[Resensi Buku] Elegi Gutenberg

Pada tulisan sebelumnya untuk tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta (untuk kata “absurd”), saya sempat menyebutkan bahwa buku Alice in Wonderland sudah dapat dibaca gratis di Project Gutenberg. Project Gutenberg adalah program yang dikembangkan sejak pada tahun 1971 oleh Michael S. Hart. Tujuannya adalah membuat versi digital dari karya-karya sastra dan dokumen yang sudah masuk ke dalam domain publik, sehingga bisa diakses secara gratis oleh siapa saja dan menyebar lebih luas lagi.

Sebagaimana nama yang digunakan, projek ini terinspirasi oleh Johannes Gutenberg, penemu mesin cetak. Filosofinya adalah mesin cetak memungkinkan penyebaran informasi dilakukan secara massal. Melalui platform ini, buku-buku terutama karya klasik dari berbagai genre dan bahasa tersedia dalam format digital, membuka kesempatan bagi siapa pun untuk mengunduhnya tanpa biaya.Ada kriteria tertentu untuk sebuah buku agar dapat dimuat di Project Gutenberg, salah satunya tentu terkait dengan hak cipta.

Project Gutenberg memuat buku-buku yang sudah berada dalam domain publik dan tidak lagi dilindungi oleh hak cipta (hak ciptanya sudah kedaluwarsa). Di Amerika Serikat, hak cipta berlaku hingga 70 tahun setelah penulisnya meninggal dunia. Dengan kata lain, karya yang penulisnya telah meninggal lebih dari 70 tahun yang lalu biasanya sudah dianggap masuk ke domain publik, sehingga bisa didistribusikan secara bebas.

Di Amerika Serikat juga terdapat perlakuan khusus, yaitu karya-karya yang diterbitkan sebelum tahun 1924 secara otomatis sudah berada di domain publik dan bisa diunggah ke Project Gutenberg. Adapun buku-buku yang diterbitkan setelah tahun 1924 mungkin masih dilindungi hak cipta jika belum melewati batas 70 tahun sejak kematian penulisnya. Beberapa negara memiliki aturan berbeda mengenai hak cipta, misalnya 50 atau 100 tahun setelah penulisnya meninggal dunia. Oleh karena itu, Project Gutenberg juga disesuaikan dengan aturan di masing-masing negara.

Nah, ngomong-ngomong soal Project Gutenberg, ada satu buku yang judulnya mengambil nama projek ini sekaligus menggunakan kata dalam tantangan keempat Writober RBM IP Jakarta 2024, yaitu Elegi Gutenberg. Saya sempat membaca bukunya, dan meski terbitnya sudah lama, buku ini tetap relevan dengan kondisi masa sekarang.

Berikut adalah resensi saya selengkapnya untuk buku Elegi Gutenberg.

Judul Buku: Elegi Gutenberg: Memposisikan Buku di Era Cyberspace
Penulis: Putut Widjanarko
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2000
Jumlah halaman: 248
Buku Elegi Gutenberg

Buku Elegi Gutenberg

Buku Elegi Gutenberg mengabadikan sejarah pergulatan antara dunia cetak dan era digital yang makin mendominasi. Jadinya membaca buku ini seperti ikut berefleksi mengenai masa-masa perjalanan dunia buku dan membaca yang sudah berlalu. Penulis Putut Widjanarko, melalui kumpulan tulisan dalam rubrik “Selisik” yang sebelumnya diterbitkan di Republika Minggu, menyajikan berbagai analisis dan pandangan kritis tentang perubahan besar yang terjadi dalam dunia buku dan literasi akibat perkembangan teknologi informasi, khususnya internet.

Buku ini mengeksplorasi bagaimana digitalisasi mulai menggeser peran buku fisik yang dulu menjadi medium utama dalam penyebaran pengetahuan dan budaya. Judulnya, yang terinspirasi dari karya Sven Birkerts The Gutenberg Elegies, menggambarkan perasaan rindu sekaligus kebingungan ketika mengalami masa transisi dari era Gutenberg, yang mewakili buku cetak, menuju era internet. Di dalam buku ini, Putut mengajak pembaca memahami bagaimana platform seperti Amazon.com, proyek Gutenberg, e-book, dan print-on-demand (skema cetak buku hanya ketika ada permintaan) menjadi inovasi-inovasi yang mengubah total dunia distribusi dan konsumsi buku.

Buku ini juga mengangkat berbagai fenomena menarik dalam industri buku dunia, seperti pengaruh Oprah Winfrey dalam meningkatkan penjualan buku. Buku-buku yang direkomendasikan dalam program gelar wicara Oprah Winfrey di televisi waktu itu sering kali mengalami lonjakan penjualan secara signifikan. Hal ini menunjukkan bagaimana media massa dan tokoh terkenal dapat memengaruhi selera dan minat baca masyarakat luas.

Penulis juga mengulas bagaimana tren pasar buku berubah seiring dinamika minat baca dan perkembangan teknologi. Timbul cara baru penjualan buku yang menembus batas-batas antarnegara, misalnya Amazon.com sebagai toko buku online yang mengubah cara orang membeli buku. Inilah salah satu contoh awal dari e-commerce dalam dunia buku, yang kini telah menjadi bagian penting dari kebiasaan berbelanja secara internasional. Selain yang berbayar, ada pula platform seperti Project Gutenberg yang berupaya mendigitalisasi ribuan karya sastra klasik sehingga dapat diakses oleh siapa pun secara gratis.

Meskipun sebagian besar tulisan dalam buku ini berasal dari tahun 1990-an, gagasan penulis tetap relevan hingga kini. Penulis mencatat sejumlah penanda zaman yang mengingatkan kita tentang bagaimana teknologi mengubah industri perbukuan. Transformasi perbukuan kala itu makin kuat dengan munculnya e-bookaudiobook, dan toko buku daring. Karenanya, meski diterbitkan hampir seperempat abad yang lalu, buku ini tetap menjadi bacaan yang memperkaya wawasan bagi siapa saja yang tertarik pada dunia literasi.

#writober2024
#elegi
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Leave a comment