Eloknya Kain Cual, Tenun Khas Bangka

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Museum Cual Ishadi, di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Ini kedua kalinya saya mendatangi tempat tersebut. Namun, saat saya tinggal di Pangkalpinang dulu museum ini belum ada, baru berupa galeri penjualan saja.

Berbelanja kain cual khas Bangka

Ternyata saya masih menyimpan foto saat berbelanja cual untuk oleh-oleh Mama tahun 2008

Jika Sumatera Selatan terkenal dengan kain songketnya, maka Bangka Belitung (yang memang dahulu termasuk dalam povinsi tersebut) juga punya wastra tenun yang tak kalah cantiknya bernama kain cual. Adalah almarhum Abdul Hadi Muchtar yang berinisiatif mengangkat kembali kain cual khas kampung halamannya. Seperti dituturkan oleh Isnawaty, istri Abdul Hadi, pengesahan Bangka Belitung (Babel) sebagai provinsi tersendiri pada bulan November 2000 menjadi momentum menguatnya tekad melestarikan kain cual.

Alat tenun gedogan

Alat tenun gedogan untuk menenun kain cual

“Dari silsilah keluarga suami ada kakek buyut yang menjadi demang, sedangkan dari keluarga saya ada buyut yang menjadi gegading. Jadi kami punya beberapa koleksi kain cual. Kami menyadari bahwa warisan ini harus dijaga baik-baik agar generasi berikutnya juga mengenal bahwa ada kain identitas Provinsi Babel,” jelas ibu empat anak ini. Abdul Hadi dan Isnawaty kemudian membangun usaha di bawah nama Ishadi Kain Cual, yang merupakan akronim dari nama mereka.

Cual sendiri, kata Isnawaty, merupakan singkatan dari celup awal. Jadi, benang yang digunakan sudah dicelup di cairan pewarna sebelum ditenun. Dulu pewarna yang digunakan terbuat dari bahan alami seperti kayu secang untuk warna merah, daun pandan untuk warna hijau, dan kunyit untuk warna kuning. Hebatnya, warna dari bahan alami ini dapat bertahan hingga puluhan tahun lamanya.

Namun, produksi kain cual yang kemudian ditekuni Isnawaty menggunakan pewarna sintetis untuk efisiensi. Sebab pemakaian pewarna alami dapat melambungkan harga jual yang dikhawatirkan mengurangi minat pembeli.

Motif cual dalam bentuk kain print

Motif cual dalam bentuk kain print, dulu pinjam seragam punya teman untuk difoto

Ishadi Cual pun mengawali produksi dengan menggunakan teknik print yang telah dipelajari oleh Abdul Hadi, untuk setidaknya menjaga motif-motif yang sudah ada tetap dikenal orang sekaligus terjangkau harganya. Setelah pesanan berdatangan, termasuk untuk seragam pegawai pemda setempat, Ishadi Cual mengembangkan sayap ke pembuatan cual dengan alat tenun bukan mesin yang dikenal dengan nama gedogan. Meski sempat banyak yang meragukan upaya mengenalkan kembali cual ke masyarakat, tetapi pasangan ini tak patah arang.

Penetapan Cual sebagai Warisan Budaya Takbenda

Cual ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2015. Sejarah kain cual bermula pada abad ke-17 di Kota Muntok. Kain cual atau Limar Muntok yang ditenun oleh para perempuan bangsawan ini sampai dikirim ke berbagai daerah lain di seberang lautan seperti Belitung, Palembang, Pontianak, bahkan Singapura.

Namun, perang di Eropa pada abad ke-19 menyebabkan bahan benang sutera dan benang emas yang didatangkan dari India dan China menjadi langka. Kalapun ada, harganya sangat mahal. Akibatnya pembuatan kain cual pun terhenti.

Salah satu motif baju cual yang saya miliki

Pada zaman dahulu kain cual juga dibuat dengan menggunakan benang yang dicelup dengan emas asli 18 karat. Sedikit berbeda dengan songket Sumatera Selatan yang dalam pembuatannya lebih banyak menggunakan teknik sungkit, kain cual lebih didominasi oleh benang pakan atau lungsi yang ditenun dengan teknik ikat.

“Orang zaman dahulu jauh lebih telaten dalam menenun. Seperti tidak ada kesalahan dalam proses ikat dan sungkitnya. Saking rapi dan konsisten sampai-sampai seperti kain printing.”

Kain tenun cual dengan benang emas

Kain tenun cual dengan benang emas yang saya potret di Babel Expo tahun 2009

Baca juga: Ragam Wisata di Pulau Bangka

Cantiknya Motif Kain Cual

Motif kain cual biasanya mengambil bentuk flora dan fauna yang tidak digambarkan sempurna sesuai dengan pemahaman terhadap ajaran Islam. Sebut saja motif kembang gajah, kupu-kupu, burung hong, bunga seroja, dan naga bertarung. Pada tiap-tiap bagian tepi kain terdapat jajaran bentuk segitiga khas yang disebut dengan pucuk rebung.

