Raise Your Children, Raise Yourselves

Majelis Dhuha Keluarga, kajian bulanan dalam rangkaian Fitrah Based Education, tanggal 24 Desember lalu digelar sebagai penutup rangkaian kegiatan sepanjang 2017. Di kajian yang kembali diisi langsung oleh ustadz Harry Santosa sebagai peramu konsep FBE ini, saya sempat membuat beberapa catatan sebagai berikut:

Didik anak kita, tumbuhkan fitrahnya agar punya misi dalam hidupnya. Apa pun itu, termasuk ketika anak bekerja di bidang tertentu, asal berangkat dari fitrahnya, sebagai orangtua syukuri dan doakan. 80% profesi di masa depan tidak ada sekolahnya hari ini, jadi jangan pernah paksakan keinginan kita terkait pekerjaan anak.

Jika menumbuhkan fitrah anak kita, berarti fitrah kita juga akan tumbuh. Raise your children, raise yourselves.
Fitrah ibarat benih, ada tahapan. Tidak berlaku tahapan lebih cepat lebih baik.

Buatlah anak terpesona dan takjub pada Islam, bukan paranoid ini itu. Ketakutan ini itu bisa membuat kita seperti tidak yakin akan kuasa Allah swt.

Extrinsic motivation termasuk reward dan punishment tidak akan bertahan lama. Reward adalah little punishment, kalau tidak dapat reward lalu merasa dihukum. Jadi, tumbuhkan intrinsic motivation.

Budayakan supertition bukan competition, jadi berkompetisinya terhadap diri sendiri, bukan dibandingkan dengan anak lain.

Tiap anak unik, tiap keluarga unik. Misi dan bentuk keluarga personalized & organized, jangan asal ingin ikutan seperti keluarga orang lain.

Fokus pada cahaya, bukan kegelapan. Lihat pak Habibie, yang gaya bicaranya unik, orangtua beliau tidak sibuk memperbaiki cara bicara beliau, melainkan fokus pada cita-cita beliau.

Mengapa memerlukan Fitrah Based Education?
*Agar mendidik lebih rileks dan optimis
*Agar mudah membahas secara tematik sesuai fitrah
*Untuk panduan mendidik bukan hanya fitrah anak, melainkan juga fitrah orangtua dan interaksinya dengan alam, kehidupan, dan Kitabullah
*Home Education berbasis fitrah tidaklah overlap dengan sekolah.
*Cara pandang komprehensif tentang peradaban, pendidikan peradaban, dan peran peradaban.

Ada doa di Al-Ma’tsurat yang intinya untuk menjauhkan kita dari kegalauan. Orangtua yang galau akan susah jadi leader. Kegalauan juga akan membawa ke hal-hal negatif lain seperti disebutkan pada doanya: pelit, utang…

Gadget itu baru bisa jadi milik anak di atas usia 10 tahun. Di bawah itu sifatnya pinjam ke orangtua dan dengan pendampingan.

Saat ini terjadi krisis kepemimpinan, banyak yang siap jadi makmum tapi tidak siap jadi imam. Perkuat individual dulu, baru sosial anak. Di bawah 7 tahun memang individualnya tinggi, biasanya belum paham aturan. Ego itu penting, bagian dari kepemimpinan. Seorang pemimpin harus punya ego yang baik. Ayah lah yang mencontohkan ego untuk anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Bagaimana jika orangtua terutama ayah bekerja atau sibuk sehingga jarang bertemu anak? Ajak anak berkegiatan di hari libur, yang dekat-dekat saja, bagus juga manfaatkan yang sudah ada di rumah, tidak perlu menunggu liburan ke luar kota yang jauh-jauh. Menanam bersama, bertukang bersama, cuci piring bersama, memandikan binatang peliharaan dll saja sudah seru. Buat aktivitas yang relevan dengan fitrah anak. Misalnya hujan-hujanan bersama ayah. Dari situ bisa belajar fitrah tauhid, hujan dari mana, bagaimana siklus air, bagaimana dia menyikapi hujan (senang, takut?), fitrah seksualitas (kedekatan dengan peran laki-laki/ayah mendengarkan). Catat tanda-tanda bahagianya. Sebaiknya difoto/didokumentasikan dan diberi catatan oleh orangtua. Dari catatan itu bisa kita cek, fitrah mana yang tumbuhnya belum cukup, mana yang kita perlu tambahkan atau fokuskan. Bentuknya nanti akan menjadi semacam jurnal yang merekam perjalanan fitrah anak kita. Usia 5-7 tahun akan kelihatan polanya, dan orangtua bisa membuatkan kurikulum yang personalized yang mengantar anak menuju peran peradabannya kelak. Manfaatkan video call jika sedang berjauhan dengan anak bukan untuk menginterogasi, melainkan untuk memotivasi. Ciptakan dialog yang seru, bukan tanya PR, makannya nggak habis dst.

One thought on “Raise Your Children, Raise Yourselves

  1. Pingback: Siapkan Peran Hidup Anak lewat Mekanisme Magang | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s