Menjadi Ibu Bisa Meningkatkan Nilai TOEFL-mu

Mei lalu, saya berkesempatan mengikuti Test of English as a Foreign Language (TOEFL) Preparation Course yang diadakan oleh Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (LBI FIB UI). Waktu dapat informasi bahwa saya termasuk peserta yang dipanggil untuk kursus dan nantinya bisa mengikuti tes dengan biaya dari instansi, rasanya senang sekali. Saya sebetulnya memang senang belajar bahasa, walaupun semangat itu masih sering dikalahkan oleh kemalasan dengan dalih minim sarana. Beberapa tahun yang lalu sempat ada tawaran diklat serupa, tapi kami yang saat itu masih bertugas di Pangkalpinang tidak mendaftar karena sedang ujian di kampus. Jadi begitu baca surat panggilan kursus ini, seperti mimpi jadi nyata.

Belajar sesuatu yang disukai, gratis (dapat uang saku malah), tak mengambil waktu bersama keluarga (karena kursus dilaksanakan di jam kerja), tidak perlu berjauhan dengan Fathia (mikir-mikir juga seandainya kantor saya di kota lain dan harus meninggalkan Fathia 2 minggu), juga bisa ambil jeda sebentar dari kesibukan kantor (memang saya ini bukan pegawai teladan :p).

Beberapa hari sebelum panggilan kursus diterbitkan, sempat ada telepon dari panitia penyelenggara yang menanyakan apakah saya pernah mengikuti TOEFL dan berapa skornya. Berhubung TOEFL prediction yang terakhir saya ikuti adalah di tahun kedua kuliah alias sudah 10 tahun yang lalu, itu pun angkanya turun cukup lumayan dari TOEFL prediction semasa SMA, jadi saya berasumsi nilai waktu itu sudah tidaklah valid untuk sekarang. Berdasarkan jawaban saya yang ‘menggantung’ itu, ternyata saya dimasukkan ke kelas TOEFL dasar ketika kursus. Sekitar 70 orang peserta kursus ini memang dibagi ke dalam kelas-kelas dasar, madya, dan lanjutan.

Sejak pretest yang dilakukan di hari pertama kursus, saya sudah diingatkan kembali akan kelemahan terbesar saya: konsentrasi. Digabungkan dengan bawaan saya yang ‘susah move on‘, otomatis saya keteteran ketika harus menjawab soal-soal listening. Tak sanggup menangkap maksud percakapan pertama, saya bisa kelamaan memikirkannya sampai-sampai untuk soal berikutnya saya pun ketinggalan. Tapi alhamdulillah, skor pretest saya meningkat dibandingkan dengan skor prediksi waktu SMA.

Sepanjang kursus, para pengajar (Pak Bas, Miss Lutfi, dan Miss Eka) bergantian memberikan tips dan trik mengerjakan soal-soal TOEFL. Berhubung namanya juga kelas dasar, maka kami juga belajar teori bahasa Inggris nyaris dari awal (sementara kelas lanjutan konon bahkan tak diberi buku pegangan, cukup berlatih soal-soal setiap hari. Di kelas itu, ketawanya aja udah British banget, kata teman lama yang sekelas dengan saya :D). Sebagian trik sudah bisa ditebak arahnya tanpa perlu baca buku, tapi lebih banyak yang sukses bikin mulut saya membulat. Oooo, jadi ternyata harusnya seperti itu ya. Ooo, mestinya tandai saja pilihan yang begini. Ooo, kita bisa ‘nebak’ kok sebetulnya, asal sudah sering latihan. Oooo, harusnya yang dibaca duluan itu bagian yang ini.

Selain mengikuti sesi belajar dan latihan yang mengasyikkan setiap harinya, di sela-sela waktu pumping ASI untuk oleh-oleh Fathia, saya juga cukup semangat menikmati keanekaragaman kuliner di kantin UI Salemba dan sekitarnya. Iya, panitia memang tidak menyediakan konsumsi, jadi setiap harinya kami harus naik-turun tangga 4 lantai untuk mengisi perut. Kecuali kalau mau bawa bekal, sih, dan setelah satu-dua kali mencoba saya lebih tertarik untuk beli makan di sana saja :D. Sekali bahkan teman belajar yang pernah kuliah S2 di UI mengajak makan di kantin FK, dan saya pun terpukau dengan aura semangat belajar mahasiswa sana…. di meja kantin aja masih pada ngomongin pembedahan, coba.

