[Ulasan Buku] Mi Familia

Resensi Buku
Judul buku: Mi Familia (Nubar Special Milad)
Penulis: Emmy Herlina, dkk
Penerbit: Rumedia
Harga: Rp60.000,00

Buku Mi Familia

Tema keluarga selalu menarik untuk diulik. Dengan berbagai karakter manusia yang disatukan oleh satu ikatan kekeluargaan, pasti ada banyak sisi yang bisa diangkat, baik dari sudut pandang perbedaan yang memancing konflik atau kasih sayang yang membuat perbedaan itu menjadi warna-warni yang saling melengkapi.
Buku nubar atau nulis bareng “Mi Familia” ini pun menyajikan beragam kisah dari para penulisnya. Ada yang mengharu biru, ada yang membuat kita miris, ada pula yang membuat hati terasa hangat.

“Kenapa banyak sekali keluarga yang justru memperparah kondisi alih-alih mendampingi? Kebanyakan pasien di rumah sakit ini akan lebih cepat teratasi dengan rangkulan dari orang-orang terdekat. Tapi yang ada, justru keluarga sendiri yang menjerumuskan dan membuat luka hati mereka semakin parah.”
(Karena Keluargalah Pondasi Keselamatan Jiwa, halaman 12)

Cerita pertama dalam buku berformat antologi ini disajikan oleh PJ yang juga Manajer Area Nubar Sumatera, Mbak Emmy Herlina. Keseharian Mbak Emmy sebagai tenaga kesehatan di RS membuatnya menyaksikan banyak kepingan kejadian yang sarat hikmah.

Salah satunya dituangkan dalam tulisan ini. Sambil membaca, saya seperti sekaligus diingatkan bahwa peran keluarga memang sangat penting bagi kesehatan tak hanya raga, tetapi juga jiwa.

“Generasi sebelumnya dapat menghayati kondisi lingkungan, kemudian mereka berempati. Lebih dalam dari yang mampu kita lakukan, melihat kemampuan mereka berempat, aku jadi nge-fans dan mau belajar dari mereka.”
(Di Rumah Yatim, halaman 18)

Baca Juga:
Setiap generasi pada umumnya punya karakter khas yang ditempa oleh keadaan saat itu. Kita sebagai generasi penerus dapat mengambil hikmah dan teladan dari apa yang sudah dilalui oleh generasi terdahulu. Meskipun zaman telah berubah, ada aspek kebaikan yang tetap relevan dengan kondisi masa kini.

“Namun, tak urung, sederet kecemasan menghantuiku. Mulai dari berada khawatir anak-anak tidak cukup mendapatkan haknya dari orang tua sampai memikirkan perkembangan jiwanya hingga dewasa kelak.”
(Pelukan Cinta Anakmu, halaman 24)

Potongan kalimat dalam judul ini mengena sekali. Sebagai seorang ibu, ada kekhawatiran yang sering muncul. Kepada-Nya-lah kita berserah, melangitkan doa agar jalan anak-anak lapang jalannya di bumi dengan rida Allah.

“Saya sangat bersyukur dengan pengalaman sekeluarga tinggal satu atap. Sebelumnya, kami menjalani Long Distance Marriage (LDM). Di sini, kami kompak dan bisa menikmati waktu bersama walaupun di perantauan, jauh dari sanak saudara dan orang tua.”
(Geng Bringka, halaman 54)

Bisa tinggal serumah barangkali merupakan hal yang biasa bagi sebagian orang. Tak ada istimewanya, hingga kemudian disikapi take it for granted. Namun, bagi yang sudah pernah merasakan perjuangan berjauhan, bisa kembali berkumpul seatap merupakan suatu anugerah. Pengingat buat pembaca agar tak lupa mensyukuri karunia-karunia “kecil” sehari-hari.

“Tidak juga terjebak dalam perasaan iba yang menjurus distress empati sesama kaum wanita.”
(Kau Tetap Adikku Tersayang, halaman 70)

Dari tulisan yang ini, saya belajar bahwa sering ujian memang diberikan dalam bentuk sesuatu yang justru sangat dekat. Punya keahlian tertentu, artinya juga siap diuji dengan hal itu, seperti yang diceritakan di sini. Diperlukan perjuangan yang mungkin berkali lipat dibandingkan dengan awam, ketika ujian terkait keahlian ini menerpa.

“Pelajaran penting bagi sang bunda, untuk tidak lagi bermalas-malasan dan menganggap ringan segala urusan. Disiplin, lebih teliti, dan tidak lagi menunda-nunda pekerjaan adalah hal yang sangat penting untuk selalu diterapkan.”
(Mother Knows Best? halaman 99)

Cerita ini sudah membuat saya penasaran sejak sang penulis menyampaikan beberapa bagiannya dalam bedah buku tempo hari. Saat itu saya pun sempat menanyakan, bagaimana menyajikan kisah yang memuat kekurangan kita bahkan mungkin agak memalukan? Ternyata selama bukan membuka aib, bisa saja disampaikan dari sudut pandang hikmah yang didapat. Justru cerita seperti ini menyadarkan bahwa hidup kita tidak senantiasa mulus, kita pun tidak harus selalu sempurna.

“Setelah hari itu, setidaknya, dia kembali bergairah setelah melihatku berusaha menguatkan diri, tak putus asa dengan kejutan istimewa yang kami dapatkan. Itu menjadi energiku.”
(Kejutan Istimewa, halaman 111)

Seberat apa pun ujian, akan lebih mudah untuk dilalui ketika bergandengan tangan. Kejutan istimewa yang tiba-tiba menyapa bisa jadi memerlukan waktu untuk dicerna, sebelum kemudian bangkit kembali. Dukungan dari orang terdekat yang saling menguatkan akan membantu dalam melewati masa-masa penuh tantangan.

“Perpisahan telah mengajarkanku bahwa di balik ketegasan, kekhawatiran dan mungkin kemarahan serta protektifnya seorang kakak perempuan, terselip rasa sayang dan cinta yang teramat dalam, seperti kasih seorang ibu.”
(Dirimu, Bidadari yang Terabaikan, halaman 123)

Judul tulisan ini sempat mengecoh saya, karena bidadari biasanya digunakan untuk menggambarkan sosok istri atau ibu. Ya, ada juga kaum Adam yang ikut menulis di buku ini. Sebagai kakak perempuan yang merantau, saya berharap adik lelaki saya semata wayang juga memahami bahwa saya menyayanginya.

Masih banyak tulisan lain dalam buku ini yang sayang untuk dilewatkan. Intinya, buku ini mengingatkan kita bahwa setiap keluarga itu unik, dengan permasalahan masing-masing pula yang menjadi bumbu dalam perjalanan hidup. Dari pengalaman orang lain yang tertuang melalui tulisan, kita dapat ikut belajar resep membangun cinta dalam keluarga, melihat dari sudut pandang berbeda, dan menjadikannya bekal dalam mempererat kasih sayang di keluarga kita sendiri.

Penyajian dalam buku ini pun terhitung rapi, minim saltik, kalaupun ada kesalahan eja umumnya terkait beberapa kata yang memang telanjur populer versi kurang tepatnya. Dengan konten yang menarik sekaligus menginspirasi, buku ini juga dapat dijadikan hadiah untuk orang tersayang.

Leave a comment