Musa sang Hafidz Cilik juga Bermain, Kok

Hari-hari ini, Musa sang hafidz cilik menyita perhatian dan sempat menjadi trending topic karena kemenangannya dalam lomba hafidz anak Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) International di Sharm El-Sheikh, Mesir pada pertengahan bulan April 2016 ini. Musa atau lengkapnya La Ode Musa yang menjadi peserta termuda (7 tahun) mendapatkan juara ketiga.
Ayahanda Musa cukup aktif memposting kegiatan keluarganya di media sosial facebook. Salah satu yang ia tulis dan di-share oleh banyak ibu adalah jadwal harian istrinya, karena memang banyak yang penasaran, seperti apa gerangan aktivitas keseharian ummahat yang bisa membimbing anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sedemikian rupa (sebagai tambahan keterangan, Musa menjalani home schooling). Selain soal ibunya, tentu banyak yang penasaran juga soal jadwal Musa sendiri. Mengingat usianya yang masih anak-anak, bagaimana dengan haknya untuk bermain? Apa iya Musa lalu sama sekali tak boleh menikmati masa kecilnya demi ego orangtua? (ini yang saya temukan ditulis oleh seorang ibu muda secara agak keras di facebook).

Setelah googling, saya menemukan beberapa pernyataan terkait pengaturan waktu bermain Musa, sebagai berikut:
http://www.buletinislami.com/2016/04/rahasia-hafidz-cilik-musa-hafal-30-juz-di-usia-belia.html
http://detikmuslim.blogspot.co.id/2014/07/inilah-rahasia-musa-anak-5-tahun-yang.html
http://www.jpnn.com/read/2014/07/21/247489/Mengenal-Musa-Hafiz-Cilik-yang-Hafal-30-Juz-Alquran-/page2
http://www.radarcirebon.com/orang-tua-musa-buka-rahasia-cara-didik-anaknya-sampai-hafal-alquran.html

Metode Menghafal Al Quran Ala Musa Si Hafidz Kecil Indonesia


http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/profil-musa-bocah-indonesia-yang-jadi-juara-ajang-hafidz-tingkat-dunia-
https://books.google.co.id/books?id=h5rrCgAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=google+books+kisah+anak-anak+penghafal&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGu4DuxK7MAhVIHKYKHXcfDAEQ6AEIGjAA#v=onepage&q&f=false

Selain itu saya dapati juga ayah Musa pernah memposting foto mainan skuter/ride on baru anak-anaknya. Bisa dilihat dari tautan di atas bahwa orangtua tetap menyediakan waktu tertentu bagi Musa (dan saudara-saudarinya) untuk bermain. Memang soal porsi main ini ada perbedaan sedikit antara berita satu dengan yang lainnya, tapi mungkin ini karena wawancara dilakukan di bulan yang berbeda pula, jadi jadwal tentu menyesuaikan dengan perkembangan usianya.

Nah, soal jadwal-jadwalan ini barangkali juga bisa jadi kontroversial, sebagaimana kata ibu muda yang tadi, yang menganggap bahwa pembatasan sedemikian ketat (Musa juga tidak boleh nonton TV, termasuk saat bertamu) sih sama saja dengan nggak boleh main. Soal ini, memang kembali ke prinsip keluarga yang berbeda-beda. Kalau keluarga Musa, yang saya tangkap dari postingan facebook-nya memang sudah merumuskan tujuan sedari awal untuk mengutamakan kecintaan pada Allah dan persiapan bekal akhirat. Tak heran langkah-langkah yang dirancang juga sedemikian rupa sehingga pendekatan yang dipakai mungkin tidak sama dengan keluarga yang punya prinsip lain. Pernah saya baca La Ode Abu Hanafi ayah Musa mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan gaya orangtua sekarang yang cenderung membebaskan dan membiarkan tingkah anak, yang berbuah pada kasus-kasus remaja yang cukup bikin geleng kepala.

