[Resensi Buku] Perempuan Yang Mendahului Zaman

Judul buku: Perempuan Yang Mendahului Zaman
Penulis: Khairul Jasmi
Penerbit: Republika
Cetakan V, April 2024
Tebal: 232 xii halaman
ISBN: 978-623-279-089-6

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman – Kisah Syekhah Rahmah El Yunusiyyah

Buku ini menceritakan kisah hidup Rahmah El Yunusiyyah, perempuan kelahiran Padang Panjang, 29 Desember 1900. Sebagai seorang pahlawan pendidikan perempuan, nama Rahmah tidak sepopuler RA Kartini. Dan memang hingga kini beliau belum dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Padahal perjuangan beliau sungguh hebat.

Bahkan negara lain pun mengakuinya, salah satunya lewat penganugerahan gelar Syekhah perempuan pertama dari Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1957. Gagasan Rangkayo Rahmah mendirikan sekolah muslimah Diniyyah Putri pun kemudian diadaptasi oleh universitas tersebut, yang sebelumnya hanya membuka program pendidikan untuk mahasiswa lelaki. Beliau pun punya banyak anak didik dan guru dari negara tetangga, Malaysia.

Rahmah sejak lama gelisah akan nasib para perempuan Minangkabau. Memang daerahnya ini mengakui derajat perempuan melalui sistem matrilineal. Namun, kenyataannya masih banyak perempuan yang tertindas. Seorang perempuan yang belajar, membaca, apalagi bersekolah, merupakan sesuatu yang dipandang sia-sia saja karena toh nantinya ia akan mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga.

Kakak Rahmah, Zainuddin, merintis Diniyyah School pada tahun 1915. Menurut Rahmah, pelajaran di sekolah kakaknya itu belumlah lengkap. Sedikit sekali bahasan akan fikih perempuan. Seperti dibahasakan penulis, “Bertanya malu, sebab gurunya pria, guru pun enggan menjelaskan karena tabu.” Rahmah bersama kawan perempuannya pun lalu belajar secara privat kepada Karim Amrullah atau yang mereka sapa sebagai Inyiak Rasul, ayahanda dari Buya Hamka yang di sisi lain merupakan murid sekolah kakaknya.

“Kaumku sudah lama tertindas, sementara tiap sebentar saya dengar perempuan adalah tiang negara, di mana akan ada negara kalau tiangnya rapuh? Al mar’atu imadul bilad. Selama ini kami dijadikan subjek saja, selama itu pula kami nyaris tidak dianggap, kecuali untuk dinikahkan. Kami menjadi pelengkap saja sampai ajal menjemput. Kami harus pasrah, apa pun yang akan terjadi.”

Rahmah juga tak menyukai nasihat bahwa perempuan hendaklah bekerja untuk yang ringan-ringan saja, sedangkan pekerjaan berat dan kasar diserahkan pada kaum lelaki. Sebab, pekerjaan seperti memasak dan mencuci sesungguhnya bukan sesuatu yang ringan. Suami memang kepala keluarga, tetapi istri juga memiliki hak-haknya.

“Pada guru jangan melawan, kau kami serahkan mengaji ke sana, bukan untuk bergelut sesama besar, bukan untuk mengganggu. Sekarang kau pulang mengadu, anak tak beradab, jangan adu domba orangtua dan guru mengaji! Itu yang didapat kalau masalah dibawa pulang. Rasa hormat pada guru mengaji di Minangkabau adalah hormat nan takzim, sebab karena dialah si anak bisa membaca alif ba ta. Ini metode pengajaran agama paling efektif di Nusantara, yang diciptakan oleh guru mengaji di surau-surau Minangkabau. Anak-anak yang khatam Quran di surau itu, lalu pergi merantau, jadi guru mengaji pula di negeri orang.”

Kutipan di atas menggambarkan cara pendidikan surau yang dianut masyarakat tanah kelahiran Rahmah. Kegemarannya membaca (pada bagian awal bahkan diceritakan ia lebih memilih membaca daripada makan) membuat Rahmah punya wawasan mengenai berbagai cara mendidik. Rahmah tak hendak mengingkari keunggulan metode surau, tetapi menurutnya cara klasikal dapat lebih efektif. Penuh tekad ia gunakan harta yang dipunya untuk mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang tahun 1923. Semangat yang berkobar tak lantas menjadikannya abai akan peran keluarga besar. Pada kakak dan ibunya, Rahmah memohon restu.

