Mengenal Wisma Batari

Saya lupa kapan persisnya mendengar nama wisma ini, tetapi sepertinya ketika saya masih SD di sebuah kota kecil dekat Solo. Wisma Batari sering digunakan sebagai gedung pertemuan, termasuk untuk acara pernikahan. Saat pertama membaca nama Batari, yang terpikir oleh saya adalah “cantik”. Sebab setahu saya, kata batari merupakan istilah lain dari dewi. Istilah batari sebelumnya sering saya baca di cerita-cerita wayang di majalah Panjebar Semangat ataupun buku-buku milik Mbah Kakung. Biasanya kata tersebut dituliskan sebagai bethari dalam bahasa Jawa, misalnya Bethari Durga dan Bethari Uma.

Karena itulah saya mengira bahwa penamaan Wisma Batari dimaksudkan agar masyarakat mengenal gedung tersebut sebagai gedung yang bagus. Secara fisik, gedung Wisma Batari yang terletak di Jalan Slamet Riyadi Nomor 183, Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta ini memang terlihat megah sekaligus klasik. Namun, rupanya dugaan saya kurang tepat.

Sejarah Pemakaian Wisma Batari

Wisma Batari

Wisma Batari, foto dari Koperasi Batik Batari

Pada masa penjajahan Belanda, Wisma Batari merupakan rumah tinggal dengan gaya art deco. Ada satu bangunan utama dengan paviliun di kanan dan kirinya. Kemudian Wisma Batari menjadi salah satu markas Kempeitai atau Polisi Militer Jepang di Solo ketika mereka masuk ke wilayah Hindia Belanda pada tahun 1942. Dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia, dengan diplomasi para tokoh pejuang, perwakilan Jepang di Surakarta bersedia menyerahkan kekuasaan pemerintah pendudukan Jepang, termasuk Kepala Pemerintahan Sipil Jepang Watanabe dan Komandan Garnisun Kota Letnan Kolonel T. Mase.

Namun, Komandan Kempeitai Kapten Sato menolak dengan alasan belum ada perintah langsung dari Kaisar Jepang. Ia bersedia untuk menyerah jika pelucutan senjata dilakukan di Desa Tampir, Boyolali, markas utama mereka. Permintaan tersebut ditolak, kemudian para pemuda Solo di bawah komando Slamet Riyadi melakukan serangan ke markas-markas Kempeitai pada tanggal 12 Oktober 1945.

Riwayat Koperasi Batik Batari

Wisma Batari sampai sekarang dikelola oleh Koperasi Batik Batari. Koperasi ini sudah dirintis sejak sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1937. Nama awalnya adalah Persatuan Perusahaan Batik Bumiputera Surakarta (PPBS) yang didirikan oleh Haji Mufti, R.Ng. Kartohastono dan B.H. Sofwan di daerah Laweyan. Keberadaannya sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi Timur Asing (sebutan kaum bangsawan dan warga Belanda pada waktu itu). Pada tahun 1941, kantornya dipindahkan ke Mangkujayan.

Selama pendudukan Jepang, koperasi ini berganti nama menjadi Batik Kogyo Kumisi sebagai gabungan Koperasi Bumiputera di Indonesia. Setelah kemerdekaan, koperasi terpecah menjadi PBRIS yang dipimpin oleh R. Prijorahardjo dan PERBIS yang dipimpin oleh H.A. Muslim. PBRIS dan PERBIS kemudian bersatu mendirikan Batari (Batik Timur Asli Republik Indonesia) pada 1 Januari 1948. Koperasi Batari sebagai koperasi batik primer menampung para pengusaha batik di Surakarta dan sekitarnya.

Pada tahun ini juga lahirlah Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), melalui kerja sama antara koperasi batik di Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, dan Tulungagung. GKBI menjadi wadah koperasi batik nasional dan mendirikan NV. B.T.C. sebagai lembaga komersial. GKBI berkantor di kompleks bangunan Wisma Batari.

Sayangnya, akibat dari serangan polisionil atau Agresi Militer Belanda II tahun 1949, Koperasi Batari mengalami kemunduran. Namun, koperasi ini tetap bertahan, bahkan menjalin kerja sama dengan pihak Belanda untuk distribusi bahan mori dengan sebagian keuntungan digunakan untuk perjuangan kemerdekaan.

Bagian dalam Wisma Batari

Bagian dalam Wisma Batari, foto dari Koperasi Batik Batari

Jika bangunan bekas Markas Kempeitai yang satu lagi, yang dikenal dengan nama Hotel Cakra, mengalami kerusakan cukup parah setelah pertempuran, tidak demikian dengan Wisma Batari. Kondisi wisma tersebut masih cukup baik. Beberapa bagiannya, khususnya pada bagian belakang telah mengalami sejumlah renovasi sehingga bentuknya cukup berubah. Namun, bagian depannya yang ikonik tetap dipertahankan.

Sejak tahun 2013, Wisma Batari ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Wali Kota Surakarta No646/1-R/1/2013. Hingga kini gedungnya yang dapat menampung hingga 1500 orang tamu ini masih disewakan untuk umum. Koperasi Batari sendiri juga aktif mengadakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan UMKM di wisma yang mereka kelola ini. Salah satunya Festival Kuliner Lebaran Batari 2025 yang dibuka oleh Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, pada April lalu.

“Lokasinya strategis, dekat dengan pusat kota, dan menyajikan beragam kuliner khas Solo. Semoga festival ini bisa semakin meriah dan mengobati rindu para perantau yang pulang,” sebut Astrid.

Sumber:

1. Instagram Turutan.id https://www.instagram.com/reels/DOav5mWAcu-/

2. https://koperasibatikbatari.com/time_line

3. https://www.detik.com/jateng/wisata/d-7094031/kisah-horor-hotel-cakra-solo-tempat-tentara-jepang-saling-bunuh

4. https://keboboleh.blogspot.com/2016/08/sejarahkoperasi-batik-asia-timur-asli.html

5. https://www.krjogja.com/fashion/1242599658/pernah-menjadi-alat-perlawanan

6. https://id.wikipedia.org/wiki/Wisma_Batari

7. https://solopopuler.com/festival-kuliner-lebaran-batari-ramaikan-kota-solo-wakil-walikota-astrid-apresiasi-semangat-koperasi-dan-umkm/

#writober #writober2025 #batari #IbuProfesionalJakarta #IbuProfesional

Leave a comment