Bunga identik dengan sesuatu yang indah dan cantik. Karena itu, bunga sering digunakan sebagai pelengkap dalam sebuah kegiatan untuk menambahkan kesan tertentu seperti kemegahan atau kekhidmatan. Bahkan setelah kegiatan tersebut selesai pun, bunga-bunga yang semula dipakai sering kali masih bisa digunakan lagi.
Bunga artifisial bisa disimpan oleh penyelenggara untuk acara lainnya, sedangkan bunga segar bisa diperpanjang masa pakainya. Dengan perlakuan tertentu, bunga-bunga yang semula menjadi bagian dari dekorasi acara itu beralih menjadi pengisi buket cantik atau vas kecil untuk diletakkan di meja kerja. Sesudah itu, bunga yang kering pun masih bisa diawetkan dengan cara khusus untuk dijadikan hiasan, atau dipilah ke wadah sampah kategori organik.
Itulah yang kami lakukan jika sedang ada acara di kantor. Tidak sering memang ada bunga segar yang digunakan, biasanya hanya untuk acara yang benar-benar spesial. Namun, lokasi ruang kerja yang strategis acap kali membuat kami punya akses sekiranya ada rangkaian bunga segar yang bisa dimanfaatkan kembali seusai kegiatan.

Bunga segar untuk aktivitas menghias clay yang pernah saya ikuti
Sore itu jam kerja sudah berakhir, tetapi beberapa teman justru memulai kegiatan baru yaitu merangkai bunga-bunga dari acara siang tadi. Ada yang berbagi tips agar bunga-bunga ini lebih awet, ada yang bercerita soal pemilihan jenis dan warna bunga favorit, ada yang langsung berfokus pada kegiatan memangkas bagian tangkai yang tidak diperlukan, ada pula yang jadi berencana membeli bunga di Pasar Rawa Belong mumpung sedang ada libur panjang.
Saya sendiri sibuk membenahi barang-barang di meja untuk bersiap-siap pulang, sambil sekilas tetap mendengarkan obrolan soal bunga ini. Mendadak sebuah ide terlintas. Bunga-bunga yang cantik ini perlu dirawat dan diperlakukan secara khusus agar masa manfaatnya makin panjang. Kadang diperlukan pemotongan, penambahan nutrisi, sampai dengan keterampilan menata. Sepertinya mirip dengan apa yang kami lakukan sehari-hari di unit kehumasan. Prosedur perawatan bunga segar ini bisa dianalogikan dengan beberapa langkah yang kami jalankan dalam memperlakukan informasi dan menerapkan komunikasi. Apa saja? Berikut yang terpikir oleh saya.
1. Memotong batang secara diagonal = keterbukaan informasi
Sebelum merangkai bunga, kita perlu memotong bagian bawah batangnya secara diagonal agar penampang bawahnya makin luas sehingga penyerapan air (dan nutrisi di dalamnya jika ada) dapat maksimal. Hal ini mirip dengan yang dilakukan oleh humas, yaitu membuka saluran komunikasi yang luas dan efektif. Tanpa “potongan” atau celah komunikasi yang tepat, informasi (nutrisi) tidak akan terserap dengan baik oleh publik.
2. Air, gula, atau pemutih = komposisi narasi yang pas
Bunga potong butuh air dengan sedikit gula sebagai sumber energi, atau pemutih pakaian yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Humas pun demikian. Humas perlu memoles data mentah dengan “pemanis” berupa gaya bahasa yang ramah, sekaligus tetap perlu “pembersih” yaitu data dan fakta yang akurat agar informasi tidak salah dalam penyajiannya.
3. Memangkas duri dan daun berlebih = manajemen krisis & filter informasi
Dalam komunikasi, duri adalah potensi konflik atau kata-kata yang bisa melukai publik. Humas perlu memangkasnya agar pesan bisa diterima dengan nyaman. Kemudian, daun atau mahkota bunga yang telanjur gugur di dalam air akan membusuk dan bisa merusak lingkungan kecil tempat kita menaruh bunga potong. Kita perlu memisahkannya sebagaimana humas membuang informasi yang tidak relevan (noise) agar pesan utama tetap jernih.
4. Alat potong yang tajam = keterampilan
Gunting yang tumpul akan merusak batang. Ketajaman diperlukan agar tangkai bunga terpotong dengan sempurna. Begitu juga unit kehumasan, anggotanya perlu memiliki keterampilan yang terasah dengan baik, misalnya dalam hal menulis, mendesain, dan berbicara kepada publik. Tujuannya agar eksekusi program komunikasi berjalan efektif tanpa potensi merusak reputasi organisasi.
5. Komposisi = strategi media mix
Rangkaian yang indah terdiri atas perpaduan bunga-bunga utama, bunga pendukung, dan dedaunan dengan tinggi yang berbeda, yang membentuk komposisi nan cantik. Ada yang mengharmonisasikan bunga berbentuk/bertangkai panjang dan pendek sehingga tampak dinamis, ada pula yang sengaja memilih bunga berukuran mirip sehingga menghasilkan rangkaian yang terkesan solid. Di kehumasan, kami memadukan berbagai kanal (media sosial, siaran pers, majalah, kunjungan studi, kerja sama media) agar pesan dapat sampai ke berbagai lapisan audiens sesuai dengan tujuan.
6. Ganti air secara berkala = evaluasi & update
Air yang lama-kelamaan keruh tentu harus sering diganti agar bunga tetap segar. Informasi pun sering kali punya masa berlaku. Humas harus rajin memperbarui data dan mengevaluasi strategi agar hubungan dengan publik tetap segar dan tidak “layu”.

Contoh rangkaian bunga
Oh ya, dari rangkaian bunga acara sebelumnya, saya juga sempat memperhatikan bahwa bunga krisan lebih tahan lama dibandingkan dengan bunga mawar. Hal ini juga dapat dianalogikan ke dunia kehumasan. Ada program atau kampanye komunikasi yang seperti krisan. Kokoh, stabil, dan mampu menjaga reputasi organisasi dalam jangka waktu yang lama. Namun, ada pula isu-isu yang sifatnya seperti mawar. Cantik dan amat menarik perhatian, tetapi sangat sensitif dan berumur pendek jika tidak ditangani dengan sangat hati-hati.
Tugas kami sebagai humas adalah memastikan berbagai tipe “bunga” ini tetap mendapatkan perlakuan yang tepat. Sebab esensi pekerjaan humas bukan sekadar memoles tampilan luar agar terlihat indah. Pemahaman publik pun penting. Tugas humas adalah merawat kepercayaan dengan memilah sumber publikasi dan mengolahnya secara sehat, serta memastikan pesan tetap “hidup” di hati publik.
Sebab, sama seperti bunga, reputasi yang dirawat dengan hati akan mekar lebih lama.
