Mengeja Candala

Kata terakhir dalam Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024 sungguh bikin mati gaya. Saya tak akrab dengan kata ini. Jadilah saya kembali ke format ulasan buku.

Setelah mencari-cari, saya akhirnya menemukan beberapa buku dengan kata Candala pada judulnya. Buku yang saya beli adalah karya Zia Ulhaq, terbitan tahun 2019 dari Transmedia Pustaka. Subjudulnya “Sebuah Kisah Mengabadikan Kenangan”.

Sedikit unik, isinya adalah kumpulan prosa puitis. Saat mulai membaca secara acak saya sempat mengira tulisan di dalamnya tak punya benang merah satu sama lain, karena penyajiannya yang tak biasa ini. Namun, ternyata penulis sudah memberikan penjelasan di pengantar buku, bahwa kumpulan prosa ini disusun secara runut sehingga membentuk jalan cerita. Lengkap dengan konflik dan klimaksnya. Jadi, seharusnya dibaca berurutan dari depan.

Candala

Candala

Continue reading

Sing Njlonet, Sing Kenes, lan Sing ….

Kata kesembilan untuk Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta adalah “kenes”. Sebagai orang Jawa saya tak asing dengan kata ini.

Kalau di tantangan ini, sebagaimana dalam KBBI, kenes diartikan sebagai lincah dan menawan hati; genit; bangga akan keadaan dirinya. Yang saya pahami pun lebih kurangnya demikian, kenes berarti genit dan lincah. Kadang konotasinya positif, khususnya jika dilekatkan pada anak kecil. Anak yang percaya diri untuk tampil dan bertingkah laku lincah biasanya akan mendapatkan apresiasi. Namun, untuk orang dewasa, sepenangkapan saya, kata kenes dapat diartikan negatif. Ada kesan merayu di situ, sebagaimana disebutkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk.

Continue reading

Mengejar Sangkil dan Mangkus

Kata selanjutnya dalam Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024 adalah “mangkus”. Pertama kalinya saya mengetahui istilah ini adalah dari sampul sebuah majalah. Sampai sekarang saya belum berhasil menemukan majalah tersebut, jadi tidak bisa dengan jelas menyebut nama majalahnya. Pokoknya sebuah majalah tentang desain rumah atau arsitektur yang terbit pada tahun 80-an atau 90-an yang dibeli lepasan oleh orang tua saya, tidak berlangganan sebagaimana majalah Ayahbunda saat itu.

Saya sudah mencoba mencari di Google dengan mempertimbangkan bahwa majalah ini mungkin majalah Asri atau Laras, tetapi belum ketemu juga. Pada sampul majalah tersebut, seingat saya, ada tulisan “Sangkil dan Mangkus” yang merupakan judul dari salah satu artikel utama di dalamnya.

Gambaran ruang sangkil dan mangkus yang saya ingat.

Gambaran ruang sangkil dan mangkus yang saya ingat dari majalah yang dulu

Continue reading

Unboxing Premium Package Edisi Koleksi Oki Nirmala

Tak terasa sudah hari ketujuh Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024. Ide untuk kata ketujuh ini justru yang pertama muncul, karena memang belum lama paket edisi khusus Oki Nirmala pesanan saya datang. Namun, karena unggahannya harus berurutan dari kata pertama, jadilah baru tayang hari ini.

Sejak tahun lalu, Majalah Bobo menerbitkan berbagai edisi koleksi yang memuat kumpulan isi majalahnya dengan tema tertentu. Sebagai awalnya adalah Edisi Koleksi Terbatas 50 Tahun Majalah Bobo untuk merayakan ulang tahun ke-50 majalah ini yang jatuh pada 14 April 2023. Dalam edisi ini ada berbagai cergam dan komik yang pernah diterbitkan di Majalah Bobo, mulai dari cergam Keluarga Bobo, Ceritera dari Negeri Dongeng, Paman Kikuk Husin dan Asta, Bona dan Rong Rong, Juwita dan Si Sirik, Deni Manusia Ikan, sampai dengan Pak Janggut.

