Sisi Lain: Yakin Mau Kekepin Anak?

Dulu saya pernah mengutip tulisan Busar alias mba Sarra Risman sbb:

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar ke luar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di luar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi, harus dikekep di rumah? Di mana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pakai sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, gak bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa dilihat oleh semua.

Selengkapnya, sekaligus untuk melihat konteks dan efek dari penerapan prinsip tersebut, bisa dilihat di postingan saya yang ini: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak? Tapi secara keseluruhan sih, busar termasuk yang menganggap bahwa ‘ngekepin’ alias memproteksi anak itu penting, daripada dapat pengaruh buruk dari luar.

Nah, belakangan saya membaca sejumlah tulisan dari para pakar parenting yang lain. Beliau-beliau ini justru mengingatkan prinsip yang berbeda. Selengkapnya sebagaimana saya kutip di bawah ini:

  1. Dari grup whatsapp Majelis Dhuha Keluarga Fitrah Based Education (MDK FBE)

Ujilah Anak-anak Kita di Lingkungan

(Ust. Adriano Rusfi)
Betapa mengerikannya membayangkan dan menganalogikan anak-anak kita bagaikan produk industri, bagaikan biskuit Tango, sehingga kita harus membungkusnya rapat-rapat dari kontaminasi lingkungan, agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bermutu, disukai, dan dibeli oleh konsumen.
Kita bahkan seringkali lupa, betapa banyaknya produk-produk dalam kehidupan ini yang justru nikmat dan diminati oleh banyak pihak karena dia telah “terkontaminasi”oleh lingkungan.
Tempe, tape, atau produk-produk fermentasi lainnya adalah produk-produk yang kita nikmati setelah dia “terkontaminasi” oleh lingkungan, karena lingkungan tak selalu buruk, dan bahkan “kontaminasi” itu pun tak selalu berkonotasi buruk.
Bahkan Allah berfirman:
“Di antara tahi dan darah terdapat susu bersih yang mudah dicerna oleh orang-orang yang meminumnya” (AlQur’an)
Ya, susu murni itu keluar dari tengah-tengah kekotoran tahi dan darah!!!
Sadarilah bahwa produk-produk pertanian yang kita makan itu adalah hasil kombinasi antara bibit yang baik dengan kontaminasi kontaminasi lingkungan. Ia diberi pupuk oleh kotoran hewan, disiram oleh air comberan, lalu kemudian dia tumbuh menjadi produk-produk pertanian yang kita makan.
Kita jangan lupa bahwa yang akan menjadi “konsumen” dari anak-anak kita, yang akan menentukan bermutu atau buruknya nilai dari anak-anak kita adalah Allah. Dan Allah mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya (mutathahhiriin), bukan orang yang bersih.
Betul bahwa setiap keluarga memiliki filosofi dan gaya pendidikannya sendiri. Tapi apa yang bisa mengukur bahwa filosofi dan gaya pendidikan kita terhadap anak-anak kita itu benar? Itulah lingkungan. Ujilah anak-anak kita di lingkungan, agar kita mendapatkan feedback apakah filosofi dan gaya pendidikan kita terhadap anak itu telah benar.
Jika kita merasa bahwa kita telah mendidik anak kita dengan filosofi, pola dan gaya pendidikan yang benar, tapi tiba-tiba di lingkungan dia begitu mudahnya terpengaruh, begitu mudahnya mendapatkan kontaminasi yang negatif dari luar, bukankah itu pertanda buah filosofi pola dan gaya pendidikan kita keliru?
Dan jangan lupa, sumber pendidikan bagi anak-anak kita itu ada banyak. Ada orang tuanya, ada rumahnya, ada teman-temannya, ada tetangganya, ada lingkungan, ada alam semesta.
Segalanya telah Allah persiapkan menjadi sebuah “sekolah” bagi anak-anak kita. Inilah yang disebut dengan Community Based Education. Jangan sampai kita secara kejam menjaga jarak antar anak kita dengan sumber-sumber belajar yang akan  membuat dia menjadi anak sholeh yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
====

2. Tulisan ustadz Harry Santosa yang merupakan penggagas konsep Fitrah Based Education di mana ustadz Adriano Rusfi (poin 1) ikut aktif di dalamnya. Pertama saya baca tulisan ini juga dari grup whatsapp MDK FBE, tetapi karena di sana yang dimuat berupa tangkapan layar, jadi saya salin dari sumber ini.

