Tantangan Level 11 Kelas Bunda Sayang IIP Hari ke-11

Untuk hari kesebelas Tantangan Level 11 Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional: Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak ini, karena memang jadwal presentasi kelompok sudah usai, saya meneruskan sebagaimana instruksi awal yaitu mencari media edukasi lain kemudian me-review-nya. Kali ini saya ambil dari tulisan bu Elly Risman di facebook.

Elly Risman-Full

28 November at 07:18

Saatnya Mencermati Permainan

Makna kata MENCERMATI menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: memperhatikan dengan seksama, teliti, penuh minat dan sungguh-sungguh. Permainan yang saya maksudkan di sini termasuk: benda berupa games dan permainan yang berbentuk kegiatan yang dilakukan anak-anak saat mereka bermain bersama.

Terkejut sekali saya begitu akan presentasi di dua tempat di salah satu kota besar di Jawa Tengah ketika mendengarkan jawaban staf saya tentang temuan apa yang menarik dan mutakhir di daerah ini, dan dia menjawab sebuah permainan yang berkonotasi seks lagi marak di kota itu.
Saya memandangnya tak berkedip, ketika dia menguraikan dan memperlihatkan contoh komik dan website dari apa yang ditiru anak SD untuk dijadikan permainan.

Sudah jadi kebiasaan di YKBH (Yayasan Kita dan Buah Hati) kalau kami (para pembicara dan pelatih parenting) akan memberikan seminar dan pelatihan di satu kota, maka tim riset YKBH berkewajiban mensuplai data tentang daerah tersebut, berkaitan dengan topik yang dibahas, terutama dampak negatif dari pornografi terhadap anak dan keluarga. Jadwal dan materi kegiatan Tim YKBH bisa dilihat di FB YKBH. Karena (masha Allah tabarakallah) kegiatan saya yang padat sekali, kadang kadang saya baru menanyakan hal ini di atas pesawat atau setibanya di hotel, di mana biasanya saya memeriksa sebentar materi presentasi.

Target Baru Pebisnis Pornografi
Dari segi konten atau materi sebenarnya kurang lebihlah yang ingin mereka jual dan pasarkan, hanya kini target yang ingin mereka sasar dari segi usia menjadi lebih muda. Bila di tahun 2009 anak yang ingin mereka sasar adalah mereka berusia baligh yang waktu itu bergerak dari 9 -13 tahun, kini telah turun ke anak-anak yang usianya lebih muda, yaitu balita! Mereka bukan saja jadi korban tetapi juga pelaku, seperti yang banyak diberitakan media terutama yang terjadi di Jatinegara beberapa pekan yang lalu di mana GS (5) dicabuli 7 anak lainnya yang berusia 5- 12 tahun.
Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa pelaku utama mengetahui materi P dari HP orang terdekat dan kemudian mencari dan menikmatinya dari warnet dekat rumahnya.

Entah bagaimanalah mulanya, tetapi materi materi P yang sampai ke anak-anak ini dalam bentuk digital berubah menjadi bentuk permainan. Belum lagi ada penelitian yang dilakukan bagaimana transformasi ini terjadi, sehingga seperti yang kami temukan di banyak kota, permainan anak-anak sejak balita sampai pra remaja merupakan “acting out” dari materi P yang mereka nikmati.

Saya sebenarnya sungguh merasa sangat berat untuk menguraikan permainan permainan anak ini di sini, tapi setelah bertahun tahun permainan ini menjadi semakin meluas dan dirisaukan banyak orangtua seperti yang saya ketahui dari beberapa whatsapp grup (WAG), maka izinkanlah saya menjelaskan dua permainan saja yang kini sangat populer dan permainan baru yang kami temukan itu, sehingga teman teman bisa meningkatkan kewaspadaannya dalam mengamati anak masing-masing.

