Meningkatkan Kualitas Diri lewat Bacaan untuk #BahagiadiRumah

Ketika membaca tabloid NOVA beberapa minggu yang lalu, sebidang gambar dengan ilustrasi meriah warna-warni menarik perhatian saya. Wah, ternyata Tabloid NOVA berulang tahun yang ke-28! img_20160531_074532.jpgMasih tuaan saya dong, ya, hahaha. Tahun ini tabloid NOVA mengambil istilah NOVAVERSARY untuk ulang tahunnya.

Bertahan di dunia media cetak di tengah derasnya arus informasi digital masa kini, yang saya tahu sebagai awam, tidaklah mudah. Tabloid NOVA saya rasa merupakan salah satu contoh sukses, bukan hanya dalam menerbitkan edisi cetak, tetapi juga merangkul komunitas lewat acara-acara menarik yang digelar. Ada beragam komunitas dengan benang merah yang sama, yaitu menggerakkan perempuan untuk lebih bahagia lewat berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, berbagi/sosial, berwirausaha, menulis, dan sebagainya. screenshot_2016-05-31-07-56-27.pngBerbagai media sosial juga dioptimalkan manfaatnya untuk meningkatkan keterikatan pembaca maupun memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya. Tak hanya lewat website, tabloid NOVA juga hadir lewat edisi digital yang bisa diunduh agar lebih praktis dibaca di mana dan kapan saja.

Dulu zaman sekolah saya menganggap bahwa tabloid NOVA itu bacaan ibu-ibu, tidak terasa saya sekarang sudah menyandang status ibu-ibu muda juga. Sejak awal saya mengenal tabloid NOVA, tabloid ini saya nilai konsisten menyajikan konten informatif mulai dari masakan, mode, info dunia hiburan, kecantikan, peristiwa terkini yang dikupas tuntas, konsultasi psikologi, wawasan seputar dunia pendidikan, dan seterusnya. Bisa dibilang komplet untuk meng-update diri tiap perempuan. Peningkatan kualitas diri lewat bacaan ini tidak bisa dipandang remeh karena meski ‘hanya’ lewat teks, perempuan bisa melakukan sesuatu yang bermakna.

ss nova resepTidak percaya? Coba tengok resep-resep di dalamnya. Ada resep praktis yang mudah dipraktikkan untuk sehari-hari, ada pula resep yang menantang untuk dicoba di kesempatan istimewa. Mau mode pakaian terbaru berikut padu padan koleksi dasar, ada. Perlu tips berdandan agar tampil prima, tinggal buka juga. Butuh inspirasi penataan rumah terkini, artikel dengan foto yang jelas untuk ditiru pun tersedia. Berita terbaru untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan menyemangati diri juga sayang dilewatkan. Pembaca bisa bercermin dari rubrik-rubrik psikologi maupun pengembangan diri. screenshot_2016-05-31-07-54-51.pngCermat memantau kesehatan keluarga berawal dari rajin mempelajari artikel terkait dari sumber yang dapat diandalkan seperti tabloid NOVA (psst, dokumentasi yang jempolan di web tabloid NOVA membuat saya mudah menelusuri aneka bahasan kesehatan keluarga dengan rujukan yang tepercaya. Sering juga saya kirimkan link dari web tabloid NOVA ke rekan atau keluarga yang memerlukan.). Pengetahuan yang luas dapat menjadi bekal agar perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mengingat perempuan punya pengaruh besar di keluarganya, kenyamanan yang dirasakan bisa berbuah kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Rumah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan untuk pulang, bercengrama dalam kehangatannya selalu dinanti-nantikan.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut saya #BahagiadiRumah itu sederhana sekaligus mewah, tergantung bagaimana memandangnya. Sederhana karena bisa dimulai dari hal-hal kecil, saat ini juga. Mewah karena momen-momennya…yah, priceless. Rasa syukur juga amat penting. Saya jadi teringat petuah salah satu mantan atasan di kantor, bahwa bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak perlu menunggu orang lain yang membuat kita bahagia. Dari sudut pandang saya selaku perempuan bekerja, tentu adakalanya kegamangan datang menyapa. Tulisan yang menyatakan nilai plus bagi anak-anak jika ibunya bekerja adalah salah satu yang jadi penyemangat. Tak hanya cukup di-doping semangat, saya juga butuh tips dan panduan seperti dimuat dalam artikel Pesan untuk Ibu Bekerja ini. Tentunya kebahagiaan bukan monopoli ibu bekerja, ibu rumah tangga juga berhak berbahagia dan bisa mewujudkannya di tengah kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Dan sekali lagi, kalau perempuan sudah bahagia, akan lebih mudah baginya untuk menyebarkan energi positif ke seisi rumah.

dsc_5981.jpg

Sedekah Senyum Yang Bikin Tersenyum

Tulis, kirim, lupakan, Demikian saran dari beberapa penulis senior saat ditanya mengenai tips menulis. Maksudnya jelas, agar lebih produktif menulis dan tidak terlalu terpaku pada penantian kapan naskah terbit atau dimuat (walaupun ada juga teman yang mengingatkan perlunya pengarsipan yang baik).

