Buku-Buku Anak yang Dianggap Absurd

Kata kedua untuk tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta ini adalah “absurd”. Berhubung baru-baru ini saya membaca sebuah buku anak yang membuat saya sempat berpikir “ceritanya agak absurd, ya”, jadilah saya ingin mencari tahu lagi. Benarkah yang saya rasakan, atau mungkin absurd tidaknya suatu bacaan juga tergantung pada sudut pandang pembacanya?

Dunia anak adalah dunia imajinasi. Hal ini sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum. Karenanya, buku anak seringkali menghadirkan imajinasi yang unik. Beberapa di antara buku ini menjadi terkenal karena konsepnya yang absurd itu. Absurditas ini antara lain muncul dalam cerita yang tampaknya tidak masuk akal, tetapi menawarkan sudut pandang yang segar atau cara yang tidak terduga dalam mengalahkan tantangan yang dihadapi oleh tokoh utama.

Berikut beberapa buku anak yang dikenal dengan konsep yang absurd:

1. Alice’s Adventures in Wonderland (1865, Lewis Carroll)

Buku ini penuh dengan karakter aneh, logika terbalik, dan permainan kata yang membingungkan. Alice bertemu dengan kelinci yang bisa bicara, kelinci yang bisa menghilang, ulat yang ajaib, dan ratu yang kejam. Logika di dalam buku ini tidak mengikuti aturan dunia nyata, seperti ketika Alice bisa membesar atau mengecil setelah memakan makanan tertentu. Dunia yang dihadirkan dalam buku yang biasa disebut dengan judul lebih pendek Alice in Wonderland ini membuat pembaca merasa seperti berada dalam mimpi yang aneh dan tidak masuk akal. Versi asli bukunya sudah bisa dibaca secara gratis di Project Gutenberg.

Alice in Wonderland

Alice in Wonderland

Buku ini dianggap absurd karena mengabaikan aturan logika dan kenyataan yang biasa dipegang dalam cerita anak. Kehadiran karakter-karakter yang aneh dan adegan-adegan yang mengejutkan membuat ceritanya penuh teka-teki. Adakah para tokoh ini menyimbolkan sesuatu di dunia nyata?

2. Where the Wild Things Are (1963, Maurice Sendak)

Tokoh utama cerita ini adalah Max, seorang anak laki-laki yang mendapatkan hukuman. Ia kemudian berimajinasi masuk ke dunia makhluk liar. Makhluk-makhluk ini digambarkan dengan bentuk yang aneh. Seram memang, tetapi mereka justru menerima Max sebagai raja mereka. Kejadian ini menggabungkan fantasi dan kenyataan tanpa garis batas yang jelas, seolah-olah dunia khayalan sama nyatanya dengan dunia nyata.

Where the Wild Things Are

Where the Wild Things Are

Buku ini menggambarkan makhluk-makhluk aneh itu dengan cara yang tidak biasa. Seakan mimpi dan realitas adalah satu kesatuan. Jalan ceritanya pun tidak tertebak. Filmnya ditayangkan tahun 2009, yang banyak mendapatkan tanggapan tentang betapa gelapnya versi layar lebar ini. Studionya sendiri memasarkan film ini bukan sebagai film anak-anak.

3. The Little Prince (Le Petit Prince, 1943, Antoine de Saint-Exupéry)

Buku ini mengisahkan seorang anak dari planet lain bertemu dengan narator di tengah gurun. Anak kecil ini, selanjutnya disebut sebagai Pangeran Kecil, mengunjungi planet-planet kecil yang dihuni oleh makhluk-makhluk nan ajaib, seperti raja yang memerintah tanpa rakyat dan pengusaha yang menghitung bintang-bintang. Interaksi Pangeran Kecil dengan karakter-karakter ini mengandung dialog yang filosofis. Agak berat memang jika harus dicerna makna di baliknya oleh pembaca anak.

Little Prince

Little Prince

Letak absurdnya cerita ini adalah pada penyampaian filosofi melalui karakter-karakter nyantrik yang tinggal di planet-planet kecil. Pembaca dewasa munghkin akan lebih bisa memahami pesan moral yang dikiaskan tentang kehidupan, cinta, dan kehilangan dalam buku ini.

4. Charlie and the Chocolate Factory (1964, Roald Dahl)

Charlie adalah anak miskin yang mendapatkan hadiah sebagai satu dari empat anak yang bisa mengunjungi pabrik cokelat milik Willy Wonka, seorang pengusaha berpenampilan dan bertingkah laku unik. Di sana ia bersaing dengan beberapa anak lain untuk mendapatkan hadiah utama, dan banyak tantangan yang mereka hadapi dalam kunjungan untuk itu.

