[Resensi Buku] Pak Janggut

Judul Buku: Pak Janggut
Penulis: Aman Dt. Majoindo
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan kesembilan, 2011 (cetakan pertama 1938)
64 + iv halaman

Pada Hari Buku Nasional kemarin saya datang ke pameran Parade Masa yang diadakan oleh penerbit Balai Pustaka di kantor mereka di Jakarta Timur. Selain acara-acara diskusi buku, ada juga bazar yang menyediakan buku-buku terbitan penerbit tersebut. Buku ini salah satunya, yang dihadiahkan kepada kami oleh salah satu pembicara dalam sesi diskusi buku sastra komunitas Lingkar Baca yang saya ikuti.

Buku Sastra Klasik Pak Janggut

Buku Sastra Klasik Pak Janggut

Pak Janggut dalam buku ini bukanlah Pak Janggut yang mungkin kita kenal dari komik di majalah Bobo. Jika Pak Janggut yang ada di majalah Bobo itu aslinya adalah komik yang dibuat di Belanda, Pak Janggut yang ini dibuat ceritanya oleh Aman Datuk Madjoindo, yang juga menulis buku Si Doel Anak Betawi (1932). Buku tipis ini berisi tujuh bab cerita sambung-menyambung berisi satu potongan kisah kehidupan Pak Janggut. Pada suatu hari Pak Janggut pergi dari rumah dalam keadaan kesal, dan ternyata malah tertimpa insiden beruntun setelahnya.

Ilustrasi dalam buku Pak Janggut

Ilustrasi dalam buku Pak Janggut

Peristiwa yang menimpa Pak Janggut sebetulnya bisa disebut sebagai rangkaian kemalangan, tetapi di sisi lain juga memancing tawa. Alur ceritanya menarik untuk dinikmati. Sesungguhnya penyebab dari segala kehebohan yang terjadi sepanjang cerita sampai melibatkan seluruh penduduk desa ini “hanyalah” pertikaian rumah tangga gara-gara masakan. Namun, memang mungkin ada nasihat tersirat di situ. Salah satunya adalah bahwa komunikasi yang baik dan saling menghargai dalam pernikahan itu penting. Pembaca juga bisa sekalian belajar budaya sosial masyarakat pada masa itu seperti penggunaan kentongan, cara warga bersosialisasi, hingga sistem kepemimpinan. Atau pembaca mungkin juga bisa mengambil hikmah singkat: jangan melawan emak-emak.

Pak Janggut menghela napas panjang. Kemudian ia berkata pula: “Lain kali takkan saya lakukan lagi. Saya juga yang salah. Si Rubu tak apa-apa. Bohong saja saya tak suka gulai petai. Hanya sejak gigi saya tinggal sebuah, saya tak dapat lagi merasai lezatnya. Sebab kalau digigit ke kiri dia lari ke kanan, kalau digigit ke kanan dia lari ke kiri. Tetapi dengan kuah-kuahnya bukankah boleh juga saya makan? Lagi pula sambal yang lain pun ada. Mengapa saya merentak saja turun? Orang tak bersalah apa-apa saya marahi. Sekarang beginilah balasnya….” (hlm. 43)

Dalam buku ini terdapat beberapa istilah yang kini jarang dipakai, yang tidak dijelaskan pula artinya, sehingga pembaca jadi harus mencari tahu sendiri jika tidak familiar dengan kata tersebut. Barangkali pembaca yang berasal dari Minang atau punya cukup pengetahuan tentang bahasa sana akan lebih mudah memahaminya, Mungkin akan lebih baik juga jika arti dari kata-kata ini dicantumkan dalam catatan kaki atau glosarium dalam cetakan berikutnya. Apalagi beberapa di antaranya betul-betul terkait dengan jalan cerita, sehingga pembaca akan kesulitan menangkap maksud cerita tanpa mengetahui arti kata tersebut.

Salah satunya adalah “kecek”. Ada kalimat “Nek Rubu tak pengecek macam Pak Janggut.” Awalnya saya kira maksudnya adalah Pak Janggut lebih teliti jika dibandingkan dengan istrinya, karena rajin mengecek berbagai hal. Saya pun mengecek (haha) ke KBBI karena bingung kok kalimat berikutnya tidak nyambung jika memakai arti “cek”. Ternyata kata dasarnya adalah “kecek” dengan arti celoteh, cakap, atau omong (bahasa Minangkabau). Pantas disebutkan bahwa “Kalau kecek Pak Janggut sepuluh, kecek Nek Rubu baru sepatah dua patah.”