Saya jadi teringat juga prinsip sebuah ‘sekolah’ anak (masih dalam rentang usia dini, lho) yang unik: tidak menyediakan fasilitas bermain. Kutipan lebih tepatnya sebagai berikut:

Apa yang ada dalam ruangan, halaman, aula belajar santri, fasilitas yang tersedia apa adanya. Maka di situlah tempat mereka bermain. Kami tidak menambahkan dengan fasilitas bermain para santri. Dari awal mereka belajar, kami tekankan sebuah konsep bahwa ketika saat bermain maka bermain, ketika saat belajar maka belajar. Tidak ada bermain saat belajar, namun saat bermain ada pelajaran itu sangat mungkin. Kejenuhan, ketidak tertarikan belajar, tidak bisa diam, ketidakfokusan belajar pada santri usia TK sangat mungkin terjadi. Kami justru mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya.

 

Penjelasan Islam dalam hal bermain lebih lanjut ada di tulisan Ustadz Budi Ashari (konseptor dan pengelola Kuttab Al Fatih, ‘sekolah’ yang linknya saya taruh sebelum ini) di sini: http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/untuk-keluarga-parenting-nabawiyah/113-bukan-untuk-bermain-aku-diciptakan. Makjleb, sih. Ada kutipan bahwa Nabi yahya berkata sebagaimana judul artikel tersebut.

Banyak sungguh variasi dalam cara parenting, dan perbedaan itu menarik untuk diamati dan dipelajari, diambil hikmahnya, menjadi pengingat dan bahan masukan untuk diterapkan dalam keluarga masing-masing.

[Arsip Lomba] Serunya Dunia Anak Usia Dini

(Januari 2016, grup facebook Preschool Online)PhotoGrid_1453605502742

Ini kedua putri kami, Fathia (4 tahun 4 bulan) dan Fahira (13 bulan). Keduanya punya karakter yang berbeda, hingga ada saja hal yang menjadi kejutan baru bagi saya dan suami. Adik lebih ekspresif sejak awal kelahirannya, tangisan dan celotehannya bahkan mengundang komentar tetangga, “Beda banget sama kakaknya, ya…”. Memang jika dibandingkan, kakak dulu jadi terlihat lebih kalem. Namun, di umurnya sekarang, tentu kakak sudah lebih ceriwis dan aktif, sehingga tak jarang ada benturan yang membuat salah satu dari mereka menangis (tapi ya lalu rukun lagi dalam waktu amat singkat).

Punya dua balita di rumah semakin membuat saya haus akan ilmu, khususnya terkait kesehatan dan pendidikan anak. Selain menyimak sharing di grup-grup dunia maya yang membantu memperluas cakrawala wawasan, membaca buku merupakan cara saya untuk memuaskan dahaga, yang tentunya kemudian menjadi referensi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penyesuaian di sana-sini.

Pertanyaan di kepala saya terwakili oleh kalimat pada kata pengantar buku Serunya Dunia Anak Usia Dini (SDAUD): Apa istimewanya buku ini? Ya, buku-buku bertemakan parenting memang banyak tersedia, dengan gaya dan prinsip masing-masing. Buku SDAUD yang disusun oleh tim admin grup Preschool Online ini menurut saya menjadi semacam panduan dasar yang bersahabat dan cukup lengkap karena tidak secara langsung memperkenalkan gaya parenting tertentu, melainkan menyajikan dasar-dasar mengenai apa saja aspek yang perlu menjadi perhatian orangtua. Tak ketinggalan disertai pula dengan testimoni yang menunjukkan bagaimana kiat-kiat yang tertulis dalam buku tersebut diterapkan. Inilah yang saya maksud dengan ‘bersahabat’, karena pemaparan penjelasan ‘saja’ bagi sebagian orang bisa dianggap sebagai ‘teori’ (ah, jadi ingat pengin nulis seputar teori vs hasil riset vs pengalaman) yang kurang membumi. Penyampaiannya juga lumayan ringan, padat berisi sehingga tidak terlalu tebal, praktis dibawa-bawa. Hanya saja, kalau boleh memberi masukan, mungkin perlu sedikit perbaikan editing jika nanti (moga-moga) buku ini dicetak ulang.

Bagian favorit saya dalam buku SDAUD adalah bagaimana orangtua perlu mempersiapkan keterampilan hidup alias life skills anak. Di situ disebutkan beberapa kemampuan yang hendaknya dimiliki anak sesuai usia, yang sepertinya tidak langsung berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi akan bermanfaat sebagai landasan ketangguhan dan kelincahannya berperilaku serta menyelesaikan persoalan. Poin demi poinnya terkesan remeh, tetapi penting. Penguasaan akan keterampilan hidup ini juga akan mewarnai karakter anak, bahkan bisa berpengaruh ke kehidupannya sebagai orang dewasa kelak.

