[Resensi Buku] Terusir

Judul buku: Terusir
Penulis: Buya Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal: 129 + viii halaman
ISBN: 978-602-250-292-0

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Buku ini termasuk tipis dan ukurannya pun mungil, tetapi cerita di dalamnya begitu padat. Tersebutlah Mariah, seorang perempuan yang bernasib malang. Ia harus berpisah dengan suami dan putranya akibat fitnah dari mertua. Pembelaan diri Mariah tak membuat suaminya, Azhar, tersentuh. Seperti judul buku ini, Mariah terusir dan terlunta-lunta. Sekali dua kali ia dipertemukan dengan nasib baik, tetapi kemudian musibah lain menimpa.

Sesungguhnya bukan sedikit perempuan-perempuan yang menjadi korban kekejaman suami karena tergesa-gesanya menjatuhkan hukuman. Itulah gerangan, mengapa sukar sekali terdapat hubungan suami istri yang dapat kekal sampal “Cerai Tembilang”, artinya dicerai malaikat maut. Seorang perempuan apabila telah bersuami hidup matinya, sakit senangnya, bergantung kepada suaminya. Meskipun orang tuanya hidup, tentu saja anak yang telah menjadi janda itu menjadi beban berat orang tua.

Saya mulanya mengenali judul buku ini karena sempat ditampilkan dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013, resensi bukunya akan saya unggah setelah ini). Akan tetapi, ternyata isinya berbeda dengan cerita bersambung yang dikisahkan dibuat oleh tokoh utama film yang juga diadaptasi dari karya Buya Hamka tersebut.

Novel ini sendiri terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1940 dengan latar belakang masa penjajahan Belanda tahun 1930-an. Namun, beberapa pesan yang disampaikan oleh penulis rasanya masih cukup relevan dengan keadaan masa kini. Indonesia telah lama merdeka, pintu emansipasi perempuan juga banyak terbuka. Akan tetapi, masih ada keluarga yang turut campur akan urusan rumah tangga, masih terdapat kesenjangan sosial, dan perempuan pun masih kerap berada dalam posisi yang serbasalah.

Jika biasanya kita diingatkan akan beauty privilege alias “lu cantik, lu aman”, dalam buku ini Buya Hamka justru menyajikan kenyataan bahwa kecantikan justru bisa menjadi kekurangan. Perempuan berpenampilan menawan sering dianggap tak kompeten atau dikhawatirkan mendatangkan ketertarikan berlebihan di tempat bekerja nanti. 

“Kecacatan” itu ialah “kecantikan” rupanya. Kecantikan perempuan itu pada hakikatnya adalah bahaya bagi dirinya sendiri. Lantaran kecantikannya, ia diganggu dalam perjalanan. Sementara perempuan yang tidak cantik, aman ke mana ia pergi, walaupun seorang diri. Perempuan buruk dihibai orang. Perempuan cantik, lantaran cantiknya, orang malas mengambilnya menjadi orang gajian.

Kritik sosial tajam pun diungkapkan oleh penulis, dalam hal ini menggarisbawahi peran masyarakat yang turut mendorong terjerumusnya perempuan seperti Mariah ke lembah hitam. Di sisi lain, penulis mengangkat kasih sayang seorang ibu yang tak lekang oleh waktu. Mariah sekuat tenaga memperjuangkan hak dan keselamatan putranya, Sofyan, yang sudah begitu lama ia rindukan. Sementara hubungan Azhar dan Sofyan malah menjadi berjarak setelah Mariah pergi.

Padahal menyerahkan anak ke sekolah kalau dasarkan kepada egoistis, yaitu bukan kemuslihatan anak, tetapi untuk kemuslihatan diri sendiri supaya anak itu menolong di hari tuanya, maka niat yang beginilah yang kerap kali tidak terkabul. Berapa banyaknya kita lihat dengan mata kepala sendiri, orang tua yang makan hati berulam jantung, diserahkannya anaknya ke sekolah supaya menolongnya, padahal jangankan menolong tua dan keluarganya, sedang menolong dirinya sendiri ia tidak sanggup.

Banyak yang lepas dari sekolahnya ia berhilang diri, terpisah dari orang tua karena pikiran telah jauh berubah, telah terbatas oleh jurang yang sangat dalam, ayah bunda masih tetap di Timur dan anak telah jauh ke Barat. Berapa banyak kita lihat orang tua melepaskan anaknya laksana melepas burung dari sangkar, terbang membubung ke udara, tetapi tak dapat pulang lagi dan hanya menengadah saja yang dapat.