Charlie and the Chocolate Factory

Charlie and the Chocolate Factory

Di dalam pabrik ini terdapat hal-hal aneh seperti sungai cokelat, permen yang tak pernah habis, dan para pekerja dengan badan berukuran mungil: Oompa-Loompa. Pengolahan produk di sini juga memakai proses yang ajaib dan tak masuk akal, tanpa batasan logika.

5. Matilda (1988, Roald Dahl)

Buku ini menceritakan kisah seorang gadis kecil bernama Matilda yang sangat cerdas tetapi diabaikan oleh keluarganya yang kejam. Kalau kecerdasan dan hobinya membaca masih termasuk masuk akal, tetapi ia kemudian juga diceritakan memiliki kemampuan telekinesis yaitu bisa menggerakkan benda-benda dengan pikirannya.

Matilda

Matilda

Karakter-karakter lain seperti Miss Trunchbull sang kepala sekolah juga digambarkan kejam secara berlebihan, apalagi kalau sudah menghukum murid. Sifat-sifat tokoh seperti Miss Trunchbull dan orang tua Matilda serta cara-cara aneh Matilda dalam melawan ketidakadilan di sekolah maupun di rumah membuat cerita ini memang menjadi absurd.

6. Winnie-the-Pooh (1926, A.A. Milne)

Winnie-the-Pooh bukan sekadar kartun lucu yang kita kenal. Ada juga novelnya yang menceritakan petualangan Pooh bersama teman-temannya di Hutan Seratus Ekar (Hundred Acre Wood). Tokoh-tokoh utamanya kebanyakan adalah boneka beruang dan hewan lain yang bisa berbicara serta bertingkah seperti manusia, khususnya kepada sahabat manusia mereka.

Winnie the Pooh

Winnie the Pooh

Dialog dan interaksi antara karakternya terkadang konyol dan logikanya agak aneh meskipun sekilas sederhana. Gaya penceritaan yang penuh imajinasi ini membuatnya seperti ditujukan hanya untuk anak-anak yang polos, dan tak masuk akal dari sudut pandang orang dewasa. Padahal sebetulnya ada juga pesan-pesan yang disampaikan melalui cerita ini sebagai pelajaran untuk orang dewasa.

Buku-buku ini memang menghadirkan unsur-unsur yang tak biasa, tetapi tetap menjadi favorit bagi banyak orang justru karena keunikan dan kehangatan dalam ceritanya. Hal ini membangkitkan rasa ingin tahu anak-anak dan membawa orang dewasa bernostalgia.

Dampak Negatif Buku Anak yang Absurd

Buku anak yang absurd memiliki daya tarik tersendiri. Buku seperti ini bisa memperkaya imajinasi serta memperluas cakrawala berpikir anak. Namun, orang tua atau pendidik perlu mendampingi anak dalam memahami cerita-cerita tersebut. Anak tetap memerlukan bantuan untuk menangkap makna yang lebih mendalam, dan terutama untuk membedakan mana yang merupakan bagian dari fantasi dan mana yang nyata.

Ada beberapa kemungkinan dampak negatif jika konten absurd dalam buku tidak dipahami dengan baik oleh anak-anak atau ketika anak membacanya tidak didampingi oleh orang dewasa yang dapat menjelaskan konteksnya. Berikut beberapa potensi dampak negatif yang mungkin terjadi:

1. Kesulitan membedakan realitas dan fantasi
Anak-anak, terutama yang masih sangat muda, biasanya belum sepenuhnya mampu membedakan antara yang nyata dan yang tidak. Buku-buku dengan elemen absurd seperti Alice’s Adventures in Wonderland atau Matilda bisa membingungkan mereka dalam memahami batas-batas antara dunia nyata dan dunia fantasi.
Misalnya, anak mungkin berpikir bahwa kemampuan Matilda untuk menggerakkan benda dengan pikirannya (telekinesis) adalah sesuatu yang mungkin dilakukan di dunia nyata, atau bahwa semua orang dewasa jahat seperti karakter Miss Trunchbull. Ini bisa menyebabkan kebingungan atau bahkan ketakutan terhadap hal-hal di sekitar mereka.

