[Resensi Buku] Home Sweet Loan

Judul: Home Sweet Loan
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan kelima, Maret 2024
Jumlah halaman: 312
ISBN: 9786020658049

Novel Home Sweet Loan

Novel Home Sweet Loan

Mungkin agak terlambat ya untuk membaca buku ini karena bahkan versi filmnya, yang cukup viral, sudah turun layar. Tapi tak apalah. Senang akhirnya bisa menemukan kesempatan untuk menyelesaikan buku ini, seperti biasa saat melakukan perjalanan jarak jauh. Semoga nanti segera tayang di platform video karena saya juga sebetulnya penasaran dengan alih wahananya.
Continue reading

Mengeja Candala

Kata terakhir dalam Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024 sungguh bikin mati gaya. Saya tak akrab dengan kata ini. Jadilah saya kembali ke format ulasan buku.

Setelah mencari-cari, saya akhirnya menemukan beberapa buku dengan kata Candala pada judulnya. Buku yang saya beli adalah karya Zia Ulhaq, terbitan tahun 2019 dari Transmedia Pustaka. Subjudulnya “Sebuah Kisah Mengabadikan Kenangan”.

Sedikit unik, isinya adalah kumpulan prosa puitis. Saat mulai membaca secara acak saya sempat mengira tulisan di dalamnya tak punya benang merah satu sama lain, karena penyajiannya yang tak biasa ini. Namun, ternyata penulis sudah memberikan penjelasan di pengantar buku, bahwa kumpulan prosa ini disusun secara runut sehingga membentuk jalan cerita. Lengkap dengan konflik dan klimaksnya. Jadi, seharusnya dibaca berurutan dari depan.

Candala

Candala

Continue reading

[Resensi Buku] Margo dan Rahasia Setengah Abad

Judul buku: Margo dan Rahasia Setengah Abad
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: Clover (M&C Gramedia)
Tahun terbit: 2021
Tebal: 300 halaman

Novel Margo

Novel Margo

Sengaja saya unggah ulasan buku ini pada peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sebab, misteri yang diangkat dalam buku ini banyak terkait dengan Sumpah Pemuda. Mulai dari tokoh-tokohnya, tanggal pentingnya, naskahnya, sampai dengan makna di baliknya. Banyak fakta sejarah yang baru saya ketahui lewat penceritaan buku ini. Jadi penasaran juga dengan riset yang dilakukan oleh penulis.

Continue reading

[Resensi Buku] Gak Narsis, Gak Eksis

Untuk Tantangan Writober RBM Ibu Profesional Jakarta tahun 2021, salah satu kata yang diberikan adalah “suara”. Kala itu saya menyetorkan tulisan dengan topik echoist, kebalikan dari narcissist. Tak disangka untuk Writober tahun ini yang muncul adalah kata “narsistik”. Terus terang saya belum dapat ide untuk kata kunci ini, jadi terpaksa ambil jalan ninja sekalian (ceritanya) melanjutkan format tantangan tepat sebelum yang ini, yaitu resensi buku.

Setelah cari-cari di Google Books, ketemulah buku ini yang langsung saya beli. Judulnya nggak persis “narsistik”, sih, tetapi bentuk tidak bakunya yaitu narsis. Sudah cukup lama terbitnya ternyata, tetapi masih lumayan menarik untuk dibaca-baca karena gaya penulisannya yang asyik.

Buku Gak Narsis Gak Eksis

Buku Gak Narsis Gak Eksis

Continue reading

[Resensi Buku] Elegi Gutenberg

Pada tulisan sebelumnya untuk tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta (untuk kata “absurd”), saya sempat menyebutkan bahwa buku Alice in Wonderland sudah dapat dibaca gratis di Project Gutenberg. Project Gutenberg adalah program yang dikembangkan sejak pada tahun 1971 oleh Michael S. Hart. Tujuannya adalah membuat versi digital dari karya-karya sastra dan dokumen yang sudah masuk ke dalam domain publik, sehingga bisa diakses secara gratis oleh siapa saja dan menyebar lebih luas lagi.