Anak itu diserahkannya belajar jauh-jauh, dilepasnya dari rumah tangganya, tetapi hati anak itu tidak dikendalikannya dari rumah. Sebab itu, bila anak itu telah hilang dari rumah putuslah pertaliannya dengan orang tuanya.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini memang bergaya lama. Ada beberapa kalimat yang perlu dibaca berulang agar dapat dipahami. Penggunaan kata “perbualan”, misalnya, sempat terasa janggal ketika disematkan untuk percakapan antara ayah dengan anak yang tergolong serius. Namun, keunikan ini tidak sampai mengganggu kenyamanan membaca. Justru pembaca bisa sekaligus belajar mengenai bagaimana masyarakat pada zaman itu berkomunikasi, termasuk perbandingan gaya bahasa ketika seorang tokoh bertemu dengan anggota masyarakat dari latar belakang berbeda.

18 thoughts on “[Resensi Buku] Terusir

  1. Saya belum membaca karya Hamka yang ‘Terusir’ ini.

    Membaca resensinya dapat beberapa insight tentang perempuan, ya sebagai pribadi, sebagai istri, sebagai orangtua dalam mendidik yang dapat diambil dari buku ini. Dan ternyata kecantikan bisa menjadi kecacatan seorang perempuan, jadi penasaran sama bukunya.

  2. Sebagai seorang penyuka buku-buku saya cukup malu karena belum baca karya Hamka yang satu ini, jadi terima kasih Kaka sudah memberikan ulasan dan sedikit gambaran mengenai isinya. Dari potongan-potongan cerita yang kaka bagikan memang terasa bahwa buku ini menggunakan bahasa pada jamannya sehingga sedikit susah dicerna tapi saya percaya seluruh karya Hamka penuh nilai-nilai yang selalu relevan di setiap jaman.

  3. Sama, saya juga baru tahu ada buku ini pas nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Apalagi juga judul bukunya dijadikan salah satu original soundtrack-nya. Judulnya “Teroesir (Menunggu Karma)” by Nidji.

    Soal karya-karya Hamka, aku banyak belajar soal kehidupan pernikahan ala Minangkabau dari novel-novel beliau. Yang ini masuk list ini.

    • Nah, meskipun buku yang diceritakan dalam film ternyata beda isi dengan novel Terusir yang ini, tapi mengena juga tuh kalau Teroesir-nya Nidji jadi soundtrack kisah hidup Mariah.

  4. Cantik ternyata tak selamanya menjadi sebuah previlege yaa..

    Ketika stigma yang beredar di masyarakat dan mungkin di zaman Buya Hamka, itu merupakan sebuah hukuman bagi keluarga.

    Penulis Buya Hamka selain melihat culture saat itu, juga memberikan gambaran yang nyata untuk perjuangan seorang wanita, khususnya Ibu.

    Akhirnya, Mariah sebatang kara kah?
    Huhuhu…

  5. Aku sudah baca buku ini sangat menarik banget isinya banyak pelajaran hidup yang di dapat dan mengajarkan untuk optimis di situasi apapun dan dimanapun

  6. penasaran dengan isinya secara keseluruhan, membaca masih banyak tulisan dengan gaya lama yang sampai harus dibaca berulang untuk memahaminya makin membuat saya ingin membacanya dan ingin tau seperti apa, lumayan sedikit juga ya hanya 129 halaman bisa baca cepet

  7. saya pikir novel terusir dalam film tenggelamnya kapal van der wijk hanya fiktif untuk kebutuhan film ternyata memang benar ada ya walau isinya berbeda dari sinopsi di filmnya.. jadi penasaran gara2 karya buya hamka yang tenggelamnya kapal van der wijk sukses banget bikin saya nangis hihi, pasti bagus banget isinya karena beliau nulis satranya benar-benar ngena untuk kritik plus relevan banget dalam praktik sehari-hari sampai saat ini.

  8. Begitu tau penulisnya Buya Hamka, aku jadi langsung pingin baca buku ini juga… Walaupun novel Hamka ditulisnya sudah lama, tapi memang pesan moralnya masih relevan ya mba sama kondisi sekarang..

  9. saya sejujurnya belum pernah baca karyanya buya Hamka. dulu waktu SD sebenarnya pernah baca juga sih karya pujangga lama tapi yang judulnya salah asuhan apa ya. padahal 2 novel buya hamka lain sudah difilmkan ya apakah novel ini juga bakal difilmkan ya?

  10. Rindu dengan cerita seperti ini. Menggunakan gaya bahasa lama dan berlatarkan kisah keluarga yang tak jarang relate dengan masyarakat kita. Fix bakal menjadi buku selanjutnya dibaca. Makasih Kak udah sharing 🙂

  11. Sudah lama nih gak baca buku-buku milik Buya Hamka nih. Kangen dengan diksi bahasanya yang indah. Terusir ini kebetulan juga belum pernah kubaca. Jadi sudah pasti kumasukkan ke list hunting buku berikutnya.

Leave a reply to Dita Indrihapsari Cancel reply