Etimologi Prameswari

Kata kesembilan dalam Writober 2025 adalah prameswari. Saya tertarik untuk membahasnya dari segi bahasa. Sepertinya dulu saya pernah membaca bahwa kata prameswari atau permaisuri ini berasal dari kata parama dan iswari. Lebih rincinya, kata tersebut merupakan rangkaian dari bahasa Sanskerta paramā (परमा) yang berarti utama, tertinggi, mulia dan īśvarī (ईश्वरी), bentuk feminin dari īśvara yang memiliki arti penguasa, dewa, tuan. Definisi ini salah satunya tercatat di Monier-Williams Sanskrit Dictionary (University of Cologne), yang menyebutkan bahwa parameśvarī adalah “the supreme goddess; the female form of Parameśvara.”

Istilah tersebut sampai ke Nusantara melalui hubungan perdagangan, relasi politik, hingga penyebaran ajaran agama pada sekitar abad ke-8 hingga ke-14. Dalam transliterasi Jawa Kuno istilah ini mengalami sedikit penyesuaian menjadi prameswari. Di Jawa, kata prameswari ini pun bergeser penggunaannya. Dari yang di tanah aslinya digunakan untuk menyebut Dewi Tertinggi sesuai dengan kepercayaan di sana, kemudian di sini menjadi gelar resmi bagi istri utama raja. Dalam Old Javanese–English Dictionary oleh Zoetmulder (1982), entri pramêśwarī diberi penjelasan sebagai “Queen; royal consort (from Skt. parameśvarī).”

Jejak penggunaan kata ini dapat ditemukan dalam Nāgarakṛtāgama atau Negarakertagama karya Mpu Prapanca (abad ke-14). Di situ, “Sang Prameswari Sri Rajapatni” disebut sebagai permaisuri raja. Dalam beberapa prasasti Jawa Timur dan Bali, pasangan gelar parameśwara (raja) dan parameśwarī (ratu) juga muncul.

Dalam Prasasti Sukawana misalnya, khususnya Prasasti Sukawana B yang dibuat tahun 1181 Masehi. Prasasti yang tersimpan di Pura Bale Agung, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali ini memuat kalimat “ing ҫaka 1103 ҫrawanamàsa, tithì nawamì çuklapaksa, ma, pà, bu, wàra wayang, irikà diwaca, ajñà pàdu ka çrì mahàràja haji jayapangus arkaja cihnà saha ràjapatnì dwaya, pàduka çri parameçwarì indujalañcana, pàduka çri mahàdewì çaçangkajaketana, umajar iparasenàpati, umingsori tanda rakryan ri pakirakiràn i jro makabaihanka.”

Namun, ada pula gelar Parameśwarī yang digunakan sebagai gelar kebesaran Tribhuwanatunggadewi, yang berdaulat penuh atas Majapahit pada tahun 1328–1350. Dalam Nāgarakṛtāgama, Mpu Prapanca juga menulis “… Sang Parameśwarī Tribhuwana Wijayatunggadewī Jayawiṣṇuwardhanī …”

Tribhuwanatunggadewi di sini menjadi ratu pemegang takhta yang memerintah (queen regnant), bukan sebagai permaisuri raja (queen consort). Ia yang menjalankan pemerintahan atas nama ibunya, Gayatri Rajapatni, termasuk saat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa pada masa pemerintahannya.

Arca Dewi Kebijaksanaan, Prajnaparamita, yang disimpan di Museum Nasional. Arca ini diyakini salah satunya sebagai penggambaran bagi Permaisuri Gayatri Rajapatni.

Arca Tribhuwanatunggadewi yang disimpan di Museum Nasional

Setelah era kolonial dan juga terjadinya pergeseran struktur kerajaan, nampaknya istilah permaisuri atau prameswari jarang digunakan secara resmi dalam penyebutan nama di dalam lingkungan kerajaan. Sebutan lainnya seperti Ratu atau Gusti Ratu lebih umum digunakan, contohnya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas di Kesultanan Yogyakarta. Kata permaisuri kebanyakan digunakan pada naskah seperti materi edukasi, buku sejarah, atau cerita fiksi dengan latar belakang sejarah. Atau kalaupun disebutkan dalam pemberitaan misalnya, lebih sebagai kata ganti dengan tetap menyebutkan gelar utamanya.

#writober #writober2025 #prameswari #IbuProfesionalJakarta #IbuProfesional

Leave a comment