Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 6

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 6, 19 September 2017

Kecerdasan finansial menurut saya perlu disertai juga dengan pengetahuan syariah, karena ada hukum Allah swt yang sudah mengaturnya. Amal harus didahului oleh ilmu, bukan? Saya jadi ingat obrolan dengan beberapa teman di grup yang membuka mata saya bahwa beberapa transaksi yang lazim di masa sekarang seperti preorder dengan uang muka, sistem penjualan dropship, dan jasa titip ternyata punya beberapa titik rawan, yang kalau tidak hati-hati bisa terpeleset ke transaksi yang haram hukumnya. Belum tuntas juga sih belajarnya, tapi sambil jalan –di antaranya dengan membaca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer tulisan Ustadz Erwandi Tarmizi– saya juga ingin mengenalkan ke anak-anak soal sejumlah hukum muamalah.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 5

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 5, 18 September 2017

Demam Fahira yang masih berlanjut mendorong saya untuk izin dulu dari kantor, ditambah lagi badan saya juga mulai melayang karena semalaman jagain Fahira yang batuk terus. Seharian lebih fokus ke menawari Fahira makan dan minum (yang kadang kalaupun masuk lalu malah dimuntahkan karena batuknya). Jadi, malam-malam baru ketemu waktu untuk ngobrol dengan Fathia khususnya. Dengan hobinya main jual-jualan, apa dia memang ingin jadi penjual betulan nantinya? Katanya sih mau jadi koki saja. Saya jelaskan bahwa kalau koki, gajinya biasanya dari pemilik restoran atau hotel. Lalu ganti jadi kasir. Di sini saya menerangkan tugas seorang kasir yang harus teliti, karena jumlah uang yang diterima nanti harus dicocokkan lagi dengan catatan setiap harinya. Lalu Fathia kembali ke cita-cita yang paling sering disebutnya, jadi dokter. Saya pun bilang bahwa sekolah dokter biayanya lumayan. Makanya ayah dan bunda menabung.

Bukan hanya untuk biaya sekolah, sih. Fathia juga coba saya tanyai tentang rencananya kalau sudah punya uang, jika ditabung mau untuk beli apa? Jawabnya sih belum mau beli apa-apa. Saya ingatkan bahwa kalau ayah dan bunda, selain nabung untuk sekolah kakak dan dedek juga nabung untuk berangkat haji. Di sini saya baru sadar kalau saya belum pernah menjelaskan soal tabungan haji ini sama sekali. Bahkan Fathia dengan eksplisit menyatakan ketidakpercayaannya bahwa orangtuanya punya tabungan. Maka saya uraikan dengan tambahan cerita bahwa berangkat haji perlu dana yang tidak sedikit, antara lain untuk penginapan, perjalanan, kesehatan, konsumsi dll.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 4

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 4, 17 September 2017

Anak-anak, terutama Fathia, suka sekali main jual-jualan. Berhubung libur, jadilah mereka menggelar dua meja berikut segala pernak-perniknya seperti pompom yang ceritanya bakso, papan tulisan jualan apa saja, ‘laptop’ kardus untuk kasir, dst. Dari transaksi jual beli, saya memancing perhitungan harga, pembayaran, dan berapa kembaliannya. Pakai uang koin betulan, dari celengan yang selama ini tidak begitu diseriusi sebagai tempat mengumpulkan uang untuk tujuan jangka panjang. Fathia sudah mulai hitung-menghitung. Kalau Fahira tentu belum sampai hitungan betulan, tapi pelan-pelan ia paham bahwa uang yang dibayarkan belum tentu pas, bisa jadi kurang atau malah lebih alias perlu kembalian.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 3

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 3, 16 September 2017

Kemarin kami membaca ulang sama-sama buku Pengalaman Seruku di Hotel. Fathia memang kerap menyebut-nyebut serunya menginap di hotel, yang pernah beberapa kali kami lakukan. Tentu tidak bisa juga kami sering-sering melakukan hal tersebut. Sambil membaca ulang, saya menggali lebih lanjut topik yang diceritakan di tiap halaman. Misalnya tentang kapan check in dan check out, apa saja benda yang boleh dibawa pulang atau dipakai gratis di kamar dan mana yang bisa membuat kita harus membayar jika mengambil, dst. Agar lebih jelas, saya mencoba mengonversikan tarif menginap dengan harga susu mereka.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 2

