Tantangan Level 11 Kelas Bunda Sayang IIP Hari ke-12

Di hari keduabelas, saya akan me-review tulisan dari sudut pandang kak Sinyo Egie yang dikenal aktif lewat yayasan Peduli Sahabat-nya. Di sini, mereka yang memiliki orientasi seksual menyimpang bisa mendapatkan konseling secara gratis, untuk diarahkan kembali pada fitrahnya. Mereka yang peduli pun bisa ikut membantu. Saya sempat dua kali mengikuti seminar dengan pembicara lelaki yang memiliki nama asli Agung Sugiarto ini, dan salah satunya sempat saya buatkan resumenya (bisa dibaca di sini: Pede Bicara Seks dengan Anak dan Mengenali Orientasi Seks Anak).” tapi katanya kan untuk tugas Tantangan Level 11 Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional: Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak ini medianya disarankan bersumber dari penulis lain, ya. Jadi saya kutip tulisan ini dari majalah Ummi online:

Membedakan SSA dan LGBT

Dalil absurd mengenai genetika sering dijadikan argumen agar LGBT dilegalkan di seluruh dunia. Padahal, jika memang gen berperan dalam menentukan orientasi seksual seseorang, tentu bisa dibuktikan lewat tes DNA mengenai homo atau hetero-nya seseorang.

“Mereka (kelompok LGBT, red) sebetulnya ingin menjadi lawan dari heteroseksual. Mereka ingin keberadaan mereka diakui masyarakat dan negara, mereka ingin hawa nafsu mereka mendapat pelegalan, mereka bangga dengan identitas mereka yang melawan kodrat,” kata Sinyo Egie, penulis buku Anakku Bertanya tentang LGBT.

Sementara itu, ada segelintir orang yang menyadari dirinya homoseks, namun tidak ingin disebut sebagai LGBT. “Saya lebih suka menyebut pihak ini sebagai SSA (Same Sex Attraction—ketertarikan dengan sesama jenis) saja,” ujar Sinyo. Mereka, jelas Sinyo, memiliki kecenderungan, sejenis namun sadar bahwa hal tersebut adalah salah dan menyalahi fitrah.

 

“Beberapa klien yang SSA justru tidak setuju jika homoseks dilegalkan. Walaupun sebagian besar mereka pernah berhubungan seks dengan sejenis, tapi nurani mereka berontak. Mereka tidak nyaman dan ingin menjadi heteroseks,” jelas ketua sekaligus konselor Yayasan Peduli Sahabat ini, sebuah yayasan yang bergerak mendampingi orang dengan SSA ke fitrahnya.

Lantas apa yang membedakan SSA dengan LGBT? Intinya, SSA adalah orientasi seksual atau adanya ketertarikan secara emosional dan seksual kepada jenis kelamin tertentu. Sementara LGBT merupakan identitas sosial, sehingga ingin sekali diakui, diterima, dan dilegalkan, baik oleh masyarakat maupun negara.

Kenali Cirinya

Orientasi seksual ternyata bisa dideteksi sejak dini. “Sebagian klien kami sudah sejak kecil menyadari orientasi seksual mereka lebih kepada sejenis,” tutur Sinyo. Jika terdeteksi sedari dini, langkah rehabilitasinya pun lebih ringan dan singkat. Berikut indikasi yang bisa orangtua amati.

1. Meski tidak mutlak, penampilan anak bisa menjadi indikator awal. Misalnya, si upik menyukai potongan rambut cepak, tidak suka dengan perubahan fisiknya, dan lebih menyukai baju laki-laki. Atau si buyung yang kemayu dan senang dengan segala pernak-pernik perempuan.
2. Amati bagaimana ia berteman. Apakah si upik memiliki perhatian khusus sekaligus cemburu yang berlebihan terhadap teman perempuan? Atau si buyung senang memuji penampilan teman lelaki sebaya?
3. Lebih sering bermain, bahkan memiliki kelompok pertemanan dengan lawan jenis. Misalnya, anak lelaki yang selalu bermain dengan anak perempuan, atau anak perempuan yang lebih banyak bermain dengan anak lelaki.
4. Pada anak laki-laki, ketika masuk usia remaja, ia akan tiba-tiba memiliki minat terhadap kegiatan atau olahraga tertentu yang bersifat “kasar”. Penelitian yang dilakukan oleh Fernando Luiz Cardoso dari Santa Catarina State University di Brazil pada tahun 2008, menunjukkan bahwa laki-laki muda prahomoseksual akan tertarik dengan olahraga yang bersifat soliter seperti berenang, bersepeda, tenis, sepakbola atau football.
5. Jika anak cukup terbuka, berilah pertanyaan dengan cara yang tepat. Misalnya, “Siapakah teman yang paling kamu sukai di kelas?”, “Siapa teman yang menurutmu paling menarik di kelas?”, “Kamu deg-degan enggak kalau lihat perempuan yang cantik atau laki-laki yang ganteng?’

