[Resensi Buku] Si Dul Anak Jakarta

Judul Buku: Si Dul Anak Jakarta
Penulis: Aman Dt. Majoindo
Penerbit: Balai Pustaka
Edisi elektronik, 2021 (cetakan pertama 1932)
157 + viii halaman

Cover novel si Dul

Cover novel si Dul

Dalam Pendahuluan buku ini, penulis menyampaikan bahwa ia sengaja menggunakan logat Jakarta agar pembaca dapat ikut mengenal logat tersebut. Namun, logat Betawi ini lebih banyak digunakan dalam dialog, sedangkan narasi cerita memakai bahasa Indonesia. Cukup menarik bahwa penulis yang berasal dari Sumatra Barat ini berhasil menyajikan kisah hidup keseharian masyarakat Betawi dengan baik.

Sedikit berbeda dengan buku Pak Janggut dari penulis yang sama yang saya baca pada waktu berdekatan, buku Si Dul ini dilengkapi dengan catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah tertentu dari bahasa Betawi atau yang tidak familiar untuk pembaca sekarang. Jika dilihat dari beberapa kata yang dipakai dalam versi buku yang saya baca, sepertinya ada penyesuaian dari naskah aslinya, meskipun saya belum menemukan berita yang valid mengenai hal ini, Kalau judulnya, memang sudah dari terbitan kedua diganti dari yang asli yaitu Si Doel Anak Betawi (sumber: situs Kemdikbud).

Dari kegiatan sehari-hari Dul dan teman-temannya yang diuraikan dalam sembilan bab, tergambar pula budaya masyarakat Betawi yang kental. Misalnya ketika mereka bermain sedekah-sedekahan, diceritakan bahwa perempuan tidak diperbolehkan duduk bersama dengan bapak-bapak dalam acara sedekah (doa bersama diikuti dengan makan-makan) karena “haram hukumnya dipandang laki-laki.” Di sini salah satu teman Dul mempertanyakan kenapa perempuan boleh melihat laki-laki.

Begitu juga saat Nyak Aminah minta izin bekerja sebagai penjaga toko untuk menafkahi dirinya dan Dul sepeninggal Babe, Engkong Dul melarang keras dengan alasan yang sama. Namun, di sisi lain dipotret juga bahwa tidak semua umat Islam menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Ada yang hanya puasa Ramadan pada hari-hari awal, ada juga yang memilih bermain petasan atau pamer baju baru saat pelaksanaan shalat Id.

Pada pertengahan buku, tokoh Babe Dul baru benar-benar muncul setelah sebelumnya hanya disebutkan selintas. Dikisahkan bahwa Babe Dul ini jago silat dan karenanya justru suka mengapresiasi keberanian Dul berkelahi. Namun, orang-orang makin segan pada lelaki yang berprofesi sebagai supir bus ini bukan karena pukulannya yang keras, melainkan kebaikan hatinya. Kepada bapaknya inilah Dul mengungkapkan keinginan untuk bisa bersekolah. Sayang, begitu tokoh Babe diperkenalkan, secepat itu pula ia harus berpulang.

Dul dan nyaknya harus meneruskan perjuangan hidup. Pada akhir cerita, Dul bisa bersekolah sebagaimana impiannya. Dalam adegan seputar  sekolah tampak kritik penulis akan kebiasaan orang-orang Betawi pada masa itu yang menganggap anak-anak tidak perlu sekolah. Kebiasaan yang tampaknya masih terbawa hingga puluhan tahun setelahnya, meski mungkin level pendidikan yang dianggap tidak penting ini meningkat juga dari pendidikan dasar ke pendidikan tinggi, seperti tergambar dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang terinspirasi dari buku ini.

Lewat buku ini, pembaca juga bisa mengamati gaya parenting orang tua pada zaman tersebut. Keras dan penuh ancaman, tetapi kita juga dapat melihat bahwa Dul tetap menyayangi kedua orang tuanya, bahkan khawatir kehilangan mereka berdua. Dul juga sering tak berani melanggar perintah orang tua, walaupun sedang tidak diawasi. Kebaikan hati dan kepandaiannya membaca suasana membuat Dul mudah berteman.

Namun, tokoh Dul tetap tampil manusiawi dengan beberapa ulahnya: berkelahi dengan teman sebaya (karena terpancing teman yang menghina bapaknya, sih), iseng mengadu serangga (meskipun teman-temannya sudah mengingatkan), mengambil daun-daunan dari pohon tanpa izin, dan memukul kambing engkongnya. Beberapa dari tingkah kebadungan ini digambarkan langsung mendapatkan konsekuensinya, minimal teguran dari Nyak Dul yang diiringi dengan nasihat cukup panjang.