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 2, 15 September 2017

Kepulangan saya dari kantor kemarin menjelang senja disambut oleh suasana gelap di gang sekitar rumah. Rupanya listrik mati. Terus terang kalau mati listrik begini jadi mati gaya, ya. Khawatir anak-anak jadi rewel karena gerah dan nyamuk. Apalagi Fahira ternyata sedang demam, gantian dengan kakaknya yang demam sehari sebelumnya. Tapi ya sudah, tetap harus semangat, kan? Listrik sempat menyala dua kali masing-masing lima menitan, dan baru benar-benar hidup pukul 23.

Di antara waktu itu, saya bermaksud melanjutkan sesi ‘kasih makan kelinci dan kupu-kupu’ kemarin. Sambil menyuapi celengan berbentuk hewan yang mereka buat beberapa waktu yang lalu itu dengan uang logam,  kami bertiga (Fahira walaupun demam tapi masih tetap semangat). Obrolan kami berlanjut ke konsep rezeki. Uang yang ditabung itu dari mana sih asalnya? Mungkin yang kasih bunda atau ayah, tapi asalnya tetap dari Allah. Allah yang memberi rezeki, ada yang berupa uang, kesehatan, kesempatan…. Fathia sempat bertanya siapa yang membuat uang, jadi saya terangkan bahwa Allah yang membuat manusia jadi berilmu dan bisa mencetak uang. Dulu orang memakai sistem barter, tapi agar lebih memudahkan dan menyamakan nilai maka dibuatlah mata uang. Mata uang ini bisa berbeda-beda di tiap negara.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 1

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 1, 14 September 2017

Kemarin saya hendak memulai menjalankan tantangan hari pertama dengan cara mengajari anak-anak menabung. Kebetulan, minggu lalu saya membuatkan celengan untuk anak-anak dari kardus bekas. Waktu itu sih rencananya untuk pengenalan huruf dan angka dengan cara menyuapkan kepingan wortel dan ikan dengan angka/huruf ke ‘celengan’ yang berbentuk kelinci dan kepiting. Inspirasinya dari buku Kreasi Asyik Muslim Cilik (Azka Madihah). Tapi bentuk kepiting ternyata kemudian diganti sendiri oleh Fathia menjadi kupu-kupu.

Baru juga saya mengambil dompet berisi uang, Fathia mengeluh pusing. Badannya memang sedang hangat, diiringi serangan batuk yang agak mengganggu. Jadi saya beralih fokus membantunya merasa lebih nyaman. Rupanya Fahira telanjur antusias dengan dompet yang saya letakkan, dan ia berusaha membuka sendiri. Maka meluncurlah pertanyaan-pertanyaan kritis dari Fahira, ini uang berapa? Isi yang mudah diambil olehnya hanya lembaran uang sepuluh dan dua puluh ribuan, masing-masing satu. Pertanyaan ‘berapa’ itu jadinya berulang-ulang saja ia sampaikan dengan jawaban yang juga berulang. Saya mencoba memberi gambaran, uang segitu bisa untuk beli barang A, B, atau C.

Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Menstimulus Kecerdasan Matematis Logis

Institut Ibu Profesional

Review kelas Bunda Sayang sesi #6

🌐🥇🎗 MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS 🔢🥇🎗

💝💝Bunda, setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak.

🔣🔢♥ Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa “matematika” itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut Ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. Berpikir logis
b. Berpikir kritis
c. Memecahkan masalah secara sistematis
d. Melatih ketelitian, kecermatan, dan kesabaran
e. Menarik kesimpulan secara deduktif (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif).

