[Resensi Buku] Gak Narsis, Gak Eksis

Untuk Tantangan Writober RBM Ibu Profesional Jakarta tahun 2021, salah satu kata yang diberikan adalah “suara”. Kala itu saya menyetorkan tulisan dengan topik echoist, kebalikan dari narcissist. Tak disangka untuk Writober tahun ini yang muncul adalah kata “narsistik”. Terus terang saya belum dapat ide untuk kata kunci ini, jadi terpaksa ambil jalan ninja sekalian (ceritanya) melanjutkan format tantangan tepat sebelum yang ini, yaitu resensi buku.

Setelah cari-cari di Google Books, ketemulah buku ini yang langsung saya beli. Judulnya nggak persis “narsistik”, sih, tetapi bentuk tidak bakunya yaitu narsis. Sudah cukup lama terbitnya ternyata, tetapi masih lumayan menarik untuk dibaca-baca karena gaya penulisannya yang asyik.

Buku Gak Narsis Gak Eksis

Buku Gak Narsis Gak Eksis

Judul Buku: Gak Narsis, Gak Eksis
Penulis: Very Barus
Penerbit: Sheila (imprint dari Penerbit ANDI)
Tahun terbit: 2009
Jumlah halaman: 178 + xiv

Dunia entertainment alias hiburan selalu menarik untuk dibahas. Dari mulai gemerlap para pelaku industrinya, rahasia gelap yang terkadang muncul ke permukaan, sampai dengan cerita-cerita konyol di balik layar. Buku ini ditulis dari sudut pandang seorang jurnalis yang, seperti disebutkan dalam judulnya, narsis.

Sekilas membaca, banyak cerita kocak yang diangkat dari kisah nyata penulis dalam buku ini. Namun ketika dibaca pelan-pelan, buku ini ternyata tak hanya memuat cerita-cerita lucu. Ada juga kisah-kisah sedih atau yang membuat kita salut akan kerja keras para wartawan. Apalagi masa itu media sosial dan teknologi ponsel belum seperti sekarang, tentu lebih perlu perjuangan untuk bisa menghasilkan suatu berita.

Penulis membuka buku ini dengan daftar hal-hal menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam profesinya. Pria bernama asli Oloan Hotnover Barus ini mengungkapkan bahwa banyak keuntungan dari menjadi jurnalis, misalnya bisa nonton konser yang tiketnya cukup mahal, nonton film duluan sebelum tayang unutk umum, dan bisa jalan-jalan “gratis”. Tentunya tetap perlu dibayar dengan hasil kerja alias liputan, ya.

Jangan lupa juga bahwa jam kerja jurnalis itu bisa sangat tidak teratur. Jurnalis pun harus bersabar ketika sudah menunggu lama seorang artis untuk diwawancarai, tetapi ujung-ujungnya ditolak. Belum lagi kalau bertemu dengan petugas keamanan yang galak. Tingkah laku para pesohor ini pun beragam. Ada yang sangat ramah dan merangkul wartawan, ada pula yang sombong atau suka bohong.

Deretan nama yang disebutkan dalam buku ini, mulai dari para selebritas maupun mereka yang berada di balik layar, seakan mengajak saya bernostalgia. Pada masa remaja, saya juga berlangganan beberapa tabloid hiburan yang tak hanya mengangkat sosok aktor, aktris, penyanyi, atau band, tetapi juga sutradara, produser, hingga pengamat, jadi saya cukup familiar dengan nama-nama yang dicantumkan.

Dari nama-nama itu, ada yang masih aktif hingga sekarang, ada yang kini mungkin namanya hanya diingat oleh kalangan tertentu. Ada yang dulu baru memulai sebagai pendatang baru dan kini sudah sukses besar. Ada juga yang dalam buku ini diceritakan sudah redup kariernya, tetapi belakangan ini muncul kembali. Betapa ketenaran itu sifatnya memang hanya sementara, ya.  Ada memang yang menjadi “abadi” karena karyanya, tetapi tak semuanya bernasib demikian.

Sederetan otokritik untuk dunia jurnalisme maupun kekesalan pada jurnalis yang berperilaku kurang baik juga dipaparkan oleh penulis. Misalnya wartawan yang sok tahu, atau lebih parah lagi meminta imbalan padahal hasil beritanya tak jelas. Kalau sudah begini, wartawan betulan pun bisa ikut kena getahnya. Kondisi kesehatan para pewarta yang kurang bagus akibat kebiasaan selama bekerja yang tidak teratur juga sempat disorot oleh penulis.

Lalu, di mana letak narsisnya? Di sana-sini, penulis memang mengemas tulisannya dengan nada kebanggaan. Namun, terus terang saya tetap menangkap kerendahan hati penulis, tak ada kesan sombong sama sekali saat mengenang kembali episode-episode hidupnya, termasuk saat menyampaikan soal kedekatan dengan sejumlah artis. Kadar narsisnya masih tergolong dapat ditoleransi dan bahkan cukup menyenangkan untuk disimak.

Seusai membaca buku ini, saya jadi mencari karya-karya baru penulisnya. Saya menemukan beberapa tulisannya di platform jurnalisme warga. Makin matang dengan analisis yang nyata merupakan buah dari perjalanan hidup, sekaligus tetap enak dibaca.

#writober2024
#narsistik
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Leave a comment