Grup Support Antar-Kreator, Saling Dukung untuk Berkembang Bersama

Zaman ngeblog di Multiply dulu, ada aktivitas menyenangkan yang sering saya jalani setiap harinya. Selain menulis di blog, saya juga suka berkeliling ke blog teman-teman untuk membaca tulisan mereka dan meninggalkan komentar. Blogwalking, istilahnya. Saya jadi bisa mengenal dan berinteraksi dengan teman-teman yang tinggal di berbagai daerah, bahkan berbeda negara.

Apa yang teman-teman Multiply-ers tuliskan di blog mereka menjadi tambahan wawasan, sumber pengetahuan, bahan renungan, atau hiburan bagi saya. Lewat kegiatan saling memberikan komentar inilah pertemanan menjadi erat. Bahkan ada yang sering berkirim hadiah meski sampai sekarang belum pernah bertemu muka.

Ketika bertugas dinas sebentar ke Jakarta (saat itu saya ditempatkan di kantor di Bangka), saya pun bisa langsung berbaur dalam acara bakti sosial yang kebetulan diadakan para Multiply-ers pada hari yang berdekatan dengan kedatangan saya. Begitu bertemu, kami bisa ngobrol akrab serasa sudah kenal lama, meski sebelumnya hanya berinteraksi lewat tulisan.

Aktivitas Blogging

Aktivitas Blogging

Blogger Tak Hanya Menulis

Begitu dipindahkan ke kantor pelayanan di Jakarta, sederetan kesibukan bertepatan dengan kelahiran anak pertama membuat saya vakum nge-blog. Selengkapnya tentang rehat ngeblog pernah saya tulis di sini. Ketika mulai rajin menulis lagi beberapa tahun kemudian, ada beberapa hal baru yang saya amati.

Salah satunya adalah bahwa blogger tak hanya perlu piawai menulis. Blogger juga harus aktif di media sosial untuk bisa mengenalkan tulisannya ke audiens dan membangun jejaring. Ada pula tawaran-tawaran kerja sama untuk blogger yang sepaket dengan aktivitas campaign di media sosial. Karenanya, seorang blogger dituntut punya keterampilan yang baik dalam mengelola akun media sosial.

Bicara soal kerja sama, tentunya pihak yang mengajak kerja sama ini punya target tertentu. Meskipun banyak juga yang mengingatkan bahwa tingkat perhatian bahkan pemahaman netizen itu tidak selalu bisa dikonversi ke tingkat penjualan (marketing vs sales), tetapi mau tidak mau angka engagement media sosial atau blog masih menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan yang sering dipakai.

Engagement di sini umumnya dihitung dari jumlah tanda suka, komentar, dan jumlah berapa kali konten tersebut dibagikan, yang tampak dalam sebuah unggahan. Secara umum, angka engagement rate atau ER yang merupakan hasil jumlah interaksi dibandingkan dengan jumlah followers inilah yang biasanya yang diminta untuk diisikan sebagai syarat kerja sama, karena bisa dihitung dan dicek oleh pihak lain (ada website yang menyediakan jasa perhitungannya).

Ada pula yang menambahkan syarat jumlah akun unik yang melihat atau sekalian dengan jangkauan unggahan tersebut untuk mengukur kinerja suatu konten. Bagi platform sendiri, ada acuan lain untuk mendorong sebuah konten disodorkan ke lebih banyak penonton, seperti jumlah yang menyimpan konten tersebut dan lamanya orang bertahan menyimak isinya.

Ada kerja sama yang secara jelas mencantumkan jumlah views atau likes yang harus dipenuhi. Tentu harapannya adalah ketika makin banyak pengguna media sosial atau warganet yang melihat maka makin banyak pula yang tertarik akan apa yang disampaikan, syukur-syukur mau membeli atau berpartisipasi. Hanya saja, pada era badai informasi seperti sekarang ini, terkadang sulit untuk mencapai jumlah yang ditentukan.

Begitu banyak kreator yang muncul dengan ciri khas masing-masing. Rentang perhatian manusia konon juga jadi memendek akibat terbiasa dengan konten-konten singkat di media sosial, sehingga makin memantang bagi suatu konten untuk mendapatkan views.

Saling Dukung Sesama Kreator

Apa solusinya? Ada yang aktif mempromosikan blognya lintas platform, ada juga yang suka berbagi tautan di aplikasi lain seperti WhatsApp. Blogwalking atau saling support melalui like, comment, save, dan share di antara para blogger atau kreator konten juga dapat dilakukan. Ada yang memang sukarela, tetapi ada juga yang dikoordinir.

Ketimbang sistem buzzer yang kadang masih terbaca polanya dan terkesan tidak organik, atau membeli jasa like, comment, save, dan share yang dapat berisiko malah merusak algoritma akun kita, support group yang beranggotakan sesama kreator menjadi pilihan yang lebih menarik.

Saya bergabung dengan beberapa grup yang menjalankan sistem ini. Ada yang kegiatan support-nya merupakan salah satu saja dari jadwal harian di sebuah grup yang di waktu-waktu lain mendiskusikan hal berbeda (dari parenting sampai buku), ada juga yang grupnya memang khusus dibuat untuk support. Ada yang rutin membuka support list setiap hari, ada yang sepekan sekali. Siapa pun yang mengisi berarti siap untuk mengunjungi link lain di daftar tersebut dan menaruh komentar positif.

Lazimnya, ada target yang dipatok untuk menyelesaikan tugas ini, misalnya 24 jam atau bahkan hanya beberapa jam saja. Lebih dari itu, kadang ada sanksi seperti tidak boleh ikut mendaftar selama beberapa sesi ke depan, ditarik support-nya, bahkan dikeluarkan dari grup jika sudah sering terjadi.

Sistem seperti ini menurut saya memang seru juga, khususnya bagi yang waktunya memungkinkan. Ada semangat kebersamaan dan ada dorongan untuk saling membantu sesama kreator bertumbuh. Menambah teman pula. kan.

Namun, ada juga yang terang-terangan mencela bentuk dukungan seperti ini karena dianggap masih termasuk tidak organik. Eksposur yang didapatkan hanya berputar di circle yang sama, membuat konten tidak menjangkau audiens yang lebih luas, katanya. Jadi, menurutnya, sia-sia saja brand ataupun agensi mempercayakan endorse pada kreator yang interaksinya kebanyakan berasal dari dari kelompok support seperti ini.

Setelah beberapa lama mengamati dan menjalani juga, menurut saya ada memang plus minus dari kegiatan support seperti ini.

Sisi Positif: Saling Dukung agar Berkembang

1. Mempercepat pertumbuhan engagement
Tak bisa dimungkiri, metode saling support ini memang efektif untuk menambah views, komentar, dan interaksi dalam waktu singkat. Ada “booster” yang membantu konten kita tidak tenggelam begitu saja di algoritma.

2. Meningkatkan potensi jangkauan konten
Platform seperti Instagram punya kecenderungan “melempar” konten yang ramai interaksinya ke audiens yang lebih luas. Jadi, support dari anggota grup bisa membuka peluang agar konten kita lebih terlihat di luar lingkaran teman sendiri.

3. Mempermudah pencapaian target dalam campaign
Bagi kreator yang sedang menjalankan kerja sama berbayar dengan brand atau mengikuti lomba, target views atau komentar sering menjadi salah satu KPI penting. Nah, dukungan dari grup ini bisa menjadi “bantuan darurat” untuk memastikan target itu tercapai dalam waktu tidak terlalu lama.

4. Meningkatkan potensi kerja sama dengan brand atau akun lain
Engagement yang stabil dan terlihat tinggi membuat profil kita tampak lebih menarik bagi brand maupun pihak lain yang ingin berkolaborasi.

5. Menambah motivasi dalam berkarya
Melihat notifikasi komentar setiap hari, meskipun sebagian besar dari teman satu grup, tetap saja memantik rasa senang dalam hati. Dukungan seperti ini bisa menyemangati kita ketika motivasi berkarya berkurang. Memang, sih, sebaiknya kita tidak bergantung sepenuhnya pada validasi pihak lain. Namun, terkadang penyemangat kecil sehari-hari ini ada manfaatnya.

6. Memperluas jejaring antarkreator
Dari grup-grup seperti ini kita bisa berkenalan dengan teman baru, bahkan dapat membuahkan kolaborasi kreatif dengan kreator lain. Berikutnya, bisa saja kita kecipratan peluang kerja sama atas rekomendasi sesama kreator ini, atau sebaliknya.