Oh ya, sampul buku SDAUD dengan warna ngejreng (saya ikut memilih cover versi yang ini saat dilakukan pemungutan suara) juga menjadi keunggulan tersendiri karena menarik perhatian. Pernah suatu pagi Fahira terbangun lebih dulu daripada saya, dan ketika membuka mata saya dapati ia sedang membolak-balik buku ini :).

Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab, PR bagi Orangtua

Sabtu lalu (2 April 2016) kami sekeluarga berkesempatan datang ke seminar yang diadakan oleh The Urban Mama di Kuningan City. Tema besarnya adalah “Raising Children Who Think for Themselves”. Alhamdulillah nambah wawasan lagi. Sebenarnya ini bukan pertama kali kami mengikuti acara di mana Bu Elly menjadi salah satu pembicara, tapi justru karena itu kami ingin menimba ilmu lebih banyak lagi. Ditambah lagi, saya juga belakangan ini sering mencermati tulisan kang Adhitya Mulya terkait parenting baik dalam blognya maupun ketika diangkat dalam bentuk buku (nonfiksi terbarunya berjudul Parent’s Stories).

Berikut resumenya ya…

Sesi pertama #TUMModernMama bersama Adhitya Mulya, tema “Helicopter Parenting.

IMG_20160402_085620

Helicopter parenting: orangtua hadir terlalu dominan dalam kehidupan anaknya, dan ini bisa berbahaya bagi perkembangan anak.

Bekali anak-anak dengan rules/peraturan sebelum ‘dilepas’ main di playground misalnya, daripada terus-menerus diawasi. Yang sering kita lakukan: anak menemukan masalah/konflik, orangtua menyelesaikan, masalah selesai.

Anak perlu dipersiapkan untuk punya life skills, bukan sekadar kita siapkan semua kebutuhannya. Investasilah untuk membantunya semakin terampil.
Anak juga perlu belajar menghadapi kekalahan dan kesedihan. Jangan sampai anak merasa dirinya selalu benar, hingga ‘menyalahkan dunia’ atas apa yang ia dapatkan. Bahkan sampai di dunia kerja ketika harus berhadapan dengan ketidaknyamanan terkait atasan atau kolega.

Ajari anak menyelesaikan masalah yang ia hadapi (tidak langsung turun tangan/helicopter parenting). Tapi jika sudah terkait kekerasan, kriminal, orangtua waras pastilah perlu turun tangan (bukan helicopter parenting lagi namanya, tapi waras parenting).

Anak butuh konsistensi dalam pengajaran, jadi jika menggunakan jasa ART kita juga perlu ‘invest‘ agar bisa seiring sejalan.

Parents know best? Do we? Really?
Pemahaman terkait values dan akhlak umumnya abadi, nilai-nilai tersebut akan terus terpakai dari dulu hingga sekarang. Untuk hal ini orangtua boleh dominan karena ada faktor pengalaman juga. Namun, ada pula yang kita mungkin tak dapat ikuti, misalnya future challenges terkait bidang pekerjaan. 40% (jenis) pekerjaan yang ada saat ini belum ada 30 tahun yang lalu. Di sinilah kita perlu mempersiapkan anak, bukan menjejalinya dengan doktrin harus kerja ini atau itu.

Terimalah bahwa anak kita tidak sempurna. Dan…kita sebagai orangtua juga tidak sempurna. Kalau ada ‘sesuatu’ yang terjadi, kita perlu evaluasi. Mungkin, memang gaya parenting kita yang kurang pas, ada keterampilan parenting yang harus kita perbaiki.

Sesi kedua #TUMModernMama dengan Bunda Elly Risman, “Kiat Membantu Anak Mandiri”.

Yang hilang yang paling esensial dalam pengasuhan sekarang adalah dialog, mendialogkan dengan anak. Karena kini kita serba tergesa-gesa bahkan menggesa-gesakan diri. Yang juga hilang adalah common sense.

