[Resensi] Aksara

Resensi Buku Aksara Sarra Risman

Resensi Buku Aksara Sarra Risman

#ParadeResensiOktober Komunitas @resensi_bacayuk

Judul buku: Aksara: Artikel Seputar Kehidupan dan Keluarga
Penulis: Yuhyina Maisura (Sarra Risman)
Penerbit: CV IDS
Cetakan pertama, 2024
Jumlah halaman: 184 + viii

Sebagaimana orang tua mereka terutama sang ibu, ketiga putri Ibu Elly Risman juga aktif melakukan edukasi seputar parenting. Salah satunya adalah Yuhyina Maisura atau Sarra Risman, putri kedua di keluarga ini, yang biasa disapa dengan Busar. Kalau di Rumah Keluarga Risman, Busar kebagian peran untuk topik membersamai anak praremaja. Namun, secara umum sebetulnya apa yang disampaikan oleh Busar mencakup juga rentang usia lainnya, termasuk mengingatkan berbagai hal tentang peran sebagai seorang ibu.

Buku Aksara yang baru terbit tahun ini merangkum sejumlah catatan pendek Busar yang sudah pernah beredar di dunia maya sebelumnya. Pada masanya, saya sempat rajin membuat “kliping” tulisan parenting dari keluarga Risman. Salah satunya tulisan Busar mengenai seberapa ketat kita perlu “ngekepin” anak, yang bisa dibaca di sini. Pada masanya, tulisan ini cukup kontroversial karena beberapa pakar parenting memiliki pandangan berbeda. Penting dan menarik untuk menambah wawasan kita sebagai orang tua, sebagai bahan pertimbangan sebelum menerapkan ke keluarga. Namun, soal kliping ini saya akhirnya menyerah karena kewalahan. Makanya saya senang sekali ketika buku ini terbit.

Sebagai kekasih untuk pasangan kita

Sebagai kekasih untuk pasangan kita

Mencintai Sebagaimana Ia Ingin Dicintai

Mencintai sebagaimana pasangan ingin dicintai

Busar mengawali buku ini dengan memuat doa yang biasa diucapkan ketika ada orang yang menikah. Bagian permulaan buku ini memang menggarisbawahi topik orang tua sebagai pasangan. Salah satunya, kita diajak untuk tetap ingat bahwa di tengah kesibukan sebagai orang tua dalam mengurus anak, kita tetaplah kekasih dari seorang suami/istri. Ungkapan baik, termasuk rasa syukur bahwa Allah telah menganugerahkan kehadiran pasangan kita, perlu disampaikan secara verbal untuk mempererat kasih sayang.

Komunikasi mengenai apa yang disukai dan apa yang tidak juga amat penting. Karena jika tidak, maka bisa jadi akan timbul kesalahpahaman seumur hidup yang justru membuat waktu dan tenaga terbuang sia-sia. “Cintailah orang-orang yang Anda cintai dengan cara yang mereka ingin untuk dicintai, bukan dengan cara Anda ingin mencintainya,” kata Busar. Namun, Busar juga mengingatkan, ungkapan dan upaya seperti ini bukanlah untuk mengharap-harap dibalas dengan cara yang sama.

Perlunya ilmu dalam berkeluarga

Perlunya ilmu dalam berkeluarga

Dan, cinta saja tidaklah cukup. Sebagaimana banyak hal dalam kehidupan ini, kita perlu menjalaninya dengan bekal ilmu. Bahkan semestinya orang tua menyediakan (bukan menyisakan) waktu untuk belajar secara proaktif. Sebab, “Kita harus membentuk manusia-manusia yang bisa menggunakan dunianya untuk kembali ke surga.” Dan salah satu cara terbaik dalam mendidik anak adalah dengan memberikan contoh, yang tentu untuk itu kita harus tahu ilmunya yang benar. Bahkan ilmu ini idealnya dipelajari jauh-jauh hari, dari bagaimana anak melihat orang tuanya berperilaku. Maka saat anak-anak masih kecil pun, sesungguhnya kita sedang menyiapkan mereka untuk kelak menjadi orang tua.

Memasuki bagian pengasuhan anak yang lebih spesifik, pembaca diajak untuk meluangkan waktu dalam mengenali karakter anak. Sebab karakter setiap anak berbeda, dan untuk itu perlu pendekatan yang berbeda juga dalam membersamai mereka. Jika anak lebih dari satu, sempatkan waktu untuk melakukan aktivitas berdua-dua dengan masing-masing anak, agar mereka tahu bahwa dirinya istimewa. Tentunya diperlukan juga peran para Ayah di sini.

Membekali anak

Membekali anak

Namun, kasih sayang dan kebersamaan yang kita berikan ke anak jangan sampai membuat mereka jadi tidak mandiri. Justru anak-anak perlu mendapatkan dasar adab dan kebiasaan baik sejak dini, lagi-lagi dengan contoh yang baik dari orang tua. Anak perlu juga berproses menjadi tangguh dan memecahkan masalahnya sendiri, yang bisa dimulai dari mengatasi rasa bosan dalam bermain. Mereka juga sebaiknya belajar memilih, meski diajarkan mengenai kepatuhan. Jadi kita tidak perlu selalu menyodorkan solusi kepada mereka. Sadarkan bahwa diri mereka berharga dan pupuk kepercayaan dirinya, bukan dengan sibuk mengikutkan anak dalam banyak lomba dan pentas, melainkan lewat pemilihan kata kita sehari-hari.