Sebagaimana nama yang digunakan, projek ini terinspirasi oleh Johannes Gutenberg, penemu mesin cetak. Filosofinya adalah mesin cetak memungkinkan penyebaran informasi dilakukan secara massal. Melalui platform ini, buku-buku terutama karya klasik dari berbagai genre dan bahasa tersedia dalam format digital, membuka kesempatan bagi siapa pun untuk mengunduhnya tanpa biaya.Ada kriteria tertentu untuk sebuah buku agar dapat dimuat di Project Gutenberg, salah satunya tentu terkait dengan hak cipta.

Project Gutenberg memuat buku-buku yang sudah berada dalam domain publik dan tidak lagi dilindungi oleh hak cipta (hak ciptanya sudah kedaluwarsa). Di Amerika Serikat, hak cipta berlaku hingga 70 tahun setelah penulisnya meninggal dunia. Dengan kata lain, karya yang penulisnya telah meninggal lebih dari 70 tahun yang lalu biasanya sudah dianggap masuk ke domain publik, sehingga bisa didistribusikan secara bebas.

Di Amerika Serikat juga terdapat perlakuan khusus, yaitu karya-karya yang diterbitkan sebelum tahun 1924 secara otomatis sudah berada di domain publik dan bisa diunggah ke Project Gutenberg. Adapun buku-buku yang diterbitkan setelah tahun 1924 mungkin masih dilindungi hak cipta jika belum melewati batas 70 tahun sejak kematian penulisnya. Beberapa negara memiliki aturan berbeda mengenai hak cipta, misalnya 50 atau 100 tahun setelah penulisnya meninggal dunia. Oleh karena itu, Project Gutenberg juga disesuaikan dengan aturan di masing-masing negara.

Nah, ngomong-ngomong soal Project Gutenberg, ada satu buku yang judulnya mengambil nama projek ini sekaligus menggunakan kata dalam tantangan keempat Writober RBM IP Jakarta 2024, yaitu Elegi Gutenberg. Saya sempat membaca bukunya, dan meski terbitnya sudah lama, buku ini tetap relevan dengan kondisi masa sekarang.

Continue reading

[Resensi Buku] Perempuan Yang Mendahului Zaman

Judul buku: Perempuan Yang Mendahului Zaman
Penulis: Khairul Jasmi
Penerbit: Republika
Cetakan V, April 2024
Tebal: 232 xii halaman
ISBN: 978-623-279-089-6

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman – Kisah Syekhah Rahmah El Yunusiyyah

Buku ini menceritakan kisah hidup Rahmah El Yunusiyyah, perempuan kelahiran Padang Panjang, 29 Desember 1900. Sebagai seorang pahlawan pendidikan perempuan, nama Rahmah tidak sepopuler RA Kartini. Dan memang hingga kini beliau belum dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Padahal perjuangan beliau sungguh hebat.

Bahkan negara lain pun mengakuinya, salah satunya lewat penganugerahan gelar Syekhah perempuan pertama dari Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1957. Gagasan Rangkayo Rahmah mendirikan sekolah muslimah Diniyyah Putri pun kemudian diadaptasi oleh universitas tersebut, yang sebelumnya hanya membuka program pendidikan untuk mahasiswa lelaki. Beliau pun punya banyak anak didik dan guru dari negara tetangga, Malaysia.

Rahmah sejak lama gelisah akan nasib para perempuan Minangkabau. Memang daerahnya ini mengakui derajat perempuan melalui sistem matrilineal. Namun, kenyataannya masih banyak perempuan yang tertindas. Seorang perempuan yang belajar, membaca, apalagi bersekolah, merupakan sesuatu yang dipandang sia-sia saja karena toh nantinya ia akan mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga.

Kakak Rahmah, Zainuddin, merintis Diniyyah School pada tahun 1915. Menurut Rahmah, pelajaran di sekolah kakaknya itu belumlah lengkap. Sedikit sekali bahasan akan fikih perempuan. Seperti dibahasakan penulis, “Bertanya malu, sebab gurunya pria, guru pun enggan menjelaskan karena tabu.” Rahmah bersama kawan perempuannya pun lalu belajar secara privat kepada Karim Amrullah atau yang mereka sapa sebagai Inyiak Rasul, ayahanda dari Buya Hamka yang di sisi lain merupakan murid sekolah kakaknya.