Salah satu contohnya adalah permainan Starter yang dihebohkan akhir-akhir ini di beberapa wag. Padahal kami telah menemukan permainan ini dilakukan anak-anak SMP dan SD kelas tinggi (4 -6) sekitar 5- 6 tahun yang lalu. Permainan ini dilakukan dengan anak disuruh membuka lebar pahanya dan teman yang didepannya meletakkan telapak kaki di selangkangan temannya dan melakukan kegiatan seperti menginjak gas dan membuat bunyi seperti sedang men-starter motor atau mobil dan memainkan kakinya mundur maju. Kegiatan ini disaksikan dan disemangati oleh teman temannya.

Contoh lain yang ingin saya share adalah permainan yang dinamai oleh anak balita sebagai: main Odom-odom-an. Permainan ini sudah kami temukan 4 tahun yang lalu dan sekarang semakin banyak saja. Anak-anak balita memainkannya berkelompok, masing-masing kelompok terdiri dari dua orang. Seorang anak dengan posisi seperti orang rukuk dan yang satu lagi berdiri di belakangnya. Anda tahu apa yang saya maksudkan.
Tidak bisa kami temukan dari kedua permainan ini, dari mana mereka menemukan nama dan siapa pertama kali menciptakan permainan dan namanya. Tapi yang jelas tidak mungkin anak-anak ini.

Inilah yang saya ingin sampaikan bahwa kenyataannya yang pahit kami temukan dari kajian internal yang kami lakukan secara intensif adalah kini banyak orang dewasa atau dewasa muda yang telah kecanduan P dan kemungkinan mengalami gangguan pada fungsi mulia otaknya telah menjadi produsen dari berbagai produk: mainan yang dijual sebagai “jajanan” dan permainan anak-anak yang kini sangat mudah kita temukan bila saja kita mau “cermat”.

Permainan dalam bentuk games yang terakhir kami temukan dua hari yang lalu itu adalah tentang anak perempuan yang lebih besar dari kelas yang lebih tinggi menggoda adik kelasnya yang laki laki dengan mempertontonkan dadanya dan mengajak adik kelas tersebut “mengelaborasinya“.
Dari mana anak-anak ini mendapat kan informasi tentang hal ini? Ternyata ada: komiknya, ada PS-nya dan ada video animasinya…

Saya dan tim kami amat sangat khawatir, bahwa apa yang dinikmati anak lewat komik hard copy dan digital serta PS ini, seperti yang sudah sudah akan segera jadi permainan nyata seperti starter dan odom-odoman.

Kalau mau ditelaah lebih jauh, pola anak perempuan lebih besar “main” dengan anak lelaki lebih muda juga sudah di-“sosialisasikan“ dengan sangat masif melalui berbagai cara antara lain media sosial. Tokoh sosmed yang sangat menghebohkan kelakuan buruk dan kata-kata kasarnya sehingga dipanggil Menkominfo, kan mencontoh dan mensosialisasikan bagaimana menggaet pacar lebih muda dan berkencan bahkan di mobil dengan pacarnya itu. Semua kehidupannya menit ke menit dengan pacar itu diekspos di social media.

So what gitu loh
Dengan semua temuan di atas, saya hanya mampu mengimbau Anda yang membaca tulisan saya ini untuk:
a. Lebih waspada dengan keadaan anak-anak Anda. Pertimbangkan benar pembagian waktu dalam hidup anak-anak Anda antara belajar dengan beban pelajaran yang sangat berat, dengan kebutuhannya untuk beribadah, bermain dan bercengkrama dengan keluarga, serta tidur yang cukup.
b. Jangan latah, karena alasan apa pun yang Anda miliki karena Anda berkewajiban untuk mempertimbangkan masak-masak banyak hal sebelum membelikan mereka perangkat elektronik: tablet, hape, games, laptop dll.
Selain usianya, yang penting adalah penjelasan tentang dampak positif dan negatif dari semua fasilitas tersebut ada di tangan anak, juga kemampuan anda untuk mendampingi dan mengontrolnya serta kemungkinan negatif anak Anda kecanduan dan “acting out”! Anak bukan hanya bisa jadi korban tapi pelaku!
c. Sesibuk apa pun Anda, jangan lupa ke tangan jiwa Anda Allah menitipkan jiwa lain yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Mereka juga menentukan hidup Anda nanti di hari tua: tenang dan bahagia atau tidak, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi harus ada waktu untuk mengarahkan, membimbing, mengendalikan, mengontrol, dan mendidik seluruh aspek kehidupannya. Bagaimana kalau Anda tidak punya hal yang esensial untuk melakukannya, yaitu: WAKTU.
d. Anak-anak perlu sekali pengamatan untuk menemukan perkembangan perasaan lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuh, perbedaan perilaku. Semua memerlukan dialog yang lembut tapi intensif. Kalau tidak, bagaimana kita menemukan apa yang dialami anak dalam kesehariannya. Permainan apa saja yang dimainkan temannya. Jangan sampai anak sudah mempraktikkan permainan yang tidak patut kita tidak mengetahuinya. Saya pernah mempunyai pasien yang patah tulang pahanya karena bercanda.
e. Kita harus menyidik dan menanyakan permainan apa saja baik dalam bentuk games ataupun yang dimainkan langsung oleh anak dan teman-temannya. Dari mana asalnya, atau siapa yang pertama sekali memulai. Apa dampaknya bagi anak. Apakah dia ikut-ikutan memainkannya atau dia dipaksa. Bagaimana perasaannya sekarang ini.
f. Dari semua informasi yang anda dapatkan Anda duduk: ayah dan ibu merundingkan bagaimana menghadapi dan berkomunikasi dengan anak Anda. Langkah apa yang harus dilakukan dan yang paling penting adalah melatih anak Anda menyikapi situasi dan pengaruh buruk teman temannya. ROLE PLAY-kan.
g. Jangan anggap SEPELE informasi kecil yang Anda dapatkan. Sidik dengan bijak.
h. Jangan lupa Anda mengasuh dan membesarkan GENERASI PLATINUM di ERA DIGITAL..

Selamat Berjuang

Bekasi, 28 November 2016
Elly Risman.
Silahkan menyebarkannya bila Anda anggap perlu.

https://www.facebook.com/groups/1657787804476058/permalink/1796677323920438/

=======================

Review dari saya:

Betul sekali, materi pornografi tergolong mudah diakses di sekitar kita. Mungkin kita bisa melindungi anak dengan menutup rapat akses ke sana, tetapi akan tiba saatnya mereka bersosialisasi, berbaur, bahkan mungkin sekadar berjalan atau duduk di tempat yang ternyata membuka peluang ke sana (melirik layar ponsel orang di kendaraan umum, teman salah kirim, mungkin?). Dan apa yang kita, termasuk anak-anak lihat bisa berpengaruh ke persepsinya. Misalnya, naudzubillahi mindzalik, jadi menganggap pergaulan bebas itu biasa saja, tergoda mencoba, mencapai tataran baligh jauh sebelum aqil (‘dewasa sebelum waktunya’), atau kecanduan (tentang ini mungkin saya akan ulas buku The Drug of The New Millenium untuk tugas berikutnya). Jadi yang perlu dilakukan adalah melakukan pendekatan sebagaimana sudah dijelaskan bu Elly di atas.

Waktu sungguh memegang peranan sangat penting karena amatlah jarang suatu kecintaan dan ketaatan yang timbul dari kecintaan itu bisa menguat dalam waktu singkat.  Waktu untuk diskusi dengan suami khusus mengenai hal ini, waktu untuk bicara fokus dengan anak, waktu untuk mencermati tingkah laku anak dan teman-temannya, waktu untuk membangun kedekatan dengan anak agar ia tak sungkan bertanya dan bercerita…. PR banget ini untuk menjadwalkan forum keluarga, dilanjutkan dengan role playing kepada anak sesuai dengan usianya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s