Cerita dalam buku ini sungguh menarik disimak. Apalagi sambil membayangkan latar waktu masa lalu, kala Indonesia bahkan belum merdeka. Jadi penasaran juga dengan kartun Padvinder yang membuat Dul ingin ikut punya seragam serupa.

 

Update: Balai Pustaka membuat beberapa buku bergambar untuk anak dengan gaya kekinian yang mengangkat potongan unsur atau cerita dari buku-buku klasiknya. Salah satunya mengangkat soal nasi ulam dari cerita Si Dul. Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://ceritaleila.com/2025/08/26/resensi-buku-mengenalkan-kuliner-dan-sastra-indonesia-ke-anak/

14 thoughts on “[Resensi Buku] Si Dul Anak Jakarta

  1. Sebagai orang Betawi asli, aku mesti baca ini, nih. Penasaran, bener ga yaa kalimat-kalimat yang dipakai si penulis yang bukan orang Betawi asli. Karena kelihatannya sepintas, ada beberapa kata yang agak dipaksakan. Bisa dipinjem di perpusnas kah buku ini?

  2. Nasihat-nasihat para tokoh masih relevan di zaman sekarang, apalagi di Jakarta. Mungkin orang Betawi terkenal akan nyablaknya, gak jarang gaya ngomongnya dianggap lucu dan dianggap kayak ngedagel, tapi sebenarnya intinya sama saja: mereka juga punya prinsip hidup, apalagi prinsip hidup yang berlandaskan agama. Resensi yang bagus.

  3. saya termasuk yang suka dgn cerita si Doel anak Betawi. Apalagi nnton filmnya yg diperankan oleh Bang Rano Karno tambah demen nontonnya.

  4. wah baru tahu kalau ada buku tentang si Dul ini mbak. Bisa dimasukkan list bacaan nanti. Ini menarik banget tentang keseharian Betawi yang kental ya

  5. Owala baru tau klo sinetron si Doel terinspirasi dari novel yg awal cetak tahun 1932 ini… Keren sih penulisnya bukan orang Betawi tapi bisa detil menggambarkan suasana Betawi, itu pasti lewat proses penelitian & riset yg intens.

  6. Resensinya asyik banget, Leila! Kamu berhasil menangkap esensi Si Dul yang gak cuma tokoh fiksi, tapi juga cerminan anak Jakarta tempo dulu. Nostalgia dan kritik sosialnya dapet! Jadi pengen baca bukunya lagi

  7. Sebagai seorang keturunan betawi aku ga nyangkal sih beberapa thn lalu masih ada yang beranggepan sekolah ga penting2 bgt dan kerja sama orang tuh ga seharusnya. Sedihnya pemikiran begini jadi menyebabkan “tertinggal” di era kaya saat ini.

    Ceritanya ringan dengan tutur logat betawi yg dibawa dlm dialog di bukunya jadi terbayang pembawaan lenong betawi yg dulu suka disaksikan

  8. Saya sebel dengan karakter Si Dul di sinetron. Untung aja ada sosok babeh, Atun, dan Mandra. Tertarik deh baca novel ini. Feeling saya kayaknya bakal lebih asyik baca novelnya

  9. Pengen banget baca selengkapnya. Sebagai penggemar sinetron Si Dul, udah kebayang buku ini “daging” banget kalo kata anak skrg hehe. Terima kasih telah mengulasnya Kak, semoga saya dapat jumpa dg buku ini 🙂

  10. selama ini tahu tokoh Si Doel ya lewat sinetron di tv

    ternyata versi buku begini malah lebih kaya akan tata bahasa dan budayanya ya

    jadi membayangkan Jakarta tempoe doeloe yang sekolah masih dianggap buang uang

  11. Di otakku langsung keputer lagunya “Si Doel Anak Sekolahan”

    Tapi bener siiyh.. orangtua jaman dulu suka gak percaya sama anaknya buat sekolah tinggi karena selain sekolah butuh biaya mahal, nanti lulusnya juga belum tentu dapet kerjaan bonafide.

    Seneng banget baca ulasan buku Si Dul Anak Jakarta.

    Logat Betawinya kentel bangeett..Serasa nonton filmnya dah..

  12. wah ini buku yang jadi inspirasi sinetron si doel itu, ya kalau dilihat dari nama emaknya si doel? menarik banget nih padahal penulisnya dari sumatra tapi menulis dengan bahasa betawi

  13. Astaga, sudah lama juga tidak baca buku dengan bahasa dan logat betawi seperti ini. Kira-kira toko buku online terpercaya yang jual buku ini apa ya? maklum, saya tinggal di kota kecil di Jawa Tengah. Toko buku di sini isinya lebih banyak novel remaja populer dan buku pelajaran.

  14. Pingback: [Resensi Buku] Mengenalkan Kuliner dan Sastra Indonesia ke Anak | Cerita-Cerita Leila

Leave a comment