Menilik Perjalanan Satu Dasawarsa Terakhir Sebagai Narablog

Desember lalu usia putri kedua saya genap sepuluh tahun. Tanggal istimewa tersebut saya gunakan untuk melakukan kilas balik mengenang momen-momen manis sejak kehadirannya satu dekade yang lalu. Selain media sosial, blog ini juga menjadi salah satu sarana yang memudahkan saya dalam mencatat perjalanan kami sekeluarga. Dari cerita MPASI pertama sampai dengan portofolio tulisan Fahira yang dimuat di beberapa buku antologi saya simpan di sini.

Fahira dan buku-buku karyanya

Fahira dan buku-buku karyanya

Jika dilihat-lihat lagi, runutan kisah Fahira sejak bayi lebih lengkap di blog ini dibandingkan dengan kakaknya. Kebetulan, kelahiran Fathia tahun 2011 dulu berbarengan dengan kepindahan saya dari kantor di Bangka ke Jakarta. Saya langsung dihadapkan dengan tantangan beradaptasi sebagai pegawai pindahan, ibu baru, juga warga masyarakat di lingkungan yang baru. Pada saat yang bersamaan pula, platform blog yang saya gunakan sejak 2006 yaitu Multiply berangsur mengurangi jenis layanannya, mengubah konsep bisnisnya, sampai akhirnya tutup sama sekali.

Mulai Lagi Bikin Blog Baru

Boro-boro sempat membuat “rumah baru” untuk blog, saya bahkan kewalahan mengatur waktu antara rumah dan kantor. Perjalanan pergi dan pulang kantor pun tak sesingkat saat masih di Bangka. Setahun pun berlalu, dan ternyata saya malah menemukan keseruan lain di platform sebelah. Tepatnya, saya asyik nimbrung dan bantu-bantu menjawab di salah satu grup dukungan ibu menyusui di Facebook. Sampai-sampai saya diminta sekalian membantu sebagai admin tambahan di sana. Di grup ada fitur Notes, dan sarana inilah yang saya gunakan untuk melanjutkan hobi menulis. Saya merangkum dan menerjemahkan beberapa bacaan mengenai ASI yang saat itu belum banyak diangkat media secara umum, sebagai sumber informasi bagi para anggota grup.

Tahun 2013, akhirnya saya tergerak untuk membuat blog baru. WordPress menjadi penyedia layanan pilihan saya. Awalnya saya mulai menyalin beberapa Notes dari Facebook, supaya ada arsip juga. Namun, yang lebih memacu semangat saya adalah adanya beberapa lomba blog dengan hadiah yang menggiurkan. Belum sampai ada yang menang, memang.

Lalu saya hamil lagi, dan lahirlah Fahira tahun 2014. Saya masih aktif di grup menyusui, dan ternyata ilmu pengetahuan pun terus berkembang hingga saya perlu memperbarui Notes yang pernah saya buat. Lagi-lagi saya membuat salinannya di blog, sekaligus sebagai saran dokumentasi atas perubahan rekomendasi seputar ASI dan MPASI dari masa ke masa.

Menang Lomba Blog

Setelah Fahira makin besar, saya pun makin leluasa menyisihkan waktu untuk aktivitas menulis. Tahun 2016 seorang teman menginformasikan adanya lomba blog yang diselenggarakan oleh sebuah tabloid wanita. Di tengah-tengah proses adaptasi kembali karena dipindahtugaskan lagi ke kantor lain, saya berusaha menyempatkan diri ikut serta. Alhamdulillah saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang.

Keberhasilan ini langsung melecut semangat saya untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya. Dalam beberapa lomba, sebagaimana saya catat di sini, saya berhasil mendapatkan apresiasi. Tak hanya demi lomba, saya juga mulai lebih rajin membuat tulisan organik. Isinya lebih banyak berupa curhatan dan catatan kehidupan sehari-hari, sebetulnya. Seperti yang saya sebutkan di awal, tulisan di blog seperti inilah yang menjadi arsip bermanfaat bagi keluarga. Terkadang ketika membaca ulang tulisan-tulisan lama, saya baru ingat lagi detail suatu peristiwa, termasuk apa yang saya rasakan saat itu.

Banyak tulisan di blog ini yang saya lengkapi dengan referensi yang saya usahakan berasal dari sumber tepercaya, hasil belajar dari sana-sini, khususnya terkait parenting dan kesehatan keluarga. Harapan saya, blog ini juga memberikan manfaat bagi pengunjung yang mencari referensi serupa. Semoga bisa membantu bagi yang memerlukan, karena saya juga senang membaca blog-blog lain yang informatif dengan menyertakan pengalaman dan rujukan valid.

Saya juga membuat resensi buku di blog ini. Niatnya ingin seperti masa Multiply dulu, ketika saya bisa membuat lebih dari lima resensi buku sebulan. Namun, tentu tidak bisa sesering saat belum punya anak dulu. Hal lain yang rutin saya tuliskan di blog adalah tugas-tugas dari salah satu komunitas yang saya ikuti yaitu Ibu Profesional. Hingga tahun lalu, masih ada saja unggahan tugas lama di blog ini yang mendadak banyak dikunjungi, biasanya oleh para peserta baru yang mungkin mencari contoh pengerjaan tugas sebelumnya.

