Pengalaman Mengajak Anak Nonton Wayang Orang di Jakarta

Sudah cukup lama saya ingin mengajak anak-anak nonton wayang orang secara langsung. Tujuannya tentu untuk mengenalkan budaya dari daerah asal kami, Jawa Tengah. Sebagai warga kabupaten tetangga Kota Solo, saya tak asing dengan kesenian ini.

Sejak kecil saya juga menikmati cerita-cerita wayang dari buku-buku dan majalah berbahasa Jawa milik alm. Mbah Kakung (bapak dari Mama, kami tinggal di rumah beliau), sampai hafal para tokohnya dan beberapa alur cerita yang terkenal. Mbah Kakung bahkan pernah aktif mendalang walau kecil-kecilan di sela-sela kesibukan sebagai guru Sekolah Rakyat. Beliau pun rajin membuat sendiri wayang dari kardus, yang saya amati prosesnya dengan antusias. Sayangnya, setelah beliau meninggal sewaktu saya SD, koleksi buku, majalah, dan wayangnya tak semua terawat dengan baik.

Gedung Wayang Orang Bharata Tampak Depan

Gedung Wayang Orang Bharata Tampak Depan

Sebetulnya ada juga Pakdhe, kakak sulung Mama, yang tinggal di rumah yang sama dan cukup rajin merawat rasa cinta terhadap budaya Jawa. Namun, bentuknya sedikit berbeda. Beliau mewujudkan semangat menjaga budaya ini antara lain lewat nonton pertunjukan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Bersama alm. Pakdhe inilah saya pertama kali nonton wayang orang di Sriwedari. Saya lupa tepatnya kapan, tapi sepertinya saat saya SD. Pertunjukan yang diadakan hingga larut malam tampaknya menjadi alasan hingga saya cuma dua kali nonton wayang orang di sana.

Continue reading →

Eloknya Kain Cual, Tenun Khas Bangka

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Museum Cual Ishadi, di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Ini kedua kalinya saya mendatangi tempat tersebut. Namun, saat saya tinggal di Pangkalpinang dulu museum ini belum ada, baru berupa galeri penjualan saja.

Berbelanja kain cual khas Bangka

Ternyata saya masih menyimpan foto saat berbelanja cual untuk oleh-oleh Mama tahun 2008

Jika Sumatera Selatan terkenal dengan kain songketnya, maka Bangka Belitung (yang memang dahulu termasuk dalam povinsi tersebut) juga punya wastra tenun yang tak kalah cantiknya bernama kain cual. Adalah almarhum Abdul Hadi Muchtar yang berinisiatif mengangkat kembali kain cual khas kampung halamannya. Seperti dituturkan oleh Isnawaty, istri Abdul Hadi, pengesahan Bangka Belitung (Babel) sebagai provinsi tersendiri pada bulan November 2000 menjadi momentum menguatnya tekad melestarikan kain cual.

Continue reading →