Angkut-angkut ASI Perah

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas. Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget (walaupun kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan).

Saya pun melihat sendiri betapa teman yang bertugas di Bangka (dulu kami sekantor) ketika harus mengikuti diklat ke Bogor dan Jakarta sampai repot-repot mencari tahu apakah mungkin ada anggota grup dukungan menyusui yang kami ikuti yang bisa dititipi ASI perah, jaga-jaga kalau di tempatnya diklat tidak tersedia freezer — salah satunya diakhiri dengan ia menempuh perjalanan bolak-balik hotel-rumah saya untuk menitipkan ASIP karena kesulitan menitip di freezer hotel. Menjelang dan setelah Fathia lulus ASI 2 tahun, barulah saya diperintahkan ikut bimtek, workshop, course dan sejenisnya yang semuanya tetap berlokasi di Jakarta.

Continue reading

Menjadi Ibu Bisa Meningkatkan Nilai TOEFL-mu

Mei lalu, saya berkesempatan mengikuti Test of English as a Foreign Language (TOEFL) Preparation Course yang diadakan oleh Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (LBI FIB UI). Waktu dapat informasi bahwa saya termasuk peserta yang dipanggil untuk kursus dan nantinya bisa mengikuti tes dengan biaya dari instansi, rasanya senang sekali. Saya sebetulnya memang senang belajar bahasa, walaupun semangat itu masih sering dikalahkan oleh kemalasan dengan dalih minim sarana. Beberapa tahun yang lalu sempat ada tawaran diklat serupa, tapi kami yang saat itu masih bertugas di Pangkalpinang tidak mendaftar karena sedang ujian di kampus. Jadi begitu baca surat panggilan kursus ini, seperti mimpi jadi nyata.

Belajar sesuatu yang disukai, gratis (dapat uang saku malah), tak mengambil waktu bersama keluarga (karena kursus dilaksanakan di jam kerja), tidak perlu berjauhan dengan Fathia (mikir-mikir juga seandainya kantor saya di kota lain dan harus meninggalkan Fathia 2 minggu), juga bisa ambil jeda sebentar dari kesibukan kantor (memang saya ini bukan pegawai teladan :p).

Continue reading