Kata terakhir dalam Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024 sungguh bikin mati gaya. Saya tak akrab dengan kata ini. Jadilah saya kembali ke format ulasan buku.
Setelah mencari-cari, saya akhirnya menemukan beberapa buku dengan kata Candala pada judulnya. Buku yang saya beli adalah karya Zia Ulhaq, terbitan tahun 2019 dari Transmedia Pustaka. Subjudulnya “Sebuah Kisah Mengabadikan Kenangan”.
Sedikit unik, isinya adalah kumpulan prosa puitis. Saat mulai membaca secara acak saya sempat mengira tulisan di dalamnya tak punya benang merah satu sama lain, karena penyajiannya yang tak biasa ini. Namun, ternyata penulis sudah memberikan penjelasan di pengantar buku, bahwa kumpulan prosa ini disusun secara runut sehingga membentuk jalan cerita. Lengkap dengan konflik dan klimaksnya. Jadi, seharusnya dibaca berurutan dari depan.

Candala
Baiklah, saya pun mulai membaca dari awal. Membaca tulisan-tulisan dalam buku ini seperti menyelami pemikiran seseorang. Atau membaca buku harian yang diisi denhgan rinci sepenuh hati. Segala interaksi dan reaksi yang disajikan hanyalah dari sudut pandang penulis, tanpa dialog sama sekali kecuali kata hati atau pemikiran dirinya sendiri.
Sedikit melelahkan terus terang di beberapa bagian, tetapi juga bikin penasaran. Tulisan-tulisan pada permulaan buku menceritakan bagaimana “aku” bertemu dengan seseorang yang menjadi pujaan hatinya. Mereka kemudian menjalin hubungan asmara.
Masa lalu tidak pernah datang hanya sekadar lewat. Melainkan ia akan ditakdirkan hadir menjadi penguat dalam hidupmu. Agar kamu selalu ingat bagaimana cara mengobati setiap kali terluka, bangkit setiap kali terjatuh, terbit setiap kali terjatuh, terbit setiap kali terbenam, lestari setiap kali binasa.
Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini, aku ucapkan selamat! Sebentar lagi kamu akan menjadi lebih kuat dan hebat. Bacalah setiap kata yang tertuang hingga lembar terakhir. Ia akan menyelinap menuju sukmamu dan merangkai tiap kepingan hati menjadi utuh kembali.
Kata Candala sendiri muncul sebagai salah satu judul bab mendekati akhir buku. Di situ penulis sekalian menempelkan arti dari kata tersebut: kata sifat yang bermakna rendah, hina, atau nista. Saat meriset kata ini saya memang menemukan definisi yang berlaku di India sebagai bagian dari sistem kasta — atau lebih tepatnya berada di luar kasta, yang akan dijelaskan lebih lanjut nanti. Kata ini berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta चण्डाल (Chaṇḍāla).
Di sana, kata candala merujuk kepada suatu kasta yang dipandang rendah. Seperti kita ketahui, sistem kasta terdiri atas empat tingkatan utama, yaitu brahmana (kaum rohaniwan atau cendekiawan), ksatria (kaum penguasa atau prajurit), waisya (pedagang dan pengusaha), dan sudra (pekerja atau pelayan). Candala termasuk dalam golongan yang disebut dalit atau paria, yaitu mereka yang tidak termasuk ke dalam salah satu dari empat kasta di atas. Dalit atau paria berada di luar sistem kasta, bahkan lebih rendah daripada sudra.
Orang-orang candala ini biasanya hanya boleh bekerja di bidang yang dianggap “hina” seperti pemotongan hewan dan penguburan jenazah. Mereka seringkali mengalami diskriminasi sosial yang sangat kuat, walaupun di zaman modern ini ada juga yang memperjuangkan hak-hak kaum candala.
Dalam bab Candala ini, tokoh “aku” mempertanyakan sikap pasangannya yang ia rasakan mulai berbeda. Ia merasa terluka karena dijauhi tanpa ada penjelasan. Baginya, lebih baik disakiti secara langsung ketimbang digantung seperti ini, seolah tak mengingat masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama. Kata-kata puitis yang digunakan penulis untuk menggambarkan perasaan penulis serasa ikut menyayat hati pembaca. “Aku” menganggap dirinya bagaikan candala, sebegitu hinanya hingga untuk mendapatkan kata perpisahan yang layak pun tak pantas.
Happy ending atau sad ending? Sayang kalau dibocorkan di sini. Namun, cukuplah jika disebutkan bahwa bagian penutup buku setebal 178 halaman ini memberikan pelajaran berharga bagi tokoh “aku”.
#writober2024
#candala
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional
