Cuaca Jakarta sedang cukup panas akhir-akhir ini. Kadang mendadak hujan deras sih, tapi sering juga matahari bersinar dengan terik. Karenanya, penting untuk memakai baju yang nyaman saat beraktivitas, termasuk di rumah. Daster menjadi salah satu pilihan yang umum saat berkegiatan ataupun bersantai di rumah. Potongan yang umumnya longgar dengan banyak dukungan sirkulasi udara membuat baju rumah model daster ini banyak digemari.
Berada di rumah saja bukan berarti kita tak tampil cantik. Kini makin banyak daster atau baju rumahan lainnya yang hadir dengan gaya menarik. Sebagian di antaranya dilabeli dengan istilah home dress dalam penjualannya, mungkin untuk menepis penamaan daster yang telanjur punya citra terlalu santai dan bagi beberapa orang terkesan “seadanya”.
Variasi home dress ini juga kian beragam. Ada yang dipercantik dengan pita atau rempel, ada yang menghindari motif terlalu ramai agar tampak lebih elegan, ada juga yang mirip dengan dress untuk bepergian dalam versi lebih ringan. Bukaan depannya pun bermacam-macam. Fitur seperti saku dan bukaan yang memudahkan menjadi nilai tambah. Banyak juga yang menggunakan bukaan kanan-kiri tersembunyi untuk mempermudah kegiatan menyusui bayi dengan lebih nyaman jika dibandingkan dengan kancing standar di bagian atas tengah daster. Dengan tetap tampil rapi di rumah menggunakan dress kesukaan yang nyaman, kita juga bisa lebih percaya diri.
Wrap Dress alias “Kimono”
Akhir-akhir ini saya sendiri sedang suka membeli baju rumah dengan model wrap dress. Sebelumnya saya tidak banyak membeli daster karena lebih suka memakai baju jenis lain di rumah. Namun, ketika tahu ragam wrap dress yang bagus-bagus, saya pun terkesan. Walaupun memang dari segi pencucian juga jadi perlu ekstra ya. Bahannya yang agak banyak karena ada lapisan dobel di bagian depan membuat wrap dress ini cukup makan tempat di jemuran jika dibentangkan, dan bagian dalamnya agak lama kering jika digantung dengan hanger.
Wrap dress adalah jenis gaun atau terusan yang dililitkan ke tubuh dan “diamankan” dengan diikat di bagian pinggang. Pemakaiannya yang dengan cara dililit ini membuat wrap dress sangat fleksibel, mudah menyesuaikan dengan berbagai bentuk tubuh. Cocok deh untuk saya yang memang berbadan plus size. Desainnya simpel sekaligus elegan sehingga wrap dress cocok dipakai ke berbagai acara, tentunya dengan bahan yang sesuai.
Konsep pakaian yang dipakainya dengan cara dililit ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, wrap dress yang klebih modern dipopulerkan oleh perancang busana Diane von Fürstenberg pada tahun 1970-an. Model rancangannya kala itu dianggap revolusioner karena menggabungkan kenyamanan bahan jersey dan gaya yang anggun. Gaun ini bahkan dikatakan sebagai menjadi simbol kebebasan dan pemberdayaan perempuan di era tersebut.
Konsep baju yang saling bertumpuk melilit tubuh di bagian depan ini sering juga disebut orang-orang sebagai kimono. Bahkan semua home dress dengan gaya lilit yang saya beli di lokapasar ini memakai embel-embel kata kimono di nama produknya. Namun, sebetulnya penamaan ini kurang pas.
Kimono adalah pakaian tradisional Jepang yang memiliki riwayat, filosofi, dan cara pemakaian yang sangat spesifik. Kimono biasanya memiliki lengan yang sangat lebar dan panjang, serta dikenakan dengan cara yang lebih rumit dengan sabuk lebar yang disebut obi. Sedangkan wrap dress cara pemakaiannya jauh lebih sederhana. Jadi, meskipun keduanya sama-sama “dililit”, tetapi fungsi, sejarah, dan desainnya sangat berbeda.
Kimono vs. Yukata
Malahan, bisa jadi istilah kimono itu sendiri jadi salah kaprah di sini. Pakaian serupa asal Jepang yang lebih mendekati konsep wrap dress, apalagi untuk gaya santai, adalah yukata. Arti dari yukata adalah “pakaian setelah mandi”. Yukata biasanya dipakai saat musim panas, festival kembang api (hanabi), atau saat menginap di penginapan tradisional Jepang (ryokan). Sementara itu kimono bersifat formal dan sering kali melambangkan status pemakainya. Kimono dipakai untuk menghadiri acara-acara penting seperti pernikahan, upacara minum teh, upacara kelulusan, atau festival tradisional yang lebih resmi.
Kimono biasanya terbuat dari bahan yang lebih mahal dan tebal seperti sutra atau brokat. Bahan ini membuat kimono terasa mewah dan hangat, cocok untuk cuaca dingin. Lapisannya banyak, termasuk pakaian dalam khusus bernama nagajuban dengan kerah tambahan. Aksesorinya juga lebih kompleks, seperti obi (sabuk lebar) yang diikat dengan cara rumit, serta alas kaki zori dan kaus kaki khusus bernama tabi.
Adapun yukata dibuat dari bahan yang lebih ringan dan adem seperti katun, linen, atau serat sintetis. Ini yang membuatnya nyaman dipakai saat cuaca panas. Cara pemakaiannya juga jauh lebih sederhana, hanya dipakai langsung di atas pakaian dalam tanpa lapisan nagajuban. Sabuk obinya lebih simpel dan alas kakinya adalah geta (sandal kayu) yang dipakai tanpa kaus kaki.
Review Wrap Dress atau Daster ala Kimono
Dari beberapa wrap dress yang saya miliki, masing-masing punya keunggulannya masing-masing.
- Runalabel Harumi Dress
Semula saya mengincar motif lain yang menurut saya seindah lukisan di guci antik, tetapi ternyata sudah habis stoknya. Jadilah saya memilih motif Harumi 68. Setelah sampai, saya tidak menyesal sama sekali karena ternyata motifnya bukan hanya bagus, tetapi pecah polanya pun diperhatikan. Di bagian tepi bawah dress maupun lengan ditempatkan tumpal atau motif yang memang seolah menjadi pembatas pinggir. Jadi bukan yang motifnya sama atau merata di semua bagian.

DYD Label Dress Kimono Naura
2. DYD Label Dress Kimono Naura
Home dress ini disebut sebagai busui friendly dan lahiran friendly pula. Tepat sih menurut saya, dengan bahan rayon yang ringan dan adem, tetapi tidak tipis yang menerawang. Bukaannya memberikan akses menyusui. Berbeda dengan dress di nomor 1, dress kimono Naura dari DYD Label ini dilengkapi dengan satu kancing depan untuk mengamankan bagian depan agar tidak terlalu terbuka (apalagi kalau ikatan talinya bergeser). Terdapat juga satu saku di sebelah kanan yang berguna sekali agar bisa membawa barang-barang kecil di rumah. Jadi, lebih aman dan nyaman dipakainya. Saya memilih varian Azure jumbo, dengan spesifikasi lingkar dada 140 cmdan panjang dress.

DYD Label Dress Kimono Naura
3. Bunna.id Yuri Kimono
Setelah sebelum-sebelumnya saya membeli dress bermotif, rasanya menarik juga punya yang polos. Warna cokelat muda atau di laman penjualnya disebut sebagai “Ovaltine” ini menjadi pilihan saya. Ada beberapa ukuran yang tersedia dan saya mengambil yang LD-nya 140. Dress yang ini juga punya satu kancing depan dan saku kanan. Bahannya agak lebih tebal daripada yang nomor 1 dan 2, tetapi tidak berat.

bunna.id Yuri Kimono
4. Noneed Label Kimono Pendek Premium Silk
Nama mereknya unik, ya. Setelah kimono-kimono sebelumnya terbuat dari bahan rayon yang mirip-mirip, kali ini saya ingin mencoba bahan yang sedikit mewah. Sempat galau memilih warna dan motif, tetapi akhirnya saya check out varian Lily dengan warna dasar putih. Yang ini juga ada sakunya, loh. Bahannya halus dan agak mengilap, tetapi nggak berlebihan.

Noneed Label Kimono Pendek Premium Silk

Suka sama tulisannya, tapi next mungkin bisa ditambahin gambar biar aku yg masih awam bisa tahu bentukan Dress nya dan printilannya
Bagus motif dan bahannya. Jujurly aku tim yang ga suka pakai daster di rumah, jadi lebih milih one set atau babydoll
Dengan adanya model seperti ini jadi bahan referensi bagi yang suka berdaster di rumah supaya ga bosan dengan model yang ada
Istri saya pasti seneng banget ada info tentang home dress ala kimono ini.
Serasa naik level dari perdastrean yang mainstream dengan kemudian dimodif gaya-gaya Jepang home dress ini. Looked fresh. Apalagi ada yang tipe busui friendly
Home dress sekarang lucu-lucu dan menarik ya, bahannya pun variatif, semakin nyaman bahannya semakin mahal juga harganya, sebanding sih kalau ini ya kan.
Walaupun di rumah tetap tampil cantik kan ya
Home dress ala kimono ini gemes banget. Tetap nyaman dipakai di rumah, tapi tetap cantik kalau tiba-tiba ada tamu datang. Praktis sekaligus stylish!