Dulu, saat masih rajin-rajinnya kirim tulisan untuk lomba ini-itu, anjuran tersebut sedikit saya abaikan. Karena ya namanya lomba, biasanya ada tenggat yang jelas berikut tanggal kapan naskah yang lolos diumumkan. Mantengin laman atau akun facebook penyelenggara pada hari yang sudah ditentukan untuk pengumuman rasanya seru sekali.

Nah, kalau tulisan yang bukan untuk lomba dan bukan permintaan khusus juga, memang boro-boro mau dipantau. Biasanya sih media atau penerbit memberi kabar jika memang layak terbit, bahkan ada yang berbaik hati (sakit sih, tapi kan jadi¬† jelas nasibnya :D) mengirimkan pemberitahuan ketika naskah tersebut dianggap belum layak. Kalau sudah begini, saran ‘lupakan’¬† jadi sangat cocok. Daripada kelamaan harap-harap cemas, kan lebih baik waktunya dipakai untuk membuat tulisan lain.

Awal pekan ini, saya sedang hendak mengambil surat ke ruangan sebelah ketika mata saya tertumbuk pada sebuah buku di meja teman. Judulnya Sedekah Senyum, dan wajah yang terpampang di sampul depan sangat familiar. Wah, buku baru Mbak Asma Nadia, ya?

Saya ambil buku tersebut, balik ke sampul belakang, cermati nama-namanya… dan wah, kok ada nama Leila? Tertulis paling belakang dan hanya nama depan saja, jadi tidak yakin juga apa benar itu nama saya. Begitu saya buka-buka halaman bagian dalam, alhamdulillah, ternyata memang sayalah yang dimaksud.

Tidak tanggung-tanggung, ada lima tulisan saya di situ. Ada pula satu cerita yang bertuliskan nama saya, tetapi isinya sepertinya ditulis oleh mbak Asma sendiri. Mungkin penyuntingnya salah memasangkan nama. Yang juga menyenangkan adalah membaca deretan nama-nama penulis lain. Wow, saya sebuku dengan mbak Rini Nurul Badariah, mbak Yudith Fabiola, mbak Dian Ibung, mbak Beby Haryanti Dewi, mbak Dewi Cendika, mas Ali Muakhir, mbak Indah IP, dan tentunya mbak Asma sendiri!

Tengok tanggal dan tahun terbitnya, ternyata Maret lalu. Aduh, saya kok bisa ketinggalan berita selama itu, ya. Menilik tanggal di arsip surel, saya mengirim tulisan ini memang sudah lama sekali, tahun 2008. Saya ingat betul, saat itu bela-belain ke warnet ketika sedang liburan di Solo, malam-malam diantar adik.

Saya pun mencoba melacak perjalanan buku ini di arsip milis Pembaca Asma Nadia. Ternyata sebetulnya di bulan Februari sudah ada semacam pengumuman bahwa buku tersebut akan diterbitkan. Di facebook pun beberapa kali buku ini pernah dipromosikan, termasuk oleh sejumlah kontributor, tetapi rupanya saya melewatkannya (saking fokusnya sibuk di bidang lain). Bahkan di Islamic Book Fair kemarin ada bedah bukunya, lho, tapi beda hari dengan jadwal kami ke sana waktu itu.

Membaca lagi cerita-cerita di buku terbitan Buku Republika ini memang bikin senyum-senyum sendiri. Seperti sudah saya ungkapkan di atas, tulisan-tulisan dalam buku itu saya ketik tahun 2008. Masih berstatus pengantin baru. Baru dua tahun, maksudnya. Lagi lucu-lucunya, kan? Masih perlu banyak adaptasi, banyak ngambek-ngambeknya (bukan berarti sekarang jadi jarang :D), dan sedang semangat-semangatnya ngeblog di Multiply. Makanya jadi banyak stok cerita untuk dikirimkan ke moderator milis Pembaca Asma Nadia yang waktu itu bikin pemberitahuan butuh naskah lucu yang banyak.

Alhamdulillah, berarti tahun ini ada tulisan saya yang terbit, kendati ditulisnya sudah bertahun-tahun yang lalu. Sampai-sampai sudah lupa beneran. Oya, proses buku ini menjadi lama kemungkinan karena arsip yang terselip, seperti diakui moderator grup, karena waktu itu ada urusan keluarga yang penting. Saya pun tidak mendapatkan informasi sama sekali selain karena sudah jarang sekali menengok milis, juga barangkali karena ini proyek amal. Jadi 100% royalti disumbangkan. Kalau royalti diberikan untuk penulis, kan biasanya akan ada permintaan nomor rekening untuk mentransfernya.

Nah, tertarik untuk ikutan senyum-senyum sambil beramal? Bisa beli di toko buku online terdekat, ya….

Update:

Lewat buku ini juga, untuk pertama kalinya saya merasakan dapat “surat penggemar”. Pakai facebook, sih, bukan surat beneran. Itu pun salah sasaran, sebenarnya, karena ternyata kemudian adik lucu yang meng-inbox saya ini menyebut-nyebut nama Caca sebagai tokoh yang bikin ia gemas saat membaca buku Sedekah Senyum. Caca adalah nama panggilan putri sulung Mbak Asma Nadia, yang memang salah satu ceritanya entah bagaimana dimuat dengan nama saya dalam buku itu.