Majalah Bobo dari masa ke masa

Majalah Bobo dari masa ke masa

Continue reading

Ketika Suryakanta Memicu Api dari Sang Surya

Kata berikutnya dalam Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024 adalah suryakanta. Kata ini saya kenal pada masa sekolah sebagai nama lain dari kaca pembesar. Nama lain yang sering dipakai adalah lup, yang diserap dari istilah dari bahasa Belanda loep. Dalam bahasa Inggris alat ini dinamakan magnifying glass. Nah, suryakanta atau kaca pembesar ini selain digunakan sesuai dengan namanya alias untuk memperbesar ukuran objek di mata kita, juga kerapkali dipakai untuk praktik terkait lensa dan cahaya matahari. Biasanya sih, digunakan untuk memancing munculnya api yang kemudian membakar kertas atau daun kering.
Ilustrasi suryakanta

Ilustrasi suryakanta

Continue reading

[Resensi Buku] Gak Narsis, Gak Eksis

Untuk Tantangan Writober RBM Ibu Profesional Jakarta tahun 2021, salah satu kata yang diberikan adalah “suara”. Kala itu saya menyetorkan tulisan dengan topik echoist, kebalikan dari narcissist. Tak disangka untuk Writober tahun ini yang muncul adalah kata “narsistik”. Terus terang saya belum dapat ide untuk kata kunci ini, jadi terpaksa ambil jalan ninja sekalian (ceritanya) melanjutkan format tantangan tepat sebelum yang ini, yaitu resensi buku.

Setelah cari-cari di Google Books, ketemulah buku ini yang langsung saya beli. Judulnya nggak persis “narsistik”, sih, tetapi bentuk tidak bakunya yaitu narsis. Sudah cukup lama terbitnya ternyata, tetapi masih lumayan menarik untuk dibaca-baca karena gaya penulisannya yang asyik.

Buku Gak Narsis Gak Eksis

Buku Gak Narsis Gak Eksis

Continue reading

[Resensi Buku] Elegi Gutenberg

Pada tulisan sebelumnya untuk tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta (untuk kata “absurd”), saya sempat menyebutkan bahwa buku Alice in Wonderland sudah dapat dibaca gratis di Project Gutenberg. Project Gutenberg adalah program yang dikembangkan sejak pada tahun 1971 oleh Michael S. Hart. Tujuannya adalah membuat versi digital dari karya-karya sastra dan dokumen yang sudah masuk ke dalam domain publik, sehingga bisa diakses secara gratis oleh siapa saja dan menyebar lebih luas lagi.

Sebagaimana nama yang digunakan, projek ini terinspirasi oleh Johannes Gutenberg, penemu mesin cetak. Filosofinya adalah mesin cetak memungkinkan penyebaran informasi dilakukan secara massal. Melalui platform ini, buku-buku terutama karya klasik dari berbagai genre dan bahasa tersedia dalam format digital, membuka kesempatan bagi siapa pun untuk mengunduhnya tanpa biaya.Ada kriteria tertentu untuk sebuah buku agar dapat dimuat di Project Gutenberg, salah satunya tentu terkait dengan hak cipta.

Project Gutenberg memuat buku-buku yang sudah berada dalam domain publik dan tidak lagi dilindungi oleh hak cipta (hak ciptanya sudah kedaluwarsa). Di Amerika Serikat, hak cipta berlaku hingga 70 tahun setelah penulisnya meninggal dunia. Dengan kata lain, karya yang penulisnya telah meninggal lebih dari 70 tahun yang lalu biasanya sudah dianggap masuk ke domain publik, sehingga bisa didistribusikan secara bebas.

Di Amerika Serikat juga terdapat perlakuan khusus, yaitu karya-karya yang diterbitkan sebelum tahun 1924 secara otomatis sudah berada di domain publik dan bisa diunggah ke Project Gutenberg. Adapun buku-buku yang diterbitkan setelah tahun 1924 mungkin masih dilindungi hak cipta jika belum melewati batas 70 tahun sejak kematian penulisnya. Beberapa negara memiliki aturan berbeda mengenai hak cipta, misalnya 50 atau 100 tahun setelah penulisnya meninggal dunia. Oleh karena itu, Project Gutenberg juga disesuaikan dengan aturan di masing-masing negara.

