[Resensi Buku] Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Judul buku: Kami (Bukan) Sarjana Kertas
Penulis: J.S. Khairen
Penerbit: Grasindo
Tebal: 388 halaman
Tahun terbut: 2019, tapi yang ada di saya ini versi 2024
Lama buku ini tersimpan di rumah karena saya mendahulukan baca buku-buku yang lebih tipis dari penulis yang sama. Apalagi yang ini ada lanjutannya, jadi kayak merasa mendingan nanti aja bacanya ketika ada waktu luang buat rapel baca semua serinya. Tapi pekan lalu akhirnya selesai juga karena diminta jadi moderator bedah bukunya untuk komunitas Resensi Bacayuk.
Novel Kami Bukan Sarjana Kertas

Novel Kami Bukan Sarjana Kertas

Kisah persahabatan masa kuliah memang selalu seru untuk dikulik. Anak-anak muda dari berbagai latar belakang keluarga, seringnya juga berasal dari daerah yang berbeda-beda, dikumpulkan menjadi satu, tentu ada saja konfliknya. Apalagi pada masa itulah biasanya kesadaran mengenai “mau jadi apa” setelah lulus mulai mengemuka.
Tersebutlah tujuh mahasiswa yang berkuliah di Kampus UDEL. Meski tidak semua satu jurusan, mereka dipersatukan oleh sesi konseling yang diampu oleh dosen cerdas sekaligus unik, Ibu Lira Estrini. Bu Lira berpesan agar mereka saling menjaga dan mengingatkan sampai lulus, dan sepanjang buku mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan untuk bisa memenuhi arahan itu.
Ada mahasiswa yang kuliahnya ikut-ikutan saja, dosen yang mencari keuntungan pribadi, orang tua yang terlalu mengekang anak, dan sistem pendidikan yang tak tentu arahnya. dan peran mahasiswa. Bermacam karakter ini bikin cerita sungguh berwarna-warni. Meskipun para tokoh berasal dari kampus yang “ujung tebu” dan punya masalah pribadi masing-masing, tapi mereka diceritakan ternyata bisa berperan juga untuk masyarakat.
Di awal cerita saya mengira buku ini akan berfokus pada tokoh Ogi dan Ranjau, tapi ternyata tidak. Silih berganti penulis menyajikan kisah hidup setiap mahasiswa (dan mahasiswi) anggota kelompok konseling ini yang begitu berwarna-warni. Di sela-sela interaksi antarmereka, kita akan diajak lebih mendalami karakter tokoh-tokoh ini satu per satu.
Beberapa kutipan menarik dalam buku ini:
✅ Banyak sarjana tak pandai ilmu hidup, hanya ilmu silabus saja. Sarjana kertas. (Hal 124)
✅ Jadilah kecoak yg bisa bertahan dari gempuran apa pun. (Hal 63)
✅ Sibuk terus-menerus itu over-rated. Kurang-kurangilah. Hidup perlu dinikmati. (Hal 248)
✅ Sudahkan engkau berhenti sejenak, untuk melihat telah seberapa jauh engkau berjalan? Kakimu mungkin lelah, jiwamu mungkin gelisah, istirahatlah, untuk kembali melangkah. (Hal 224)
Ada kejutan yang diselipkan di sana-sini, sehingga cerita tidak melelahkan disimak meski berganti-ganti fokus. Pilihan kata yang dipakai oleh penulis juga menarik, bahasa santai khas generasi muda berpadu dengan kutipan-kutipan bijak. Pastinya ada kritik sosial juga, ciri khas sang penulis. Ada sindiran soal pemerataan kesempatan, penyelenggaraan pendidikan di kampus, hingga stigma kesuksesan yang tidak harus dari segi finansial.
Saya kagum pada ide-ide penulis yang bisa menemukan analogi hewan-hewan yang disampaikan oleh tokoh Bu Lira kepada para mahasiswanya. Diksi yang digunakan menarik, walaupun ada beberapa kata kasar. Perkembangan karakter setiap tokoh mengikuti perjalanan hidupnya juga disampaikan dengan sangat baik.
Jadi penasaran juga, bakalan seperti apa filmnya nanti, yaa …. Sepertinya belum ada pengumuman nama-nama pemerannya juga kan, ya.

