengucapkannya.

Maka,
Tarik napas panjang, rileks,
Halau dulu keinginan kita menjejalkan semua materi kognitif agar anak menjadi pintar, fokuslah pada hal yang lebih urgent, yang lebih dibutuhkan anak usia dini kita saat ini.

Berikanlah kesempatan anak-anak ini untuk menuntaskan dulu sosialisasi primernya, melalui pendampingan penuh, yang disertai dengan ketelatenan, kesabaran dan keikhlasan dari keluarga intinya untuk mengajarkannya akhlak dan adab sebagai bekal utama BERSOSIALISASI, hingga ia benar-benar siap memasuki SOSIALISASI SEKUNDER-nya.

Pangkalpinang, 3 September 2015
Dari kami yg masih belajar,

=umama=
@#pojokbermainDIRA

Foto: iStock

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s