Sebaliknya, kemandirian dan ketangguhan anak bukan berarti mereka tidak boleh menangis. Air mata bisa menjadi pertanda kelembutan hati anak, bahwa ia tumbuh sebagai manusia yang memiliki empati. Termasuk bagi anak laki-laki, yang nantinya akan menjadi suami penyayang bagi istrinya. Mengapresiasi anak juga tidak berarti terus-menerus melontarkan pujian, tetapi bisa lewat kata-kata kita yang tidak menghakimi, membandingkan, atau mengancam.

Oh ya, sebagai ibu bekerja, saya tersentil juga dengan beberapa tulisan di buku Aksara yang memaparkan aneka risiko atas pilihan ini. Mulai dari waktu bersama anak yang berkurang, adanya potensi bertemu pengasuh yang tidak bertanggung jawab, sampai tidak ridhanya Allah. Di bagian penutup memang Busar menyebutkan bahwa pilihan setiap keluarga dalam urusan bekerja di luar rumah memang bisa berbeda. Busar pun mengakui bahwa godaan untuk berkarya di luar rumah itu memang cukup besar.

Jika biasanya tulisan yang diunggah Busar di media sosialnya dipenuhi singkatan karena mungkin mengejar batasan karakter, maka di buku ini kita bisa membaca sajian pemikiran Busar dengan lebih leluasa. Tata letak yang penuh warna disertai dengan ilustrasi yang nyaman dipandang mata membuat buku ini makin enak disimak. Peletakan tulisan-tulisan di dalamnya membuat kita bisa mencernanya pelan-pelan, sepotong demi sepotong, untuk direnungkan dan diterapkan sesuai dengan visi keluarga.

#ResensiOktober #ParadeBukuOktober #BukutentangKeluarga

10 thoughts on “[Resensi] Aksara

  1. Suka dengan kata-kata “Cintailah mereka sebagaimana mereka ingin dicintai”. Terkadang orang tua mencintai anak-anaknya dengan cara yang salah atau yang membuat anak merasa tidak nyaman

  2. Bukunya menarik juga nih untuk dibaca. Kira-kira di e-commerce ada buku asli Aksara ini yang dijual gak ya? Kadang suka kena prank dapat buku bajakannya euy.

  3. Sepakat orang yang dicintai juga harus merasakan bahwa dia dicintai terutama anak-anak, dan memang dalam berkeluarga perlu ilmu. Sejatinya sebuah pernikahan adalah sekolah kehidupan yang akan terus mengajari dan belajar bersama tentang banyak hal

  4. Saya rasa buku ini penting dibaca oleh semua ibu di negeri ini! Saya lihat terutama dari lingkungan sekitar banyak orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, anak jadi kurang mandiri. Bisa jadi ini terkait pola asuh dan kurangnya informasi seputar parenting. Menjadi ibu memang proses belajar seumur hidup, harus banyak2 nyari info dan salah satunya dari membaca buku apalagi kalau isinya pengalaman pribadi.

    Ibu yang bekerja tetapi harus mengurus anak juga menjadi tantangan tersendiri ya Kak, apalagi belakangan berita tentang penyiksaan di penitipan anak tengah marak, tentunya ibu tambah was2 kalau mau menitipkan si buah hati. Semoga tidak adalagi kejadian serupa. Tetap semangat ya buat orang tua di luar sana!

  5. mungkin ada beberapa ibu atau orangtua yang berat buat ninggalin anak untuk bekerja. Tapi pastinya ada alasan yang mendasarinya

    buku ini nambah wawasan juga buat orangtua gimana menyikapi kehidupan berkeluarga dan mengurus anak-anak serta beriringan juga dengan pekerjaannya.

    Harus seimbang gitu intinya

    menarik juga bukunya ini

  6. Setuju banget sama quotenya. Cintailqh mereka sebagaimana mereka ingin dicintai. Kalau ingin dicintai ya kudu treat pasangan kita dengan love language nya mereka ya intinya..bukan dengan bagaimana kita ingin diperlakukan karena masing-Masing memiliki love language yang beda

  7. Ya allah, buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Aku beberapa kali ikut seminar Ibu Elly Risman terutama soal bahaya video games & pornografi bagi anak-anak. Dan amaze sama semangatnya.

    Ternyata semangat yang sama menurun juga sama anaknya.

    Aku kok tersentuh ya pas bagian bahwa menangis itu tanda kelembutan hati, termasuk untuk laki-laki. Terkadang di dunia yang fana, lelaki dituntut untuk selalu kuat, seakan nggak diberi waktu untuk mengenali emosinya sendiri.

  8. Penerbit dari buku mba Sarra ini uda bukan Yayasan Kita dan Buah Hati yaa, ka?

    Aku dulu juga bergabung di wag mba Sarra Risman.Hanya karena dulu wag-nya masih gratisan, jadi kemudian mba Sarra merasa terlalu banyak wag, jadi di sortir dengan biaya bulanan.

    Seneng banget sama bahasanya mba Sarra yang lugas.Gak pake abu-abu. Jawabannya uda pasti A, B dan C.

    Jadi pingin juga baca buku “Aksara: Artikel Seputar Kehidupan dan Keluarga”.

    Buku baru yaa.. 2024.Haturnuhun resensinya, ka.. Kangen sama mba Sarra dan keluarga.

  9. Aku baru ngeh kalau Bu Sarra Risman nama lainnya itu Yuhyina Maisura. Aku cukup sering denger konten-konten Bu Elly Risman di social media. Nah, kalau Bu Sarra Risman aku jujur belum mengikuti… Bukunya pas banget nih untuk para orangtua yang mau lebih membersamai anak-anaknya ya. Tadi baca tentang sinopsisnya juga cukup ditekankan ya soal ilmu dan adab. Apalagi membesarkan anak di zaman sekarang, tantangannya berat…

Leave a comment