IMG-20130909-WA0003

Setelah lebih kurang 40 jam belajar, tanggal 18 Mei kami menghadapi TOEFL yang sebenarnya. Yang kami ikuti adalah Institutional Testing Program alias TOEFL ITP, dalam bentuk Paper-Based Test atau PBT. Meski katanya sekarang secara global lebih banyak lembaga yang mengakui internet Based Test (TOEFL iBT), tetapi TOEFL PBT atau ITP masih populer di Indonesia, salah satunya mungkin karena biayanya yang lebih terjangkau.

Alhamdulillah, berdasarkan sms dari panitia beberapa hari kemudian, skor TOEFL saya 627. Saya tidak bisa melihat perinciannya sih, berhubung hasil tes aslinya ‘ditahan’ karena sebetulnya kursus gratis ini dalam rangka persiapan pendaftaran beasiswa Australia Awards dari instansi tempat saya bekerja. Ini lebih tinggi dari skor prediction saya ketika SMA.

Hmmm, paparan buku, musik, dan film berbahasa Inggris lebih tinggi saat saya kuliah, tapi kok nilai waktu itu malah turun, ya? Setelah diingat-ingat lagi, mungkin nilai saya jadi lebih tinggi justru setelah bekerja karena status saya sebagai seorang ibu, deh. Kok bisa? Yah, soalnya sejak jadi ibu saya jadi giat baca-baca tulisan mengenai kesehatan dan ASI.

Dan setelah menyelam lagi di milis Sehat plus ASIforBaby yang sempat saya tinggalkan selama bertahun-tahun penantian punya anak, ternyata memang lebih asyik baca artikel (bahkan jurnal, meski lebih sering langsung ke kesimpulannya :p) dari sumbernya langsung. Alias dalam bahasa Inggris. Demikianlah para aktivis ataupun admin di grup-grup tersebut mengarahkan, jadi jangan sekadar percaya ‘katanya katanya’. Bahkan pernyataan dokter yang disegani di milis tersebut pun mestinya harus dikroscek lagi oleh anggota dari literaturnya, biar sekalian belajar.

Namun, di sisi lain ini juga jadi titik lemah saya dalam pengerjaan soal-soal TOEFL. Salah satu tips yang diberikan di kelas adalah tak perlu membaca seluruh teks meski namanya reading. Kebiasaan baca artikel kesehatan bikin saya merasa harus membaca keseluruhan bacaan dan ‘frustrasi’ saat gagal memahami sebuah kalimat. Habisnya kalau salah paham ketika baca artikel kesehatan kan bisa berabe, ya.

Oya, tentu saja tak harus jadi ibu untuk bisa meraih nilai TOEFL yang bagus. Memulai dari baca-baca apa yang diminati, seperti saya yang kebetulan sedang menggemari bacaan terkait kesehatan keluarga dan ASI, bisa dilakukan. Bahasa Inggris juga hanyalah satu dari banyak keterampilan yang perlu dikuasai seorang ibu, bisa dibilang bukan prioritas malah jika dibandingkan dengan beragam keahlian praktis untuk sehari-hari. Hanya saja, bagi saya, menjadi ibu ternyata berperan besar dalam mendapatkan skor TOEFL tinggi :).

4 thoughts on “Menjadi Ibu Bisa Meningkatkan Nilai TOEFL-mu

  1. asskum mba, saya ingin minta no hp mba kalau boleh , saya ibu anak satu dan skrg sedang berjuang juga untuk bisa sekolah lagi, namun terbentur di score toefl saya , mgkn mba bisa bantu saya sedikit, terimakasih sblmnya , mohon ke email saya saja yah mba,wasskum

  2. Pingback: … dan Memberimu Kesempatan Meraih Skor IELTS Lumayan pada Kesempatan Pertama | Leila's Blog

  3. Pingback: AcEPT, Tes Bahasa Inggris Khusus UGM | Leila's Blog

  4. Pingback: English iS FuN | Hikmah Surah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s