“Kaumku sudah lama tertindas, sementara tiap sebentar saya dengar perempuan adalah tiang negara, di mana akan ada negara kalau tiangnya rapuh? Al mar’atu imadul bilad. Selama ini kami dijadikan subjek saja, selama itu pula kami nyaris tidak dianggap, kecuali untuk dinikahkan. Kami menjadi pelengkap saja sampai ajal menjemput. Kami harus pasrah, apa pun yang akan terjadi.”

Rahmah juga tak menyukai nasihat bahwa perempuan hendaklah bekerja untuk yang ringan-ringan saja, sedangkan pekerjaan berat dan kasar diserahkan pada kaum lelaki. Sebab, pekerjaan seperti memasak dan mencuci sesungguhnya bukan sesuatu yang ringan. Suami memang kepala keluarga, tetapi istri juga memiliki hak-haknya.

“Pada guru jangan melawan, kau kami serahkan mengaji ke sana, bukan untuk bergelut sesama besar, bukan untuk mengganggu. Sekarang kau pulang mengadu, anak tak beradab, jangan adu domba orangtua dan guru mengaji! Itu yang didapat kalau masalah dibawa pulang. Rasa hormat pada guru mengaji di Minangkabau adalah hormat nan takzim, sebab karena dialah si anak bisa membaca alif ba ta. Ini metode pengajaran agama paling efektif di Nusantara, yang diciptakan oleh guru mengaji di surau-surau Minangkabau. Anak-anak yang khatam Quran di surau itu, lalu pergi merantau, jadi guru mengaji pula di negeri orang.”

Kutipan di atas menggambarkan cara pendidikan surau yang dianut masyarakat tanah kelahiran Rahmah. Kegemarannya membaca (pada bagian awal bahkan diceritakan ia lebih memilih membaca daripada makan) membuat Rahmah punya wawasan mengenai berbagai cara mendidik. Rahmah tak hendak mengingkari keunggulan metode surau, tetapi menurutnya cara klasikal dapat lebih efektif. Penuh tekad ia gunakan harta yang dipunya untuk mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang tahun 1923. Semangat yang berkobar tak lantas menjadikannya abai akan peran keluarga besar. Pada kakak dan ibunya, Rahmah memohon restu.

Dasarnya memang kritis, bahkan saat ibunya mendoakan keberhasilan pun, Rahmah menanyakan balik, mengapa? Uminya, Rafiah, menjelaskan bahwa apa yang hendak dibangun oleh Rahmah ini bukan pekerjaan mudah. Pasti akan banyak tantangan dari masyarakat yang menganggapnya “memberontak dari tradisi” hingga dari kalangan Belanda yang tidak suka kaum yang dijajahnya terlalu cerdas. Namun, Umi Rafiah ingin anaknya bisa menolong kaum perempuan dengan pendidikan dan ilmu agama.

“Jika tak cukup bekal ilmu, maka bagai bunga kembang tak jadi. Menurut konsep Rahmah, ibu tak lain adalah sekolah. Jika ibu baik, maka anaknya akan baik dan sebaliknya. Salah satu poin penting bagi calon ibu adalah pendidikan agama.”

Saat Rahmah remaja, sudah ada pejuang perempuan lainnya yang juga berlatar belakang budaya serupa. Roehana Koeddoes dari Koto Gadang misalnya, yang mendirikan yayasan dan sekolah Amai Setia untuk kepribadian dan keterampilan perempuan. Roehana pun menjadi pemimpin redaksi koran Soenting Melajoe. Namun, Rahmah sendiri lebih berfokus pada upaya pendidikan perempuan secara Islam.

Rahmah pun sempat belajar bersama HR Rasuna Said, pahlawan perempuan yang namanya mungkin lebih akrab di telinga kita. Namun, Rahmah tetap secara tegas mengambil jalan pendidikan alih-alih ikut berpolitik seperti Rasuna Said. Bahkan Rahmah dan suaminya pun memutuskan berpisah karena perbedaan jalan perjuangan ini, di mana suaminya memilih jalur pergerakan. Setelah Indonesia merdeka, Rahmah sempat akhirnya terjun ke dunia politik, tetapi tak bertahan lama karena hatinya tak di situ.