Di sebuah perumahan, kakak-beradik usia sekolah dasar men-download video porno dan membagikan ke teman-teman di perumahannya. Satu perumahan geger, mereka menyalahkan orangtua anak-anak ini. Usut punya usut ternyata internet menyala selama 24 jam di rumahnya tanpa pengawasan, dan masalahnya bukan itu, tetapi kedua orangtuanya sibuk bekerja tak punya waktu membersamai anak anaknya. Orangtua begini hanya sanggup memfasilitasi apa pun namun tak mampu mendidik apa pun. Para tetangga mengecam habis-habisan kedua orangtua ini.

___

Di sebuah perumahan lain, di salah satu keluarga, anak-anak mereka sejak kecil sering berkelahi sesama mereka. Ayah di keluarga ini seorang pelaut yang jarang pulang, sang istri nampaknya tidak sanggup menangani anak-anaknya bahkan cenderung pasif. Kini ketika anak anak itu beranjak remaja, mereka semakin sering berkelahi bahkan menggunakan samurai. Para tetangga tak berani melerai, anak anak mereka terancam, ketua rukun tetangga atau rukun warga pun tak sanggup, mereka hanya mampu mengecam habis-habisan keluarga ini.

__

Teman-teman Ayah Bunda yang baik,

Dua kasus di atas atau semisal itu barangkali pernah terjadi di komplek perumahan kita, khususnya di perumahan perumahan di kota besar. Para keluarga perumahan umumnya adalah suami istri yang sibuk dan merasa selesai kewajiban mendidik anak-anaknya jika bisa memasukkannya di sekolah bergengsi.

Sebagian besar kita merasa cukup apabila telah “mengamankan anak-anaknya masing-masing”. Seringkali kita merasa tak perlu peduli pada pendidikan anak-anak tetangga. Maka terjadilah hal-hal di atas.

Ternyata tidak peduli pada pendidikan anak-anak tetangga kita, itu sama juga dengan sedang menyiapkan musuh dan marabahaya bagi anak-anak kita sendiri. Sebaliknya, jika kita peduli pada pendidikan anak-anak tetangga atau anak teman, maka sesungguhnya kita menyiapkan teman-teman yang baik bagi anak anak kita sendiri di masa depan.

Alangkah indahnya jika di setiap perumahan atau sekolah, para orangtua membentuk komunitas untuk secara berjamaah mendidik anak-anak mereka. Menyelenggarakan forum-forum parenting, event-event kunjungan atau ekspedisi mendidik anak bersama, saling meng-homestay-kan anak apabila ada yang berhalangan, bisa pula saling memagangkan anak untuk bakat yang relevan dengan profesi atau bisnis para orangtua di perumahan.

Pepatah Afrika mengatakan “it takes a village to raise a child” – butuh orang sekampung untuk membesarkan anak.

Mari kita bangun komunitas untuk mendidik bersama. Anak-anak kita kelak akan bangga mengatakan bahwa dirinya dibesarkan dan dididik dengan hebat oleh komunitas perumahan yang ia tinggali. Bukan tidak mungkin anak-anak kita kelak akan menjadi partner bisnis, partner dakwah, bahkan bagi anak lelaki dan anak perempuan kelak sebagai partner hidup.

Lebih bagus lagi jika masjid perumahan menjadi sentra mendidik bersama, bukan sekedar belajar agama tetapi para orangtua saling tolong menolong dalam menumbuhkan fitrah anak anaknya juga membentuk adab. Bahkan jika tersedia Ustadz, para orangtua juga dibina dalam Liqa-liqa Parenting, sehingga memahami cara mendidik sesuai fitrah dan juga tidak ada lagi rumahtangga yang mengalami masalah KDRT, Ekonomi dll namun tidak ada yang mendampingi.

Salam Pendidikan Peradaban

Sumber: Ustadz Harry Santosa

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

=======

3. Saya pernah membaca satu lagi tulisan yang arahnya serupa tentang mendidik lingkungan, kali ini dari ustadz Bendri Jaisyurrahman, tetapi saya belum berhasil menemukan kembali tulisan tersebut. Sementara saya salin tulisan yang isinya mendekati dari resume mba Lathifah atas kajian ustadz Bendri Jaisyurrahman:

Anakku, inilah tempat tinggalmu.
Oleh Ustad Bendri Jaisyurrahman

Mengapa perlu parenting?
Manfaat parenting:
1. Parenting untuk mendidik parent (orang tua)
2. Parenting akan mempengaruhi dalam hubungan bersama pasangan
3. Parenting akan mempengaruhi relasi orang tua kepada anak, bagaimana cara berkomunikasi kepada anak
4. Parenting akan mempengaruhi peran orang-orang di sekitar selain orang tua, misalnya khadimat, kakek nenek
5. Parenting akan mempengaruhi lingkungan tempat tinggal.

