Perempuan Hebat, Karier Kuat, Keluarga Hangat

Pertengahan bulan ini, tepatnya tanggal 14 Juni lalu, saya menyimak gelar wicara daring bertajuk “Perempuan Hebat, Karier Kuat, Keluarga Hangat” yang diselenggarakan Princess (Perempuan Inspiratif dan Cerdas) Community menyambut bulan Muharram. Narasumbernya adalah Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, Wakil Rektor Universitas Syiah Kuala (Aceh) Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan. Beliau juga ibu dari tujuh anak, tapi masih sempat menyusun 17 karya ilmiah yang terindeks Scopus.

Sejujurnya, saya penasaran bagaimana kiat beliau membagi tenaga dan waktu. Membersamai tujuh buah hati, memegang jabatan struktural di universitas, aktif meneliti dan menulis, itu semua sungguh bukan kombinasi yang mudah dibayangkan berjalan mulus. Mendengar cerita beliau selama lebih kurang satu setengah jam banyak memberikan pelajaran untuk saya.

Skenario Allah yang Terbaik

Dr. Okta — begitu beliau akrab disapa — tidak menempuh jalan yang mulus menuju titik ini. Awalnya, beliau sempat kuliah keperawatan di Universitas Indonesia (UI). Ketika tsunami Aceh melanda pada Desember 2004, beliau langsung terjun menjadi relawan. Dua minggu beliau membersamai para korban bencana untuk membantu penanganan jenazah, membersihkan rumah sakit, hingga mendampingi pengungsi yang masih trauma akan tsunami susulan.

Sekembalinya ke Jakarta, seorang kakak kelas menawari beliau posisi sebagai health officer di sebuah NGO internasional di Aceh. Sesudah menjalani serangkaian tes, beliau mulai bekerja di sana. Selama beberapa waktu beliau mencoba menjalani dua dunia, pekerjaan dan perkuliahan, dengan bolak-balik Jakarta-Aceh. Namun, beliau akhirnya pindah kuliah dari UI ke Universitas Syiah Kuala (USK) dengan sistem konversi. Di sana beliau menyelesaikan pendidikan S-1, bertemu suami, membangun keluarga, lalu melanjutkan studi S-2 bidang kebencanaan di USK. Ketika ada pembukaan tenaga pengajar di USK, beliau ikut melamar dan lulus. Studi S-3 juga diteruskan di USK.

Yang menarik, beliau berkisah bahwa setiap kali ada rencana yang tidak berjalan sesuai harapan, seperti ketika gagal melanjutkan studi ke Australia atau dua kali urung meraih gelar guru besar karena masa kerja yang belum cukup, beliau selalu kembali ke keyakinan yang sama. Allah sudah menyiapkan skenario yang lebih baik. Bukan klise, karena hal itu terbukti berkali-kali.

Kunci Pertama: Pasangan yang Tepat

Soal peran sebagai istri dan bagaimana suami menyikapi kesibukan istrinya sepertinya menjadi poin yang paling banyak dibahas dalam gelar wicara ini. Dr. Okta menyebut bahwa pencapaiannya tidak lepas dari peran suami, seorang dokter di Dinas Kesehatan Aceh Besar, yang sejak awal justru lebih bersemangat mendorong karier istrinya daripada sang istri sendiri.

“Kalau saya mah, lulus S-1 aja sudah alhamdulillah,” kata perempuan peraih Fellowship of the Royal Society for Public Health (FRSPH) dari Inggris ini sambil tertawa. Suaminyalah yang melihat potensi itu, menyusun grand design ketercapaian karier istrinya, mendorong ikut tes CPNS dosen, dan terus menyemangati setiap kali ada amanah baru yang beliau rasa terlalu berat. Suaminya paham bahwa istrinya sudah terbiasa aktif sejak masa sekolah, termasuk menjadi Ketua OSIS, sehingga energinya perlu disalurkan.

Bahkan ketika Dr. Okta ditawari menjadi Wakil Dekan dan sempat menolak, suaminya yang meyakinkan. Saat itu pula sang suami sudah berkata, “Nanti Ummi jadi Wakil Rektor.” Ucapan ini terbukti kemudian.

