Mengagumi Kecantikan Batik Tiga Negeri

Masih dalam suasana Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, kali ini saya ingin menulis mengenai Batik Tiga Negeri. Saya pertama mengetahui batik ini saat berkunjung ke Museum Batik Danar Hadi, Solo, pada tahun 2009. Pemandu museum, Mas Najib, menjelaskan asal-usul penamaan batik tersebut. Penyematan angka tiga pada namanya mewakili tiga daerah di Jawa Tengah: Lasem, Pekalongan, dan Solo. Ketiga daerah ini punya batik dengan ciri khas masing-masing, dan batik tiga negeri memadukan ciri khas tersebut.

Batik Tiga Negeri di pameran di Gedung AA Maramis, Agustus 2024

Batik Tiga Negeri di pameran Pasar Keliling di Gedung AA Maramis, Agustus 2024

Hasilnya adalah kain batik dengan motif dan warna yang unik. Daerah Lasem menyediakan warna merah, Pekalongan memberikan warna biru indigo, keduanya merupakan warna-warna khas batik pesisir. Sedangkan Solo menghiasinya dengan warna cokelat atau soga khas batik pedalaman. Warna merah sekaligus menandai pengaruh dari kebudayaan Tionghoa, warna biru adalah pengaruh dari budaya Belanda, sedangkan warna cokelat berasal dari budaya Jawa Mataraman.

Dipercaya pula bahwa kandungan mineral dalam air di setiap daerah memiliki kekhususannya sendiri sehingga jika proses pewarnaan dilakukan di daerah lain, hasilnya tak akan sama. Oleh karenanya, Batik Tiga Negeri betul-betul dibuat di ketiga tempat tersebut secara berurutan. Pencelupan untuk mendapatkan warna merah dilakukan pertama, kemudian kain dikirim ke Pekalongan untuk diwarnai biru, dan terakhir ke Solo.

Di Lasem, warna merahnya diambil dari akar pohon mengkudu. Warna merah cerah ini disebut sebagai “getih pitik” atau “darah ayam”. Dari cerita keturunan keluarga Tjoa, salah satu keluarga produsen Batik Tiga Negeri di Solo, warna biru diperoleh dari pewarna sintetis asal Jerman. Namun, pengrajin di Lasem ada yang menyebutkan pemakaian daun indigofera untuk warna biru ini, mengutip dari laporan Overzicht van den Economischen toestand der Inlandsche Bevolking Java en Madoera (1904) milik C. T. H. Van Deventer. Di Solo sendiri, warna cokelat “sogan” didapatkan dari kayu soga atau tegeran.

Dalam bukunya yang berjudul Batik Belanda 1840-1940: Dutch Influence in Batik from Java, History and Stories (1993), Harmen C. Veldhuisen  menyebutkan bahwa (sarung) tiga negeri memiliki desain dan warna yang unik. Batik tersebut mengacu pada beberapa tempat berbeda di pantai utara Jawa dan pedalaman Jawa.

Batik Tiga Negeri

Batik Tiga Negeri yang dipamerkan di Gedung AA Maramis Kompleks Kementerian Keuangan pada awal Agustus 2024

Karena harus dibawa dari satu kota ke kota yang lain, proses pembuatan Batik Tiga Negeri ini cukup panjang dan memakan waktu lama. Salah satu keluarga pembuat batik di Solo mengungkapkan bahwa waktu yang dihabiskan bisa mencapai tiga bulan karena seluruhnya dilakukan secara manual. Risikonya pun tinggi, mulai dari kerusakan pada kain hingga serangan hama. Maka dari itu, harga Batik Tiga Negeri, tentunya yang dimaksud adalah batik tulisnya, juga tinggi. Ada juga yang mengambil perpaduan warna khas Batik Tiga Negeri untuk dijadikan tekstil motif batik, dengan harga yang lebih murah.

Salah satu tokoh penting dalam pengembangan Batik Tiga Negeri adalah Ny. Tjoa Giok Tjiam, pengusaha batik peranakan Tionghoa yang pertama kali mempopulerkan batik tersebut. Ciri khas batik Tjoa adalah kreasi latar yang lebih bervariasi dan dinamai sendiri. Batik Tiga Negeri keluarga Tjoa diproduksi selama tiga generasi sejak 1910. Setiap generasi memiliki ciri khas motifnya sendiri, terutama generasi ketiga yang mengreasikan tata warna dan isen-isen latar atau tanahan. Sayangnya, usaha batik keluarga Tjoa terpaksa berhenti pada 2014 karena sulitnya mencari tenaga kerja dan bahan baku. Namun, karena dulu sering diproduksi dalam jumlah banyak sehingga harganya lebih terjangkau, Batik Tiga Negeri dari keluarga Tjoa masih cukup mudah ditemukan di pedagang-pedagang kain antik.

Apakah ada yang punya cerita juga mengenai batik khas di daerahnya? Ceritakan di kolom komentar, yaa …

Sumber:

  1. Instagram Oemah Batik Lasem
  2. https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6526548/sejarah-batik-3-negeri-karya-perpaduan-khas-pekalongan-lasem-dan-solo
  3. https://jatengprov.go.id/beritaopd/batik-tiga-negeri-kisah-filosofis-harmoni-indah-tiga-budaya/
  4. https://kesengsemlasem.com/batik-tiga-negeri-kisah-perjalanan-adiwastra-simbol-toleransi-dan-keberagaman-indonesia
  5. https://travel.kompas.com/read/2020/10/06/113100227/mengenal-batik-tiga-negeri-lasem-yang-punya-motif-unik
  6. https://lifestyle.kompas.com/read/2018/10/30/220000720/batik-3-negeri-keluarga-tjoa-unik-dan-melegenda-mahalkah-?page=all.

#writober #writober2025 #negeri#IbuProfesionalJakarta #IbuProfesional

Leave a comment