Masalah kemandirian anak: meletakkan barang tidak pada tempatnya, pengaturan waktu antara main, belajar, ibadah, belum mengerjakan tugas rumah…. Ini ada di kuesioner yang dibagikan sebelum sesi kedua dimulai, judulnya masalah, tapi sebetulnya ini tantangan (see…secara common sense kita begitu terburu-buru, padahal usia anak pengisi kuesioner kebanyakan 1-3 tahun).

Mandiri: dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Dapat memecahkan masalah sendiri.

IMG_20160402_102512

Karakteristik seorang yang mandiri:
+ Sikap mental baik: mempunyai inisiatif, memiliki keberanian, percaya diri, memiliki rasa tanggung jawab.
+ Menikmati proses, ulet, berani bersaing, yakin bahwa dia mampu menemukan cara tertentu untuk mencapai tujuan, merasa puas atas upayanya.

Kemandirian: need of autonomy (ada kebutuhan dalam dirinya sendiri) dan harus sesuai dengan tugas perkembangan.

Anak harus belajar berlatih:
– Menolong diri sendiri
– Memilih kemungkinan/alternatif
– Membuat keputusan
– Bertindak sesuai kebutuhannya secara mandiri
– Bertanggung jawab terhadap tindakan tersebut.

Gaya pengasuhan: otoriter vs membolehkan vs otoritatif.
Gaya helikopter: terlalu melindungi, selalu turun tangan membantu, ortu tidak tegaan.
Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan oleh orangtua.

Orangtua harus punya writing skill yang baik. Lazy mind yang sudah terbentuk di masyarakat (jadi permisif, terlalu toleran, kontrol sosial tidak berjalan) juga perlu dibenahi. Salah satu dampak lazy mind ini: korupsi di berbagai bidang.

Mengapa anak kita perlu mandiri?
a. Perubahan sangat cepat yang terjadi di masyarakat karena teknologi (Hi-Tech mengharuskan anak mampu melakukan penyesuaian diri terus menerus. Tidak cukup hanya patuh. Anak perlu memiliki karakter utama untuk mengarahkannya pada perilaku mandiri dan bertanggung jawab).
b. Masyarakat lebih beragam (demokrasi dan reformasi masuk rumah, anak2 minta diberlakukan dengan respek, masyarakat semakin terbuka terhadap suku dan bangsa lain, mulai beragam dan berubah).
c. Nasional–>internasional lingkungan semakin berbahaya
d. Perubahan besar dalam keluarga.
Perubahan dalam sistem keluarga:
– Keluarga besar menjadi keluarga batih.
– Ayah mencari uang dan ibu menjaga anak –> berubah total
– Anak tinggal dengan nenek/pembantu/keluarga tiri/TPA.
– Perpisahan.

Keluarga, pernikahan butuh survive. Perjanjian agung/mitsaqan ghalidza yang harus kokoh. Urusan tempat tidur perlu diperhatikan untuk keharmonisan keluarga dan rumah tangga.

Masa ibu bekerja optimal jika: sebelum melahirkan s.d. bungsu 8th.
There’s no superwoman (Sally Conway). Ada pekerjaan, anak, suami, hobi/waktu untuk diri..bagaimana membagi waktunya? Selamatkah anak-anak kita, perkawinan kita?

Anak ditinggal: kelengketan/attachment berkurang (oxytocin/hormon kasih sayang vs. cortisol/hormon kecemasan), separation & stranger anxiety, kemandirian dan tanggung jawab, wellbeing.

Nenek tidak didesain untuk mengasuh cucu: usia/fisik, hormonal, emosi, ‘mau berbekal untuk pulang’. Minta tolong boleh, tapi bukan untuk sehari-hari/jangka panjang.

Ayah tidak boleh kehilangan qowwam-nya.

Hambatan kemandirian: MEMANJAKAN.
Bangunin, setirin, memberi uang tiap saat diminta, membiarkan anak bicara kurang hormat, kontrol penggunaan media lemah, PR-nya adalah urusan mama, makan depan TV, ortu/pembantu yang berbenah, tidak punya tanggung jawab, menyelamatkannya jika bermasalah dengan perilaku buruk.

Belajar beberes, masak itu memang gampang. Tapi kalau ditunda nanti-nanti pembelajarannya, bagaimana pelajaran tanggung jawabnya? Bagaimana perjalanan prosesnya (mis. salah-salah dulu dst.)?

