Seri Kunang-Kunang @kawankunang Mencecap Kuliner Lokal
Penerbit: Balai Pustaka @official.bpbooks @pt_balaipustaka
Tahun terbit: 2025
Masing-masing 24 halaman

Buku Seri Mencecap Kuliner Lokal – Balai Pustaka
Apa jadinya kalau beberapa cerita sastra lama diadaptasi menjadi cerita bergambar untuk anak? Tahun ini Balai Pustaka, BUMN yang utamanya bergerak di bidang percetakan dan penerbitan, membuat lima judul buku cerita yang bersumber dari buku-buku yang pernah mereka terbitkan dulu. Idenya saja sudah sangat menarik, dan ternyata dieksekusi dengan apik pula. Benang merahnya adalah makanan khas berbagai daerah yang dikaitkan dengan keseharian para tokohnya.
Ada yang memakai nama tokoh yang sama dengan buku aslinya, ada yang dipindahkan sepenuhnya latar dan tokohnya ke masa kini, ada yang berisi cerita sehari-hari yang realistis, ada pula yang dibumbui fantasi. Sebagian disajikan dengan kalimat berima yang bikin takjub, kok nemu aja kata-katanya. Ilustrasinya juga manis sekali. Pada akhir setiap buku ada lembar aktivitas yang bisa dijadikan pendukung untuk main bareng ataupun pemantik diskusi dengan anak.
Berikut adalah ulasan untuk masing-masing bukunya
Lagi-Lagi Kacau!
Penulis: Avia Maulidina
Ilustrasi isi dan sampul: Azira Rahma Danti
Pengembangan dari buku Si Jamin dan Si Johan (Saduran Merari Siregar, 1921)

Buku Mencecap Kuliner Lokal – Lagi-Lagi Kacau!
Saya membaca buku Si Jamin dan Si Johan belasan tahun yang lalu. Isi cerita yang disadur dari karya sastrawan Belanda Justus van Maurik (1918) ini cukup menyayat hati karena nasib dua bersaudara yang selalu malang. Buku Lagi-Lagi Kacau ini tak mengangkat penderitaan mereka. Isinya lebih ke potongan cerita yang menonjolkan perbedaan karakter kakak-beradik ini yang dikisahkan mengikuti lomba membuat putu mayang.
Latar lomba 17-an membuatnya makin menarik untuk bacaan di bulan peringatan kemerdekaan. Yang unik, jika inisiatif atau inovasi dalam lomba sering dijadikan plot cerita menuju kemenangan yang tak terduga, kali ini berbeda. Mungkin semacam pengingat bahwa ada beberapa hal yang memang sebaiknya tidak diubah pakemnya.
Racikan Ajaib Kedai Seruas Bambu
Penulis: Septia Endriana
Ilustrasi isi dan sampul: Azira Rahma Danti
Pengembangan dari buku Kisah Seruas Bambu (Senggono, 1974)

Mencecap Kuliner Lokal – Racikan Ajaib Kedai Seruas Bambu
Saya belum membaca buku aslinya, jadi tidak bisa membandingkan isinya. Di sini pembaca bisa sekaligus belajar tentang khasiat dan proses pembuatan jamu tradisional, khususnya beras kencur.
Buku ini favorit Fahira, katanya karena mengingatkan pada jamu beras kencur yang biasanya dibelikan Eyang Uti kalau kami sedang mudik.
Menangkap Pencuri Lumpia
Penulis: Septia Endriana
Ilustrasi isi dan sampul: Herry Prihamdani
Pengembangan dari buku Menjebak Hantu Kuburan Pasirnaga (Sri Waluyati Sandi, 1987)

Mencecap Kuliner Lokal – Menangkap Pencuri Lumpia
Saya juga belum membaca buku yang ini. Namun, dari informasi yang saya dapatkan, buku aslinya memuat cerita anak perempuan bernama Emi yang beraksi bak seorang detektif. Kalau Emi dalam buku yang baru ini, tujuannya adalah menemukan siapa yang mengambil lumpia kesukaannya.
Saya baru tahu dari buku ini bahwa ada yang namanya lumpia bom, makanan khas Purwokerto yang berukuran lebih besar dari lumpia pada umumnya. Biasanya lumpia itu disebutkan dari Semarang kan, ya. Fahira juga suka judul yang ini karena ilustrasinya paling lucu katanya.
Nasi Ulam Rumah Ceria
Penulis: Avia Maulidina
Ilustrasi isi dan sampul: Felia Febriany Gunawan
Pengembangan dari buku Si Dul Anak Jakarta (Aman Dt. Madjoindo, 1932)

