Mengapa Perlu Minimalkan Penggunaan Gadget untuk Anak?

Gadget untuk anak, yay or nay?

Dampak negatif dari pemakaian gawai pada bayi dan anak sudah banyak dibahas di berbagai buku dan seminar (termasuk kelas online), tetapi perangkat seperti ini seakan masih sulit dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Bisa dikatakan, anak-anak kita pasti sudah akrab dengan ponsel sejak mereka lahir. Istilahnya, mereka itu digital native. Kadang gadget dirasa sangat membantu sebagai ‘penjaga anak’ ketika orangtua perlu mengerjakan berbagai hal seperti bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, menyusui adik, atau bekerja di rumah. Worth it kah solusi pemberian gadget jika ditimbang dengan risikonya? Adakah alternatif lain yang bisa digunakan? Pada acara Fun Play without Gadget di Spumante All Day Dining, Menteng, Jakarta Pusat yang diselenggarakan Sabtu (17/03) kemarin, saya ikut menyimak pemaparan tentang penggunaan gadget pada anak dari para ahli yang berlatar belakang psikologi dan aktif sebagai praktisi.

Menurut ibu Pradita Sibagariang, konsultan pendidikan dan tumbuh kembang anak, dilema terkait pemakaian gadget tidak cuma terjadi di Indonesia saja, tetapi sudah mengglobal. Oleh karenanya para peneliti juga melakukan studi terkait pengaruh gadget pada anak. Sebagaimana dikutip oleh ibu Dita, pengaruh gadget terhadap anak tergantung dari frekuensi pemakaiannya.

“Hasil penelitian, bermain gadget selama dua jam dapat memicu masalah kecemasan, emosional, dan konsentrasi. Sedangkan jika durasinya meningkat menjadi tiga jam, ada tambahan masalah berupa gejala diabetes, karena main gadget itu cenderung duduk tidak bergerak. Yang perlu dicatat adalah anak tetap mengalami masalah-masalah tadi walaupun sudah aktif secara fisik satu jam per hari,” jelas perempuan yang akrab disapa dengan ibu Dita ini.

Sedangkan dari segi perkembangan anak, gadget mungkin bisa merangsang kognitif anak melalui permainan-permainan. Namun, dalam piramidanya, fungsi kognitif ini ada di bagian atas. Fungsi lain seperti sensori motorik dan visual ‘terlompati’ karena tidak terstimulus saat anak bermain gadget.

“Aplikasi di gadget bisa merangsang aspek kognitif, tetapi bagian bawah piramida dilompati. Bagian bawah ini ibarat fondasi rumah, jika tidak kuat bisa cepat roboh. Kalau langsung ke kognitif, bawahnya kosong, anak memang bisa maju tapi bisa stuck, dan mau enggak mau kita harus balik ke bawah dulu (terapi untuk fungsi lainnya),” tambah ibu Dita.

Fungsi sensori bisa distimulasi dengan memberikan rangsangan pada indra terkait. Mungkin yang selama ini kita tahu ada lima indra, makanya disebut dengan pancaindra: pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba, dan pencecap. Namun, sesungguhnya indra itu ada ada tujuh. Dua lainnya adalah indra vestibular yaitu indra gerakan dan keseimbangan, dan indra proprioseptif yang berhubungan dengan posisi gerakan (badan kita sedang apa dan sedang berada di mana).

“Misalnya, anak sedang bermain gadget, sensori apa yang terstimulus? Mata, telinga, dan tangan. Bagaimana dengan indra yang lain? Ujung-ujungnya mereka akan mengirim stimulus ke otak bahwa mereka tidak tahu bagaimana meresponnya. Stimulus adalah apa pun yang merangsang kita untuk bereaksi,” terang ibu Dita.

 

Apabila sistem sensori tidak seimbang atau tidak terstimulus semua maka bisa terjadi Sensory Processing Disorder (SPD). Masalah ini bisa terjadi karena kelebihan (hyper) maupun kekurangan (hypo). Untuk hipersensitif pada indra peraba contohnya, anak akan gampang geli pada karpet atau lilin mainan, pada indra pendengaran anak akan gampang terganggu dengan suara berisik. Sedangkan hiposensitif misalnya pada vestibular, jika bermain ayunan sekencang apa pun anak tidak akan merasa pusing.