Dukungan suami beliau bukan sekadar berupa semangat dalam bentuk kata-kata. Suami Dr. Okta mewujudkannya juga dengan hadir dalam pengasuhan anak, terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, dan menjadi pendengar setia ketika istri pulang dengan kepala penuh urusan kampus.

“Suami itu “advisor“-nya,” kata beliau yang menikah dengan suami lewat jalur taaruf. Pesan Dr. Okta untuk yang masih mencari pasangan, pilihlah di saat kondisi ruhiah sedang baik, bukan ketika sedang down atau terburu-buru. Ketika kita dekat dengan Allah, kita berharap Dia yang memilihkan dan kualitasnya pun akan berbeda.

 

Membangun Tim di Dalam Rumah

Suami-istri bekerja, tanpa asisten rumah tangga, diselingi beberapa tahun long distance relationship saat suami melanjutkan pendidikan di kota bahkan negara lain, dengan tujuh anak. Bagaimana caranya menjalani kehidupan sehari-hari dengan lancar?

Jawaban Dr. Okta, anak-anak dilibatkan sebagai tim. Sejak kecil, masing-masing mendapat tugasnya. Ada yang spesialis masak nasi, yang lain bagian goreng-menggoreng, yang lain memimpin adik-adiknya saat orang tua tidak di rumah. Bukan karena dipaksa, melainkan karena kebiasaan dan keteladanan yang terbentuk perlahan.

“Anak-anak itu belajar dari melihat. Mereka tahu kalau Ummi beres-beres berarti mau ada tamu. Langsung mereka ikut gerak,” cerita beliau.

Beberapa strategi praktis yang beliau terapkan adalah

  1. Stok makanan dirapel pada akhir pekan dengan cara memasak untuk beberapa hari, simpan di freezer, tinggal dipanaskan saat hari kerja. Kalau stok habis duluan, solusinya sederhana, tinggal pesan lewat layanan antar.
  2. Seragam sekolah dicuci sendiri oleh setiap anak agar tidak ada drama “Ummi, seragam saya mana?” di pagi hari.
  3. Tugas rumah digilir dan dibagi. Lama-kelamaan, anak-anak menemukan sendiri “spesialisasi” masing-masing dan mengatur sesama mereka tanpa perlu dikomando terus.

 

Waktu yang Berkualitas, Bukan Sekadar Banyak

Dr. Okta bercerita bahwa ketika jadwalnya padat, ia malah jadi lebih menghargai setiap waktu di rumah. Waktu yang terlalu luang, seperti pernah beliau rasakan pada masa-masa break sewaktu masih bekerja secara kontrak, justru bisa jadi “berbahaya”. Saat hari-hari dipenuhi kesibukan mengurus para mahasiswa, beliau mengaku justru tidur lebih nyenyak karena waktu produktifnya telah dioptimalkan dengan baik.

Kegiatan memasak bersama anak-anak menjadi momen mengeratkan kebersamaan pada akhir pekan. Bukan sekadar soal masakannya, melainkan ajang untuk saling bercanda, berbagi cerita, yang intinya mengerjakan sesuatu bersama dengan gembira.

Rutinitas lain juga dibangun untuk menjaga kualitas kebersamaan dengan porsi masing-masing. Jogging Sabtu-Minggu bersama suami adalah waktu khusus untuk mereka berdua. Salat Maghrib berjamaah bersama kelima anak perempuan menjadi sarana pengasah ruhiah yang dijaga. Mengajak anak-anak keluar sepulang kantor, misalnya ke kafe dekat rumah, adalah cara untuk memastikan tidak ada yang merasa ditinggalkan.

“Yang paling kecil tuh kalau ditanya mau jadi apa, jawabnya mau jadi wakil rektor,” kata beliau dengan nada antara terharu dan geli. “Lihat umminya, terus dia mau ikutin.”

 

Tentang Rasa Bersalah

Ada pertanyaan dari peserta yang saya rasa sangat relevan dan manusiawi, yaitu apakah sebagai ibu bekerja beliau pernah merasa bersalah?