Mencecap Kuliner Lokal – Nasi Ulam Rumah Ceria
Saya baru membaca novel Si Dul beberapa bulan yang lalu (resensinya bisa dibaca di sini: Si Dul Anak Jakarta). Setelah Babe dikisahkan meninggal, Dul kecil dan Nyak sempat kesulitan secara finansial. Keterampilan Nyak membuat nasi ulam yang lezat ternyata menjadi pembuka rezeki untuk mereka. Dul bertugas menjajakannya keliling kampung.
Dalam buku yang ini, cerita langsung menuju fragmen saat Dul mengantarkan pesanan nasi ulam. Ada juga uraian mengenai apa saja pelengkap nasi ulam, dilengkapi dengan visual yang menerbitkan selera. Pembaca juga diingatkan untuk tetap bertanggung jawab atas kesalahan, bahkan meskipun tujuannya baik.
Penyelamatan di Siang Bolong
Penulis: Septia Endriana
Ilustrasi isi dan sampul: Azira Rahma Danti
Pengembangan dari buku Adi Teruna (Tamar Djaja, 1979)

Mencecap Kuliner Lokal – Penyelamatan di Siang Bolong
Cerita yang ini menyisipkan muatan fantasi lewat mimpi yang dialami Adi gara-gara enggan membantu Amak menyelesaikan pesanan bika bakar. Jadinya seru dan lebih memacu deg-degan ketimbang judul-judul lainnya.
Ada pesan agar anak-anak lebih peka ketika orang tua memerlukan bantuan. Juga bahwa aktivitas memasak bukan tugas perempuan saja, disertai dengan contoh-contoh nyata. Tidak hanya dari profesi yang memang melibatkan aktivitas pengolahan bahan makanan, tetapi juga dari potret sehari-hari bahwa Abak mereka pun suka membuatkan sarapan.
Kabarnya, Balai Pustaka nanti akan secara berkala menerbitkan buku-buku sastra anak yang menjadi bahan pengembangan buku seri ini. Juga akan ada seri Kunang-Kunang lainnya yang mengangkat berbagai satwa khas Indonesia. Jadi penasaran deh, seperti apa jadinya.

Keren, selalu bangga kalau sastra Indonesia didekatkan kepada anak sejak dini. Saya yakin sekali literasi anak Indonesia 5 tahun yg akan datang lebih lincah bersastra. Terbukti dari lagu-lagu Skena yang sering terdengar sekarang… Bangga saya !
baru baca resensi nya aja disini udah ikut penasaran sama buku aslinya
Apalagi ceritanya tidak hanya untuk anak anak, orang dewasa juga masih relevan kok mengingat hikmah dan pelajaran dari kisah dalam buku ini dalam banget ya…
Aiiih resensinya cakeeepppp!Seru ya kalau anak-anak bisa kenal kuliner sekaligus sastra sejak dini—jadi belajarnya nggak kaku, tapi ngalir sambil ngemil juga bisa wkwkkwkSalut deh, idenya bikin literasi terasa lebih dekat dan relatable buat mereka. Jadi kepengen baca bukunya juga nih!
Senangnya sekarang ada buku sastra untuk anak2…semoga dengan semakin banyak buku sastra anak yang diterbitkan maka akan menambah budaya literasai di negara kita dan anak2 bisa diajarkan untuk mulai rajin membaca sejak dini…
Buku yang ada ilustrasinya ini memang menarik buat anak2 karena bisa menambah rasa ingin tahu dari gambar yang dilihatnya..
Bukunya bagus ini, mengenalkan ke anak2 tentang kuliner dan sastra dengan cerita bergambar yg sudah pasti disenangi anak2. Soalnya seperti anakku yg berusia 4 tahun sangat senang buka2 buku bacaan anak2 meskipun blm bisa membaca.
Pengen baca bukunya. Kalau mengenalkan kuliner dan sastra Indonesia dengan cara ini,.pastinya anak2 juga bakal senang baca bukunya, bahkan aku juga bakalan pengen ikutan membaca buku tsb
Balai Pustaka keren nih gebrakannya. Ku setuju kalau banyakin buat buku anak karena yang kulihat anak-anak sekarang sudah mulai terpapar gadget, sayang banget misal keseharian mereka habis hanya main ponsel. Bukankah kalau mereka baca buku bisa lebih keren?
Judul-judul bukunya aja bikin penasaran dan ilustrasinya menarik bahkan aku yang udah gede aja pengen baca cerita buku-buku tersebut. Semoga gebrakan ini bikin minat baca anak meningkat ya.
wah lucu banget ini bukunya pas banget buat anak-anakku yang belum bisa baca buku tebal. nyarinya di mana ya kak buku-buku ini?
Konsep makanan daerah dikaitin sama cerita sastra lama terus diubah jadi picture book buat anak-anak tuh keren abis. Ilustrasinya juga manis, bikin anak (apalagi emak-emak yang lagi nyambi baca sambil ngemil) langsung mupeng
Penasaran banget sama buku-buku anak ini. Apalai bukunya merupakan hasil pengembangan dari cerita anak klasik tanah air. Aku baru tahu jadinya kalau Balai Pustaka sedang gencar mengeluarkan buku-buku anak. Salah satu penerbit legendaris di tanah air sih yang kutahu tentang Balai Pustaka selama ini. Awam ya. 😄
buku yang dikemas dengan cerita sederhana tapi memiliki edukasi yang terbaik. Apalagi ditulis oleh anak-anak bangsa
Pingback: [Resensi Buku] Si Dul Anak Jakarta | Cerita-Cerita Leila