Dasarnya memang kritis, bahkan saat ibunya mendoakan keberhasilan pun, Rahmah menanyakan balik, mengapa? Uminya, Rafiah, menjelaskan bahwa apa yang hendak dibangun oleh Rahmah ini bukan pekerjaan mudah. Pasti akan banyak tantangan dari masyarakat yang menganggapnya “memberontak dari tradisi” hingga dari kalangan Belanda yang tidak suka kaum yang dijajahnya terlalu cerdas. Namun, Umi Rafiah ingin anaknya bisa menolong kaum perempuan dengan pendidikan dan ilmu agama.

“Jika tak cukup bekal ilmu, maka bagai bunga kembang tak jadi. Menurut konsep Rahmah, ibu tak lain adalah sekolah. Jika ibu baik, maka anaknya akan baik dan sebaliknya. Salah satu poin penting bagi calon ibu adalah pendidikan agama.”

Saat Rahmah remaja, sudah ada pejuang perempuan lainnya yang juga berlatar belakang budaya serupa. Roehana Koeddoes dari Koto Gadang misalnya, yang mendirikan yayasan dan sekolah Amai Setia untuk kepribadian dan keterampilan perempuan. Roehana pun menjadi pemimpin redaksi koran Soenting Melajoe. Namun, Rahmah sendiri lebih berfokus pada upaya pendidikan perempuan secara Islam.

Rahmah pun sempat belajar bersama HR Rasuna Said, pahlawan perempuan yang namanya mungkin lebih akrab di telinga kita. Namun, Rahmah tetap secara tegas mengambil jalan pendidikan alih-alih ikut berpolitik seperti Rasuna Said. Bahkan Rahmah dan suaminya pun memutuskan berpisah karena perbedaan jalan perjuangan ini, di mana suaminya memilih jalur pergerakan. Setelah Indonesia merdeka, Rahmah sempat akhirnya terjun ke dunia politik, tetapi tak bertahan lama karena hatinya tak di situ.

Semangat belajar Rahmah membuatnya merambah beragam ilmu lainnya. Dari Nona Oliver, guru di Normal School Rahmah belajar tari, renang, dan senam. Untuk P3K dan kebidanan Rahmah belajar pada rumah sakit umum dan beberapa dokter. Ia berpikiran terbuka dan mengajak murid-muridnya menekuni kegiatan seperti mendaki gunung, menari, dan berenang, tetapi Rahmah bisa marah besar ketika muridnya ketahuan memakai baju terbuka saat hari libur.

Buku ini tak terlalu tebal, meski memuat perjalanan Rahmah sejak kecil hingga meninggal dunia. Telah dilewatinya masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Saya turut terhanyut ketika tiba pada bagian Rahmah berkeliling berbagai pulau untuk berdakwah sekaligus mengumpulkan dana untuk mengembangkan ataupun mendirikan kembali sekolahnya.

Ya, nasib sekolah Diniyyah Puteri sempat jatuh bangun secara harfiah, salah satunya karena gempa besar yang melanda. Dengan izin Allah mekalui perjuangan Rahmah, sekolah ini bangkit lagi dan lagi. Nantinya Diniyyah Puteri Tiga sampai dibuka di beberapa daerah, termasuk di beberapa lokasi di Jakarta yaitu di Gang Nangka Kwitang, Mester Cornelis Jatinegara, dan di Kebon Kacang Tanah Abang.

Penulis buku ini, Khairul Jasmi, merupakan jurnalis senior yang juga ayah dari novelis JS Khairen. Di tangannya, kejadian seperti bencana alam maupun dampak perang tersaji puitis. Tentu dengan tetap mengedepankan fakta, sebagaimana disajikan proses risetnya pada bagian Ucapan Terima Kasih. Sedikit yang mengusik adalah penyebutan beberapa nama tokoh terkenal lainnya seperti Buya Hamka dan Roehana Koeddoes yang sampai berulang diselipkan di sana sini beserta riwayat pendeknya. Mungkin untuk mengingatkan lagi bahwa perjuangan para tokoh bangsa ini saling berkait, ya.

Seharusnya buku ini saya setorkan untuk #BacaBarengWISH, tetapi baru bisa saya tuntaskan hari ini. Sebuah buku yang sangat menarik dan inspiratif. Bahkan saya membayangkan seperti apa jika kisah ini diangkat ke layar lebar, karena generasi berikutnya tak boleh lupa bahwa pernah ada pejuang pendidikan muslimah setangguh Rahmah El Yunusiyyah.