7. Menambah wawasan dan pengetahuan
Karena harus mengunjungi berbagai konten, kita jadi membaca atau menonton hal-hal yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan atau di luar “bubble” kita. Kadang ada insight atau pengetahuan baru sebagai bahan konten kita, konten inspiratif yang menjadi refleksi bagi kita, atau tips untuk kita terapkan sehari-hari.

8. Mendapatkan rekomendasi produk atau event 
Sewaktu membaca komentar miring yang saya sebutkan di bagian awal tulisan ini, saya spontan ingin menjawab bahwa sebetulnya tidak sia-sia, kok. Bukan hanya sekali dua kali saya membeli produk atau mendatangi acara yang dipromosikan oleh sesama kreator, yang saya kunjungi kontennya awalnya demi memenuhi kewajiban support.

Kalau memang sesuai dengan kebutuhan kita dan ada dananya (bahkan kadang bela-belain menabung dulu), walaupun berawal dari support, kenapa tidak, kan? Kalaupun bukan untuk diri sendiri, sering juga saya merekomendasikan produk yang saya lihat dari konten teman, mulai dari peralatan rumah tangga sampai skincare.

9. Mendatangkan audiens baru dari komentar yang autentik
Jika kita rajin meluangkan waktu untuk menulis komentar yang tulus dan menarik, bukan tidak mungkin ada orang lain yang membacanya, mengunjungi profil kita, lalu memutuskan untuk follow. Kadang, follower organik justru datang dari interaksi seperti ini.

10. Membantu terindeks di mesin pencarian

Bisa lho, justru kata-kata kunci yang mengisi kolom reply-lah yang tertangkap oleh mesin pencari dan menghasilkan kunjungan tambahan. Saya beberapa kali mengalami hal ini baik sebagai pemilik konten/blog maupun sebagai yang mencari informasi. Hal ini juga bisa didatangkan oleh komentar organik, sih. Akan tetapi, makin banyak komentar, berarti makin banyak pula kemungkinan kata-kata yang bisa muncul.

Sisi Negatif: Buru-Buru Demi Kewajiban

1. Komentar formalitas

Karena pemberian komentar dilakukan sebagai kewajiban, ada kalanya yang dituliskan juga hanya seadanya. Yang penting, tugas selesai sebelum waktunya. Tentu kata-kata komentar yang sering muncul adalah yang standar seperti “Wah, seru!”, “Cakep nih”, atau “Jadi mau ke sana juga”. Atau malah komentarnya kelewat singkat.

Makanya, ada grup yang memberikan batasan jumlah kata minimal untuk berkomentar. Komentar pun diarahkan tidak boleh hanya berisi emoji. Ada juga yang mengeluhkan komentar-komentar yang masuk terlalu serupa sehingga terkesan seperti buzzer. Namun, hal ini kadang tak terhindarkan, karena memang hal menarik yang pertama kali tertangkap oleh mata dari konten itu mirip-mirip, jadi komentar yang terpikirkan juga tak jauh beda.

Durasi kunjungan yang terlalu singkat di sebuah unggahan, lalu cepat-cepat mengimkan komentar dan berpindah ke konten lain karena mengejar target, juga bisa kontraproduktif. Konten yang dikunjungi secara kilat ini dapat dianggap tidak menarik karena tidak berhasil mempertahankan perhatian pengunjungnya, sehingga jarang direkomendasikan oleh platform ataupun mesin pencari kepada pengguna lainnya.

Oleh karena itu, beberapa grup menegaskan agar kita bertahan dulu sekian menit guna mendukung citra positif konten tersebut di mata algoritma. Akhir-akhir ini juga kadang terlihat komentar yang sepertinya ditulis dengan bantuan generative AI, tapi biasanya masih cukup nyambung dan justru memperkaya sudut pandang untuk konten atau blog kita. Kalaupun sampai komentar AI ini tidak nyambung, hal tersebut bisa juga menjadi bahan evaluasi bagi kita. Mungkin tulisan kita yang kurang memberikan kejelasan sehingga AI-nya gagal paham ketika tulisan ini dijadikan input? Meskipun, idealnya komentator mengecek kembali ya konsep jawaban AI ini.

