Bulan ini kantor saya mengundang Pak Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan PT Media Kernels Indonesia sebagai narasumber dalam diskusi “Strategi Melawan Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian di Media Sosial”. Saat memaparkan materinya, beliau menyebutkan buku Thinking, Fast and Slow karya ekonom perilaku peraih Nobel Daniel Kahneman sebagai salah satu referensi. Saya pun tertarik untuk membacanya lebih lanjut. Alhamdulillah, di perpustakaan kantor buku ini tersedia. Berikut adalah beberapa kutipannya yang mengena.

Buku Thinking, Fast and Slow
Kita semua pernah mendengar cerita intuisi pakar: jago catur yang melewati orang-orang yang bermain catur di pinggir jalan lalu berkata “Putih skak mat dalam tiga langkah” tanpa perlu memperhatikan lama-lama, atau dokter yang langsung memberi diagnosis rumit setelah melihat sekilas pasien. Intuisi pakar kita anggap ajaib, tetapi sebenarnya tidak.
Malah kita semua melakukan tindakan intuisi pakar berkali-kali tiap hari. Sebagian besar kita bisa mendeteksi rasa marah pada kata pertama yang terdengar dalam percakapan telepon, menyadari kita sedang dibicarakan ketika kita masuk ke ruangan tempat orang-orang mengobrol, dan bereaksi cepat terhadap tanda-tanda kecil yang menunjukkan pengendara mobil di jalur sebelah membahayakan.
Saya belum menyelesaikannya sehingga belum bisa membuat ulasan lengkap. Namun, yang jelas sejauh ini saya mengagumi argumen dalam buku tersebut mengenai cara berpikir manusia. Dalam bukunya, Professor of Psychology and Public Affairs Emeritus (meninggal bulan Maret tahun lalu) di Princeton School of Public and International Affairs ini menjelaskan bahwa ada yang ia sebut sebagai Sistem 1 dan Sistem 2.
Bukan Sembarang Pemikiran
“Sistem 1” atau penilaian cepat membuat kita seringkali punya jawaban instan yang tiba-tiba saja muncul di kepala. Adapun “Sistem 2” lebih lamban dan penuh pertimbangan, yaitu ketika kita secara berhati-hati menimbang pilihan yang ada sebelum mengambil keputusan.
Sistem 1 umumnya dikenal sebagai intuisi. Saking spontannya jawaban dari Sistem 1 ini muncul, banyak juga yang menganggapnya kurang kuat. Mungkin ada saja keputusan tepat yang diambil dalam waktu singkat, tetapi seharusnya analisis mendalam akan menghasilkan keluaran yang lebih bagus, bukan? Profesor Kahneman lewat penelitiannya membedah bahwa intuisi kita sebetulnya tidak se-random itu. Meski seolah instan, bukan berarti intuisi ini asal-asalan.
Claudia Hammond dalam tulisannya di BBC News tentang intuisi, yang juga mengutip pemikiran dari buku tersebut, mengungkapkan, “Kita mungkin tidak selalu menyadarinya, tetapi otak kita secara terus-menerus membandingkan situasi kita saat ini dengan ingatan kita tentang situasi sebelumnya. Jadi, ketika suatu keputusan terasa intuitif alias naluriah, itu mungkin didasarkan pada pengalaman selama bertahun-tahun.” Sebagai catatan, mungkin istilah “naluri” dan “intuisi” tidak bisa sepenuhnya saling menggantikan, tetapi untuk konteks ini rasanya masih masuk.
Otak kita bisa membangun bank data berisi berbagai pola, skenario, dan informasi dari setiap hal yang kita alami. Saat ada situasi baru, otak akan mengecek tanda-tanda tertentu dan mencocokkannya dengan pola yang sudah disimpan. Tanpa melalui proses berpikir yang panjang, otak sudah memunculkan terkaan akan apa yang mungkin akan terjadi berikutnya dan persiapan langkah apa yang perlu dilakukan.
Mengasah Ketajaman Naluri
Namun, intuisi atau naluri ini tetap punya kekurangan. Terkadang penilaian cepat kita dipengaruhi oleh bias atau kita cenderung memilih solusi yang lebih sederhana. Dalam artikel “Conditions for intuitive expertise: A failure to disagree” (Jurnal American Psychologist Vol. 64, No. 6, hlm. 515–526, September 2009), Kahneman bersama dengan Gary Klein menyimpulkan bahwa intuisi seorang ahli hanya dapat berkembang dan akurat dengan dukungan dua kondisi utama.