[Resensi Buku] Terusir

Judul buku: Terusir
Penulis: Buya Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal: 129 + viii halaman
ISBN: 978-602-250-292-0

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Buku ini termasuk tipis dan ukurannya pun mungil, tetapi cerita di dalamnya begitu padat. Tersebutlah Mariah, seorang perempuan yang bernasib malang. Ia harus berpisah dengan suami dan putranya akibat fitnah dari mertua. Pembelaan diri Mariah tak membuat suaminya, Azhar, tersentuh. Seperti judul buku ini, Mariah terusir dan terlunta-lunta. Sekali dua kali ia dipertemukan dengan nasib baik, tetapi kemudian musibah lain menimpa.

Continue reading

[Resensi Buku] Highly Unlikely

Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+

Sesuai dengan tema #paradebukujuni Komunitas @resensi_bacayuk, buku yang saya baca untuk memenuhi tantangan #ResensiJuni ini adalah #bukubersampulkuning. Pilihan saya jatuh pada buku Highly Unlikely ini. Bukunya sendiri masih sangat baru, sebagaimana saya cantumkan bulan terbitnya di atas.

Continue reading

[Resensi Buku] Kamu Tidak Istimewa

Judul buku: Kamu Tidak Istimewa
Penulis: Natasha Rizky
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan Kedua, Februari 2024
Tebal: 104 halaman + xi
ISBN: 9786230055874

“Ih, judulnya kok gitu?” Fahira mengerutkan kening saat melihat saya mengeluarkan buku ini dari kemasan paket. Memang, jika dibandingkan dengan buku-buku apalagi yang bergenre motivasi, judul buku ini seolah malah mendemotivasi. Alih-alih menyemangati bahwa kita juga istimewa dan layak dihargai, justru belum-belum sudah langsung mengantarkan kita ke realita.

Continue reading

[Resensi Buku] Catatan Pinggir 15

Judul Buku: Catatan Pinggir 15
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: Tempo Publishing
Tahun Terbit: 2023
Tebal halaman: 502 +xviii halaman
ISBN: 978-623-05-4044-8

Goenawan Mohamad dikenal akan tulisan-tulisannya yang tajam sekaligus reflektif. Pendiri sekaligus pimpinan redaksi pertama majalah Tempo ini kerap mengulas berbagai peristiwa dengan membawa serta aneka referensi untuk memperkuat argumennya.

Continue reading

[Resensi Buku] Bebas Burnout

Judul Buku: Bebas Burnout, Tangguh tanpa Rasa Jenuh
Penulis: dr. Ekachaeryanti Zain, Sp.KJ.
Penerbit: TransMedia Pustaka
Tahun Terbit: 2022
Tebal halaman: 206 +xiv halaman
ISBN: 978-602-7100-90-4

Buku Bebas Burnout

Burnout merupakan istilah kedokteran psikiatri yang juga dikenal dalam dunia psikologi. Sindrom burnout terutama dikenal sebagai suatu gangguan psikologis yang terjadi akibat akumulasi stres jangka panjang yang tidak terkendali, misalnya dalam hal pekerjaan. Orang yang mengalami burnout dapat merasa tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, dan tidak punya harapan, bahkan untuk melakukan hal-hal yang biasanya digemari. Burnout memang bukan termasuk dalam diagnosis gangguan jiwa, tetapi tetap dapat mengganggu kesehatan mental. Continue reading

Ulasan Buku Tentang Anak

Meskipun anak-anak sudah beranjak besar, tetapi saya masih sering membelikan board book untuk mereka. Apalagi kalau temanya menarik untuk dibahas (dan kadang-kadang sesederhana karena ilustrasinya menarik). Namun memang lama-lama saya agak pilih-pilih. Bagaimana pun, harga buku yang bahannya tebal seperti ini cenderung lebih mahal. Ruangan kami di rumah pun terbatas, Jadi tetap harus ada prioritas.

Buku Tentang Anak

Buku Tentang Anak

Saat muncul berita bahwa ada board book baru dengan tajuk seri Sikap Baik yang diluncurkan pada Desember 2020, saya juga masih pikir-pikir dulu untuk membeli. Temanya sekilas sudah sering diangkat, yaitu tentang kata-kata ajaib. Namun, suasana pandemi memang membuat saya jadi memerlukan amunisi bacaan yang lebih banyak untuk anak-anak yang jadi tidak bisa pergi ke mana-mana. Apalagi saya membaca bahwa buku dari Tentang Anak ini diramu oleh dokter spesialis anak dan pakar lainnya seperti psikolog anak, penggiat Montessori, praktisi anak usia dini, dan penulis buku anak.