Sensori Perlu Distimulasi dengan Baik

Sensory motor menerima input berupa sensori, kemudian output-nya berupa motorik. Jika mata anak melihat perosotan di taman, maka akan terpikir bagaimana caranya naik, selanjutnya tangan dan kaki bergerak untuk mewujudkan tujuan itu. Maju, memanjat, berpegangan, dan seterusnya. Kalau bayi diberi sensori raba dengan menyentuhkan suatu barang ke telapak tangannya, refleks motorik halusnya akan menggenggam. Dari kecil sensori motor bayi sudah terlatih dan akan berkembang terus seperti belajar duduk, merangkak, berdiri, hingga berjalan dan berlari. Kalau indra tidak terstimulus dengan tepat, akan muncul kesulitan menjelaskan dan menjalankan sesuatu pada sistem anak. Apalagi untuk tugas yang berurutan dan kegiatan yang bilateral (otak kiri dan kanan bersamaan). Misalnya dalam membuka tutup botol, satu tangan pegang botol satu pegang tutupnya. Untuk menulis, satu tangan pegang pena sedangkan satunya pegang kertas. Bila kemampuan anak terganggu akibat stimulasi yang tidak tepat, ketika menghadapi stimulus yang sesungguhnya yang berjumlah banyak, anak tidak akan tahu mana yang harus direspon dan bagaimana meresponnya. Anak bisa merespon semuanya sekaligus atau justru tidak merespon.

Ibu Dian Rose, terapis wicara dan praktisi Montessori, menyatakan persetujuannya atas uraian ibu Dita. Ketika anak bermain menggunakan kedua tangan, maka fungsi otak kanan maupun kiri akan terlatih. Otak kiri berhubungan dengan logika, matematika, kosa kata bahasa, dan tata kalimat. Adapun otak kanan berhubungan dengan musik, imajinasi, dan kreativitas. Ketika kita berbicara bukan hanya organ wicara kita yang bergerak, tetapi ada nada naik turun, sehingga untuk kemampuan bahasa berbicara membutuhkan otak kanan maupun kiri.

“Dari gadget saja, anak tidak banyak bergerak, yang bisa menghambat otak kanan maupun kiri. Gadget satu arah sifatnya, tidak mendukung perkembangan otak kanan dan otak kiri, tidak memancing untuk ngomong,” tukas ibu Dian. Padahal berbicara itu melibatkan banyak indra, misalnya koordinasi mata, telinga, mulut. Ketika anak main gadget dan tidak diajak ngomong maka tidak terjadi komunikasi dua arah. Kalaupun seolah ada interaksi, jawaban tokoh yang ada di gadget tidak sama dengan manusia sungguhan. Akibatnya anak tidak belajar. Atau malah seperti yang ibu Dian temui belakangan ini, anak menggunakan gaya berbicara dengan tata bahasa layaknya tokoh kartun pada film atau aplikasi.

“Kontak mata, ekspresi wajah, maupun gestur sangat penting, dan ini tidak ada pada gadget,” ibu Dian menggarisbawahi. Kalau kita sebagai ibu mengajak anak mengobrol, maka bisa tercipta interaksi. Misalnya, saat hendak mengajak anak makan apel, kita bisa memancing, “Wah ini ada apel, Dek. Adek suka apel? Warnanya apa ini? Mau dipotong seperti apa Dek, apelnya?”

Dampak Nyata Pemakaian Gadget Berlebih pada Anak

Gadget warnanya sangat banyak, pixel-nya sangat menarik, pergerakannya cepat, suaranya sangat menarik bagi anak. Bagaimana mereka belajar di sekolah nanti, ketika hanya membutuhkan alat tulis, menyimak penjelasan dari guru. Anak akan cepat bosan,” ibu Dian mengungkapkan kekhawatirannya.

Menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh ibu Miranti selaku moderator mengenai isu anak yang lahir tampak biasa tetapi gara-gara banyak terpapar gadget lalu menjadi autis, ibu Dian menjawab, “Mungkin bukan autis tapi gejala-gejala yang mirip autis. Untuk autis sendiri ada sistem diagnosisnya. Gejala autis yang mendasar biasanya tidak ada kontak mata, cenderung ngomong sendiri seolah punya dunia sendiri, cenderung suka suatu hal terus-menerus.” Sedangkan menurut ibu Dita, “Itu gejalanya mirip autis tapi tidak sampai autis, bisa dibilang SPD karena tidak terstimulasi. Kalau autis levelnya sudah jijik sampai tidak bisa dikontrol.”