Tahun 2018 saya mengambil keputusan besar untuk beralih ke domain .com. Lagi-lagi pemicunya adalah beberapa lomba blog yang mengutamakan domain ini ketimbang yang gratisan. Saya juga mulai mengambil beberapa kerja sama berbayar yang mempersyaratkan domain berbayar. Lumayan, hasilnya bisa untuk menambah uang jajan, walaupun saya masih agak selektif dengan tawaran yang muncul di grup-grup (dan itu juga belum tentu terpillih, sih). Beberapa kali saya juga diminta untuk mengisi sesi berbagi mengenai blog di komunitas.

Menjadi narasumber tentang penulisan blog, 2019

Menjadi narasumber tentang penulisan blog, 2019

Kini, hampir sepuluh tahun berlalu sejak kemenangan saya dalam lomba pertama dulu. Iseng saya mengecek beberapa blog lain yang juga menjadi pemenang pada lomba tahun 2016 itu, ternyata beberapa pemiliknya bahkan sudah banting setir ke bidang pekerjaan lain. Ada juga yang beradaptasi dengan dinamika dunia maya, misalnya lewat sarana media sosial yang saling melengkapi dengan blog. Atau malah berpindah fokus kreasi sepenuhnya ke media sosial.

Maka tak hanya menjadi blogger, titel beberapa teman pun bertambah yaitu menjadi influencer. Meski sebetulnya narablog itu sendiri sudah punya kekuatan untuk menjadi pemengaruh, tetapi memang “titel” influencer lebih sering disematkan untuk mereka yang aktif membuat konten menarik di media sosial yang banyak digemari. Saya sendiri beberapa kali mencoba menyeriusi pembuatan konten media sosial, tetapi tetap masih lebih nyaman membuat karya dalam bentuk tulisan.

Blog Mendukung Karier Saya

Begitulah, dunia digital memang begitu dinamis. Saya sendiri sejak tahun 2017 dipindahkan lagi ke kantor lain, kali ini ke unit kehumasan kantor pusat. Portofolio saya di bidang blog dan kepenulisan secara umum menjadi faktor pendukung saat mengikuti seleksi talent pooling kehumasan. Karena pekerjaan saya sehari-hari kemudian makin erat dengan dunia tulis-menulis, jadinya sering juga saya keburu kehabisan energi untuk menulis di blog. Agar semangat mengisi blog tetap terjaga, saya ikut dalam beberapa komunitas blog. Program-program di komunitas seperti saling mengunjungi blog angota lain dan berbagi ilmu seputar blog cukup ampuh menyuntikkan motivasi baru bagi saya.

Beberapa lomba juga masih saya ikuti, walaupun belum pernah menang lagi. Salah satu jenama yang sering sekali mengadakan lomba untuk blogger adalah ASUS. Saya pernah juga mengikuti lombanya di sini. Jenama yang satu ini juga sering saya lihat muncul di konten media sosial beberapa rekan blogger, yang meliput peluncuran produk terbaru. Ternyata, program-program dan event online maupun offline ini sudah rutin diadakan oleh ASUS sejak tahun 2015. Banyak di antara event ini sekaligus menjadi wujud dukungan ASUS terhadap perjalanan komunitas blogger di Indonesia.

Aktvitas akhir pekan bersama keluarga: ke Museum Nasional

Aktvitas akhir pekan bersama keluarga: ke Museum Nasional

Kadang saya berandai-andai, mungkin kalau punya laptop dengan spesifikasi canggih yang kerap diulas oleh teman-teman blogger yang diberi kesempatan oleh ASUS menjajal langsung produknya, mungkin saya akan lebih produktif. Yang jelas, laptop yang ringan akan lebih memudahkan untuk dibawa ke mana-mana. Meskipun aktivitas menulis bisa saja dilakukan cukup dengan ponsel, tetapi mungkin karena faktor U (tahun ini saya sudah memasuki usia kepala empat), saya lebih nyaman menulis di hadapan layar yang lebar.

Vivobook Go 14 Flip (TP1400)

Vivobook Go 14 Flip (TP1400) – sumber dari Asus.com

Incaran saya untuk saat ini adalah Vivobook Go 14 Flip. Harganya terjangkau untuk segala fasilitas yang ditawarkan, termasuk bentuknya yang bisa di-flip untuk penggunaan seperti tablet sehingga memudahkan saat harus mengikuti rapat-rapat kantor atau sambil memantau event yang perlu diliput di blog. Dimasukkan ke tas yang biasa saya tenteng untuk berkegiatan akhir pekan bersama anak-anak pun akan lebih luwes, karena tebalnya hanya 16,9mm dengan berat 1,5kg.

Makanya, saya bertekad kalau ada THR tahun ini, inginnya sih bisa digunakan untuk menambah tabungan sehingga bisa membeli laptop baru dari ASUS. Semoga, yaa …

 

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel.

One thought on “Menilik Perjalanan Satu Dasawarsa Terakhir Sebagai Narablog

  1. Pingback: Saling Support antar-Kreator: Mendukung atau Melelahkan? | Cerita-Cerita Leila

Leave a comment