2. Pemahaman moral yang salah
Buku-buku absurd kadang-kadang menyajikan karakter atau kejadian yang bertentangan dengan norma-norma sosial atau moral yang berlaku. Jika pesan moral atau makna di balik cerita tidak dipahami dengan baik, anak mungkin menganggap perilaku yang tidak pantas sebagai sesuatu yang boleh-boleh saja dilakukan.
Di dalam Charlie and the Chocolate Factory, beberapa anak yang nakal mendapatkan konsekuensi aneh dari tindakan mereka seperti mengembang, berubah warna, atau terperangkap di dalam pipa. Anak-anak bisa salah mengartikan bahwa hukuman yang tidak masuk akal ini adalah sesuatu yang wajar atau bisa terjadi di dunia nyata.

3. Menimbulkan kecemasan atau rasa takut
Situasi atau karakter-karakter aneh dalam cerita absurd bisa membuat anak merasa cemas atau takut, terutama jika mereka tidak terbiasa dengan elemen-elemen yang tidak masuk akal atau menakutkan. Adegan-adegan yang berlebihan mungkin terlihat menyeramkan di mata anak-anak. Makhluk liar dalam Where the Wild Things Are salah-salah bisa muncul dalam mimpi buruk anak.

4. Resistensi terhadap struktur atau aturan
Buku anak yang absurd seringkali menyajikan cerita yang tidak mengikuti aturan atau struktur yang biasanya berlaku di dunia nyata. Hal ini, jika tidak disertai penjelasan yang tepat, bisa membuat anak menjadi sulit menerima aturan. Anak-anak bisa membangkang terhadap aturan di rumah atau di sekolah karena merasa bahwa dunia seharusnya bisa berjalan seperti dalam cerita yang mereka baca.

Selain itu, buku Where The Wild Things Are juga mendapatkan kritikan karena perilaku kurang baik Max tidak mendapatkan konsekuensi di dunia nyata, sehingga seperti tidak memberikan pelajaran bagi anak-anak.

Dampak Positif Cerita Absurd

Selain dampak negatif, tentu ada juga sisi positifnya. Berikut ini beberapa potensi dampak positif dari membaca buku anak yang absurd:

1. Meningkatkan kreativitas dan imajinasi

Buku dengan konsep yang absurd memaksa anak untuk memikirkan hal-hal yang berada di luar realitas sehari-hari. Cerita-cerita ini menantang mereka untuk membayangkan dunia yang berbeda, di mana logika dan aturan-aturan bisa diubah sesuai dengan imajinasi.

Misalnya, melalui cerita Alice’s Adventures in Wonderland, anak belajar bahwa dunia dapat sangat berwarna-warni dan penuh dengan kejutan. Mereka bisa sambil membayangkan seperti apa dunia impian mereka sendiri, dengan aturan-aturan yang dibuat sendiri. Hal ini bisa mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, yang bermanfaat untuk berbagai aspek kehidupan seperti memecahkan masalah dan berpikir di luar kebiasaan.

2. Membuka pikiran anak

Cerita-cerita absurd sering kali mengajak anak untuk melihat dunia dari perspektif yang tidak konvensional. Hal ini dapat membantu anak menjadi lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan memahami bahwa ada banyak sudut pandang untuk melihat suatu hal.

The Little Prince mengajarkan anak-anak untuk memandang kehidupan dari perspektif yang berbeda dan memahami nilai-nilai seperti persahabatan dan makna di balik hal-hal kecil. Anak-anak belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini harus masuk akal secara harfiah untuk memiliki nilai.

3. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis

Saat anak-anak membaca cerita yang tidak biasa atau tidak masuk akal, mereka terdorong untuk mempertanyakan apa yang sedang terjadi dan bisa tergugah untuk mencoba menemukan makna di balik kejadian-kejadian yang tampaknya aneh. Hal ini melatih mereka untuk berpikir kritis.

Misalnya, ketika membaca Matilda, anak-anak mungkin penasaran mengapa orang dewasa dalam cerita tersebut bertindak sangat tidak adil. Ini bisa mengajarkan mereka untuk menganalisis karakter dan situasi, serta menemukan cara-cara kreatif untuk mengatasi tantangan.

4. Memperkuat kemampuan berempati dan memahami emosi

Buku-buku absurd sering menggambarkan karakter yang memiliki kepribadian unik dan situasi yang tidak biasa. Anak bisa dia untuk merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh tokoh tersebut. Ini bisa meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami emosi, baik emosi mereka sendiri maupun orang lain.

Dalam Winnie the Pooh, karakter-karakter seperti Eeyore yang selalu sedih atau Piglet yang penakut memberi anak-anak kesempatan untuk belajar tentang berbagai emosi dan bagaimana emosi ini bisa dihadapi dengan dukungan teman-teman. Anak-anak bisa menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain dan belajar pentingnya persahabatan dan dukungan sosial.