Dari pengalamannya sebagai terapis wicara, ibu Dian menekankan bahwa perkembangan bahasa bicara sudah dimulai dari bayi, bahkan sejak dalam perut. Makanya orangtua didorong untuk berbicara dengan bayi sejak dalam kandungan karena indra pendengarannya sudah terbentuk. Bahasa bicara ini juga erat kaitannya dengan makan dan minum. Kemampuan pertama bayi biasanya meliputi mengenyot, menyusu, ini erat dengan keterampilan melafalkan huruf di bagian belakang yaitu g, k, dan ng. Lantas anak di usia tertentu akan memainkan liurnya, ini berkaitan dengan bentuk pengucapan huruf b, p, m, dan w. “Kalau kita memberikan gadget, tidak menstimulus, tidak merespon, maka anak bisa kehilangan kemampuan tersebut,” ibu Dian mengingatkan.

“Kalau dari American Academy of Pediatrics (AAP), anak umur enam bulan sampai dua tahun sama sekali tidak boleh bersentuhan dengan gadget. Usia 3-5 tahun sudah boleh satu jam per hari, tetapi kemampuan imitasi mereka sedang berkembang banget, jadi kita perlu waspada karena tidak semua (konten) sesuai dengan perkembangan anak. Umur enam tahun dan seterusnya sudah boleh dua jam sehari, tetapi harus prioritaskan kegiatan lainnya dulu seperti belajar, makan,” sebut ibu Dita.

“Sudah ada hasil studi yang dipublikasikan oleh AAP, anak dari umur 6 bulan-2 tahun ketika diberi tambahan 15-30 menit penggunaan gadget dalam sehari maka perkembangan bahasanya akan terlambat sebesar 50%. Cara gampang mendeteksi keterlambatan ini, di usia 2 tahun seharusnya anak sudah menggunakan dua kata dalam satu kalimat, di usia tiga tahun tiga kata dalam satu kalimat. Misal 5 tahun masih menyebutnya hanya mama papa, berarti itu sudah terlambat,” ibu Dian menimpali.

Permainan Kreatif untuk Anak

Lalu, permainan seperti apa yang disarankan untuk anak? Ibu Dita menyarankan permainan sesuai dengan perkembangan anak, barangnya mudah dicari, dan anak bisa mengikutinya dengan fun. Banyak permainan yang mengasah motorik dan koordinasi anak. Untuk merangsang indra peraba, anak bisa diajak main pasir atau tepung. Untuk pendengaran, kita bisa bermain suling dan anak angkat tangan sesuai tinggi rendahnya nada yang kita buat.

Media mainan ala Montessori juga bisa menjadi pilihan. Misalnya frame yang berisi 6 permainan: mengikat tali sepatu, mengancing berbagai ukuran, ritsleting, hook & loop (biasa disebut dengan merknya yang terkenal, Velcro), dan ‘ceklekan’. Selain melatih hand-eye coordination, nantinya keterampilan ini juga bisa membantu kemandirian mereka. Menara cincin atau donat bisa digunakan untuk melatih pengenalan warna, urutan, dan ukuran. Cara memainkannya bukan hanya dengan menyusun ke atas, tetapi kepingannya juga bisa diletakkan di tempat tertentu kemudian orangtua meminta anak mencari dengan ciri-ciri yang spesifik.

“Dan orangtua harus mendampingi, nantinya anak akan mengembangkan sendiri imajinasi dan kreativitas,” ibu Dita mewanti-wanti perlunya orangtua menemani dan aktif menstimulasi anak.

Sedangkan ibu Dian mencontohkan secara langsung nyanyian A Ram Sam Sam, yang diiringi dengan gerakan diikuti seluruh peserta. “Ketukan menstimulus otak kanan, sedangkan otak kiri terstimulus dengan kata-katanya,” ungkapnya. “Ketika anak bermain mengeksplorasi dunianya, sebetulnya anak sedang belajar. Orangtua bisa membantu dengan menstimulus, sebagai starter atau korek api,” imbuh ibu Dian.

JuniorDept.com Solusi Belanja Mainan dan Kebutuhan Ibu & Anak Berkualitas

Acara Fun Play ini juga sekaligus menandai launching situs Juniordept.com. Sebelumnya, sejak 2016, Juniordept memanfaatkan media sosial (instagram @juniordept.id) maupun marketplace (Tokopedia) sebagai online shop yang menyediakan produk kebutuhan bayi, anak, dan ibu. Ibu Marissa Tjoegito selaku pemilik Juniordept menyampaikan bahwa Junior Dept. sejak awal berfokus pada produk yang inovatif, kreatif, unik, dan memiliki value khusus. Ibu Marissa mencontohkan mainan branded ternama dan mainan kayu produksi lokal yang ia bawa. Keduanya menarik, edukatif, dan anaknya suka. Layak dibeli, pendeknya, sekaligus dapat digunakan untuk membantu menstimulasi anak. Namun beli di mana, itulah yang kadang menjadi masalah. Adakalanya kita bahkan hanya tahu bentuk mainan, misalnya saat melihat di tempat bermain atau internet, tanpa tahu namanya. Lalu bagaimana kita bisa mencarinya?

