[Resensi Buku] Bunda Lisa

Judul: Bunda Lisa: Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi
Penulis: JS Khairen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 268
Tahun terbit: 2014
Peresensi: Leila Rizki Niwanda

Buku novel Bunda Lisa - JS Khairen

Buku novel Bunda Lisa – JS Khairen

Sebagaimana judulnya, buku ini menceritakan kisah hidup Bunda Lisa. JS Khairen diam-diam melakukan riset untuk buku ini didorong oleh kekaguman pada sosok Bunda Lisa yang asli, pengelola TK Kutilang di Bekasi. Bunda Lisa adalah seorang perempuan asal Aceh yang melanjutkan pendidikan di Jakarta, bertemu dengan seorang pemuda yang nanti menjadi suaminya, kemudian mengikuti suami mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Setelah pulang kembali ke Indonesia, Bunda Lisa tergerak oleh keadaan di sekelilingnya. Satu demi satu program untuk masyarakat dengan penuh ketulusan ia jalankan dengan dukungan penuh suami tercinta.

Mulanya ada posyandu yang dibuat, disusul dengan taman bacaan yang diisi buku-buku bawaan dari Amerika. Mimpi Bunda Lisa pun bertambah: ia ingin membuat sekolah. Sekolah gratis untuk anak usia dini dari penduduk sekitar yang kemudian ia jemput satu per satu ke rumah-rumah.

“Bang, lihat anak-anak itu, mereka berhak memiliki tawa dan kebahagiaan yang sama dengan anak-anak lainnya. Hanya saja, nasib yang membuat mereka tersisihkan. Aku rasa, sudah saatnya kita membuat mereka tersenyum. Mereka harus sekolah, bagaimanapun caranya. Kita harus membantu mereka menemukan jalan nasib yang lebih baik.”

Melihatku berbicara seperti itu sambil menangis, suamiku memelukku, kemudian mengecup keningku hangat. Sebuah pelukan hangat, sehangat selimut bayi.
“Aku akan selalu mendukungmu, mari kita gapai mimpi itu bersama,” tanggapnya datar namun penuh makna. Dalam. (hlm. 20)

Bunda Lisa yang diceritakan adalah Elisa Kasali, istri dari Profesor Rhenald Kasali, dosen – guru besar yang kemudian menjadi mentor JS Khairen. Masya Allah, memang Allah mempertemukan beliau berdua untuk saling mendukung, ya. Melalui buku ini kita sekaligus mengenal kehidupan keluarga Profesor Rhenald lebih dekat. Ternyata, perjuangan hidup pada masa lalu juga menjadi motivasi bagi pasangan ini untuk bergerak memberdayakan masyarakat. Tentu, tantangan untuk mewujudkan berbagai kegiatan yang direncanakan pun cukup banyak, terutama saat awal-awal merintis.

Meyakinkan mereka bahwa suatu hari anak-anak mereka harus mampu melepaskan mereka dari belenggu kemiskinan, ini yang agak sulit.”Saya ini kan begini-begini aja kerjanya Bu, paling anak saya juga nanti mirip-mirip saya.”
Atau, “Yah bisa makan aja udah syukur Bu, apalagi sekolah, eh mau jadi ini jadi itu, sulit membayangkannya. Kalau anak saya nanti berani bercita-cita, saya sendiri yang sedih akhirnya, Bu. Ga mungkin rasanya.”
Mungkin mereka lupa, contoh terdekat ada di depan mereka. Aku dan suamiku. Bagaimana kami dulu, berjuang segala macam, dari keluarga seperti apa kami berasal, pahitnya hidup yang dijalani, dan hari ini justru mimpi-mimpi itu tercapai.

“Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, saya juga dari jurang yang sama dengan Ibu-Bapak sekalian. Tebing yang mengurung kita sama terjalnya, sama dalamnya. Kita juga punya matahari yang sama untuk menerangi kita, bukan? Kita punya udara yang sama, puna kekuatan untuk keluar dari jurang ini.” (hlm. 33)

Memang, beberapa bagian seperti saat ibu dari dua putra ini berusaha meyakinkan warga terasa agak berjarak. Mungkinkah sebenarnya Bunda Lisa memakai pendekatan yang lebih membumi ketimbang menyebutkan metafora yang cenderung mengawang, tetapi demi kepentingan penyajian yang cantik maka jadilah kalimat dalam novel ini disusun sedemikian “tinggi”?