Cuplikan isi buku Pak Janggut

Cuplikan isi buku Pak Janggut

Ada pula kisah asal-usul penamaan Nek Rubu yang katanya gara-gara kepanikan istri Pak Janggut ini saat siang hari tiba-tiba gelap (gerhana matahari?). Di KBBI, rubu didefinisikan sebagai alat hitung tradisional untuk memperkirakan perpindahan bulan dalam perhitungan tahun Hijriah. Sepertinya bukan ini yang dimaksud. Saya mencoba mencari sumber lain dan menemukan Kamus Etimologi Bahasa Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1987. Rupanya rubu berarti pergi ke sana kemari tak tentu tujuan atau meraba-raba ke sana kemari dalam gelap. Cocok dengan sejarah julukan bagi perempuan yang diceritakan memiliki nama asli Fatimah ini. Adapun riwayat penamaan Pak Janggut juga dituliskan pada bagian awal buku.

Waktu Pak Daud telah pulang ke kampungnya ia acap kali diundang orang kenduri. Tiap-tiap kali ia pergi, dilihatnya orang yang berjanggut selalu didudukkan di sebelah ujung. Makanan yang enak-enak selalu terletak di hadapannya. Gulai ayam yang berlinang-linang terhidang di mukanya. Goreng ikan yang besar-besar, selalu mengelilinginya. Sedang ia, Pak Daud, duduk sebelah bawah. Hidangannya biasa saja. Kalau gulai ayam, tulang-tulangnya, kalau goreng ikan, ekor-ekornya pula. Iri benar hatinya melihat itu.

Karena itu janggutnya tak dicukur-cukurnya lagi. Tak lama antaranya panjanglah, tebal dan bagus pula.

Sejak itulah gelarnya beralih jadi Pak Janggut. (hlm. 2)

Masih ada lagi kata-kata lain seperti telor (yang bukan bermakna telur), beti, lemukut, seraut, menabun, semambu, rudus, gelembai, dan merentak. Juga nama masakan seperti pengat ikan dan nama hewan seperti burung merbah yang membuat penasaran seperti apa rupanya. Saya jadi ingat apa yang disampaikan oleh pembicara lain dalam sesi diskusi di Balai Pustaka kemarin, yaitu bahwa buku-buku sastra itu memperkaya kosa kata pembaca. Memang begitulah adanya, banyak yang bisa kita pelajari dari sebuah karya sastra.

Meski sampulnya berwarna ceria, jika ingin mengenalkan buku ini kepada anak-anak baiknya memang tetap perlu ada pendampingan. Konsep melihat “musibah” dari sudut pandang humor mungkin bisa menjadi bahan diskusi dengan anak agar empati tetap terasah.

#paradebukumei #bukuklasik

7 thoughts on “[Resensi Buku] Pak Janggut

  1. Bangsa kita bangsa yang kaya dengan bahasa ya, bahasa jadul unik-unik, banyak yang ngerti juga ya. Wajar aja apalagi buku terbitan lama, pasti banyak kata-kata yang asing. Sama seperti di bahasa Indonesia juga ada beberapa diksi yang jarang dipake orang seperti Arunika, asmaraloka, bahtera, bahkan bernas. Bahkan bisa sampe 100-150an kata yang sudah jarang dipake orang.

  2. Ini semacam Abu Nawas versi Indonesia ya…kayaknya menarik juga buat orang dewasa karena aku aja suka baca cerita Abu Nawas atau Kabayan, yang jenaka tapi pintar. DI perpusnas ada ga ya?

  3. Menarik banget masukannya. Memang biasanya kan ada keterangan di catatan kaki. Padahal bukunya terlihat menarik. Tapi, memang jadi berasa kurang maksimal bacanya kalau harus cari tau dulu beberapa kalimat yang dirasa gak paham

  4. Aku jadi teringat dulu masa sekolah sepertinya ada buku paket yang konsep penulisan cetaknya seperti yg digambar, kaya khas Balai pustaka yg konsepnya klasik. Uniknya cerita seperti ini tuh sederhana, releateble di keseharian dan ada pesan ringan yg tersirat

  5. Pingback: [Resensi Buku] Si Dul Anak Jakarta | Cerita-Cerita Leila

  6. Suka deh dengan novel-novel sastra klasik yang singkat tapi padat pesan seperti Pak Janggut ini. Dari sekilas cuplikan halamannya saja sudah membuat saya tertarik untuk membacanya.

    Langsung cari bukunya di toko online atau e-commerce deh

Leave a reply to dudir Cancel reply