“Setiap motif memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia,” jelas Isnawaty. Motif kembang gajah misalnya, melambangkan kesuksesan dan kekuasaan yang bagaikan tanaman kembang gajah, harus merambat dari bawah atau dengan kata lain memerlukan perjuangan. Adapun motif kupu-kupu, serangga yang dikenal dengan metamorfosis sempurnanya, mencerminkan siklus hidup manusia.

Motif kain cual Babel

Kalau ini motif baju cual yang digunakan sebagai seragam oleh kantor kami dulu

Saat ini Isnawaty menyimpan sekitar 20 kain cual yang sebagian dipajang di Museum Ishadi Cual. Museum yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Nomor 46 Kota Pangkalpinang ini diresmikan tahun 2017. Awalnya museum tersebut masih sangat sederhana karena dibangun secara swadana. Lalu dukungan pun mulai berdatangan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, sampai dengan pihak swasta.

Beraneka motif kain cual dan filosofinya

Isnawaty mendapatkan bantuan berupa lemari kaca dengan lampu khusus untuk memajang koleksi kain cual kuno agar tidak mudah rusak. Untuk membantu mengusir ngengat, digunakan butiran lada yang ditaruh di mangkuk-mangkuk dalam lemari. Sebagian koleksinya memang sudah berusia lebih dari 150 tahun, dibuktikan dengan pengujian yang dilakukan oleh pihak Kemdikbud. Sebagian hanya berupa selendang karena kain yang biasanya digunakan sebagai bawahan lebih cepat aus seiring banyaknya pemakaian.

Puluhan koleksi yang dimiliki Ishadi Cual dipajang secara bergantian. Sebetulnya, kondisi ini juga tidak ideal karena kain masih dipajang dengan cara digantung yang berpotensi memberikan tekanan yang bisa merusak serat kain. Namun, keterbatasan tempat membuat model pajangan seperti ini tetap digunakan.

Isnawaty menyampaikan bahwa produksi kain cual saat ini masih menghadapi cukup banyak tantangan. Prosesnya memakan waktu cukup lama, sampai berminggu-minggu. Jumlah warga yang mahir menenun pun tak banyak lagi. Saat ini Ishadi Cual bekerja sama dengan sekitar 20 orang penenun.

Menenun kain cual (foto dok. Ishadi Cual)

“Mereka bisa mengerjakan tenunannya di rumah, bahan semua dari kami. Dengan begitu ibu-ibu penenun tetap dapat mengasuh anak-anak atau memasak di rumah,” sebut perempuan berusia 66 tahun ini. Karena itulah, ia belum dapat mengambil peluang seperti penjualan di Malaysia yang sempat dibantu proses awalnya oleh Kementerian Keuangan. Sebab, ada jumlah minimal produk yang harus dikirim ke sana, sedangkan produk tersebut menurutnya akan lebih bermanfaat kalau dapat segera dijual dan menghasilkan uang untuk kemudian diputar kembali menjadi modal.

Harapan Ishadi Cual

Berbagai penghargaan telah diraih oleh Isnawaty. Tahun 2009 ia mendapatkan penghargaan Paramakarya dari Kementerian Ketenagakerjaan dalam kategori kualitas dan produktivitas UKM terbaik. Kain cual buatan Ishadi Cual juga terpilih masuk dalam Karya Kreatif Indonesia. Namun, diakuinya popularitas kain cual belum seperti kain songket.

“Di Sumatera Selatan masyarakat sudah lebih terbiasa untuk menggunakan kain songket pada acara-acara resmi. Harga kain cual tenun yang cukup tinggi sering menjadi kendala untuk bisa dimiliki dan dipakai dalam acara-acara. Jadi kami menyediakan alternatif cual print yang lebih murah. Kami juga membuka persewaan busana kain cual,” ungkap Isnawaty.

Toko Suvenir, Kain Cual dan Galeri Cual Bangka saat kunjungan saya tahun 2023

Seperti saya sebutkan di awal tulisan, Museum Ishadi Cual berada di sebelah galeri penjualan yang sudah dibuka sejak dulu. Galeri penjualan ini tak hanya memajang kain atau baju dari kain cual, tetapi juga menyediakan menjual berbagai suvenir khas Bangka.

“Kami sebetulnya ingin membuat film pendek untuk edukasi sejarah kain cual. Di lantai atas sudah dibuat ruang pertemuan yang dapat dimanfaatkan untuk memutar film kalau kami menerima tamu. Namun, cita-cita ini belum tercapai sehingga ketika ada tamu yang datang biasanya kami melakukan presentasi dari awal. Kalau ada tamu penting, kami juga mendatangkan pengrajin untuk mendemonstrasikan proses menenun secara langsung,” cerita Isnawaty.

