Bulan Pertama Proyek Ruang Berkarya Ibu 2: Kesempatan Menggali Hikmah

Tak terasa, proyek Ruang Berkarya Ibu (RBI) yang saya ikuti hampir memasuki bulan kedua pelaksanaannya. Setelah sebelumnya memperoleh bekal ilmu dari para pakar mengenai bakat dan manajemen waktu, mulai Mei ini memang para peserta diminta untuk mengerjakan proyek sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Waktu yang diberikan adalah 100 hari dikurangi 49 hari materi = 41 hari, dengan beberapa hari libur mengingat ada momen Idul Fitri.

Sesuai pesan dari mbak Andita A. Aryoko, leader RBI yang masih berada dalam rumah besar komunitas Ibu Profesional, tiap peserta minimal menulis sebulan sekali mengenai setorannya di grup whatsapp, bukan hanya melalui mekanisme setoran yang rutin tiap harinya di Google Form. Saya memang memilih untuk menulis perkembangan harian di Google Docs yang private, tidak seperti sebagian peserta lain yang dengan telaten mengungkapkan kemajuan harian di media sosial maupun blog. Maka di hari terakhir bulan Mei ini saya hendak menceritakan proyek saya — untuk pertama kalinya.

Untuk RBI 2 ini, saya membulatkan tekad melanjutkan proyek lama yang sudah ‘lumutan’. Bagaimana tidak, idenya sudah muncul sejak sekitar sewindu yang lalu, tetapi eksekusinya macet. Berawal dari dimuatnya tulisan saya di buku antologi Long Distance Love tahun 2009, semangat saya untuk menulis pun meningkat. Bercermin dari cerita saya dalam buku tersebut yang oleh beberapa teman di luar komunitas kantor ternyata dinilai cukup menarik, saya jadi ingin mengajak teman-teman di kantor, atau lebih tepatnya istri-istri mereka, untuk menulis juga. Sebab, menurut saya kisah saya dan suami (yang satu instansi) justru tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan cerita ibu-ibu lainnya yang sudah lebih lama mendampingi suami bertugas. Atau, kalaupun usia pernikahannya belum lama, tetap ada cerita-cerita unik yang lebih inspiratif dan menggugah.

Maka saat itu saya sempat melemparkan ajakan ke ibu-ibu Dharma Wanita di kantor, saat itu di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Ada beberapa orang yang sudah mengirimkan tulisan, tetapi sayangnya proyek ini kemudian tertunda ketika saya hamil melahirkan, dan mutasi ke Jakarta. Beberapa bulan bertugas di Jakarta, saya bergabung di komunitas istri pegawai yang lebih cair, tidak struktural seperti Dharma Wanita.

Anggota grup facebook dan whatsapp ini tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada yang sedang mendampingi suami tugas belajar ke luar negeri. Dari sini makin banyak lagi kisah suka duka yang saya simak, dan niatan membukukan kisah-kisah ini kembali mengemuka. Ada sahabat-sahabat di grup itu yang langsung memberikan dukungan. Namun, dengan kesibukan pekerjaan di kantor baru dan adaptasi saya sebagai ibu baru juga, kembali rencana itu hanya sekadar jadi wacana.

Demikianlah cita-cita menyusun buku ini timbul tenggelam selama bertahun-tahun. Adanya proyek RBI ini saya anggap sebagai momentum kebangkitan. Saya perlu bergerak lebih cepat, selagi masih sempat. Begitu banyak cerita yang rasanya sayang jika tidak dikabarkan ke khalayak yang lebih luas. Saya juga bermaksud menyemangati teman-teman untuk menulis, mengingat ada saja yang merasa tidak percaya diri soal tulis-menulis. Padahal menulis bisa menjadi semacam terapi pelepasan secara psikologis, dan hasilnya juga bisa digunakan sebagai sarana dokumentasi perjalanan hidup.

Sebagai pembeda dari buku-buku serupa yang sudah ada, cerita-cerita dalam rancangan buku ini direncanakan akan memiliki benang merah masakan atau makanan. Jadi, setiap cerita akan disertai juga dengan resep masakan yang sarat makna, misalnya masakan yang dibuatkan oleh tetangga sesama perantau yang kompak, resep yang menjadi juara lomba arisan ibu-ibu, masakan khas tanah rantau yang ternyata digemari anak-anak, masakan lebaran yang dimasak di kota tempat bertugas saat tidak bisa mudik, resep warisan mertua yang selalu ditunggu-tunggu suami, dst. Beberapa tahun terakhir, grup kami memang sering mengadakan challenge masakan, misalnya serba merah putih dalam rangka HUT RI atau serba daging menjelang Idul Adha. Jadi, soal kemampuan memasak dan stok resep tidak perlu diragukan lagi. Bahkan masakan yang tampak simpel pun bisa jadi penuh kesan jika ada faktor kenangannya.

Saya menggunakan pendekatan personal, sehingga memang bahan yang masuk belum langsung berupa tulisan yang ‘jadi’. Jadinya lebih mendekati metode wawancara, saya yang harus menuliskan kembali apa yang diceritakan. Tentunya sambil sedikit-sedikit memotivasi bahwa kisah hidup itu sebetulnya paling enak ya diceritakan sendiri. Namun saya paham juga bahwa minat dan bakat orang-orang berbeda, apalagi sudah belajar sedikit-sedikit mengenai Talents Mapping. Mungkin di situlah memang peranan saya, mengumpulkan cerita dari sana-sini dan membangun tulisan dari situ.

Tantangannya? Karena ini bulan Ramadhan, saya kadang merasa tidak enak menginterupsi kemesraan teman-teman dengan bulan penuh berkah ini. Kemudian rupanya banyak teman yang sudah bersiap-siap mudik. Umumnya sih mereka berangkat duluan bersama anak-anak sedangkan para suami nanti menyusul belakangan, mendekati waktu cuti bersama. Jadi, sekarang adalah masa-masa berkemas dan memilah barang sambil memastikan kondisi rumah sebelum ditinggal. Dengan kesibukan ini, selingan menuliskan kisah kenangan seringkali tidak sempat dilakukan. Akan tetapi saya jadinya ikut terharu membaca potongan-potongan cerita yang sampai ke saya. Misalnya ketika ada yang menguraikan betapa antusiasnya ia mudik setelah enam tahun lebih tidak menginjakkan kaki ke tanah kelahiran, atau justru untuk kelima belas kalinya berlebaran jauh dari orangtua.

Jadi, melalui proyek ini, saya yang introvert juga jadi ‘punya alasan’ untuk mengobrol dengan teman-teman. Semoga dengan demikian jalinan pertemanan juga kian erat. Saya pun sekaligus beroleh kesempatan menggali hikmah dari setiap keping perjalanan hidup keluarga-keluarga tangguh dengan segala romantikanya.

Untuk nama proyeknya, saya mengambil nama dari nama tengah anak-anak kami yang juga sekaligus akronim dari nama kami, Athalla. Ingin sebenarnya melibatkan teman-teman dalam pembentukan proyek/komunitas menulis ini secara ‘lebih formal’, tetapi saya rasa dengan kondisi saat ini sementara atas nama pribadi dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s