5. Mengurangi ketakutan terhadap hal yang tidak dikenal

Membaca cerita dengan konsep yang absurd dan tak terduga dalam cerita membantu anak-anak untuk lebih menerima hal-hal yang tidak mereka mengerti sepenuhnya. Hal ini bisa membuat mereka lebih berani menghadapi situasi baru atau berbeda di kehidupan nyata.

Dalam Where the Wild Things Are, Max bertemu dengan makhluk-makhluk liar yang pada awalnya terlihat menakutkan, tetapi kemudian menjadi teman. Ini mengajarkan anak bahwa tidak semua hal yang tampaknya menakutkan harus dihindari, dan bahwa keberanian bisa datang dari mengenali dan memahami hal-hal yang awalnya tampak asing. Akan tetapi, tetap perlu penjelasan dari orang tua bahwa kita harus berhati-hati.

Membaca buku anak yang absurd bisa jadi ada manfaatnya dalam perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Dengan mendampingi mereka dalam proses membaca, orang tua atau pendidik dapat membantu anak untuk mengambil hikmah ini dan memperluas wawasan mereka tentang berbagai kemungkinan di dunia, baik yang nyata maupun yang hanya ada di dalam imajinasi.

Mendampingi Anak

Orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak saat membaca buku yang absurd untuk memastikan anak dapat menikmati manfaat positifnya tanpa terpengaruh oleh potensi dampak negatif. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua:

1. Membaca bersama dan berdiskusi

Orang tua dapat membaca buku tersebut bersama anak dan mengajaknya berdiskusi tentang cerita, karakter, dan kejadian yang ada di dalam buku. Hal ini membantu anak untuk memahami konteks cerita serta membedakan antara fantasi dan kenyataan.

Misalnya, setelah membaca bagian dari Matilda di mana ia menggerakkan benda dengan pikirannya, orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu, kenapa Matilda bisa melakukan hal itu dalam cerita ini? Apakah itu bisa terjadi di dunia nyata?” Pertanyaan seperti ini mendorong anak untuk berpikir kritis dan memisahkan imajinasi dari realitas.

2. Menjelaskan nilai dan pesan moral

Banyak cerita absurd mengandung pesan moral atau nilai yang dalam di balik kejadian-kejadian anehnya. Orang tua dapat membantu anak untuk menemukan pesan tersebut dan mengaitkannya dengan situasi di dunia nyata.

Ketika membaca The Little Prince, orang tua bisa membahas tentang persahabatan dan detail seperti makna mawar bagi Pangeran Kecil. Ini bisa membantu anak memahami bahwa di balik cerita yang tampaknya aneh, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik.

3. Mengajak anak berimajinasi secara sehat

Orang tua dapat mengarahkan imajinasi anak dengan cara yang positif. Alih-alih melarang anak untuk berimajinasi, orang tua bisa mendorong anak untuk membuat cerita atau menggambar berdasarkan apa yang mereka baca, kemudian mengaitkannya dengan pengalaman nyata.

Setelah membaca Where the Wild Things Are, orang tua bisa mengajak anak untuk membuat gambar tentang makhluk liar yang mereka bayangkan sendiri. Ini bisa membantu anak memahami bahwa fantasi adalah bagian dari kreativitas, tetapi tetap berbeda dari kenyataan.

4. Menjadi contoh

Anak-anak cenderung meniru cara orang dewasa dalam menyikapi sesuatu. Jika orang tua memperlihatkan sikap terbuka dan rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang tidak biasa dalam cerita, anak juga akan lebih terbuka untuk mengeksplorasi dan memahami, alih-alih langsung merasa bingung atau takut.

Misalnya, saat membaca Alice’s Adventures in Wonderland, orang tua bisa sambil mengajak anak mengobrol dengan pemantik, “Wah, menurut kamu aneh tidak ketika Alice bertemu dengan kelinci yang berbicara?” Ini mengajarkan anak bahwa hal-hal aneh bisa menjadi bagian dari imajinasi yang menarik. Tentunya jangan lupa ingatkan anak bahwa imajinasi juga ada yang buruk, apalagi jika menjurus perbuatan yang tidak menyenangkan dari atau pada orang lain.

5. Membantu anak mengatasi rasa takut atau kebingungan

Jika anak merasa takut atau bingung dengan beberapa bagian dari cerita, orang tua dapat membantu menjelaskan dan menenangkan mereka. Hal ini penting untuk menghindari efek negatif seperti kecemasan atau mimpi buruk.