Pertama, lingkungan tempat pengalaman itu dikumpulkan harus memiliki struktur dan pola yang konsisten dan teratur, sehingga terwujud hubungan sebab-akibat yang jelas dan mudah diprediksi. Kedua, seseorang harus mempunyai pengalaman yang luas dan memperoleh umpan balik yang cepat dan jelas tentang keputusan yang telah dibuat. Intuisi seorang ahli akan cenderung jauh lebih akurat daripada intuisi pemula, karena bank data pengalamannya lebih kaya dan sudah teruji oleh umpan balik yang konsisten.
Naluri Ibu
Ada juga yang mengatakan bahwa naluri ibu selalu benar. Betulkah? Naluri seorang ibu dalam merawat, mendidik, dan membersamai anaknya dalam banyak hal memang bisa terbentuk. Pemicunya adalah kedekatan yang intens dan tentu rasa cinta yang mendalam. Seorang ibu biasanya juga menghabiskan berjam-jam bersama anak dan menjadi pihak yang memikirkan kebutuhan-kebutuhan anaknya. Jadi, sesungguhnya naluri ibu adalah adalah kemampuan melihat “pertanda” yang dihasilkan oleh kedekatan yang terbangun. Pada umumnya seorang ibu paham kebiasaan dan kesukaan anak-anaknya, sehingga sering bisa menerka jalan pikiran anak.
Psikoterapis Dr. Dana Dorfman menyatakan bahwa intuisi seorang ibu mengenai kebutuhan anaknya dapat dikaitkan dengan pengalaman, sifat bawaan, dan gaya parenting ibu tersebut (seberapa dekat ia dengan anak). Interaksi sehari-hari berjalan seiring dengan proses belajar ibu sebagai salah satu orang tua. Mungkin proses belajar ini terlihat berjalan secara alami, bahkan mungkin tidak disadari. Namun, tetap saja prosesnya berkaitan dengan pengalaman dan pemelajaran, bukan urusan “indra keenam”.
Menutup tulisan ini, kembali saya kutip kalimat-kalimat dari buku Thinking, Fast and Slow:
Psikologi intuisi akurat tak melibatkan keajaiban. [….] “Situasi menyediakan petunjuk, petunjuk membuat sang pakar mengakses informasi yang tersimpan dalam ingatan, dan informasi memberi jawaban. Intuisi itu, tak kurang tak lebih, adalah pengenalan. […] Intuisi yang valid berkembang ketika pakar belajar mengenai unsur-unsur familier dalam situasi baru dan bertindak sesuai dengan petunjuk.”
#writober #writober2025 #naluri #IbuProfesionalJakarta #IbuProfesional

Senang nih saya baca tulisan gini. Saya bayangkan ibu – ibu dulu itu nggak ribet ya rawat anak nggak pake embak. Karena modalnya ya kasih sayang ya. Nah saat ini banyak hal yg wara wiri di sosmed, bikin penuh juga otak menyaring ya. Jadi naluri, intuisi atau feel lah saya mikirnya kalau kita kenal diri kita ya makin terlatih ya…nggak tiba – tiba juga diinfo anak kita melakukan kesalahan dari orang lain, kita langsung spontan bilang. No,nggak mungkin…anak saya melakukan itu. Gitu nggak sih kira – kira kak
Bukunya menarik. Secara tidak langsung otak manusia terus bekerja dan mengolah data seperti aplikasi latar ya, sehingga ketika menjumpai masalah bisa langsung memberi keputusan tepat berdasarkan pengalaman dan pengetahuan. Terima kasih kak Leila sudah menyarikan isi bukunya. Salam hangat.
Benar sekali ini, Mbak. Seorang dokter bisa langusng mendiagnosa pasien hanya sekali lihat keadaan si pasien. Atau seorang pecatur ulung yang dengan cepat bisa mengalahkan lawan. Kedua sepertinya hebat sim salabim. Padahal keduanya karena sudah melalui proses panjang. Sudah berulang kali menghadapi masalah yang sama. Jadi otomatis terasa menganalisa masalah yang ada. Terus naluri seorang ibu terhadap anaknya memang sangta kuat. Seorang ibu bisa merasakan apa yang sedang terjadi atau akan terjadi pada anaknya.