Indikasi-indikasi di atas memang tidak sempurna jika dijadikan indikasi apakah anak memiliki orientasi seksual sejenis atau tidak. Untuk mengenali lebih jauh, diperlukan tes khusus yang dilakukan oleh psikolog yang ahli di bidangnya.

Hindari Pemicunya! 

Rata-rata ilmuwan berpendapat bahwa faktor lingkunganlah yang berperan besar membentuk orientasi seksual seorang anak. Karena itu, hindarilah pemicu yang bisa membuat orientasi seksual anak keluar dari fitrah. Berikut beberapa langkahnya:

1. Sejak usia dini, kenalkan jati diri dan identitas sesuai dengan jenis kelamin anak. Jangan sampai sekali-kali anak laki diberi mainan princess dan anak perempuan diberi mainan robot-robotan.
2. Batasi penggunaan gadget atau internet. Akses informasi yang tiada batas akan membuat anak mudah menemukan konten pornografi, termasuk pornografi bagi homoseksual.
3. Dampingi anak saat menonton televisi. Berbagai tayangan—terutama komedi, sering menampilkan sosok waria atau gay sebagai lelucon. Dampak negatifnya, anak akan menganggap sosok tersebut normal di masyarakat.
4. Awasi lingkungan pertemanan anak, apalagi di masa pubertas. Berikan izin yang ketat jika anak ingin menginap atau bermain di rumah temannya.
5. Ikutilah tuntunan Rasulullah saw dalam memberikan pendidikan seksual pada anak. Seperti, memisahkan tempat tidur sejak usia 7 tahun, mengenalkan batasan aurat sejak dini (sebelum akil baligh), dan tidak menyerupai lawan jenis dalam berpenampilan.

Sumber: http://www.ummi-online.com/detailpost/cara-deteksi-dini-orientasi-seksual-anak

=======================

Review dari saya:

Kata-kata ‘mengenali orientasi seksual anak sejak dini’ sekilas memang seperti kontradiktif dengan pernyataan bahwa fitrah manusia adalah berpasangan dengan lawan jenisnya. Jika ada yang bisa terdeteksi di usia kanak-kanak, apa bukan bawaan lahir namanya? Namun, jika dicermati, memang bisa saja ada pembiasaan atau penanaman nilai (baik secara sengaja maupun tidak sengaja) lewat nurturing yang dimulai semenjak kecil, yang kemudian turut andil membentuk pembawaan seseorang. Sebagian yang lain mungkin memang mendapatkan ujian yang cukup unik, dengan kondisi istimewa yang disandang sejak lahir, tetapi pastinya tidak menggugurkan posisinya sebagai hamba yang perlu senantiasa taat pada Sang Pencipta.

Jika menyimak kiprah Peduli Sahabat, kita setidaknya bisa bersyukur karena yang sudah terhitung agak terlambat dideteksi pun masih bisa memperoleh pertolongan. Dari pengalaman PS selama menangani klien pula, jadinya muncul indikator deteksi dini sebagaimana disebutkan di atas, sehingga kalaupun ada kejadian, tidak terlalu terlambat untuk diajak kembali ke jalan yang benar. Tolok ukur di atas sekaligus bisa menjadi bahan evaluasi bagi orangtua, bagian mana dari fitrah anak yang harus dibenahi cara pendekatannya atau ditambah porsi penumbuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s