JuniorDept hadir agar pembeli bisa leluasa memilih dari deretan produk mom & baby yang terjamin keamanannya dan dikelompokkan sesuai kategori. Bahkan produk yang dijual di Junior Dept. harus melalui proses seleksi dan kurasi secara menyeluruh dari tim khusus. Misalnya untuk mainan, harus berguna bagi perkembangan anak. Produk lain seperti perlengkapan mandi dan tidur harus benar-benar bermanfaat. Sesuai untuk orangtua yang mencari produk berkualitas untuk bayi, anak, maupun ibu, juga cocok untuk diberikan sebagai kado.

Menelusuri situs Juniordept.com, nampak sejumlah merk ternama seperti Parklon, Mamaway, Fisher-Price, Baby Bjorn, Gabag, Haenim, Spectra, We Made Me, Pigeon, Nuby, Mooimom, Okiedog, Inglesina, Mothercare, Babyganics, dan sebagainya. Juniordept.com menyediakan pula items yang tidak mudah dicari di platform atau toko online lainnya. Keunggulan lainnya, pilihan jasa pengiriman yang mencakup pula Go-Jek agar barang lebih cepat sampai. Duh, jadi ingin segera berbelanja produk edukasi untuk 2F di JuniorDept, nih. Pastinya tak ragu karena aman dan berkualitas.

Oh ya, di acara kemarin bukan hanya para ibu yang senang karena bisa belajar. Anak-anak pun gembira karena bisa bermain di playground maupun pojok mainan persembahan JuniorDept dan Kidzoona. Ada pula sesi storytelling, menari bersama Lala-Chan si maskot Kidzoona, dan membuat hand puppet dari bahan-bahan daur ulang. Seru!

 

25 thoughts on “Mengapa Perlu Minimalkan Penggunaan Gadget untuk Anak?

  1. Anak2 saya termasuk yangjarang main gadget krn saya jarang kasi mbak. Kalaupun mainin itu biasanya diawasin, cuma nonton youtube yg kartun, itupun gak lama, sejam maksimal, selesai gak selesai. Mereka nangis2 yowes :)).

    Btw bau tau soal Juniordept, ntr intip2 situsnya ah TFS

    • Sama, Mba… Gadget tetap punya ortu, anak-anak kalau mau ya statusnya pinjam sambil diawasi, bukan ambil sendiri. Plus instagram yang masak-masak atau percobaan macam Thedadlab, kalau anak-anak saya.

  2. Setuju Mba. Say no gadget to children. Makanya suka geram dengan orang tua yang dengan entengnya memberikan gadget pada anak. Efeknya itu loh! Ngeri.

  3. Ternyata gitu ya akibat gadget untuk anak2.. Untung ank sy ngerti sii ada waktuny main gadget. Prihatin juga bagi anak2 yg sydah pegang gadget sejak kecil

  4. Yg seringnya aku liat ortu maen gadget depan anak. Anak udh ngerengek minta perhatian, ortunya masi sibuk sama gadget. Pngen tampol rasanya. Pngen bilang, ntar kalo dia udah gak ada, yg kirim doa itu anaknya, bukan gadget. Secara gak langsung jg bikin anak penasaran ma gadget n tertarik

  5. Artikel kaya gini nih ka sederhana tp sangat vital bila diabaikan Di saat jaman yg semakin modern ini. Orang byk harus baca ini dari orang tua, guru, Anak-anak remaja pun harus tahu. Makasi ka aku suka bgt artikelnya

  6. Lengkaaap bgtt. Tfs mbak dan sudah diberi solusi jg. Benar, 0-2 tahun sama sekali ga boleh gadget. Untuk usia balita wlopun udh boleh sejam, asal kita ga memfasilitasi dengan video2 menarik yg sudah di unduh offline anak ga akan tertarik jg sbnrnya, pengalaman ku bgitu ya 😀

  7. gadget yg dimaksud disni apakah hanya game saja atau termasuk didalamnya youtube,karena mungkin terkadang kita melihat youtube bersama anak kita sambil mengajari hal2 yg ada didalamnya y? 🙂

    • Termasuk youtube, media sosial, bahkan saya pernah baca termasuk video call. Bisa disesuaikan saja dengan masing-masing keluarga, misal dirasa youtube memang sangat penting tetap bisa diatur waktunya, siapa yang pegang gadget, siapa yang pegang kendali, dll, kan? 🙂

Leave a Reply to faraalfaza Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s