Anak tidak mengembangkan kualitas dasar untuk zaman modern, ortu dan anak sama-sama frustrasi. Banyak yang harus diselesaikan. Bayangkan bencana yang akan dihadapi.

Berapa price tag anak saya? (Mario Teguh)
Punya barang yang sangaaat mahal, taruhnya pasti dalam rumah.

Yang harus kita lakukan: BERUBAH.

Sasaran Tembak:
– Karakter (beriman, berakhlak mulia, berani dan bersemangat, berpikir kritis, berharga, mandiri dan bertanggung jawab, respek).
– Keterampilan (beribadah yang baik, benar dan anger management, daya juang, memecahkan masalah dan mengambil keputusan, mempertahankan diri, tidak tergantung, bekerja sama/anggota tim).

Faktor penentu kemandirian: kuncinya adalah ortu dan guru.
1. Kesadaran: anak bukan milik kita
2. Merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
3. Menentukan gaya pengasuhan
4. Dual parenting
5. Memahami prinsip-prinsip dan kiat membuat anak mandiri dan bertanggung jawab.
6. Pembiasaan
7. Evaluasi.

Tujuan pengasuhan:
1. Hamba Allah yang bertaqwa
2. Calon suami/istri yang baik
3. Calon ayah/ibu yang baik
4. Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian dalam bidang tertentu sehingga bisa mencari nafkah
5. Pendidik istri dan anak
6. Penanggung jawab keluarga
7. Bermanfaat bagi orang lain atau Pendakwah.

Mandiri sebagai kebutuhan; faktor penggerak kemandirian:
-Dorongan membuat “sesuatu terjadi”
-Keinginan semua manusia untuk merasa MAMPU/cakap dan BISA
-Menunjukkan kemampuan Berpikir, Memilih, dan Mengambil Keputusan (BMM).

8 Langkah membantu anak mandiri:
1. Sadar apa akibatnya kalau anak tidak mandiri
2. Stop memanjakan – minta maaf – jelaskan.
3. Ortu menjadi supervisor kemandirian.
Supervisor Kemandirian:
– Anak butuh mengekspresikan diri.
– Gunakan kalimat bertanya
– Rangsang anak untuk mencoba dan ingin tahu.
– Sediakan kesempatan yang sesuai dengan usia
– Berikan dalam dosis yang besar: cinta yang tulus, dukungan dan dorongan untuk eksplorasi dan mengembangkan rasa ingin tahu itu.
– Biarkan anak yang berpikir, memilih, dan membuat keputusan -BMM
– Izinkan anak mencicipi kecewa
– Ortu siap dengan JPE (jaringan pengaman emosi)
– Ajarkan life skill 
– Kenali usaha dan keberhasilannya.
4. Batasan: kesehatan, keamanan, kesejahteraan diri/jiwa
5. Kenalkan konsekuensi alami dan logis.
Perkenalkan konsekuensi alami yang terjadi secara alami bila kita melakukan sesuatu, dan konsekuensi logis apabila kita tidak ikut campur.
6. Pembiasaan (otak anak memerlukan pengulangan-pengulangan)
7. TEGA (agar anak memiliki kesempatan belajar) — konsisten
8. Evaluasi

Anak bukan milik kita:
– Anak-anakmu bukan pilihanmu, mereka menjadi anak-anakmu bukan karena keinginan mereka, tetapi karena takdir Allah (QS 28:68, QS 42:49-50)
– Karena apa yang Allah takdirkan untukmu, maka itulah amanah yang harus ditunaikan (QS 8:27-28)

Catatan, khususnya untuk para ayah:
– Terima anak apa adanya
– Hargai apa yg mereka usahakan
– Seringlah memuji perbuatannya, bukan orangnya.

Mengasuh berdua (dual parenting)
Menjadi orangtua = partnership –> spirit bekerja sama. Ayah penanggung jawab utama.
Diperlukan: niat baik karena-Nya, kejujuran, keterbukaan, harapan yang tinggi akan hubungan yang menyenangkan dan bahagia.