Wah mantap nih ilmunya. Saya juga secara gak sadar pernah mengalami harus memutuskan sesuatu yang ada di depan mata. Mungkin saya lebih ke Sistem 2 ya, lebih lama berpikir untuk dampak kedepannya. Terkadang juga spontanitas karena punya pengalaman sebelumnya.
salaam kenal !
Saya beberapa kali merasakan ‘gut feeling’ saat mengambil keputusan, dan setelah baca artikel ini, saya jadi sadar kalau itu mungkin hasil dari ‘bank data’ pengalaman saya selama ini. Ternyata penting ya untuk terus menambah jam terbang supaya intuisi kita makin tajam dan akurat.
Tulisan yang reflektif dan dalam banget! Aku suka cara Kak Leila mengajak pembaca merenung tanpa terasa berat. Intuisi memang sering kita abaikan, padahal sering jadi kompas terbaik. Artikelnya bikin aku berhenti sejenak dan bertanya ke diri sendiri. Powerful banget.
Nah, berarti memang cara kerja otak itu sangat ajaib sekali ya. Intuisi pun lahir bukan dari spontan, tapi ya karena koneksi dengan pola kejadian dan informasi yang sebelumnya tersimpan rapi di otak kita.
Terima kasih Bu sudah mengulas ini. Saya jadi penasaran penuh sama bukunya.
Wah, ternyata keputusan cepat versus lambat, karena memang ada satu sistem yang bekerja instan. Baik dengan, atau tanpa kita sadari.
Sekarang jadi mulai belajar memilah ah, mana sikon yang tepat menggunakan Sistem 1 dan yang mana yang tepat dengan Sistem 2.
Bukunya menarik untuk lebih mengenali diri dalam berpikir dan bertindak. Baca reviewnya menunjukkan otak itu ciptaan Allah yang luar biasa. Kalau sebuah kejadian pernah dialami jadi cepat merespon karena polanya udah dikenali. Bagian naluri ibu juga buat penasaran untuk baca lebih lanjut. Cari ah di perpus.
Hmmm, ngobrol;in soal intuisi, gak cuma buat pecatur, ibu, tapi menurutku berlaku buat semua, keknya melibatkan pengalaman yang udah didapatkan sekian lama jadinya udah kek terasah gitu.
Sama halnya pas kita nyetir dan jalan yang dilalui sama, bahkan pas lagi meleng nggak lihat jalan dan nggak lagi mikir tiba2 tangan kita udah gerak aja kalau belok haha. Ini kyknya yang dimaksud berjalan secara alami hehe.
Memang luar biasa sih otak ciptaan Tuhan ini ya mbak. Keknya kecil tapi di dalamnya tersimpan banyak data. Tinggal kita mau mengolah atau mendiamkannya saja 😀
Tema serta narasumber diskusi keren banget. Udah gitu dapat referensi buku yang beneran rekomen banget. Aku jujur pengen baca juga buku Thinking, Fast and Slow.
Alhamdulillah, ada di perpustakaan kantor ya buku nya. Jadi bisa segera baca dan dari judul artikel nya saja sudah menarik banget. Diberikan contoh juga, jadi kebayang betapa impact full ketika berusaha mengasah naluri dan mempertajam intuisi, base on sains.
Aku kadang atau malah sering pakai intuisi. Rasanya emang kaya otomatis bandingin, ngingat yang udah lalu. Cuma ya adalah kadang meleset juga, tapi it’s okay. Btw, jadi pengen baca bukunya juga deh
Intuisi ini sama dengan over thinking gak, ya? Misalnya kalau di tempat umum, seperti di kereta ”orang-orang kaya ngelihatin kita. Padahal kan belum tentu.” Sama kaya pas mau rapat ”Dikira sedang diomongin, bisa jadi tidak, kan?” Tapi… yang menarik bahwa intuisi hadir karena pengalaman dan pembelajaran. Nah, ini yang sering aku alami sebagai seorang ibu, dengan spontan tahu apa yang terjadi pada anak. Btw, mau banget bukunya.
suka saya sama buku buku subjek psikologi seperti ini. Berbisara tentang intuisi perlu latihan danpengalaman makin mengasahnya. Wanita biasanya intuisinya tajam udah kaya fbi aja deh. Saya mau baca bukunya ah, bagus nih temanya.