2. Engagement kurang organik
Memang capaian performa konten kita meningkat, tetapi kadang ada komentar-komentar yang terlihat terlalu seragam. Apalagi komentar-komentar ini akan muncul pada waktu yang berdekatan, sehingga terkesan “settingan“.

Agensi maupun Key Opinion Leader (KOL) Specialist juga ada yang menganggap bahwa engagement dari grup support seperti ini fake, bahkan “menipu”. Bisa dipahami bahwa tujuan penggunaan jasa KOL oleh KOL specialist ataupun agensi itu sebetulnya adalah untuk menjangkau audiens yang belum tahu tentang barang/jasa/acara yang dipromosikan. Kalau yang berkomentar pada konten ini masih para sesama kreator juga, yang sudah terpapar informasinya sebelumnya, maka tujuan menyebarluaskan informasi ini dianggap gagal tercapai.

3. Kewalahan mengatur waktu dan kelelahan
Jika setiap hari ada list panjang yang harus dikunjungi, lama-lama aktivitas ini bisa menimbulkan rasa lelah atau bahkan burnout. Terdapat juga risiko bergesernya prioritas lain dalam kehidupan sehari-hari. Uniknya, saya baru tahu belakangan bahwa ada yang mendelegasikan lagi kewajiban ini ke pihak lain. Ada yang memberdayakan suami, saudara, bahkan tetangga demi menyelesaikan PR like & comment ini, bahkan mau membayar untuk itu.

Apakah tidak rugi? Bisa jadi masih tetap untung, apalagi jika penghasilan dari endorsement atau aktivitas lainnya seputar konten sudah cukup lumayan. Engagement-nya juga terjamin dari akun asli, bukan akun kosong yang tidak jelas.

4. Ketidaksesuaian produk atau rekomendasi dengan value pribadi
Pernah nggak, sih, diminta mendukung konten tentang produk yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai atau preferensi kita? Pastinya kita punya keyakinan yang dianut, baik terkait agama maupun nilai-nilai lainnya seperti kemanusiaan, kesehatan, atau cinta lingkungan. Jika konten yang disetorkan teman segrup “melanggar” nilai-nilai ini, rasanya sungguh menantang untuk tetap menuliskan komentar yang positif.

Berfokus pada aspek lain yang muncul dalam konten tersebut terkadang bisa membantu untuk bisa mengerjakan tugas tanpa menyatakan dukungan terhadap hal yang tidak kita setujui. Ada yang justru senang ketika diberi selingan komentar unik di luar soal produknya sendiri, karena kesannya lebih natural. Namun, ada pula yang secara khusus minta komentarnya harus terkait produknya.

Yang jelas, kalau sudah bertentangan dengan prinsip dasar yang amat penting bagi kita, mungkin kita bisa mengajukan negosiasi atau minta izin mundur dari sesi list kali ini. Bergabung dalam grup yang punya value serupa dan membuka kesempatan support, misalnya dulu ada Blogger Muslimah atau Indonesian Hijab Blogger (yang sayangnya kalau tidak salah sedang hiatus saat ini) juga setidaknya bisa membantu memfilter permintaan dukungan seperti ini.

5. Kejenuhan saat menemukan konten yang mirip
Kadang, dalam satu list yang sama, ada dua bahkan lebih konten dengan tema identik karena sedang ikut campaign atau lomba yang sama. Malah, kadang ada juga yang mendorong sesama kreator yang bekerja sama dalam satu project untuk saling berkomentar. Setelah sudah menghadapi konten kesekian, mentok deh, mau komentar apa lagi?

Karena itulah ada komunitas yang menerapkan aturan tidak boleh ada tema yang sama dalam satu list. Namun, sisi positifnya, kemiripan ini melatih kreativitas kita untuk memutar otak mencari cara berkomentar yang berbeda.

6. Komentar yang keliru

Pernah terjadi ada yang memuji nama brand kompetitor dalam komentarnya untuk konten saya. Mungkin karena buru-buru jadi tidak teliti membaca nama brand yang saya tampilkan, apalagi kemasannya memang mirip. Kalau sudah kejadian, rasanya serbasalah. Mau dihapus, kok nggak enak. Mau dibiarkan, takut merusak kepercayaan brand.