Jawabannya adalah rasa bersalah itu selalu ada. Terutama ketika harus ke luar kota atau ke luar negeri, lalu di layar video call anak-anak bertanya, “Ummi kapan pulang?”

Yang membuat rasa bersalah itu tidak sampai menggerogoti diri adalah kehadiran suami yang mengisi kekosongan itu dengan tulus. Ditambah anak-anak yang sudah cukup besar untuk mengerti, bahkan mendukung dan mengapresiasi. “Ih, Ummi itu keren,” kata mereka ketika dulu ditanya soal kemungkinan sang ibu menjabat Wakil Dekan.

Beliau juga sempat menolak ikut city tour di sela-sela konferensi di luar negeri karena rasa bersalah itu. “Saya pergi itu untuk kerja, bukan jalan-jalan,” dalih beliau. Barulah ketika suami mengingatkan bahwa kegiatan bersantai sejenak itu wajar sebagai waktu healing, hatinya sedikit lega.

 

Tentang Karier Perempuan dan Peran yang Sering Dikonstruksi

Pada sesi akhir, Dr. Okta menyentuh tema yang lebih luas yaitu masih banyaknya pandangan bahwa perempuan cukup mengurus rumah. Bahwa kalaupun perempuan kuliah tinggi-tinggi, toh nantinya “hanya” akan jadi ibu rumah tangga.

Beliau tidak menolak nilai peran domestik itu. Memang perempuan punya peran-peran khasnya yang harus dijalani. Namun, beliau juga meyakini bahwa urusan rumah tangga dan pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama suami dan istri, bukan beban satu pihak saja. Ketika beban itu dibagi dengan adil, perempuan punya ruang untuk berkontribusi lebih luas di masyarakat.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat,” kata beliau. “Dan itu bukan hak eksklusif laki-laki.”

Syarat yang beliau tekankan adalah jangan sampai urusan publik membuat keluarga terbengkalai. Sebab jika itu terjadi, semua yang dilakukan di luar justru menjadi kontraproduktif dari misi kita sebagai muslimah.

Dengan dukungan keluarga yang hangat, Dr. Okta menegaskan bahwa pencapaiannya bukanlah perjalanan sendiri, melainkan perjalanan bersama suami dan anak-anak. Karier itu bukan milik dirinya pribadi, justru merupakan hasil kerja tim kecil bernama keluarga.

3 thoughts on “Perempuan Hebat, Karier Kuat, Keluarga Hangat

  1. dukungan suami yang tepat, setuju banget saya tuh. Apalagi sebagai istri, dalam keyakinan Muslim, semuanya harus seizin suami

    saya salut dan ikut bahagia dengan semua pencapaiannya Dr Okta ini. Seandainya saya punya sosok suami seperti suaminya, haha …

    perjalanan untuk menjadi sesukses sekarang ini pastinya tidak mudah. Dukungan keluarga memang yang utama ya

  2. MasyaAllah, ikut bahagia membaca perjalanan hidup Dr. Okta yang luar biasa. Banyak poin dan hikmah yang bisa diambil dari skenario kehidupannya.

    Pertama, keyakinan Dr. Okta bahwa Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuknya. Ini penting untuk kita contoh sebagai pengaplikasian untuk senantiasa berbaik sangka dengan Sang Maha Pencipta

    Peran pasangan pun tak kalah pentingnya seperti yang digambarkan suami Dr. Okta. Karena pada dasarnya keluarga dibentuk bersama-sama, maka koordinasi sehat suami dan istri patut dimiliki agar bahtera keluarga bisa lancar dan anak-anak punya role model yang ideal

  3. Masya Allah ini beneran salah satu contoh wanita hebat yang mendapatkan suami dan anak2 yang hebat pula…

    Sudah menikah dan mempunyai 7 orang anak tanpa art namun masih mampu berkembang ini bener2 kerja keras dan kerjasama tim yang solid menurut saya..mana setiap anak juga diajarkan mandiri sehhingga bertanggung jawab pada tugasnya masing masing…semoga cerita dr okta menginspirani dr okta lainnya di luar sana termasuk saya sendiri 🙂

Leave a comment