Heni Sri Sundani: Saya Percaya Pendidikan Bisa Memutus Mata Rantai Kemiskinan (Bagian 2)

Apa yang Heni dan Aditia upayakan tak hanya berhenti sampai di situ. “Yang banyak didengar orang adalah program pendidikan, sebetulnya kita punya program lain seperti kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan social emergency,” sebut Heni. Ya, melihat di kampung yang didatangi banyak terdapat masalah sosial maupun kesehatan, suami istri ini meneruskan gerakan mereka dalam komunitas AgroEdu Jampang, diambil dari nama kampung tempat gerakan tersebut bermula. Komunitas ini berkembang pula dengan merambah program pemberdayaan ekonomi.

Dana bantuan diperoleh Heni dari para donatur, kebanyakan donatur personal tetapi ada juga dari CSR perusahaan-perusahaan besar. “Setelah 4 tahun ini, alhamdulillah, penerima manfaat kita sudah ada dari Aceh hingga Papua,” jelas Heni. Jejaring komunitasnya meluas bukan dengan sistem membuka cabang, melainkan kembali ke konsep memberdayakan masyarakat. Apa yang bisa dimanfaatkan di sana, apa yang bisa dilakukan oleh relawan setempat, itulah yang dikerjakan.

Continue reading

Heni Sri Sundani: Saya Percaya Pendidikan Bisa Memutus Mata Rantai Kemiskinan (Bagian 1)

Pertama kali saya bertemu dengan mbak Heni adalah ketika acara nonton bareng film Kartini yang diadakan oleh majalah Femina dan AXA Mandiri. Mbak Heni menjadi satu dari sejumlah perempuan inspiratif yang secara khusus diundang untuk nonton bareng dan mengisi sesi bincang-bincang setelahnya (selain juga menjawab pertanyaan di sesi live tweet Femina dalam rangka Hari Kartini beberapa hari sebelum acara). Kami hanya sempat mengobrol sekilas di ruang tunggu CGV Grand Indonesia, tempat acara tersebut diadakan. Saya tertarik untuk mewawancarai mbak Heni lebih jauh mengenai kiprahnya untuk mengisi rubrik Persona di majalah internal kantor, dan alhamdulillah ‘proposal’ saya dikabulkan oleh atasan. Jadilah saya berangkat bersama rekan untuk bertemu langsung dengan mbak Heni di rumahnya di Bogor.

Nama Jaladara yang digunakan sebagai nama pena oleh mbak Heni terdengar tidak asing di telinga. Setelah buka-buka arsip dan membaca CV mbak Heni selengkapnya, barulah saya ingat bahwa kami pernah sama-sama aktif mengikuti audisi atau lomba kepenulisan pada suatu masa. Kalau menyimak daftar nama peserta yang lolos atau menang, acapkali tertera nama mbak Heni. Jadi pertemuan waktu itu bak kopdaran saja. Tulisan kami berdua belum pernah lolos barengan dalam satu buku antologi sih, dan mbak Heni sendiri sudah bergerak lebih jauh daripada sekadar jadi peserta, yaitu dengan berinisiatif menjadi koordinator tulisan tema tertentu. 

Berikut adalah hasil bincang-bincang kami (yang dimuat di majalah adalah versi pendeknya, dan ini pun belum semuanya, sih).

======================================================================================

Pengalaman masa kecil yang penuh perjuangan untuk dapat mengenyam pendidikan tak membuat Heni Sri Sundani (30 tahun) jera. Ia justru semakin semangat menuntut ilmu, dan berkeinginan turut memberi sumbangsih untuk dunia pendidikan.

“Berangkat dari cita-cita pribadi, sejak kecil saya ingin jadi guru. Waktu SD, saya pulang pergi dua jam, melewati sawah dan perkebunan karet. Sudah jauh-jauh, tapi ternyata gurunya kadang-kadang tidak masuk. Belum lagi kalau hujan, padahal seragam dan sepatu cuma sepasang,” kenang Heni. Jika kehujanan, ia harus mengangin-anginkan seragam, tas, sepatu, dan isinya di atas perapian tungku kayu di rumah.

Ditemui di perpustakaan rumahnya yang terbuka untuk umum di Desa Lemah Duhur, Caringin, Bogor, perempuan yang masuk dalam daftar 30 Under 30 kategori Social Entrepreneur Asia majalah Forbes International tahun 2016 ini begitu bersemangat mengisahkan kegiatannya di bidang pendidikan dan sosial. Sepanjang perbincangan, anak-anak dari kampung sekitar berdatangan untuk membaca buku atau bermain. Bukan hanya menyediakan perpustakaan, rumahnya juga terbuka untuk kegiatan belajar bersama bagi anak-anak maupun ibu-ibu, dan yang baru saja diresmikan adalah layanan kesehatan.

Continue reading