Bersedia mengambil risiko, berani melewati batas
Anak-anak: ingin menemukan campuran indah penglihatan, bunyi, dan kegiatan. Contoh, ini sendok kalau dilempar gimana ya…satu sendok begini kalau dua sendok gimana ya…lama-lama dilemparin semua itu sendok garpu (dan ortunya ngomel deh :p).
Remaja: ingin menemukan campuran indah perasaan, kegiatan, dan risiko.

Pernikahan harus dipelihara. Jangan selalu menjadi ayah dan ibu, harus luangkan waktu untuk menjadi suami dan istri.

Tambahan pesan dari bu Elly: Kalian boleh saja tidak setuju, saya hanya menyampaikan, kalau tidak berkenan ya ibu mohon maaf.

Di akhir sesi, peserta boleh menitipkan pertanyaan lewat selembar kertas. Beberapa yang menarik adalah:
– si balita tidak mau minta maaf dan malah ngambek: dekati. Kita juga kalau marah masih suka diem-dieman, kan?
– penanya adalah ibu tiri, pola asuh anak saat bersama ibu kandungnya di akhir pekan serba-permisif, beda dengan yang diterapkan ayah dan ibu tirinya: minta suami bicara, kalau perlu ibu-ibu ngobrol berdua, jelaskan tujuannya untuk kebaikan.
– mengatur me time: baiknya ibu punya me time minimal sekali dalam sebulan, @2 jam. Titipkan anak pada orang yang bisa dipercaya. Di sini ada cerita menarik dari MC yang mengisahkan bahwa ia dan suami tidak pernah merasa ada yang salah sampai pada suatu hari anak-anak dipegang oleh tantenya saat jalan-jalan, dan mereka berdua jalannya masing-masing. Sampai ditegur oleh saudara, itu kenapa gak digandeng atau gimana gitu? Ternyata kesibukan (suami sedang mengambil S2 double degree yang dikerjakan sepulang kantor, ada asisten RT hanya untuk cuci gosok, istri agak kewalahan dengan dua anak yang selalu minta perhatian.) dan keterbiasaan membuat pasangan berjarak…perlu dibicarakan dan perlu diambil tindakan mis. kencan berdua.
– anak terlalu ‘dewasa’/empati/mandiri misalnya dalam mengasuh adik, ortu juga khawatir: arahkan dan kembangkan.
– jika bepergian dengan anak laki-laki dan ayah tidak ikut, ke toiletnya bagaimana? Mengingat ada kasus-kasus pencabulan di toilet: ajarkan anak berseru, kalau perlu kasih tanda misal lagi cuci tangan teriaklah lagi cuci tangan. Jangan solusinya dengan ke toilet wanita agar bisa ditemani ibunya.
(Nanti ditambah lagi ya kalau ingat..di bagian ini gak nyatat, lagi gendong Fahira yang tertidur soalnya :D).

IMG_20160402_121900 IMG_20160402_115707 IMG_20160402_115240

Oh iya, goodie bag-nya cakep-cakep nih… ada Ikea Frakta lho. Dan enaknya lagi, ada playground seru dari Bambino Piccolo yang bikin anak-anak bisa asyik main sambil ortunya menyimak :).

IMG_20160402_100730 IMG_20160402_161248 IMG_20160402_161049

http://theurbanmama.com/events/tummodernmama-raising-children-who-think-for-themselves.html

Pengajian Parenting dengan Ustadz Bendri Jaisyurrohman

Resume Kajian parenting Ustadz Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) di kantor, 20 November 2015.

Ayah bunda harus berbagi untuk pengasuhan: ayah yang menetapkan dan menegakkan aturan, ibu yang menenteramkan. Jangan kebalik, ibu yang ngomel2 sampai stres sendiri, anak bingung ngadu sama siapa, ayah pulang eh malah permisif banget sama apa yang udah dilarang2 sama ibu seharian.

Introspeksi: seringkali kita bisa lebih sabar ramah toleran sama orang lain (rekan kerja, tetangga dst) tapi sama keluarga sendiri mis.adik, anak yang harusnya lebih berhak malah seringnya lebih cepat esmosi 😭😭.

Ada hak istri untuk didengar oleh suaminya, kalau nggak ada waktu atau merasa nggak jago menyampaikan, belajar nlis….