10 thoughts on “[Resensi Buku] Kami (Bukan) Sarjana Kertas

  1. Buku yang menarik. Jadi ingat masa kuliah dulu. Satu kontrakan dengan teman-teman berbagai macam daerah. Ada dari Palembang, Banjarmasin, Cirebon, Bengkulu dan saya dari Lombok. Tapi kita tetap kompak meskipun ada saja konflik yang terjadi.

    Penasaran dgn filmnya kelak !

  2. J.S. Khairen termasuk salah satu penulis novel kesukaan saya. Tulisannya selalu mengandung kritik sosial dengan diksi satire ala anak-anak muda kekinian, termasuk dalam novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas ini. Tak heran kalau bukunya akan dibuatkan dalam versi film. Mudah-mudahan nanti visual filmnya akan sebagus novelnya

  3. Bukunya menarik untuk dibaca, mengingatkan Saya semasa kuliah saling menyemangati bahkan sampai2 salah satu teman saya sering bilang ‘Orang wisuda, Kito wisuda pulo’. Kadang ingat itu lucu juga, tapi rata2 teman kampusku dulu asli Kerinci semua, Krn waktu itu aku merantau dan kuliah di Kerinci

  4. Tahu J.S Khairen malah sebagai aktor di film “Humba Dreams”. Penasaran karena tumben-tumbenan Riri Riza cast aktor yang aktingnya kurang (maafkeun). Eh begitu dicari tahu ternyata ia penulis. Dan saya tertarik mengikuti buku-bukunya.

    Buku yang ini masih saya simpan, belum saya baca sama sekali, karena sedang dalam proses alihwahana ke film layar lebar, sekaligus novel pertama J.S Khairen yang diangkat ke layar lebar.

    Eh, tapi kalau boleh nebak-nebak, menurut Kakak siapa aktor yang pas memerankan karakter-karakter di novel ini?

  5. Kalau ini karya kesekian dari JS Khairen yang sudah Mba Leila tamatkan, berarti Mba Leilla sudah peringkat apa ya? Kebetulan Bang Khairen suka ngasih peringkat-peringkat gitu untuk pembaca loyal buku-buku karyanya.

    Kalau aku, sepertinya mash belum bisa nyampe sabuk hitam nih. Buk JS Khairen yang kutamatkan baru dua doang.

    Bahas novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas, aku sudah lama tertarik ingin ikutan baca juga. Masih di wishlist. Semoga lekas ada kesempatan untuk menjadikan buku ini bagian dari rak buku koleksi pribadiku. Aamiin.

  6. Pingback: JS Khairen: Minat Baca Masyarakat Itu Besar, Hanya Aksesnya Kurang | Cerita-Cerita Leila

  7. wah kalau baca buku ini kayaknya bakal langsung nostalgia sama dunia kuliah yaa. aku sendiri belum pernah nih baca bukunya js khairen. pernahnya cuma baca kata pengantar dia di buku 30 paspor di kelas profesor

  8. Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas ini asyik banget nih—kayak ngobrol santai sama teman lama. Tokohnya beragam, penuh liku, dan menyentuh soal sistem pendidikan yang kadang bikin orang lupa makna sesungguhnya ambil gelar. Gaya bahasa ringan, witty, dan penuh kutipan yang bikin mikir: bukannya cuma sarjana di atas kertas, tapi yang punya isi dan nyali. Mantap!

  9. Resensinya menarik sekali. Jadi makin penasaran sama bukunya, apalagi temanya dekat dengan realita kehidupan sehari-hari.

Leave a reply to Dyah Kusuma Cancel reply