Semangat belajar Rahmah membuatnya merambah beragam ilmu lainnya. Dari Nona Oliver, guru di Normal School Rahmah belajar tari, renang, dan senam. Untuk P3K dan kebidanan Rahmah belajar pada rumah sakit umum dan beberapa dokter. Ia berpikiran terbuka dan mengajak murid-muridnya menekuni kegiatan seperti mendaki gunung, menari, dan berenang, tetapi Rahmah bisa marah besar ketika muridnya ketahuan memakai baju terbuka saat hari libur.

Buku ini tak terlalu tebal, meski memuat perjalanan Rahmah sejak kecil hingga meninggal dunia. Telah dilewatinya masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Saya turut terhanyut ketika tiba pada bagian Rahmah berkeliling berbagai pulau untuk berdakwah sekaligus mengumpulkan dana untuk mengembangkan ataupun mendirikan kembali sekolahnya.

Ya, nasib sekolah Diniyyah Puteri sempat jatuh bangun secara harfiah, salah satunya karena gempa besar yang melanda. Dengan izin Allah mekalui perjuangan Rahmah, sekolah ini bangkit lagi dan lagi. Nantinya Diniyyah Puteri Tiga sampai dibuka di beberapa daerah, termasuk di beberapa lokasi di Jakarta yaitu di Gang Nangka Kwitang, Mester Cornelis Jatinegara, dan di Kebon Kacang Tanah Abang.

Penulis buku ini, Khairul Jasmi, merupakan jurnalis senior yang juga ayah dari novelis JS Khairen. Di tangannya, kejadian seperti bencana alam maupun dampak perang tersaji puitis. Tentu dengan tetap mengedepankan fakta, sebagaimana disajikan proses risetnya pada bagian Ucapan Terima Kasih. Sedikit yang mengusik adalah penyebutan beberapa nama tokoh terkenal lainnya seperti Buya Hamka dan Roehana Koeddoes yang sampai berulang diselipkan di sana sini beserta riwayat pendeknya. Mungkin untuk mengingatkan lagi bahwa perjuangan para tokoh bangsa ini saling berkait, ya.

Seharusnya buku ini saya setorkan untuk #BacaBarengWISH, tetapi baru bisa saya tuntaskan hari ini. Sebuah buku yang sangat menarik dan inspiratif. Bahkan saya membayangkan seperti apa jika kisah ini diangkat ke layar lebar, karena generasi berikutnya tak boleh lupa bahwa pernah ada pejuang pendidikan muslimah setangguh Rahmah El Yunusiyyah.

[Resensi Buku] Terusir

Judul buku: Terusir
Penulis: Buya Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal: 129 + viii halaman
ISBN: 978-602-250-292-0

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Buku ini termasuk tipis dan ukurannya pun mungil, tetapi cerita di dalamnya begitu padat. Tersebutlah Mariah, seorang perempuan yang bernasib malang. Ia harus berpisah dengan suami dan putranya akibat fitnah dari mertua. Pembelaan diri Mariah tak membuat suaminya, Azhar, tersentuh. Seperti judul buku ini, Mariah terusir dan terlunta-lunta. Sekali dua kali ia dipertemukan dengan nasib baik, tetapi kemudian musibah lain menimpa.

Continue reading

[Resensi Buku] Highly Unlikely

Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+

Sesuai dengan tema #paradebukujuni Komunitas @resensi_bacayuk, buku yang saya baca untuk memenuhi tantangan #ResensiJuni ini adalah #bukubersampulkuning. Pilihan saya jatuh pada buku Highly Unlikely ini. Bukunya sendiri masih sangat baru, sebagaimana saya cantumkan bulan terbitnya di atas.

Continue reading

[Resensi Buku] Kamu Tidak Istimewa

Judul buku: Kamu Tidak Istimewa
Penulis: Natasha Rizky
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan Kedua, Februari 2024
Tebal: 104 halaman + xi
ISBN: 9786230055874

“Ih, judulnya kok gitu?” Fahira mengerutkan kening saat melihat saya mengeluarkan buku ini dari kemasan paket. Memang, jika dibandingkan dengan buku-buku apalagi yang bergenre motivasi, judul buku ini seolah malah mendemotivasi. Alih-alih menyemangati bahwa kita juga istimewa dan layak dihargai, justru belum-belum sudah langsung mengantarkan kita ke realita.

Continue reading