Harga bahan baku yang masih cukup mahal dan proses menenun yang cukup rumit menjadi alasan sehingga tidak semua pengunjung boleh mencoba mempraktikkan kegiatan menenun. Kalau ada yang mau belajar, sebetulnya Isnawaty senang sekali. Akan tetapi, tentu harapannya yang belajar ini juga benar-benar serius, lagi-lagi mengingat alat benang yang dipakai juga tidak murah.

“Inginnya, pembuatan kain cual ini masuk dalam kurikulum sebagai muatan lokal untuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Jadi penyediaan alat dan bahan untuk belajar dapat dibantu oleh pemerintah. Namun, ini belum kesampaian. Padahal kalau program ini berjalan, bisa makin banyak generasi muda mengetahui prosesnya. Katakanlah dari seluruh siswa ini lima persennya saja mau meneruskan upaya pelestarian ini, itu sudah sangat bagus,” kata Isnawaty.

Foto bersama Bu Isnawaty

Versi panjang dari tulisan untuk Majalah Treasury Indonesia

18 thoughts on “Eloknya Kain Cual, Tenun Khas Bangka

  1. Pingback: Pesona Wisata Bangka | Cerita-Cerita Leila

  2. Iya ya nggak banyak penenun juga ya, seperti halnya petani kali ya kak. Motif bagus bagus semoga usaha makin maju dan terus memberdayakan ibu – ibu yang ada disekitar lingkungan mba Isnawaty.

  3. namanya cual lucu banget. ternyata akronim dari celup awal hihi. motifnya cantik-cantik yaa. semoga kain cual tetap lestari dan semakin banyak dikenal. jujur aku baru denger nama kain cual soalnya hehe

  4. Iya juga yaa.. kalau pembuatan motif serta pemilihan kain untuk proses kain cual ini dipelajari di sekolah, pastinya akan membuka kesempatan yang lebih besar bagi generasi muda untuk melestarikan kain cual sebagai warisan budaya yang bisa terus dilestarikan.

  5. Aku salffok sama motifnya lucu-lucu yaa kain khas bangka ini, apalagi kalau dibuat jadi seragaman, duh pasti cantik. Terus nama kainya beneran kain cual ya kak? lucu yaa. Semoga bisa kesampaian beli kain khas bangka ini, soalnya dikihat dari proses pengerjaan ini pastinya perlu banyak tenaga dan waktu

  6. Paling seneng kalau datang ke sentra industri dan melihat langsung prosesnya. Dann seneng juga kalau melibatkan warga lokal untuk.proses pembuatannya. Nggak heran kalau harga kain tradisional juga mahal karena untuk membuatnya butuh waktu lama

    • Keren banget kak. Motifnya juga bagus-bagus ya. Syukurnya sekarang banyak designer yang mengkombinasikan kain kain tradisional khas Indonesia menjadi sebuah baju. Jadi generasi mendatang tetap ingat dan tahu kalau Indonesia kaya sekali.

  7. Naksir banget sama kain tenun khas bangka ini, mana aku pecinta tenun ihh.. Coraknya khas dan manis banget

  8. Saya salut dan bangganya dengan Indonesia tuh, banyak masyarakatnya yang peduli untuk melestarikan budaya dan kearifan lokalnya secara mandiri/swadana, baru setelah itu banyak pihak yang turut membantu.

  9. Kain Cual motifnya bagus-bagus ya, Kak. Salut dengan apa yang dilakukan mereka. Menjaga warisan budaya sehingga benar-benar dapat diwariskan secara bendanya dan cara pembuatannya.

  10. Paling senang kalau lagi traveling ke daerah itu melihat proses pembuatan kain batik atau tenun khasnya karena tiap daerah itu punya motif yang berbeda dan cantik-cantik.
    Kain Cual ini juga motifnya bagus-bagus dan cantik. Sudah pasti akan saya jadikan koleksi kain tenun di rumah.

  11. entah kenapa selalu salut dengan kain tradisional begini apalagi saya baca bahan pewarnanya dulu juga dari alam dan awet bertahun tahun, masyaAllah, merinding, memang harus ada penerusnya ini

  12. Indonesia itu emang beautiful banget soal kain khas daerah masing-masing. Salah satunya kain tenun Khas Bangka ini. Aku jadi pengin satu, nih.

  13. Indonesia itu memang negara yang sangat beautiful mengenai banyak hal, termasuk kain-kain khas daerah masing-masing. Salah satunya kain tenun Khas Bangka ini. Aku pengin satu.

  14. penasaran euy saya sama kegiatan menenun ini soalnya pasti harus telaten banget yaa. memang nih warisan kain nusantara ini banyak banget mulai dari batik, sasirangan, songket dan ternyata ada juga namanya cual yaa

Leave a comment