[Resensi Buku] Catatan Pinggir 15

Judul Buku: Catatan Pinggir 15
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: Tempo Publishing
Tahun Terbit: 2023
Tebal halaman: 502 +xviii halaman
ISBN: 978-623-05-4044-8

Goenawan Mohamad dikenal akan tulisan-tulisannya yang tajam sekaligus reflektif. Pendiri sekaligus pimpinan redaksi pertama majalah Tempo ini kerap mengulas berbagai peristiwa dengan membawa serta aneka referensi untuk memperkuat argumennya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Goenawan di rubrik Catatan Pinggir (Caping) majalah Tempo bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2023. Caping sendiri berisi esai-esai kontemplatif atas berbagai hal, yang mulai menjadi rubrik di Tempo sejak 5 Maret 1977 dan diterbitkan dalam bentuk buku sejak 1982.

Namun, sejak setahun yang lalu Caping tak lagi hadir ke hadapan pembaca sesering sebelumnya. Goenawan memutuskan berhenti pada usianya yang menginjak 82 tahun, setelah 2.027 esai, 1,5 juta kata, dan 15 jilid buku. Suatu jumlah yang mengagumkan.

Caping tetap akan ada, tetapi tidak rutin. Sebab, sebagaimana disebutkan dalam “Kata Penutup” (perhatikan istilah yang digunakan alih-alih prakata, padahal diletakkan pada halaman depan) buku ini, penulis mulai merasakan kesulitan untuk menyampaikan gagasan dengan rujukan nama tokoh atau peristiwa tertentu kepada generasi masa kini. Tulisan yang membandingkan suatu kejadian yang masih hangat dengan peristiwa sejarah atau karya sastra yang punya warna serupa, jadi kelewat bertele-tele karena harus ditambah dengan penjelasan referensi. 

“Kadang-kadang saya mencoba menjelaskan — dan itu membuat tulisan jadi panjang, sebab nama “Trotsky” misalnya tak akan berarti apa-apa tanpa pengetahuan tentang sejarah Revolusi Rusia. Kalau para pembaca tak hendak mencari sendiri, saya tak akan mampu menjelaskannya dengan memadai. Kian lama, saya kian tak yakin saya akan mampu. Generasi terus berganti,” tulisnya.

Paruh awal dari 114 esai di buku ini seperti membawa kita kembali menyusuri tahun-tahun saat Indonesia berupaya bangkit dari hantaman dampak pandemi Covid-19. Ada tulisan tentang kabar-kabar duka bahkan daroi orang terdekat pada saat itu, atau birunya hati mendengar suara sirene amnbulans yang berlalu-lalang. Namun, terdapat tulisan tentang efek lainnya dari pandemi yaitu menguatnya aktivitas tolong-menolong; juga bagaimana beratnya menjalani relasi dan menjalankan perekonomian dengan adanya jeda dan jarak yang muncul karena adanya pembatasan aktivitas.

Terdapat pula tulisan-tulisan yang mengambil momen peringatan penting seperti Hari Kartini dan Hari Sumpah Pemuda. Di sini pembaca diajak untuk menyelami lebih dalam lagi latar belakang setiap fragmen sejarah dan hal-hal lain yang melingkupinya. Siapa saja, sih, yang sebetulnya layak disebut sebagai pahlawan itu?

“Salah kaprah pun lahir: kita membayangkan pahlawan yang, karena harus dikenang, adalah makhluk yang memberi arah dan tauladan dari sebuah masa yang tak ada lagi. Padahal sebaliknya.” (Monumen, halaman 119)

Beranjak ke tulisan-tulisan yang dibuat tahun 2023, ada banyak renungan mengenai kasus besar yang terjadi di Indonesia pada saat itu. Betapa satu peristiwa ternyata dapat memicu dihasilkannya beberapa pemikiran jika dilihat dari berbagai sisi, dengan muara yang tetap sama: “Tapi pada saat yang bersamaan kita disadarkan ada soal dasar yang tak bisa diabaikan dalam sebuah bangsa, sebuah masyarakat manusia: keadilan.” (Sambo, halaman 462).

Goenawan menutup tulisan terakhir dalam buku ini dengan opininya terhadap pemanfaatan artificial intelligence yang menimbulkan banyak perdebatan dan ketakutan.

“Bagi saya, HAL (mesin canggih dalam film 2001: Space Odyssey karya Stanley Kubrick – red), atau umumnya kecerdasan buatan, punya kekurangan mendasar: ia hanya bisa menjawab. Ia tak bisa bertanya. Bertanya menunjukkan kekurangan manusiawi, tetapi justru kekurangan itu sebuah kelebihan.” (HAL 9000, halaman 498).

Secara keseluruhan buku ini menyajikan tulisan-tulisan yang akan memperluas cakrawala berpikir. Atau setidaknya membantu kita melihat sudut pandang lain ketika tidak sepaham dengan apa yang disampaikan. Sebuah bacaan yang layak menjadi koleksi.

Leave a comment