Di era cyber seperti ini ortu wajib trampil menjebol privacy anak.
Ibu perlu punya daya pikat agar anak merindukan saatnya pulang.
Itu dua skill yang perlu dimiliki ibu ya… yang ketiga adalaaah…skill masak
Kalau pijit bisa sekalian jadi sarana ngobrol dari hati ke hati.
Skill keempat…skill mendengar. Karena kalau ngomong perempuan udah gak perlu skill😂😂
Kalau perempuan udah ngomong pendek2 artinya ada yang salah, kalau puanjang lebar artinya lagi hepi😄😄
Anak lagi butuh didengerin jangan langsung dinasehatin. Pelajari teknik cicak, “Ooh gitu ya, Nak, ckckck…”
Penutup: usahakan ketika anak ditanya rumah di mana, anak bisa jawab rumahnya adalah di mana ibu berada.
Kalau lagi LDR-an hendaknya suami nanya dulu kabar istri baru kabar anak.
Ada yang nanya pembagian tugas suami istri, jawabnya tugas suami tentukan visi misi (Ibrahim as), evaluasi (Ya’qub as). Ayah yang akan mendampingi anak menghadapi tantangan dunia luar, memagari. Ibu yang membuat anak selalu pengin pulang, menenteramkan.

 

Versi teman (credit to Tri S)
Tarbiyatul Aulad fil Islam
QS. An-Nisa’: Ayat 9 – وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Saat ini banyak kita temui anak-anak yang usia psikologisnya adalah setengah dari usianya. Misal anak SMA yang usianya 16 psikologisnya masih seperti anak usia 8 tahun.
Zaid bin Tsabit ketika berusia 10 tahun membawa pedang ayahnya yg bahkan tingginya lebih dari tinggi badannya. Dia mendengar hadist Rasulullah bahwa amal yang afdhol adalah jihad fi sabilillah.
Aset yang kita punya seharusnya diinvestasikan ke investasi masa depan. Yakni memberikan pendidikan terbaik utk anak2, memilihkan guru terbaik untuk anak2.

Ibu yang hamil mempunyai 3 hak:
Makan enak
Minum enak
Bahagia
Sebagaimana dalam QS. Maryam: Ayat 26 – فَكُلِىْ وَاشْرَبِىْ وَقَرِّىْ عَيْنًا‌  ۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًا  ۙ فَقُوْلِىْۤ اِنِّىْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا  ‌ۚ
“maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”.”
Kehamilan yg tidak bahagia akan menyebabkan gangguan perkembangan otak pada anak.
Kata Rasulullah ketika ada sahabat yg memarahi istrinya ketika hamil maka dia mendzolimi 2 makhluk. Yakni ibu dan anak yang dikandungnya.

Peran ayah di rumah adalah membuat, menegakkan dan mencontohkan penegakan aturan. Sedangkan peran ibu adalah memberi rasa nyaman.

4 manajemen waktu seorang ibu:
1. Me time-di mana tidak ada diganggu siapa pun dan apa pun
2. Couple time-waktu berdua dengan pasangan
3. Friendly time
4. Social time
Skill agar emosinya positif: biasakan menulis.
Diary…agar bisa menularkan emosi. Ini utk mengantisipasi suami yg tidak peka.
Jebol privasi anak. Jangan sampai anak2 punya privasi dari kita.
Skill agar emosinya positif:
1. biasakan menulis.
2. Skill memasak (agar anak kangen dengan kita) 😁
3. Memijit 😘
Ketika memijit maka ibu menyentuh 3 area pribadi anak. Perut, punggung, telapak tangan. Dan area pribadi yg disentuh ibu akan membuat anak lancar bercerita.
4. Mendengar
Sabar menahan lisan ketika anak bercerita. Gunakan tehnik cicek…ketika anak bercerita ckckckc…ckckckc…..
Tugas ayah:
1. Menjadi suami yg hebat
2. Penetu visi keluarga
3. Melakukan evaluasi thd perkembangan keluarga
Krn nasab anak adalah pada bapaknya maka Allah akan dihisab mengenai anaknya.
4. Menegakkan aturan
Misal aturan tidk boleh liat tv habis maghrib ayah yg buat aturan dan menegakkan (fungsi kepala sekolah dan ibu sebagai madrosatul ula).

Pembagian tugas: ayah membimbing danenguatkan agar anak kuat mnghadapi dunia luar dan ibu yg membuat anak selalu rindu utk pulang.