Continue reading

[Ulasan Buku] Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar

Ada anak bertanya pada bapaknya,
“Buat apa berlapar-lapar puasa?”
Ada anak bertanya pada bapaknya,
“Tadarus tarawih apalah gunanya?”

Penggalan lagu Bimbo di atas rasanya sudah akrab di telinga kita, generasi X dan Y. Dulu, mungkin penjelasan seperti lanjutan syair lagunya sudah cukup bagi anak-anak pada zamannya: lapar mengajarmu rendah hati selalu. Tadarus artinya memahami kitab suci. Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi.

Namun, generasi berikutnya bisa jadi tidak akan puas dengan jawaban seperti itu. Generasi Z dan Alpha, sesuai karakter mereka yang sedikit banyak juga dibentuk oleh orang tua yang “tidak ingin anak merasakan keadaan serba-terbatas seperti dirinya dulu”, akan dengan berani menuntut penjelasan lebih lanjut.

Keberanian semacam ini, dulu atas nama penghormatan dan rasa segan, hanya akan diekspresikan oleh segelintir anak. Sekarang, anak-anak cenderung lebih bebas berinteraksi karena sebagian orang tua berupaya menghilangkan sekat masa lalu yang mengekang. Hal ini, didukung dengan makin majunya teknologi, berdampak pula pada kebebasan anak-anak dalam berekspresi. Itu pun masih syukur kalau anak mau bertanya ke orang tua atau pihak yang kompeten. Bagaimana kalau mereka nekat mencari tahu sendiri di belantara informasi?

SI Kembar dan Tantangan Profesor Haydar

Continue reading

Ulasan Buku Baiti Jannatiy: 25 Kisah Perjalanan Membangun Rumah Tangga Sejati

Buku Baiti Jannatiy: 25 Kisah Perjalanan Membangun Rumah Tangga Sejati ini berisi ragam cerita para ibu dalam menjalani rumah tangganya masing-masing. Kisahnya amat berwarna, ada yang bikin hati ikut menghangat karena bahagia, ada yang memancing senyum, ada pula yang membuat gemas atau menerbitkan haru.

Buku Baiti Jannatiy

Memang, dalam menggapai cita-cita baiti jannatiy alias rumahku surgaku, kadang kita harus menempuh jalan berliku. Tantangan demi tantangan hadir, mulai dari hadirnya pihak lain, campur tangan keluarga, problema pekerjaan, drama asisten rumah tangga, maupun masalah anak. Pembaca seperti diajak berkaca, karena apa yang dituliskan memang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tip-tip yang disajikan bisa menjadi inspirasi semakin memperbaiki diri. Sejumlah kiat mungkin sudah pernah kita baca dalam buku-buku terkait pernikahan, tetapi menjadi lebih mengena ketika dalam buku ini disandingkan dengan kasus nyata. Dengan sendirinya para penulis mengakui bahwa diri mereka memanglah belum sempurna, tetapi tetap mau berupaya dan tak menganggap kiat-kiat itu teori belaka.

Soal penyajian, masih ada beberapa salah ketik (misalnya testpact, kucuba, dan misscommunication), tetapi tidak sampai mengganggu kenikmatan membaca. Kekurangan itu sama sekali tidak menghalangi untuk mengambil hikmah dari 25 penggalan episode hidup di dalam buku Baiti Jannatiy.

Judul buku: Baiti Jannatiy
Penerbit: @stiletto_indiebook
Penulis: Rumbel Literasi @institut.ibu.profesional Bekasi
Jumlah halaman: vii + 249
Cetakan pertama, Oktober 2018
Harga: Rp63.000,00
Beli di: @unitusahaipbekasi

Belajar tentang Pelaksanaan Haji dan Kurban Melalui Buku

Dekat-dekat hari raya Idul Adha begini, rasanya tepat jika kita mengajak anak-anak untuk belajar lebih jauh mengenai pelaksanaan ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah ini pelaksanaannya memang terikat oleh waktu, dan puncaknya adalah hari raya Idul Adha yang tahun ini ditetapkan oleh pemerintah RI jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018.

Salah satu media yang biasa kami pakai untuk mendampingi anak-anak belajar adalah buku. Tentunya lebih enak kalau menggunakan buku yang memang ditujukan untuk anak-anak, ya, karena materi dan penyampaiannya sudah disesuaikan dengan usia mereka.

Continue reading