 

Continue reading

Aliran Rasa Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang)

Untuk tantangan kali ini saya merasa agak rancu dengan beberapa tantangan sebelumnya. Mengamati apa bakat dan potensi anak, membandingkan perkembangannya, menyusun proyek yang sesuai, rasanya sudah pernah dilaksanakan untuk level sebelumnya ataupun kelas matrikulasi. Tapi setelah menjalani hari demi hari, tidak ada pengulangan juga kok ternyata dari apa yang saya laporkan.

Seperti biasa, saya masih menjalankan trik sebelumnya yaitu menyiapkan draft di blog. Ini lumayan membantu, apalagi pada tantangan ini kesibukan kantor lebih padat ketimbang saat mengerjakan dua tantangan sebelumnya. Alhasil saya pun sempat ketiduran sebelum setor di hari keduabelas. Alhamdulillah sudah lewat dari 10 hari sih, tapi jadi gemes karena artinya tidak mungkin dapat badge OP lagi :D. Biarpun mengaku tidak mengejar predikat, tapi kalau tinggal selangkah lagi itu rasanya geregetan ternyata. Apalagi di tantangan kali ini disebutkan bahwa badge OP hanya untuk yang rajin menyetorkan berturut-turut tanpa rapel selama 13 hari.

Kendala saat melaksanakan tantangan ini? Karena inginnya tiap hari pengamatan saya lakukan pada Fathia maupun Fahira, dua-duanya, dan ini agak makan waktu, ya… Jadinya di beberapa hari terakhir saya fokus ke masing-masing anak saja. Satu hari itu ditekankan ke perkembangan Fathia saja atau Fahira saja. Namun jika ada hal menarik seperti si kakak/adik yang ikut menanggapi saat saudaranya melakukan sesuatu dan di situ kelihatan arah minatnya, ya saya masukkan sekalian.

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 14

Hari keempatbelas, 20 Juni 2017

Fathia (5 tahun 7 bulan) dan Fahira (2 tahun 6 bulan) bersama-sama dibacakan buku dari seri Ayo Merawat Tubuh, yang berjudul Gigiku Kuat, Gigiku Sehat dan Mengapa Rambutku Kusam? (Fitri Restiana, penerbit Gema Insani). Kedua buku cerita bergambar ini mengisahkan perlunya sikat gigi walaupun tidak makan yang manis-manis, juga bahwa shampo harus dipakai sesuai dengan peruntukan usianya.

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 13

Hari ketigabelas, 19 Juni 2017

Fathia (5 tahun 7 bulan) minta dibacakan buku (Kalau Besar Nanti, Aku Ingin Menjadi) Dokter (penerbit BIP/Bhuana Ilmu Populer). Fathia suka buku ini karena ia juga ingin jadi dokter. Bayangan kita mungkin kalau buku tentang cita-cita menjadi dokter akan merinci apa saja yang perlu dilakukan (untuk buku anak akan menyebutkan tentang harus rajin belajar dan seterusnya), dan apa saja pekerjaan mulia yang dilakoni seorang dokter. Tetapi buku terjemahan dari Prancis ini mengambil sudut pandang yang agak lain. Ada kisah kebohongan seorang anak yang merasa dia tidak kalah pintar dari dokter yang memeriksa adiknya, sampai perlunya kasih sayang dalam penanganan pasien, jadi bukan hanya diobati. Sebelumnya, Fathia juga sempat mengambil buku lama yang berjudul Pohon Yang Paling Tinggi (Orin, penerbit GIP/Gema Insani Press). Yang paling melekat di ingatannya dan bikin ia ingin membaca lagi dan lagi adalah cerita bahwa ada manusia yang melakukan pemujaan terhadap pohon. Inti ceritanya sih sebenarnya kesombongan dari sebuah pohon, si tokoh utama, yang merasa begitu hebat dan memberi banyak manfat.


Fahira (2 tahun 6 bulan) membuka-buka beberapa buku lama, di antaranya Setan? Siapa Takut? (Fadila Hanum, penerbit GIP). Buku ini menurut saya temanya unik, memperkenalkan ke anak-anak bahwa memang ada setan yang sukanya menggoda manusia, disertakan pula tips menghadapi godaan tersebut.