Di sisi lain, beberapa konten yang saya lihat memang sengaja menahan dan baru menampilkan produknya pada bagian akhir untuk memancing rasa penasaran, mempertahankan view, atau supaya lebih terkesan soft selling. Namun, ada juga yang sebetulnya sudah cukup jelas menunjukkan nama merek, tapi yang berkomentar masih salah merek.

7. Kena “hukum” platform

Terlalu banyak meninggalkan like dan comment atau follow banyak akun sekaligus dalam waktu berdekatan bisa membuat aktivitas kita ditandai sebagai spamming, melanggar ketentuan, atau mencurigakan oleh platform media sosial. Akun kita bisa kena sanksi, misalnya tidak bisa memberikan like dan comment atau melakukan follow selama batas waktu tertentu.

Kadang platform menginformasikan sampai kapan ban ini diberlakukan, melalui pop up notifikasi yang jelas. Kadang juga menjadi misteri, karena di notifikasi hanya disebutkan bahwa kita dianggap melanggar ketentuan, tanpa pencantuman batas waktu. Bahkan aktivitas yang dianggap mencurigakan ini bisa berakibat shadow ban yaitu akun atau tagar yang kita pakai sulit bahkan tidak muncul di pencarian, tanpa informasi atau teguran sebelumnya. Kalau sudah begini repot jadinya.

Beberapa grup menoleransi hal ini dengan membebaskan dari sanksi internal meskipun tidak menyelesaikan tugas. Perkara pemberian jarak waktu ini jadinya sering diingatkan juga di grup-grup sebelum sesi support dimulai, daripada akun kita jadi terkena masalah dan kegiatan support juga jadi tidak optimal.

Jadi, Saling Support lewat Grup, Yay or Nay?

Menurut saya, keputusan ada di masing-masing individu. Saya sendiri sekarang sudah agak jarang bergabung dengan kegiatan support karena keterbatasan waktu. Hanya beberapa yang masih saya ikuti, itu pun bentuknya komunitas yang banyak menyelenggarakan kegiatan lain seperti Bloggercrony dan Ibuku Content Creator. Grup-grup ini menjadi penyemangat bagi saya untuk lebih rajin mengisi blog setiap pekannya, sebelum sesi support dimulai.

Bila ada yang merasa bahwa grup support ini memberikan banyak manfaat, hal ini tidak salah karena saya pun merasakan sejumlah dampak positif. Yang penting, kita menjalaninya dengan enjoy, sehingga blogwalking ataupun content walking (gini nggak, sih, istilahnya?) tetap menjadi aktivitas yang menyenangkan. Pastinya, selalu ingat juga untuk bijak dalam berinteraksi dan memahami beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi dari aktivitas ini.

10 thoughts on “Grup Support Antar-Kreator, Saling Dukung untuk Berkembang Bersama

  1. Tulisannya ngena banget, Leila. Di dunia digital yang kadang penuh persaingan, punya grup support yang tulus saling dukung tuh berharga banget. Terima kasih udah nulis ini, reminder bahwa kita gak perlu jalan sendiri-sendiri buat berkembang.

  2. Jiaaa akhrinya ada juga yang speak up soal ini!

    Aku juga tadinya rajin loyal dan seneng gitu ikutan grup support tapi terus udahan karena alasan-alasan di atas! Mukucih dah menyuarakannya.

    Sebagai ilustrator, aku pernah bergabung dengan support group kreator:

    SEHARUSNYA kita saling ngasih feedback sketsa, muter ide branding, bahkan bikin mini workshop bareng.

    HASIL AKHIRNYA SEHARUSNYA : portofolio makin bagus, tapi semangat kreatif jadi lebih stabil dan inspirasi datang tiada henti.

    Kalau aku gambarkan visualnya, ini seperti jaringan aksara dan gambar yang bertaut; masing-masing kreator memberi cahaya—dan kita berkumpul jadi cahaya bersama.

    YANG TERJADI : saling diem-dieman atau … colongan ide, dan .. at the end pas ada yang agak naik (istilah Deddy Corbuzier : poppy tall) ya rada dikucilkan hihihiiii… au ah gelap

    baca tulisanmu 9dan semua yang baca yaaa) jadi sadar: semkoga ke depan support-nya bukan sekadar klik, tapi niat untuk memahami kontennya, memberi komentar yang bermakna, dan menjaga keseimbangan agar tidak terbakar energi.