Ketika anak merasa takut dengan makhluk dalam Where the Wild Things Are, orang tua bisa menjelaskan bahwa makhluk-makhluk tersebut hanyalah khayalan Max yang muncul karena dia merasa marah atau kesepian. Orang tua bisa mengaitkannya dengan perasaan yang pernah dialami oleh anak.

6. Memilih buku sesuai dengan usia dan kematangan emosional anak

Tidak semua buku anak cocok untuk segala usia. Memilih buku dengan “tingkat absurditas” yang sesuai dengan kematangan anak bisa membantu mereka memahami cerita dengan lebih baik.

Misalnya, orang tua dapat memilih buku ringan seperti Winnie-the-Pooh untuk anak yang lebih muda, sebelum mengenalkan buku seperti Matilda atau Alice’s Adventures in Wonderland yang lebih kompleks bagi anak yang sudah lebih besar dan mampu menangkap pesan yang lebih mendalam.

7. Mendorong anak untuk mengajukan pertanyaan

Mengajarkan anak untuk bertanya ketika mereka tidak mengerti sesuatu adalah cara yang baik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak sekaligus menghindari kesalahpahaman. Hal ini juga memberi kesempatan kepada orang tua untuk memberikan penjelasan atau meluruskan jika diperlukan.

Orang tua bisa berkata, “Kalau ada bagian yang kamu bingung atau tidak paham, kamu bisa tanya Mama/Papa, ya. Ayo, kita coba cari tahu bersama-sama.” Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu anak adalah sesuatu yang baik dan perlu dijawab dengan penjelasan yang sesuai.

Dengan mendampingi anak saat membaca buku yang absurd, orang tua bisa membantu anak memahami perbedaan antara fantasi dan kenyataan, menemukan nilai positif dalam cerita, serta merasakan kesenangan dalam berimajinasi tanpa kehilangan pegangan pada dunia nyata. Hal ini membuat pengalaman membaca menjadi makin kaya dan bermakna bagi anak.

#writober2024
#absurd
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional
Sertifikat Pemenang Tema Writober 2024 RBM IP jakarta - Absurd

Sertifikat Pemenang Tema Writober 2024 RBM IP jakarta – Absurd

5 thoughts on “Buku-Buku Anak yang Dianggap Absurd

  1. sebenernya mmau absurd atau ga saat membaca buku anak memang kita orangtuanya atau pendamping dewasanya sudah wajib baca bukunya terlebih dahulu. Layak apa ga nih dikasih ama karakter anak kita, jangan sekedar.. Ada buku anak bagus. Baca sinopsis, lalu berikan. Bagusnya ya dibaca isinya.

    soalnya ke-absurd-an ini suka ditemui di dalam isi buku, bukan sekedar sinopsis atau teaser.

    Dulu waktu saya kecil, pernah disodorkan buku Alice in wonderland. Tapi saya ga tertarik, lebih tertarik ke buku HC Anderson yang berjilid-jilid dan kecil dan menarik.

    chcoclate factory dan matilda juga saya baru tau pas ada filmnya.. Xixixi.. Jadi buku saya kecil yaa itu HC anderson dan buku detektif cilik Hawkeye Collins and Amy Adams. Suka banget baca itu. Aah jadi kangen mau baca buku2 itu lagi

  2. lebih ke spooky dan agak berat ya mba buku-buku yang tersebut di artikel ini, kalo menurutku buku anak-anak emang sewajarnya secara tampilan cheerful, light juga ada at the end ada yang diajarkan gitu

  3. kalo untuk anak-anak memang gak oke sih ya buat baca cerita fiksi yang absurd. Bahkan orang dewasa pun juga, kalo semisalnya dia gak bisa membedakan mana yang nyata dan fiktif.

    namun kalo semisalnya dia paham, pas membacanya bakalan jadi cerita yang asik, karena imajinasi dan kreativitas bergabung di situ

  4. Dari beberapa judul yang disebutkan, aku udah baca Le Petit Prince sama Matilda Kak, memang ya buku absurb punya dua sisi, di satu sisi mengasah imajinasi tapi di sisi lain ada juga dampak negatif jika tidak didampingi orang tua. Peran orang tua memang masih penting banget dalam mendampingi pertumbuhan anak terlebih ketika anak memilih buku bacaan. Boleh tuh judul2 sisanya nanti saya baca juga, terima kasih infonya 🙂

  5. Saya adalah tipikal orang yang suka baca buku absurd macam begitu karena memperkuat imajinasi saya yang memang juga suka absurd.
    kalau buat anak-anak sih saya pikir harus dikuatin dulu nilai logika dan imajinasinya baru bisa diperkenalkan cerita-cerita buku ini deh.

Leave a reply to fennibungsu.com Cancel reply