Kamu Diculik Kucing

Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta punya beragam program untuk mengasah keterampilan menulis para anggotanya. Kali ini kami diajak berimajinasi mengembangkan judul unik yang diperoleh.

Inilah judul yang saya dapatkan…

Kamu Diculik Kucing

“Waaah, Mas tahu aja aku kepingin siput gonggong. Kemarin mau whatsapp buat nitip, sih. Tapi enggak enak, takut Mas repot. Jadwal seminarnya aja udah padat banget, kan?”

Dengan berbinar-binar aku menimang plastik kemasan keripik siput yang baru kukeluarkan dari koper itu. Ini kudapan khas kesukaanku waktu masih bertugas di Bangka dulu, dan cukup langka bisa ditemukan di daerah lain.

“Iya, Mas tahu kamu pasti kangen sama cemilan ini. Tapi cuma bawa sebungkus, sih. Sudah banyak bawaan oleh-oleh dari teman-teman di sana soalnya. Berat bawanya,” Mas Odi nyengir. Yah, dibawakan segitu pun aku sudah senang sekali.

“Eits, tapi jangan jadi batal sekarang, ya, puasanya,” goda Mas Odi.

Gantian aku yang tersenyum. Tak banyak memang kesempatanku untuk puasa Syawal. Karena sempat demam setelah lebaran plus “libur” sebagaimana layaknya perempuan, aku baru bisa menunaikan puasa sunnah menjelang Syawal berakhir, setelah melunasi utang-utang puasaku. Tinggal sehari lagi. Hari ini pun, dalam hitungan belasan menit, Maghrib akan segera tiba.

Mas Odi bersiap mandi, sedangkan aku mulai menyiapkan masakan untuk berbuka nanti. Sayur asem dan sambal kesukaan Mas Odi sudah siap, kalau-kalau begitu pulang ia ingin segera makan. Tinggal menggoreng ikan yang sudah kubumbui. Sengaja, supaya masih hangat ketika disantap. Aku juga ingin sekalian membuat teh.

Sambil menunggu ikan matang, aku mulai menata meja makan. Sayur, nasi, beserta piring dan sendok sudah siap. Kupindahkan siput gonggong dari kemasan ke dalam stoples. Siulan air dalam ketel mengejutkanku. Mas Odi tidak suka suara berisik begini lama-lama, jadi aku cepat-cepat kembali ke depan kompor untuk mematikannya.

Kuseduh teh tubruk yang dulu dibawakan mama dari kampung halaman. Baru setelahnya kubawa ikan goreng untuk kusajikan. Betapa terkejutnya aku, stoples yang tadi kuisi tampak terguling di meja. Isinya tumpah mengotori taplak hingga lantai. Untung bahan stoplesnya dari plastik, jadi tidak pecah. Mungkin itu juga sebabnya aku tidak mendengar suara jatuhnya stoples. Salahku sendiri, lupa menutup rapat stoples itu.

Sekilas tampak ekor berwarna kecokelatan bergoyang di pintu rumah. Kucing itu lagi pasti. Beberapa minggu belakangan, kucing tersebut memang suka datang sesudah Ashar, mengeong-ngeong minta makan di depan pintu. Kali ini aku lupa menyiapkan sekadar nasi dan ikan asin untuknya, saking sibuk menyambut kepulangan suamiku. Mungkin kucing itu keburu lapar, ditambah dengan mencium aroma ikan yang sedang digoreng. Jadilah ia berusaha mengambil apa yang bisa ia dapatkan.

“Hiks, kenapa kamu diculik kucing, siput gonggongku,” aku meratap dalam hati.

5 thoughts on “Kamu Diculik Kucing

  1. Entah, agak terbawa topik culik menculik… awalnya sempat berpikir suspense ini yang diculik Mas Odi nya. Ehhh… tahunya si siput🤭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s