Akan tetapi, apa pun itu, novel ini secara keseluruhan enak untuk dinikmati. Pembaca diajak ikut terhanyut dalam cerita berkembangnya PAUD dan TK Kutilang, kegiatan anak-anak sehari-hari, interaksi dengan guru, kegiatan parenting untuk orang tua, juga diskusi-diskusi Bunda Lisa dengan suaminya yang saling melengkapi dengan sudut pandang dan pendapat masing-masing.

Di bagian tengah buku juga diuraikan mengenai cerita keluarga Kasali ketika berada di Amerika. Di sinilah muncul dialog yang followers Profesor Rhenald barangkali sudah sering menyimaknya.

“Di tempat Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Di sini, kami percaya, memberikan penilaian bukanlah untuk menghukum anak. Melainkan untuk memicu bakat-bakat mereka, merangsang otak mereka agar berpikir maju. Filosofi itu, tiap hari kami tekankan pada pengajar di sini. Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan standar yang kita miliki. Jelas-jelas kita, apalagi Anda, sebentar lagi akan jadi profesor, tidak sebaiknya membandingkan.” (hlm. 149)

Obrolan dengan guru anak mereka ini pulalah yang nantinya melecut semangat Bunda Lisa agar terus-menerus memperbaiki cara mengajar dan membersamai anak-anak di Kutilang. Ia tak segan kembali belajar dari yang lebih paham, juga mencari bantuan dari ahlinya ketika diperlukan. TK Kutilang pun makin terkenal. Bahkan beberapa orang tua yang mampu secara ekonomi berniat menyekolahkan anak mereka di situ karena terkesan dengan pendekatan yang dipakai.

Tantangan dalam kehidupan pribadi pun disisipkan, misalnya saat Bunda Lisa jatuh sakit di negeri orang dengan biaya perawatan yang lumayan mahal. Juga sewaktu putra mereka tinggal kelas dan datanglah komentar seperti “Anak profesor kok tidak naik kelas”.

Beberapa bagian cerita masih terkesan kurang mengalir atau berpindah agak mendadak. Sebagaimana penulisnya mengatakan di media sosial, “Ini novel saya tulis saat skripsian, kemampuan saya dulu tidak seperti sekarang dalam bercerita.” Namun, yah, waktu masih kuliah dulu boro-boro sih saya bisa menulis sebagus ini, apalagi berbagi inspirasi lewat untaian kata yang sedemikian indah. Jadi, novel kedua JS Khairen ini sayang jika dilewatkan. Sudah langka memang bukunya. Saya menemukannya di perpustakaan kantor @intresslib.

Versi belum diedit dari novel Bunda Lisa juga tersedia gratis di Google Books dengan judul Tangguh, tautannya sebagai berikut https://play.google.com/store/books/details/J_S_Khairen_Tangguh_Unedited_Version_dari_Novel_Bu?id=kLX8DwAAQBAJ.

#paradebukuapril
#resensiapril
#bukutemaperempuan

10 thoughts on “[Resensi Buku] Bunda Lisa

  1. Buku “Bunda Lisa” ini kelihatannya heartwarming banget ya, Mba. Resensinya ngebuka wawasan dan bikin aku penasaran pengen baca langsung. Terima kasih udah berbagi insight dari buku yang penuh makna ini

  2. Inspiratif. Tentunya tidak mudah perjuangan Bunda Lisa membuat posyandu, taman bacaan hingga sekolah. Patut diteladani semangat dan kerja kerasnya. Salam hangat.

  3. Wah buku langka nih, aku baru tahu istri Pak Rhenald memiliki kisah berjuang di bidang pendidikan anak usia dini. TK Kutilang ini masih ada sampai sekarang? Masya Allah … meyakinkan orang tua bahwa anak-anak punya masa depan cerah, tidak selalu bernasib sama dengan orang tuanya itu perlu effort yah gimana mengubah mental.

  4. Wah baru tau js khairen pernah bikin buku ini. wajib masuk waiting list nih. sejauh ini udah baca 4 buku blio.

  5. belum pernah baca buku dari js khairen dan cerita bunda lisa ini menarik sekali deh mba laila, apalagi bukunya ini ditulis sebelum beliau menjadi profesional yah, kadang walau ceritanya tidak smooth tapi aku suka loh dengan cerita-cerita yang sudut padangnya itu apa adanya dari penulis tapi ada kurasi dari editor jd kita ada keharusan menerka-nerka maksudnya sendiri, thanks sudah sharing linknya mba laila jadi bisa baca bukunya juga

  6. Sejujurnya saya belum pernah baca bukunya JS Khairen, tapi setelah baca artikel di sini jadi tertarik untuk membacanya. beli langsung bukunya di web Gramedia ah biar terjamin keaslian bukunya.

Leave a comment