Nah, ngomong-ngomong soal Project Gutenberg, ada satu buku yang judulnya mengambil nama projek ini sekaligus menggunakan kata dalam tantangan keempat Writober RBM IP Jakarta 2024, yaitu Elegi Gutenberg. Saya sempat membaca bukunya, dan meski terbitnya sudah lama, buku ini tetap relevan dengan kondisi masa sekarang.

Continue reading

Memaknai Kata Buhul

Tugas ketiga Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta adalah dengan kata kunci buhul. Dalam tantangan ini disebutkan bahwa arti dari buhul adalah simpul. Secara otomatis, kata ini mengingatkan saya pada tafsir Surah Al-Falaq ayat 4.

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul (simpul-simpul tali).”

simpul tali

simpul tali (sumber: freepik)

Begitulah, dalam Islam, kata buhul sering dikaitkan dengan konsep sihir. Buhul diartikan sebagai ikatan atau simpul tali yang digunakan dalam sihir. Ayat tadi secara eksplisit menggambarkan praktik sihir yaitu ketika para tukang sihir meniupkan mantra pada simpul-simpul tali. Prosesi ini diketahui biasanya merupakan bagian dari ritual untuk mencelakai atau membuat seseorang berbuat sesuatu. Jadi, dalam konteks ini, buhul memiliki konotasi negatif karena terkait dengan kejahatan atau upaya untuk merusak kehidupan orang memakai cara-cara gaib.

Continue reading

Buku-Buku Anak yang Dianggap Absurd

Kata kedua untuk tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta ini adalah “absurd”. Berhubung baru-baru ini saya membaca sebuah buku anak yang membuat saya sempat berpikir “ceritanya agak absurd, ya”, jadilah saya ingin mencari tahu lagi. Benarkah yang saya rasakan, atau mungkin absurd tidaknya suatu bacaan juga tergantung pada sudut pandang pembacanya?

Dunia anak adalah dunia imajinasi. Hal ini sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum. Karenanya, buku anak seringkali menghadirkan imajinasi yang unik. Beberapa di antara buku ini menjadi terkenal karena konsepnya yang absurd itu. Absurditas ini antara lain muncul dalam cerita yang tampaknya tidak masuk akal, tetapi menawarkan sudut pandang yang segar atau cara yang tidak terduga dalam mengalahkan tantangan yang dihadapi oleh tokoh utama.

Berikut beberapa buku anak yang dikenal dengan konsep yang absurd:

Continue reading

Mengenal Istilah dalam Pembuatan Roti: Menguleni Sampai Kalis

Tahun ini mencoba ikutan program Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta lagi setelah sempat absen tahun lalu. Kata pertama yang diberikan untuk Writober kali ini adalah “kalis”. Mau tidak mau, yang melintas di pikiran saya adalah suatu tahap dalam proses pembuatan roti. Pada resep-resep yang saya baca, juga dari penjelasan Mama, sering ada istilah “uleni adonan hingga kalis.”

Nah, menguleni hingga kalis itu apa, sih?

Bahan dan alat untuk membuat roti

Bahan dan alat untuk membuat roti (sumber: Freepik)

Definisi Menguleni Adonan Roti hingga Kalis

Menguleni adalah proses mencampur dan meremas adonan dengan cara tertentu agar terbentuk jaringan gluten yang elastis. Proses ini penting dalam pembuatan roti, karena gluten yang terbentuk dari tepung dan cairan memberikan struktur, elastisitas, dan kemampuan bagi adonan untuk mengembang. Gluten memungkinkan adonan menahan gas yang dihasilkan oleh ragi selama fermentasi, sehingga roti bisa mengembang dan memiliki tekstur yang lembut dan kenyal.

Continue reading