    Aku membayangkan ilustrasi sederhana: para kreator duduk melingkar dengan laptop terbuka, berbagi ide sambil minum kopi—saling mendukung bukan karena kewajiban, tapi karena ingin sama-sama bertumbuh. Yuk mareeee

  3. Seneng banget kalo ada blogger yang nulis tentang aktivitas blogging, jadi tidak hanya tentang kerjaan, content placement, dan lainnya. Tapi juga menyangkut masa depan blogging, ya setuju banget dengan engagement. Mungkin jadi refleksi juga buat kita sebagai blogger, kalo engagement bukan hanya soal seberapa jumlah komentar, like, dan share, tapi juga keterlibatan penulisnya dalam setiap komentar tersebut, sehingga ada percakapan dalam komentar tersebut.

  4. saya sebenernya salah satu yang bersyukur karena banyak disupport oleh teman-teman yang punya hobi menulis dan blogging juga, di tengah gempuran konten berdurasi singkat. Dari sini, saya nggak hilang harapan untuk menulis. Banyak temen saya yang konten kreator bahkan bilang “Nulis tuh percuma, orang jaman sekarang attention span-nya pendek. Mending aktif di sosmed aja”.

    Emang sih jaman sekarang harus “puter otak” secara ekstra agar artikel kita dibaca. Sebenernya kita nggak kehabisan audiens yang masih suka baca. Basically, masih banyak orang yang suka baca. Cuma tinggal kitanya aja yang kreatif dan cari strategi biar blog kita dibaca.

  5. Saya termasuk yang menyukai momen saling blogwalking, karena ini adalah salah satu bentuk nyata saling dukung dalam aktivitas ngeblog kita. Tapi pernah juga agak gedeg ketika mendapat komen yang tidak nyambung dengan tulisan yang kita bahas, seperti poin 6 yang Kak Leila bahas, which is komentar keliru. Jadi, misal tulisannya ngebahas tentang liburan, eh yang komen malah bilang tentang panti asuhan… aduuuh

  6. Kak, terima kasih banyak sudah menulis tentang grup support antar kreator. Inspiratif banget baca bagaimana para kreator saling bantu dan bertumbuh bersama. Akhirnya tahu juga kenapa komunitas itu penting banget 💪

  7. saya sampai sekarang masih blogwalking

    sembari kenalan

    hehe

    btw saya termasuk generasi multiply

    bagian yang sharing music hehe

  8. Serruu siih, ikutan support grup.Karena kita jadi memper”kaya” melalui konten sahabat-sahabat sesama konten kreator.

    Tapi bener siih..Ada pros and cons-nya jugaa..

    Kalau komennya gak sesuai karena kekurangperhatian sang member, kudu banyak-banyak istighfar.

    Yang paling sebel tuuh.. hal yang uda jelas ada di kontennya, tapi masiii aja dipertanyakan lagi demi memenuhi syarat minimal komen.

    Hiish~Jadi, kalau aku gak suka digituin, akupun berusaha untuk gak begitu di konten orang lain.

  9. Betul mba, aku pun merasakan manfaat positif dari blog walking dan Instagram walking. Dari sana bukan hanya sekadar dari like, komen melainkan bisa saling kenal secara online lalu nambah wawasan dan bonusnya ER meningkat.

    Kadang, saking akrabnya suka meet up juga kalau memang masih Jabodetabek. Atau jika ada teman blogger yang dari luar kota ke Jabodetabek ngajakin ketemuan. Misal bisa pasti ku sambangi, hitung-hitung mempererat silaturrahmi.

    Namun memang ada beberapa oknum yang rupanya kurang cermat atau entah terburu-buru baca artikel ataupun postingan konten Instagram alhasil komennya template dan basa-basi, kadang nggak nyambung. Tapi yaudahlah ya, kita anggap ia sedang terburu-buru. Belajar lapang dada dan memaklumi.

    Semoga saja upaya saling support antar blogger & Content creator terus ada serta memberikan dampak positif 🩵

Leave a reply to www.rezkypratama.com Cancel reply