Orang yang tidak mengerti pendidikan anak biasanya sembarangan juga mencari lingkungan tempat tinggal.

Bahkan nabi Nuh sampai berdoa dan diabadikan di surat Al Mu’minun ayat 29 :
وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

“Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat”.

Tugas orang tua:
a. menciptakan lingkungan yang baik (jika sudah terlanjur)
b. memilihkan lokasi yang baik

Ada sebuah kisah nyata pengalaman ustad Bendri, ada seorang anak yang sangat sulit di atur bahkan kalau Maghrib malah setel musik keras-keras, dan setelah di telusuri komplek perumahan yang memang mewah namun rata-rata didiami oleh non muslim, dan sekitar rumah tidak ada mushola atau masjid.

Karena rumah orangtuanya juga masih ada yang lain, maka ustad menyuruh orang tua anak tersebut pindah di rumah yang dekat dengan masjid. Tak lama kemudian, orang tua anak tersebut pindah ke rumah yang dekat dengan masjid itu. Dan masyaa Allah, setelah sekitar sebulan pindah anaknya banyak berubah. Yang tadinya tidak mau sholat, sekarang selalu sholat ke masjid.
maka, jelaslah mencari lingkungan rumah yang baik itu sangat penting. Dan itulah jadi tugas orang tua.

Jika kita terlanjur dalam lingkungan yang belum baik, maka kita perlu mendidik lingkungan sekitar. Misalnya dari mendidik anak tetangga. Kalau anak tetangga lupa kita didik, maka pengaruh yang buruk ke anak kita akan bisa tertular.
Mendidik anak sendiri akan berat jika tidak dibarengi oleh anak tetangga
Janganlah kita jadi ortu anak sendiri, jadilah juga ortu untuk anak-anak tetangga/orang lain.

Memilih lokasi tempat tinggal yang baik:
1. Jauh dari tempat maksiat.
Seperti doa nabi Ibrahim, dalam surat Ibrahim ayat 35 :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

Bahkan Allah mengeluarkan nabi Luth dan keluarganya serta orang-orang Sholih dari negeri kaum sodom karena Allah tahu pengaruh buruk (LGBT) itu sangat besar dan mudah menular. Dan hal ini diabadikan di surat Adz Dzariyaat ayat 35:

فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu.”

2. Dekat dengan masjid

Ada di surat Ibrahim ayat 37 :
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Hadist:
Ibnu Abbas RA mengatakan, ”Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi.” (diriwayatkan oleh Imam Thabrani)

3. Jauh dari pusat perbelanjaan

– sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar (HR. Thabrani dan Al Hakim)

4. Dekat dengan berkumpulnya orang-orang Sholih
Al ahzab ayat 41 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

Jika kita dekat dengan orang yang senantiasa berdzikir, maka kita pun akan terus mengingat Allah.

Kesimpulan: sangat penting memilih lingkungan rumah, jika terlanjur mendapat lingkungan yang buruk, maka kita usahakanlah untuk bisa mewarnai yang baik. Kita didik anak-anak sekitar agar lingkungan juga ikut baik.

Wallahu’alam

Notulensi by BundaFaizFathiLabib

Kalau di materi ustadz Bendri ini, memilih lingkungan sejak awal itu harus, ya. Kemudian tetap ada opsi pindah sekalian ya ketika lingkungan memang sudah dirasakan tidak kondusif. Namun, disarankan juga kita berupaya ‘memperbaiki’ lingkungan sekitar alih-alih buru-buru menghindar.

Terlihat saling bertentangan? Mungkin bisa kita ambil hikmah bahwa prinsip parenting memang ada bermacam-macam. Atau, barangkali kita akan terapkan perlindungan penuh pada anak di usia belia, kemudian mulai melepas pada umur yang lebih besar. Perkara angka berapa yang tepat, nah, ini bisa disesuaikan dengan kondisi keluarga dan lingkungan masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s